
"Ken" Suara Anna terdengar dari belakang Kevin.
Kevin berbalik ke belakang dengan pelan.
Anna mengenakan dress sabrina dengan panjang selutut, serta membawa tas tangan seukuran ponsel. Bahan dress yang ketat membuat lekuk tubuh Anna yang padat berisi tapi proporsional itu, terlihat semakin seksi. Warna dress yang merah cerah itu pun, semakin membuat wajahnya bersinar. Dengan aksesoris dan riasan yang sederhana, Anna terlihat sangat cantik. Seorang Kevin Bramantara yang agung pun tak berkutik melihatnya.
"Sorry nunggu lama ya." Kevin masih saja terpesona pada Anna dan tidak menjawabnya.
"Hello pak Kevin." Anna melambaikan tangan di depan wajah Kevin.
"Apa? Kenapa?" Kevin tersadar.
"Kamu yang kenapa? Bengong."
"Masa sih?"
"Gimana penampilanku?"
"Ok," jawab Kevin salah tingkah.
"Bilang cantik saja susah amat," bisik Anna.
"Kamu bilang apa?" tanya Kevin.
Anna hanya tersenyum.
"Emm... Ayo kita masuk. Nenek sudah menunggu di dalam."
"Nenek," sapa Kevin.
Begitu mendapat perhatian nenek Ratih, Kevin langsung memperkenalkan Anna.
"Ini Anna." Nenek melihat Anna dengan sedikit terkejut, karena tidak membayangkan Anna secantik itu. Bahkan Alex dan Vanessa yang masih menemani nenek pun, ikut terkejut.
"Anna, ini nenek saya." ucap Kevin
Bukannya menjawab atau memperkenalkan diri, Anna malah terus memandangi wajah nenek. Kevin yang melihat ini jadi bingung.
"Nenek Ratih bukan?" Anna akhirnya buka suara.
Kevin, Alex dan Vanessa bingung memandangi Anna.
"Kamu kenal saya?" nenek bertanya bingung.
"Saya Anna nek, nenek gak ingat?" Anna tersenyum lebar.
Nenek Ratih masih terlihat bingung.
"Tempo hari saya yang ngantar nenek, dari Bandung pulang ke Jakarta."
"Astaga, nenek ingat. Anak yang ketemu di toko jam itu kan?" Anna mengangguk riang.
"Aduh kamu hari ini cantiiikkk sekali. Nenek jadi pangling, sampai gak ngenalin kamu."
"Oh, ia nek." Anna mengulurkan kantongan berisi kado yang dari tadi dipegangnya, untuk mencairkan suasana.
"Selamat ulang tahun yang ke...." Anna memasang wajah bertanya.
"Tujuh puluh tahun. Nenek sudah tua kan." Nenek mengambil hadiah Anna.
"Masa? Aku pikir nenek masih enam puluh gitu."
"Bisa saja kamu. Nenek boleh buka hadiahnya?"
"Kamu kasih nenek hadiah apa? Barang murahan pasti." Vanessa mulai bersuara lagi.
"Mungkin harganya tidak seberapa, tapi saya membelinya sambil memikirkan nenek," jawab Anna.
"Penjilat," ejek Vanessa.
"Vanessa, kamu kok ngomongnya gitu? Gak sopan," tegur nenek.
"Ya emang kenyataannya begitu," jawab Vanessa.
"Silahkab dibuka kadonya nek," saran Anna.
Nenek mengeluarkan kotak cantik berwarna putih dengan pita berwarna pink dari kantongan. Segera nenek membuka kotak cantik itu. Nenek tertegun melihat isi kotak itu.
"Saya gak sengaja lihat itu di mall dan saya langsung teringat sama nenek," Anna menjelaskan.
Nenek mengeluarkan jam saku klasik yang ada dalam kotak. Nenek menatap jam itu dengan tatapan rindu. Beliau memeriksanya, membuka tutup jamnya dan mengembalikannya lagi ke dalam kotak.
"Nenek suka. Akan nenek pergunakan dengan baik," nenek berucap lembut.
Nenek segera memanggil asisten pribadinya dan memintanya menyimpan kado Anna di dalam mobil. Melihat hal ini Vanessa makin marah. Dia menghentakkan kakinya dan segera pergi, diikuti dengan tatapan senang Kevin.
"Nenek." teriak seorang anak kecil.
"Coba lihat siapa yang datang, Gita cucu nenek yang manis."
"Selamat ulang tahun nek, ini untuk nenek." Gadis cilik itu memberikan selembar kertas dengan gambar seperti cakar ayam.
"Ini nenek ya? Aduh cantik sekali gambarnya. Nenek simpan ya." Nenek memberikan kertas itu pada asistennya.
"Daddy gendong." Gadis kecil itu meminta Alex menggendong.
"Aduh anak daddy kok manja amat sih?" Alex menggendong Gita.
"Daddy? Anak kamu?" tanya Anna.
"Ia lah," jawab Alex.
"Coba Gita perkenalkan diri dulu sama Tante," pinta nenek.
"Halo, nama saya Sagita, panggilannya Gita. Umurnya empat tahun. Tante cantik namanya siapa?"
"Nama tante Anna. Aduh lucunya." Anna mencubit pipi Gita.
"Tante cantik pacarnya om Kevin atau pacarnya Daddy?" tanya lugu Gita.
