The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 60 Kabur



Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit. Anna masih belum tidur. Dia terkulai lemas disebelah Kevin yang sudah tertidur pulas.


Kamar mereka bisa dibilang berantakan. Baju yang tadinya melekat di tubuh mereka berserakan di mana-mana. Seprai yang tadinya rapih juga jadi berantakan, dengan sedikit noda darah.


"Hah." Anna menghela nafas.


"Dasar gila. Aku ngapain sampai terbawa suasana gitu sih?" gumam Anna pelan.


Anna merasa tubuhnya lengket karena keringat. Hal ini membuat pikiran Anna melayang pada permainan panas yang baru selesai beberapa waktu lalu.


"Berhenti memikirkannya Anna. Mending pergi mandi." Wajah Anna merah seperti kepiting rebus


Seluruh tubuh Anna terasa sakit, terutama daerah pinggang ke bawah. Dengan sedikit bersusah payah Anna bangkit dari ranjang.


Anna menatap Kevin sebentar, membelai wajah Kevin. Setelah puas Anna berjalan gontai menuju kamar mandi.


Anna berdiri termenung di bawah pancuran air panas.


"Bagaimana ini? Kontraknya sudah dilanggar. Apa Kevin akan marah? Atau minta cerai?" batin Anna


"Bagaimana kalau dia malah jadi jijik padaku?" Anna menarik nafas panjang. Anna menutup matanya rapat memikirkan berbagai hal.


"Gimana nih? Kita emang sudah gituan, tapi kok aku gak tenang gini? Gara-gara kontrak?"


"Tidak. Ini bukan salahku, aku ini korban. Tapi biar bagaimana pun Kevin sudah melanggar kontrak, setidaknnya aku harus memberinya hukuman."


Anna bergegas menyelesaikan mandinya. Setelah mengenakan jubah mandi, Anna kembali ke kamar.


"Apa yang kira-kira bisa bikin Ken kesal ya?" Anna menatap Kevin yang masih terlelap. Anna duduk di sisi ranjang Kevin. Matanya melihat dompet Kevin yang tergeletak di lantai.


Anna dengan kepo memeriksa isi domoet Kevin.


"Buset, ini orang bawa uang tunai banyak banget." Anna menghitung jumlah uang pecahan seratus ribu itu.


"Dua juta. Pantas dompetnya selalu terlihat tebal." Anna akhirnya memutuskan mengambil uang itu dan beberapa kartu Kevin yang ada di dompet.


"Betul, untuk sementara ini ayo kita kabur." Anna berjalan ke arah closet.


"Mungkin aku bisa keluar dengan alasan pergi lari pagi," gumam Anna. Anna langsung memilih pakaian olahraga.


Anna menatap cermin besar yang ada di ruangan itu, dan kaget melihat jejak merah hampir disepanjang lehernya.


Anna segera membuka jubah mandinya. Dia mendapati terlalu banyak bekas merah di sekujur tubuhnya.


"Astaga bahkan di paha juga ada? Bagaimana aku menutupi ini semua," gumam Anna pelan. Anna memutuskan menggunakan jaket lengan panjang dan berleher tinggi.


"Untuk sementara pergi ke tempat Julie saja dulu." Anna mengambil topi dan memakainya.


"Perlu bawa baju tidak ya?"


"Gak usah deh. Nanti aku belanja saja di Bandung." Anna mengangguk ringan.


"Astaga aku lupa ucapin selamat ulang tahun ke Julie," seru kaget Anna.


"Sekalian aja aku kasih surprise pagi ini."


Anna berjalan keluar dari walk in closet.


"Astaga badanku pegal semua. Apa aku pesan travel saja?"


"Gak mending bawa mobil saja deh." Anna mengambil kunci mobilnya. Sebelum meninggalkan kamar, Anna menatap Kevin sesaat.


"Loh, Mbak Anna." Bi Asih yang baru saja mau keluar ke teras menegur Anna.


"Pagi-pagi mau ke mana? Udah rapi aja, mau olahraga pagi ya?"


"Iya Bi."


"Tapi kok pakai mobil." Bi Asih menunjuk kunci mobil di tangan Anna.


"Saya udah janji sama teman, mau olahraga bareng di daerah monas."


Bi Asih mengangguk tanpa curiga


"Kalau gitu hati-hati di jalan ya Mbak." Anna hanya tersenyum dan segera pergi ke garasi.


Jam tujuh pagi, Kevin masih belum bangun dari tidurnya. Nenek Ratih yang sudah menikmati makan pagi mulai gelisah.


"Kevin sama Anna mana? Tumben jam segini belum bangun."


"Biarin aja Nek. Mungkin mereka capek." Alex tersenyum penuh arti.


