
Kevin terus-terusan kepikiran chat yang dikirim Vanessa.
"Vanessa gak bisa dipercaya sih, tapi gimana ya? Masa aku yang mengalah?" batin Kevin.
Saat pulang pun Alex tidak peduli pada Kevin.
"Lex. Kamu ngambek?" tanya Kevin.
"Memangnya aku anak-anak? Aku gak seperti kamu." Alex melangkah masuk ke rumah.
"Kalau begitu bantu aku cari alasan buat Nenek," pinta Kevin.
"Maaf untuk itu kamu urus saja sendiri."
"Kevin. Alex," Nenek memanggil. Kevin dan Alex berhenti melangkah.
"Kevin kapan Anna pulang?" tanya Nenek.
"Em..."
"Kata Anna, dia masih butuh istirahat beberapa hari lagi." Akhirnya Alex membantu Kevin. Kevin tersenyum menang.
"Suruh Anna pulang saja. Istirahat di rumah, biar Nenek yang urusin dia."
"Nanti aku kasih tahu Anna," sahut Kevin.
"Kamu pasti berantem kan sama Anna?" tanya Nenek curiga.
"Gak kok Nek," jawab Kevin cepat. Nenek menatap Alex meminta penjelasan.
Alex menghela nafas.
"Mereka cuma salah paham sedikit, gara-gara Kevin lebih percaya Vanessa." Kevin langsung melotot pada Alex.
"Kamu masih berhubungan dengan Vanessa?" tanya Nenek. "
"Gak. Aku sudah ganti nomor dan sudah blokir nomornya. Aku juga gak tahu dari mana dia tahu nomor baruku."
"Nenek gak mau tahu. Besok kamu harus jemput Anna. Awas kalau ya, kalau besok Anna gak pulang kamu Nenek coret dari kartu keluarga."
Mata dan mulut Kevin membulat mendengar Nenek.
"Ini gara-gara kamu," protes Kevin pada Alex. Alex hanya mengangkat kedua bahunya.
Kevin menghempaskan diri ke atas kasur empuknya.
"Masa aku yang harus duluan minta maaf?" gumamnya.
"Tapi aku juga sudah kangen."
Kevin memutuskan untuk berendam sebentar, agar bisa berpikir lebih jernih. Selama berendam Kevin masih galau memikirkan Anna.
"Aku harus ngomong apa kalau nanti ketemu Anna? Kalau dia menolak kembali bagaimana?" Kevin menyisir rambutnya menggunakan tangan dengan frustasi.
"Dasar bego, makanya jangan terlalu nafsu. Tidak, harusnya tempo hari aku tidak boleh minum sampai mabuk."
Mendadak pikiran Kevin diisi permainan panasnya dengan Anna.
"Berhenti berpikiran seperti itu Kevin. Fokus saja untuk besok. Cari cara supaya Anna mau pulang."
Kevin berusaha mengalihkan pikirannya pada hal lain. Sayangnya hal itu sia-sia saja. Dia tidak bisa berhenti membayangkan tubuh seksi Anna.
Hanya dengan membayangkan saja, membuat Kevin menjadi tegang. "Aku bisa gila," gumam Kevin pelan.
Sementara Kevin sibuk dengan 'adiknya', Alex sibuk menelpon Julie.
"Jadi sekarang kamu mau suruh aku bantuin Kevin?" tanya Julie.
"Please, aku juga tersiksa kalau Kevin terus-terusan melamun di kantor. Kerjaannya tidak kunjung beres," pinta Alex.
"Itu kan urusanmu, bukan urusanku."
"Li, aku yakin kamu juga gak senang lihat Anna ngambek dan gangguin kamu sepanjang hari." Alex mencoba membujuk Julie.
"Aku juga akan membantu sebaik mungkin," lanjut Alex.
"Tapi Lex, gak ada yang gratis di dunia ini." Alex tertawa kecil mendengar Julie.
"Apa pun untukmu. Aku sudah pernah bilang kan."
"Kalau aku mau minta dibawakan gunung Everest?" ejek Julie.
"Bisa diatur," jawab Alex santai.
"Gila," balas Julie.
"Besok kan kebetulan hari libur. Aku akan temani Kevin ke Bandung dan kita bisa menghabiskan waktu bersama. Aku bakal beliin apapun yang kamu minta," Alex memberi saran.
"Bisa gak sih, gak usah pakai kata apapun? Kalau aku minta yang macam-macam baru tahu rasa," balas Julie.
"Kalau gitu gini saja. Selama aku mampu, akan kuturuti maumu."
"Deal," balas Julie.
Keesokan harinya Kevin terlihat lesu.
"Lesu amat," tegur Alex.
"Gak bisa tidur," jawab Kevin.
