
"Aduh, sudah stop jangan bicara lagi. Perutku sakit karena kebanyakan ketawa," protes Kevin.
"Itu lah dia kunci awet mudaku, selalu tertawa," balas Anna.
"Sudah cukup, serius perut saya sakit kebanyakan ketawa." "Baru segitu saja. Ya sudah, kalau begitu aku ke
toilet dulu ya." Kevin mengaggukkan kepala sambil menyeka air mata dan Anna segera berlalu.
Kevin memperhatikan Anna pergi. Saat memperhatikan Anna, Vanessa tidak sengaja masuk dalam pandangannya. Kevin mengalihkan pandangannya sejenak dan menghela nafas.
Ketika Kevin menoleh kembali, Vanessa sudah menghilang dari mejanya. Mata Kevin secara otomatis mencari Vanessa yang sekarang ini berjalan menuju toilet.
Anna baru saja keluar dari toilet dan menghampiri wastafel untuk cuci tangan. Baru saja Anna mau memutar
keran air, Vanessa berteriak.
"Eh, kamu cewek murahan." ucapnya
Anna dan satu orang pengunjung lain terkejut. Anna menatap Vanessa heran.
"Saya?" Anna bertanya bego.
"Memangnya siapa lagi? Cuma kamu di sini yang merebut tunangan orang. Dasar pelakor." Anna cukup terkejut dengan kelakuan Vanessa, sementara pengunjung yang satu lagi segera keluar dari toilet.
"Setahu saya Ken tidak punya pacar. Apalagi tunangan," jawab Anna.
"Ken?" Vanessa makin gusar.
"Mas Kevin maksudnya." jelas Anna
"Berani-beraninya kamu kasih kak Kevin kasih panggilan begitu. Aku saja gak diijikan memakai nama panggilan." Vanessa menunjuk-nunjuk jidat Anna dengan kasar. Emosi, Anna menghalau tangan Vanessa.
"Rasanya itu hak saya mau panggil dia apa. Lagian anda tidak sopan sekaliya manggil orang yang lebih tua. Saya saja gak pakai kata kamu dan tidak menunjuk-nunjuk anda yang lebih muda." terang Anna
Kevin sudah mulai merasa gelisah melihat Vanessa yang juga pergi ke toilet dan Anna juga belum kembali. Kevin beranjak dari kursi mau menyusul ke toilet.
("Masa sih?"
"Ia, benaran. Aku masih sempat
mendengar cewek yang rambutnya pendek bilang kalau dia tidak tahu pacarnya
punya tunangan. Aku sampai gak jadi buang air tau. Soalnya cewek yang rambut
panjang seram, aku gak mau terlibat.")
Kevin tidak sengaja mendengar percakapan dari meja yang baru saja dilewatinya.
Dengan gusar Kevin memandang berkeliling mencari Alex, tapi tidak menemukannya. Kevin memberi isyarat kepada salah satu pelayan untuk mendekatinya.
"Bisa dibantu pak Kevin?" ucapnya
"Cari Alex," perintahnya.
Pelayan itu segera pergi mencari Alex dan Kevin segera ke arah toilet.
"Jangan sok tua deh, kamu itu gak lebih dari cabe." Vanessa masih saja berteriak.
"Cabe? Nona Vanessa yang terhirmat, saya lebih tua lima tahun dari kamu. Yang cabe di sini itu kamu." Anna yang sudah di landa emosi mulai bernada sedikit tinggi.
Pengunjung lain yang mau masuk ke toilet langsung putar balik begitu mendengar suara teriakan Vanessa dari luar toilet. Kevin yang berada di luar makim gelisah.
"Aduh, saya kan tidak mungkin masuk toilet perempuan," batinnya.
Kevin hanya bisa mondar-mandir saja di depan toilet dan mendengar suara Vanessa yang lebih mendominasi.
"Eh, apa kamu bilang? Aku cabe? Enak saja. Kamu yang cabe." Vanessa berteriak makin kencang saja.
"Melihat sikap kamu yang emosian dan manja gini, semua juga tahu kalau kamu yang cabe. Dasar labil," timpal Anna santai.
Vanessa yang makin marah dan kesal langsung maju dan melavangkan tangan ke pipi Anna.
Kevin yang masih mondar-mandir di luar makin gelisah. Alex yang baru tiba di area restoran, berlari kecil menghampiri Kevin. Disaat yang sama Kevin mendengar suara keras dari toilet dan bergegas masuk. Alex yang
masih bingung mengikuti Kevin.