"Kok pacarnya daddy? Pacarnya om Kevin dong." jawab Anna
"Emmm, Anna gimana kalau kamu makan dulu? Belum makan malam kan?" Kevin terburu-buru seperti mau mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ia. Coba Kevin, kamu ajak Anna pergi cari makanan dulu," sambung nenek.
"Ayok," ajak Kevin.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya nek." ujar Anna
Pesta ulang tahun nenek Ratih berkonsep standing party. Anna melihat ke sekeliling area makanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Kevin.
"Ayam ada gak?" Kevin memanggil pelayan.
"Ada menu ayam?" tanyanya.
"Ada ayam kung pao dan sate ayam pak" kata pelayan tersebut
"Ayam kung pao aja deh. Standnya di sebelah mana?" tanya Anna.
"Nanti saya ambilkan bu." pelayannya berlalu pergi.
"Enak ya jadi bos. Apa-apa tinggal perintah saja," sindir Anna.
"Biasa saja. Lagipula tidak semua hal bisa diuruskan orang lain." Anna hanya mengangguk.
Pelayan yang tadi datang membawa makanan Anna.
"Makasih," seru Anna.
"Omong-omong," Kevin berbicara setelah pelayannya pergi.
"Soal ibu Gita." Kevin berhenti sebentar.
"Saya harap kamu tidak mengungkit hal itu," lanjutnya.
"Boleh tau kenapa?"
"Mereka sudah pisah dan hubungan mereka kurang baik. Itu saja yang bisa kuberi tahu." Anna menganggukan kepala.
"Saya boleh bertanya satu hal?" Kevin tersenyum kepada salah satu tamu.
"Apa?" Anna menguyah makanannya.
"Bagaimana kamu bisa kenal sama nenek?"
"Oh, kamu ingat waktu pertama kita ketemu di Bandung?" Kevin menganggukkan kepala.
"Waktu aku mau balik ke Jakarta, aku gak sengaja ketemu nenek. Dia lagi debat di pinggir jalan sama pemilik toko jam."
"Toko jam?"
"Kayaknya nenek mau beli jam, tapi pemilik tokonya gak mau jual karena berpikir nenek gak bisa bayar. Nenek sampai dimarahin. Ya udah aku tolong, sekalian aku antar pulang." Kevin mengangguk paham.
Anna memberikan piringnya ke pelayan yang lewat.
Mereka hendak berjalan lagi, tapi hak sepatu Anna tertancap di tanah.
"Eeeeehhh" serunya panik mau terjatuh.
Dengan sigap Kevin menangkap Anna.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Kevin.
"Ia gak apa-apa," jawab Anna.
Mata mereka saling bertemu. Dan mereka saling berpandangan untuk beberapa saat.
"Lain kali hati-hati," Kevin berbicara canggung.
"Ia, ini hak sepatunya tertancap di tanah." Sebelum suasana bertambah canggung.
seseorang datang menyapa Kevin.
Anna tidak terlalu menikmati acara malam itu. Orang-orang yang dikenalnya semua sibuk menyapa tamu. Anna bahkan ditinggal sendirian. Dan pesta ulang tahun nenek Ratih berlalu begitu saja.
############
Keesokan paginya.
"Selamat pagi Kevin," sapa nenek Ratih.
"Selamat pagi nek," balas Kevin.
Setiap pagi, Kevin yang selalu menjadi orang pertama yang duduk di meja makan.
"Alex mana?" tanya nenek.
"Belum bangun mungkin," jawab Kevin.
"Aku sudah bangun tau. Selamat pagi nek." Alex mencium pipi neneknya.
"Tumben sarapan, biasanya cuma minum kopi." Alex duduk di sebelah Kevin.
"Lapar," jawab Kevin singkat.
"Kevin, kapan kamu mau bawa Anna lagi ke rumah?" tanya Nenek.
Kevin yang kaget hampir saja tersedak kopi.
"Nenek mau ketemu Anna lagi?" Kevin mulai salah tingkah.
"Ia dong dia kan pacar kamu. Nenek mau sering- sering ngobrol sama dia. Besok siang bisa?"
"Nek, Anna itu juga bekerja. Nenek tidak bisa seenaknya saja mau bertemu."
"Kalau begitu sabtu ini?" tanya nenek lagi
"Biar saya tanya Anna dulu."
"Biar nenek saja yang tanya sendiri deh. Coba kamu kasih nenek, nomor telpon Anna."
"Nek, Anna kerjanya di bank jadi teller. Nenek bisa ganggu kerjaan dia nanti, Anna gak bisa pegang ponsel saat kerja loh," dusta Kevin.
"Ribet banget sih kantornya." seru nenek
Nenek Ratih berpikir sebentar dan akhirnya berbicara dengan tidak sabar.
"Pokoknya ya nenek mau ketemu dengan Anna minggu ini juga. Nenek gak mau tau." serunya
"Nenek gak bisa gitu dong. Kita harus tanya Anna juga, siapa tahu dia ada acara," bela Alex.
"Ya, makanya nenek minta nomor telponnya. Nenek gak akan telpon pada saat jam kerja."
"Ya udah gini saja. Nanti Kevin akan coba bujuk Anna." usul kevin
"Ok, nenek tunggu kabar baiknya." ucap nenek
next...!