"Kamu udah lepas blokiran kartu Anna?" tanya Alex. Kevin menggeleng lesu.
"Bagaimana dia mau balik kalau gak dinafkahi."
"Berisik."
"Bisa bawa mobil sendiri?" tanya Alex lagi.
"Kalau gitu ayo pergi."
Alex memaksa Kevin untuk membeli kue. Membut Kevin saat ini bingung memilih.
"Lex, kamu aja deh yang pilih."
"Gak bisa dong. Harus kamu sendiri yang pilih." Alex melihat etalase kue.
"Mbak saya mau greentea mille crepenya dan cheesecake masing-masing dua. Macaroon juga deh rasa greentea dan coklat."
"Katanya suruh aku pesan sendiri," sindir Kevin.
"Kata siapa ini buat kamu? Aku beli untuk diriku sendiri." Alex membayar kue pesananya.
"Sejak kapan kamu suka makanan manis?" tanya Kevin.
"Sejak sekarang. Jangan berharap bisa keluar dari sini kalau belum beli apa-apa."
Kevin menghela nafas dan kembali menatap etalase kue.
"Macaroon saja deh," seru Kevin asal.
"Kenapa macaroon? Ikut-ikutan," ejek Alex.
"Karena Anna suka warna pastel," jawab Kevin ketus. Alex hanya tersenyum.
*****
"Li, mau sampai kapan di rumah terus? Keluar yuk, sekalian makan siang."
"Gak bisa Na, aku lagi ada kerjaan yang belum kelar. Itu aku juga udah pesan makan siang."
"Sejak kapan kamu bawa pulang kerjaan?" protes Anna. Anna mulai membuka bungkusan nasi padang yang dipesan Julie.
"Sejak kamu numpang di sini."
"Tumben beli nasi padang. Biasanya mau makan ayam."
"Itu juga ada ayamnya kan," jawab Julie.
"Kamu gak mau makan? Bagi dua aja ya, porsinya kebanyakan."
"Makan aja dulu. Aku nanti belakangan aja."
"Ck, Julie gak asyik. Kerja terus." Anna mulai memakan nasi padangnya.
"Aduh, lama amat sih si Kevin. Sampai kapan aku harus pura-pura kerja untuk tahan Anna di rumah," batin Julie frustasi.
Julie mengirimkan chat singkat untuk Alex. 'Jangan kelamaan. Bawakan aku cemilan ya.'
"Katanya mau kerja. Malah main ponsel." Anna memasukkan satu sendok besar nasi ke mulut.
"Aku lagi chat Ocha, mau minta data kemarin."
Setelah menunggu sekita lima menit, Alex akhirnya membalas chat Julie. 'Aku sudah di luar.'
Julie langsung memperbaiki duduknya, dan berpura-pura kerja dengan lebih serius. Anna masih mengunyah, bahkan hampir menghabiskan nasi padang yang tadi dirasa kebanyakan.
Bel rumah Julie berdering.
"Siapa sih? Ganggu saja," protes Anna.
"Aku aja yang buka pintu. Kamu mending beresin piringnya. Bawa ke belakang."
"Aku kan belum selesai," protes Anna lagi.
"Kalau kamu habisin aku makan apa dong?" Julie beranjak membuka pintu, sementara Anna berjalan ke arah dapur.
"Lama amat sih." Julie langsung protes begitu membuka pintu.
"Emang kamu pikir Jakarta itu dekat?" Kevin mencebik.
"Jangan lupa. Kamu datang buat jemput Anna," tegur Alex.
"Anna mana?" tanya Kevin.
"Ada di dalam. Masuk aja dulu."
"Na, bisa ke sini bentar gak?" Julie berteriak memanggil Anna.
"Ada apa sih?" Anna balas berteriak.
Anna berjalan keluar dari dapur dan kaget melihat Kevin sudah ada di sana.
"Ngapain ke sini?" tanya Anna dengan kesal
. "Ya, mau jemput kamu lah."
Alex langsung mencubit pinggang Kevin dari belakang.
"Auw." Kevin melotot pada Alex sebagai bentuk protes
"Sepertinya kalian butuh waktu bicara berdua. Aku tunggu di luar saja ya," saran Julie pada Anna. Anna spontan menarik lengan baju Julie.
"Na kamu harus selesaikan baik-baik kesalahpahaman ini," bisik Julie. Julie menatap sahabatnya dalam. Anna akhirnya mengangguk.
"Mungkin aku dan Julie bisa keluar jalan dulu. Kalian berdua bisa ngobrol santai," saran Alex. Kevin mengagguk setuju.
"Untung aku gak pakai baju rumah atau piyama tadi," batin Julie.
Sekarang tersisa Kevin dan Anna di dalam rumah. Mereka terdiam, tak tahu harus mulai dari mana.
next>>>