
Seperti yang dikatakan Kevin, hari ini Anna menamaninya keliling
kantor. Selain mereka berdua Nenek Ratih dan Alex juga ikut. Nenek Ratih
sekalian memperkenalkan Anna sebagai istri Kevin.
"Harus banget seperti ini ya?" batin Anna.
Sebenarnya tanpa perkenalan pun seisi kantor sudah tahu siapa Anna.
Kevin ingin tahu pendapat Anna tentang kantor pusat perusahaan
yang dikelolanya itu.
"Apa yang harus kuperhatikan?" tanya Anna.
"Semuanya."
"Semuanya?"
Anna melongo mendengar pernyataan Kevin. Anna segera mengejar
Kevin yang sudah berjalan duluan. Nenek hanya sebentar saja mengikuti mereka
karena harus ikut meeting.
Anna dengan rajin mencatat semua yang diperlukan. Sesekali Anna
memberi tanda pada catatanya. Kevin tersenyum melihat Anna yang antusias.
Setelah selesai berkeliling kantor, Anna nengutarakan
pendapatnya pada Kevin. Alex yang ikut mendengar, tertegun dengan penjelasan Anna.
"Jadi menurutku sih seperti itu," kata Anna.
"Aku gak nyangka loh, kamu ternyata kamu sejago ini," puji Alex tersenyum.
"Biasa aja kali."
"Bilang sama HRD kalau kita bakal melakukan perollingan
sedikit-sedikit," kata Kevin pada Alex.
Alex segera berlalu pergi untuk menyampaikan pesan Kevin. Anna tersenyum puas.
"Kamu benar-benar diluar dugaan."
"Maksudnya gimana?" tanya Anna.
"Kamu punya bakat manajemen yang sangat
bagus," puji Kevin.
"Apaan sih," balas Anna.
"Serius. Kamu cuma jalan-jalan sebentar keliling kantor, terus kamu bisa menyimpulkan kayak tadi. Aku rasa kamu juga bisa menggantikanku."
"Apaan sih." Anna jadi tersipu malu.
"Omong-omong aku kapan mulai kerja benaran?" tanya Anna.
"Terserah kamu," jawab Kevin.
"Kok terserah sih. Mana ada yang kayak gitu."
"Kan aku bosnya. Kalau aku bilang terserah ya terserah," seru Kevin.
"Ada ya atasan aneh kayak kamu." Anna menggelengkan kepala.
"Kamu boleh mulai dengan keliling cabang dulu. Buat perkenalan dan lihat situasi," saran Kevin.
"Kalau gitu aku mungkin mulai dari senin aja. Gak masalah kan?" Kevin mengangguk setuju.
"Na, Minggu depan kayaknya aku mau cuti. Hang out yuk." "Julie menelpon Anna.
" Aku gak janji ya Li. Aku udah kerja soalnya."
"Sejak kapan? Kerja di mana?"
"Udah sekitar dua mingguan. Aku dikasih pegang cafe."
"Cafe apaan sih?"
"Cafenya Kevin lah."
"Wah, hebat dong. Sekarang kamu jadi juragan cafe."
"Biasa aja kali."
"Artinya bisa dong kita nongki di cafe kamu."
"Dibilangin juga cafenya Kevin. Aku cuman bantu aja."
"Eh, Na udahan dulu ya. Nanti aku kabari kalau aku balik ke Jakarta."
"Ok.Bye."
"Permisi Bu, ini data persediaan barangnya." Seorang pelayan datang membawa berkas.
"Makasih ya." Anna melihat berkas tadi sambil mencocokkan persediaan.
"Manager tokonya mana?" tanya Anna.
"Sedang bertemu dengan supplier Bu." Anna mengangguk.
"Ok. Nanti kalau manager tokonya udah balik, suruh hubungi saya ya."
Anna kembali ke kantor pusat menjelang jam pulang kantor.
Perhatian orang-orang masih saja tertuju padanya.
"Enaknya jadi istri dirut. Langsung dikasih jabatan," seru salah seorang pegawai.
"Ia.Kita capek-capek kerja, tapi masih begini saja."
"Dia juga kerjanya cuma jalan-jalan terus."
"Makanya jadi istri dirut dong."
"Ehmmm.... " Dinda kebetulan lewat dan mendengar
percakapan para pegawai.
"Sebelum mimpi, gimana kalau kalian perbaiki kinerja dulu. Biar selevel sama Mbak Anna."
"Maksudnya?"
"Situ cuma tau gibahin orang aja, tapi gak tau kinerjanya yang digibahin jauh di atas kalian. Gak malu?"
"Kok kamu yang marah sih?"
"Ya karena kalian-kalian ini kerjanya cuma gosip aja. Gak ada yang benar kerjanya. Kerja
sana." Dinda berlalu pergi.
"Dia kenapa sih?"
Anna sekarang menjabat sebagai, manager operasional B Cafe. Tim
yang Anna pimpin menempati keseluruhan lantai enam."Sore," sapa Anna.
