The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 16 Berulah



"Aduh, gawat Vanessa datang," seru Dinda baru membaca chat.


Dinda bergegas berdiri untuk memberikan info ke Kevin. Tetapi Dinda terlambat, Vanessa sudah sampai di depan meja Dinda.


Vanessa berhenti di depan Dinda, menurunkan kacamata hitamnya sedikit.


"Siapa nama kamu?"


"Saya Dinda bu."


"Kak Kevin ada?" tanya Vanessa.


"Ada bu, biar saya beri tahu beliau dulu."


Vanessa mengangkat tangannya menghentikan Dinda.


"Gak perlu." Vanessa melepas kacamatanya.


"Tapi, bu..." Dinda berusaha menghentikan Vanessa.


Tapi, Dinda langsung berhenti begitu Vanessa meliriknya.


Vanessa segera memasuki ruangan Kevin tanpa mengetuk pintu.


"Mampus aku," batin Dinda.


"Morning kak," sapa Vanessa manja.


Melihat Vanessa masuk, Kevin dan Alex menghela nafas.


"Kak Kevin gak mau ngopi pagi? Vanessa beliin kopi loh." Vanessa meletakkan bungkusan berisi dua gelas kopi di meja Kevin.


"Kamu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu?" tanya Kevin kesal.


"Emang Vanessa gak ketuk pintu?" tanyanya sok polos.


"Anda harusnya belajar etika lagi dari awal," sambung Kevin


"Ya udah Vanessa akan ulang dari pas sebelum masuk ke sini," lanjutnya.


"Cukup. Anda mau apa datang ke sini?" tanya Kevin sambil memeriksa dokumen.


"Mau ngajakin kak Kevin ngopi." Vanessa menunjuk bungkusan kopi.


"Apa anda tidak bisa lihat saya sekarang sedang sibuk?" tanya Kevin.


"Jadi kopinya mau diapain dong? Masa mau dibuang, itu Americano kesukaan kak Kevin loh." tanya manja Vanessa.


"Mungkin anda bisa ke Alex. Atau mungkin bisa dikasih ke karyawan yang lain." Vanessa memajukan bibirnya.


"Pak Kevin, sudah waktunya ke ruangan meeting," seru Alex.


Kevin memberikan materi meeting kepada Alex dan segera berdiri dari kursinya.


"Loh, kak Kevin sudah mau pergi. Vanessa kan baru datang."


"Anda tidak dengar apa yang Alex bilang? Saya mau meeting."


"Terus Vanesaa gimana? Meetingnya gak bisa ditunda dulu?" Vanessa menarik tangan Kevin, Kevin benar-benar marah kali ini.


"Anda pikir ini taman kanak-kanak? Ini perusahaan, saya tidak bisa seenaknnya merubah jadwal. Apalagi anda yang bukan siapa-siapa." Kevin menarik tangannya.


"Kak Kevin." Vanessa mengikuti Kevin.


"Dinda bawakan cappucinno ke ruang meeting," perintah Kevin begitu melihat Dinda.


"Jangan lupa kasih tau manager investasi soal pembelian saham TC Bank." Kevin memberi arahan ke Alex.


"Kak Kevin." Vanessa masih berusaha mengejar Kevin.


Kevin tidak memperdulikan Vanessa.


"Kamu ada kasih tahu Anna soal ini?" tanya Alex.


"Untuk apa?"


"Kak Kevin," Vanessa masih berusaha.


Begitu mendengar nama Anna, Vanessa menghentikan langkahnya. Vanessa yang mendengar percakapan Kevin dan Alex, menjadi marah dan menghentakkan kaki.


"Ih, apaan sih. Anna terus," teriak Vanessa.


Para karyawan hanya melirik Vanessa dengan was- was.


"Memangnya apa hubungan TC Bank dan Anna," bisik Vanessa.


"Eh, kamu." Vanessa menghentikan karyawan yang sedang lewat.


"Ruangan manager investasi di mana?"


"Di lantai tiga bu. Ruangan yang paling ujung sebelah kanan." Vanessa segera pergi begitu mendapatkan jawaban.


Begitu menemukan ruangan yang dimaksud, Vanessa langsung masuk tanpa mengetuk.


"Yang bertanggung jawab di sini siapa?" tanya Vanessa.


"Aduh, kenapa ini anak bisa sampai ke sini," batin Siska.


"Saya mbak," jawab Siska.


Karyawan yang lain langsung melirik Siska.


"Mbak? Kamu ga sopan banget ya sama yang lebih superior. Panggil ibu." Siska terkejut dan berusaha menahan tawa.


"Bisa dibantu bu?" tanya Siska.


"Katanya kamu disuruh beli saham TC Bank ya?" Dengan bingung Siska menjawab, "Saya dapat perintah apa pun bu."


Vanessa berpikir sebentar.


"Kenal yang namanya Anna gak?" Siska berpikir sebentar.


"Emm.. Maksudnya Anna mantan sekretaris pak Kevin yang digantiin Dinda?"


"Bukan bego. Udah ah bikin emosi aja." Vanessa segera keluar membanting pintu.


"Wah, keterlaluan nih. Emang dia pikir dirinya sudah jadi nyonya Kevin Bramantara? Ditolak aja sudah banyak gaya," seru marah Siska.


"Sabar aja bu, namanya juga anak labil." Telpon di meja Siska berdering.


"Halo," Siska menjawab kesal.