Di sisi lain, Kevin mulai terbangun dari tidurnya. Kevin berguling ke kanan sebelum benar-benar terbangun.


"Hari ini tidurku nyenyak banget," batin Kevin.


Kevin bangun dan merenggangkan badannya. Dia melihat sekelilingnya dengan tatapan mengantuk. Begitu Kevin menyadari ada yang salah, senyuman hilang dari wajahnya.


Kevin melihat bajunya dan piyama, bahkan sampai dalaman yang sepertinya punya Anna berserakan di mana-mana. Kevin menyibak selimut yang dipakainya, mendapati dirinya tidak menggunakan bahkan sehelai benang.


Sebercak noda darah dan ingatan yang samar-samar membuat Kevin sakit kepala.


"Dasar gila," serunya memegang dahi.


"Kenapa aku gak dibangunkan?" Kevin muncul di ruang makan, langsung protes pada Alex yang masih duduk di sana.


"Segar amat tampangnya." Alex tersenyum mengejek.


"Kita ini sudah telat ke kantor," protes Kevin.


"Jadwalmu sudah kuatur ulang kok."


"Tadi subuh Mbak Anna izin mau olahraga pagi. Katanya sudah janjian dengan teman," Bi Asih yang menjawab.


"Ia betul. Kemarin Anna sempat bilang," sahut Kevin.


"Ini kan sudah jam delapan, masa belum selesai." Nenek mulai merasa curiga.


"Emm... Kan janjian sama teman Nek. Ah, dia janjian sama Julie. Katanya hari ini Julie ulang tahun," Kevin agak terbata.


Alex menaikkan sebelah alisnya.


"Aku sangsi Anna bisa olahraga."


"Maksudmu apaan sih?" Kevin mulai kesal.


"Kalau Kevin saja bisa telat bangun, apalagi Anna." Alex tersenyum mengejek.


"Itu mulut bisa diam gak sih?" Kevin melotot pada Alex. Alex tertawa makin keras.


"Udah daripada bercanda terus, ke kantor sana. Udah jam berapa ini?" Nenek mengusir kedua cucunya.


"Lex, hari ini aku nebeng aja ya." Kevin memberitahu begitu mereka sampai di garasi.


"Kalau gitu pakai sopir saja."


"Jangan."


"Oke."


Begitu duduk di kursi penumpang, Kevin langsung menghela nafas panjang.


"Pagi-pagi udah menghela nafas. Jangan bikin sial," tegur Alex.


"Banyak masalah," jawab Kevin asal.


"Masalah apa? Jelas banget wajahmu hari ini segar banget. Gimana semalam? Main berapa jam?" Alex mulai menjalankan mobilnya.


"Maksudmu apaan sih?" Kevin pura-pura bego.


"Gak usah pura-pura bego. Kamu udah tidur dengan Anna kan?"


"Setiap hari juga aku tidur sama Anna," jawab Kevin.


"Kamu tahu maksudku, gak usah pura-pura gak tahu."


"Masalahnya aku gak ingat."


"Sama sekali?" tanya Alex.


"Gak juga sih,


tapi masalahnya sekarang Anna hilang."


"Maksudnya?"


"Aku bangun dia sudah gak ada."


"Tadi kamu bilang dia janjian sama Julie."


"Kemarin dia sempat bilang hari ini Julie ultah. Tadi itu cuma improvisasi."


"Barangkali dia emang pergi olahraga,habis itu ketemu sama Julie."


"Katamu tadi gak mungkin," ledek Kevin.


"Ya, siapa tahu kan."


"Masalahnya Lex, tadi aku udah coba telpon Anna. Direject," Kevin berseru kesal.


"Seriusan?" tanya Alex.


"Pasti dia marah kan. Secara aku udah melanggar kontraknya," jawab Kevin.


"Tapi, kan bisa di selesaikan baik-baik."


"Mana ada cewek yang diperkosa mau selesai baik-baik. Apalagi kalau masih virgin."


"Maksudmu? Kalian kan suami istri sah."


"Tapi, bukan berarti aku bisa maksa kan?" jawab Kevin.


"Ya jangan pakai istilah gitu dong."


"Itu Anna serius masih virgin?" tanya Alex.


"Kamu pikir istriku itu cewek apaan?" Kevin merasa kesal.


"Ya kan aku cuma tanya Vin."


Kevin berbalik menatap keluar jendela mobil.


"Sekarang mending kamu coba hubungi Anna lagi. Nenek gak boleh sampai tahu kalau Anna kabur." Alex memberi saran.


"Kalau dia masih gak mau angkat telpon gimana?"


"Kalau gitu nanti aku yang coba telpon Anna. Kalau gak, kita bisa coba telpon Julie." Kevin mengangguk tanda setuju.


next>>>


terimakasih sudah mampir yaa...