Beberapa pegawai membalas sapaannya, beberapa hanya tersenyum.
"Kiki saya boleh minta tolong minta nama-nama manager toko ya?," Anna bertanya pada sekretarisnya.
"Baik Bu. Akan saya siapkan."
"Mbak, maksudnya."
"Nah,gitu dong." Anna tersenyum dan segera memasuki ruangannya.
"Kiraiin kerjanya cuma jalan-jalan aja. Ternyata pergi inspeksi, pulangnya kita dikasih kerjaan," protes Nina. Nina adalah salah satu dari tiga sekretaris Anna.
"Mendingan gini dari pada dulu waktu gak ada Mbak Anna. Apa-apa kita urus sendiri, salah sedikit langsung dimarahin Pak Kevin. Lagian orangnya juga baik."
"Ia, sih. Udah kerja sana."
Telpon di ruangan Anna berdering, tak lama setelah dia
mengerjakan beberapa berkas.
"Dengan Anna bisa dibantu?" Anna menjawab telpon.
"Boleh bikinin cappucino," suara Kevin terdengar.
Anna menghentikan kegiatannya.
"Sejam lagi kan udah pulang, ngopi di rumah aja?"
"Aku dari tadi tungguin kamu loh."
"Kenapa gak suruh Dinda saja dulu. Harus banget aku?"
"Harus. Aku tungguin sekarang." Kevin menutup telpon.
"Astaga ini orang kenapa lagi," keluh Anna.
"Permisi Mbak, ini berkas yang diminta."
"Taruh aja dulu di meja. Terus kalau ada yang cari saya, bilang aku lagi di ruangan Kevin."
"Baik Mbak."
"Makasih ya."
"Mbak Anna keluar lagi?" tanya Nina.
"Ke ruangannya Pak Kevin," jawab Kiki.
"Kira-kira mereka ngapain?" Caca nongol.
"Mana kutahu. Aku kan bukan paranormal," jawab Kiki.
"Jangan-jangan mereka mau gituan," lanjut Caca.
"Eh, ini kantor tau. Bukan villa pribadi. Mesum amat pikirannya," tegur Nina.
"Ya, siapa tahu kan."
"Kerja sana," protes Kiki.
Anna langsung menuju ke arah pantry Kevin di lantai sepuluh.
Dengan cekatan Anna membuat ice cappucino untuk Kevin. Membuatkan Kevin kopi
jadi salah satu kegiatan Anna di kantor.
"Masuk," seru Kevin dari dalam ruangan.
Anna langsung masuk sambil mengoceh,
"Aku tuh bukan sekretaris pribadi kamu tau."
"Thanks."
"Pak Kevin, aku juga punya kerjaan loh."
"Di kantor ya emang harus kerja," balas Kevin.
Anna merasa kesal mendengarnya.
"Tapi bikinin kamu kopi tidak termasuk dalam job desk aku."
"Kan aku yang bos di sini. Suka-suka aku dong."
Anna tidak percaya Kevin ngomong seperti itu.
"Emang semasalah itu kalau Dinda yang bikinin kopi?"
"Gak enak. Aku suka cappucino buatanmu." Anna jadi tidak bisa berkata apa-apa.
"Gimana kerjaanmu? Udah terbiasa?" tanya Kevin.
"So far so good. Belum ada masalah yang gimana gitu."
"Bagus kalau gitu."
"Ya udah kalau gitu aku balik dulu." Anna beranjak dari tempatnya berdiri.
"Anna," panggil Kevin.
"Ya." Anna berbalik menghadap Kevin.
"Malam ini kamu gak ada janji kan?" tanya Kevin.
"Gak ada tuh, Emang kenapa?"
"Kita ada cara nanti malam."
"Acara? Kita?"
"Ia, kita dapat undangan.Ada Alex juga sih. Tapi, aku mau kamu juga ikut."
"Undangan apa?"
"Ulang tahun."
"Ulang tahun siapa?"
"Kamu kok banyak banget pertanyaannya?"
"Harusdong. Supaya aku bisa tahu harus dandan kayak gimana. Nanti kalau aku salah
kostum gimana?" Kevin menarik nafas panjang.
"Yang ulang tahun itu model perusahaan kita."
"Oh. Emang siapa model perusahaan kita?" Kevin menatap Anna kesal.
"Clarence."
"Clarence siapa ya?" batin Anna.
"Ah.... Clarence yang model terkenal itu? Yang jadi pernah jadi duta perempuan dan pariwisata itu?" Anna tiba-tiba histeris.
Kevin melihat Anna dengan tatapan heran.
"Bisa biasa aja gak?"
"Oh, gak bisa dong. Aku tuh fans beratnya dia. Clarence itu amazing banget tau. Kalau gitu zekarang aku mau
siap-siap pulang." Anna berlarian keluar dari ruangan Kevin.
"Eh, ini belum jam pulang kantor," teriak Kevin.
"Cuma mau siap-siap aja kok," Anna
balas berteriak.
next>>>>
ramaikan......