"Oh, ia pak Alex bisa dibantu?" Siska mendengar dengan seksama.


"TC Bank? Oh, baik pak nanti akan saya pantau harganya dan akan memberikan laporan langsung." Siska menutup telpon.


"Kok Vanessa bisa tahu." batinnya


"Kok, perasaanku gak enak ya? Kalau gak salah ada teman papa di TC Bank. Apa coba suruh papa tanya ya?" Vanessa berbicara sendiri.


Vanessa berpikir sebentar.


"Mending aku tanya papa saja." Vanessa mengangguk.



"Emm... Anna," sapa Andi.


Jam pelayanan di kantor Anna sudah selesai. Sekarang tersisa beberapa laporan yang harus diperiksa Anna sebelum jam pulang.


"Ada apa?" Anna bertanya ketus.


"Kamu dipanggil sama BM (branch manager)." Anna langsung berbalik menatap Andi.


"Saya?"


"Saya juga sih. Kamu ngapain sih, sampai saya juga dipanggil?" tanya Andi serius.


"Saya gak bikin apa-apa."


"Ck, ya udah buruan."


Anna merapikan laporannya dan pergi mengikuti Andi.


"Permisi Pak." Andi membuka pembicaraan setelah masuk ke ruangan BM.


"Kamu yang namanya Anna?"


"Ia Pak. Ada apa ya Pak." Anna berdiri canggung.


"Andi, bagaimana kinerjanya." Pak Bayu menunjuk Anna.


"Bagus Pak. Anaknya teliti dan lincah. Ramah juga, banyak nasbah yang senang sama Anna," Andi menjawab.


"Kalau begitu kenapa ada masalah sama Mahesa Pratama?"


"Maksud bapak?" tanya Andi bingung.


"Sekarang saya tanya sama kamu Anna. Kamu ngapain sama Pak Mahesa?" tanya


Pak Bayu.


"Maaf Pak, saya tidak kenal dengan yang namanya Mahesa Pratama."


"Kamu tidak tahu Mahesa Pratama? Dia nasabah besar kita."


"Saya tahu Pak. Tapi saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Saya juga tidak pernah melayani transaksi beliau."


"Benar Pak. Pak Mahesa selalu bertransaksi di lounge prioritas. Sementara Anna tidak pernah ditempatkan di sana," bela Andi.


"Saya gak minta pendapat kamu," balas Pak Bayu.


"Sekarang saya tanya lagi sama kamu. Anna. Apa kamu juga tidak kenal anaknya Pak Mahesa? Vanessa."


"Maaf Pak, saya juga tidak...." Anna menghentikan ucapannya.


"Gak kenal juga?" tanya Pak Bayu.


Anna tidak menjawab.


"Anna." tegur Andi.


"Saya memang kenal Vanessa Pak. Tapi, saya tidak pernah melayani dia sebagai nasabah," jawab Anna.


"Kalau tidak pernah kenapa pihak sana sampai menekan saya."


"Saya juga kurang tahu Pak," jawab Anna.


Pak Bayu hanya geleng-geleng kepala.


"Pak, mungkin hanya masalah pribadi saja. Kalau masalah pribadi kan tidak bisa disangkutkan dengan pekerjaan," bela Andi.


Pak Bayu menatap Andi, kemudian berpindah ke Anna. Pak Bayu menatap Anna dari atas sampai bawah, membuat Anna sedikit risih.


"Andi, kamu boleh keluar," perintah Pak Bayu.


Andi melirik sebentar ke Anna dan segera keluar. Andi tidak langsung kembali ke tempatnya. Andi menunggu di luar ruangan, sambil berusaha mengintip ke dalam.


"Anna duduk." perintah pak Bayu


Anna duduk dengan enggan di sofa sebelahnya. Pak Bayu beranjak dari kursi kerjanya dab duduk di depan Anna.


"Kamu ada masalah apa dengan keluarga Pratama?"


"Saya tidak ada masalah dengan mereka Pak, apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan."


Pak Bayu sedikit mencondongkan badannya ke depan.


"Saya bisa bantu kamu bicara dengan pihak sana," serunya dengan suara kecil.


"Saya tidak mengerti maksud Bapak," jawab Anna.


Pak Bayu meraih tangan Anna yang ditaruh dipangkuannya.


"Kamu tahu lah maksud saya," seru mesum Pak Bayu.


Anna menarik tangannya pelan.


"Maaf saya masih tidak mengerti," Anna menjawab sambil menahan marah.


Pak Bayu beranjak dari sofa dan berdiri di belakang Anna. Anna menarik nafas pelan menahan amarah.


"Maksud saya, kamu mungkin bisa temani saya makan malam. Sesudah makan malam kita bisa ngapain gitu." Pak Bayu meletakkan kedua tangannya di bahu Anna.


Anna tiba-tiba saja berdiri. Ujung kepala Anna hampir saja menghantam dagu Pak Bayu. Hal ini membuat Pak Bayu kaget.


"Menurut saya percakapan ini sudah selesai," Anna menahan diri agar tidak meledak.


Anna melangkah keluar.


Sebelum Anna mencapai pintu, Pak Bayu berteriak.


"Kamu mau saya pecat?"


"Silahkan." Anna berbalik.


"Jangan lupa pesangon saya dibayarkan," lanjut Anna.


Anna langsung menarik pintu.


"Saya akan kasih kamu SP," teriak Pak Bayu.


next>