Anna memegang pipinya yang kena tamparan Vanessa dengan ekspresi sedikit kesal.
"Anna." Kevin menghambur masuk disusul dengan Alex.
"Apa-apaan ini?" Kevin mendekati Anna dan mencoba melihat pipinya.
"Kak Kevin kok belaiin dia sih?" protes Vanessa.
"Yang saya lihat di sini. Anna yang menjadi korban," timpal Kevin.
"Kok gitu sih? Aku dong yang jadi korban. Dia yang pelakor bukan aku." bela Vanessa
"Sekali lagi saya sampaikan pada anda.Anna pacar saya. Saya bahkan tidak pernah pacaran dengan anda, kenapa saya bisa direbut dari anda?" Vanessa terdiam mendengar kata-kata Kevin yang penuh amarah.
"Ya, tapi kan...."
"Alex, tolong ambilkan tas Anna dan urus anak kecil ini." Kevin memotong kata-kata Vanessa.
"Ayo, Na saya antar kamu," lanjutnya. Kevin menggandeng Anna dan segera keluar dari toilet. Anna memandang Vanessa dengan tatapan menang.
Kevin masih mengggandeng tangan Anna sesampainya di depan lift. Selagi menunggu lift Kevin memperhatikan Anna.
"Itu sakit tidak?" tanyanya.
Anna memegang pipinya,
"Sakit lah. Orangnya kurus begitu tapi tenaganya luar biasa." ucapnya
Dengan ragu-ragu Kevin mengangkat tangannya, hendak melihat pipi Anna yang sedikit tertutup rambut. Anna yang menyadari pergeraka Kevin menoleh. Langsung saja Kevin jadi salah tingkah dan membatu. Disaat bersamaan
Vanessa muncul di area lift dan melihat pemandangan itu. Anna dan Kevin sama sekali tidak melihat kedatangan Vanessa.
Baru saja Vanessa punya pikirian untuk melabrak Anna lagi, pintu lift terbuka. Kevin pun tersadar begitu mendengar bunyin pintu lift yang terbuka. Segera dia menuntun Anna. Hal ini tentu saja membuat Vanessa makin marah.
Vanessa mau mengejar Kevin. Tapi baru dua langkah dia ditahan oleh tangan Alex.
"Ness, mau kemana sih?" ucapnya
Vanessa melihat pintu lift tertutup.
"Aku mau kejar kak Kevin."
"Gak ada gunanya kamu kejar dia sekarang. Kevin itu lagi marah Kamu tahu kan kalau dia lagi marah, dia gak akan dengarin kamu." jelas Alex
Vanessa sadar akan hal itu dan hanya bisa menggerutu.
"Awas ya akan aku laporin ke nenek," bisik Vanessa
Kevin mengantar Anna sampai ke depan pintu kamarnya.
"Emm, saya minta maaf atas ketidak sopanan Vanessa..." ucap Kevin
"Stop," potong Anna.
"Aduh, Ken kata-kata kamu baku banget sih. Aku pusing dengarnya. Santai aja," lanjut Anna.
Kevin terdiam sebentar,
"Sorry." ucapnya
"Kok, kamu yang minta maaf? Emang kamu salah apa? Kan bukan kamu yang tampar aku." ucap Anna
"Tapi, kalau saya tidak minta tolong sama kamu ini tidak akan terjadi." ucap Kevin
"Ia sih. Tapi aku juga kan yang mau nolongin kamu, karena sudah dikasih nginap di sini." jelas Anna
Kevin tertawa kecil.
"Gak masuk?" tanya Kevin.
Anna tertawa dan membunyikan bel pintu.
"Kuncinya mana?" Kevin bertanya.
"Dalam tas," jawab Anna.
"Saya sudah suruh Alex ambilin tas kamu. Ah, itu dia Alex." Alex berjalan cepat menghampiri mereka dan pintu
kamar juga dibukakan Julie.
"Anna, kamu lupa bawa kunci?" tanya Julie
"Tasku ketinggalan sis." Anna mengambil tas dari Alex.
"Makasih ya," serunya.
"Oh, ia Li ini Kevin. Kevin Bramantara. Dan Kevin. Ini sahabat aku Julie." Anna memperkenalkan Julie dan Kevin. Dua orang itu saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa saya hubungi lagi."Kevin berpamitan dengan sopan. Anna mengangguk kemudian melambaikan tangannya.
"Selamat malam," seru Alex.
Mereka berdua pun segera menghilang dari pandangan Anna.
next...!
maaf bila ada salah salah kata atau typo...!!!!!!!!