The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 27 HoneyMoon



Keesokan paginya, Kevin dan Anna sudah harus berangkat bulan madu ke Korea dengan pesawat pertama. Anna terlihat sangat senang.


"Ngapain sih?" tanya Anna.


"Kerja," jawab Kevin.


"Ini kan waktunya liburan kok kerja?" Saat ini mereka berdua sedang duduk di ruang tunggu.


Kevin sebenarnya tidak mau pergi bulan madu, dengan alasan pekerjaan. Tapi Nenek memaksa Kevin untuk pergi. Mau tidak mau Kevin menurut. Untuk bulan madu, Anna memilih Korea Selatan karena dia penggemar drama Korea.


Kevin masih sibuk dengan tablet dan notebooknya.


"Mau dibantuin?" tanya Anna.


"Emang kamu bisa apa?"


"Eh, jangan suka memandang remeh orang lain tahu," protes Anna.


"Emang kamu pernah kerja dokumen bisnis?" tanya Anna.


"Gak pernah," jawab Anna.


"Nah itu gak pernah."


"Kan bisa belajar."


"Belajar itu gak bisa dalam waktu singkat," protes Kevin.


"Kalau belum dicoba mana tahu," balas Anna.


Perdebatan kecil itu harus berhenti, karena panggilan boarding sudah terdengar.


"Udah sini aku bantuiin, biar lebih cepat selesai dan bisa liburan."


"Gak usah."


Perdebatan itu pun masih berlangsung bahkan di atas pesawat. Bahkan masih berlanjut sampai di hotel.


Ann baru saja selesai mandi dan telah menggunakan piyama. Anna melihat Kevin masih saja sibuk dengan kerjaannya.


"Gak mau mandi dulu?" saran Anna pada Kevin.


"Sebentar lagi deh."


"Stop kerja, atau aku laporin Nenek," ancam Anna.


"Ngancam nih?"


"Gimana ya reaksi Nenek kalau dengar Kevin lebih sayang kerjaan dari pada istri."


"Anna. ini benaran masih ada dokumen yang tertunda, gara-gara prewed kemarin."


"Makanya aku bilang aku bantuin, supaya cepat selesai biar gak mengganggu liburanku."


"Kalau kamu takut aku mengganggu, kamu bisa pergi sendiri aku tinggal di hotel. Simpel," balas Kevin.


Anna tercengang mendengar Kevin.


"Ok, aku telpon Nenek sekarang." Anna mengambil ponselnya.


"Eh, stop.." Kevin mengambil ponsel Anna.


"Kamu ambil ponsel aku pun, aku bisa telpon pakai telpon hotel. Aku hafal loh nomor Nenek."


"Ok. Ok. Aku kalah," seru Kevin pada akhirnya.


Anna tersenyum penuh kemenangan.


"Sekarang kamu mau apa?" tanya Kevin.


"Kamu mandi dulu, terus aku bisa bantu kerja dokumen kamu."


Kevin masih perlu berpikir untuk membiarkan dokumenya dikerjakan Anna.


"Kasih aku dokumen yang gak terlalu penting saja. Aku jamin gak akan menjual dokumenmu ke perusahaan lain," Anna meyakinkan.


"Ok. Biar aku kasih lihat kamu dokumennya." Anna duduk di sofa.


"Ini dokumen yang dikirim Dinda. Kamu cuma perlu mencocokkan dua dokumen, Kamu cuma perlu mencocokkan dua dokumen ini dengan data di file yang ini. Kalau ada yang salah perbaiki," Kevin menjelaskan.


"Susunan file kamu berantakan amat sih," protes Anna.


"Mau bantuin atau gak?" tanya Kevin agak kesal.


Anna mengambil notebook Kevin dan mulai bekerja.


"Mandi sana." Anna mengusir Kevin.


Kevin memperhatikan Anna sebentar, sebelum pergi mandi.


"Udah sampai mana?" Kevin keluar dari kamar mandi lima belas menit kemudian menggunakan jubah mandi,


sambil mengeringkan rambut dengan handuk/


Di lain pihak Anna berbaring tengkurap di sofa.


"Udah selesai, aku tinggal rapihin file kamu."


"Gak usah dirapikan. Nanti aku bingung carinya."


Kevin mengambil notebokknya dari Anna.


"Takut amat sih."


Kevin memeriksa filenya, yang diluar dugaan tersusun dengan sangat rapi dan mudah ditelusuri. Kevin berkedip beberapa kali dan beralih ke dokumen yang dikerjakan Annaa. Sekali lagi Kevin merasa takjub


Kevin tidak melihat sisa-sisa tulisan Dinda yang terlalu santai, atau tatanan bahasanya yang kacau.


"Ini terlalu bagus untuk orang yang belum pernah urus dokumen," batin Kevin.


"Gimana?" tanya Anna.


Anna tersenyum riang. Kevin memegang dagunya sambil melihat Anna.


"Bisa bahasa Inggris?" tanya Kevin.


"Lumayan."


"Bisa bikin proposal?" tanya Kevin lagi.


"Bisa dicoba," jawab Anna.


Kevin memberikan Anna pengarahan tentang proposal yang dimaksud. Hasil kerja Anna bagus dan cukup cepat. Akhirnya Kevin malah memberi Anna lebih banyak dokumen.


"Na, bisa tolong lihat ini dulu?"


"Anna?" Kevin yang duduk di meja berbalik ke sofa.


Ann sudah tertidur sambil memeluk notebook. Kevin tertawa melihatnya. Kevin mengambil notebook dari pelukan Anna, setelah itu digendongnya Anna ke tempat tidur.


"Ringan," seru Kevin.


Kevin meletakkan Anna dengan pelan di atas ranjang. Anna yang sepertinya sedang bermimpi indah memeluk lengan Kevin. Kevin sedikit terkejut. Pelan Kevin berusaha membebaskan tangannya, tapi Anna mempererat pelukannya.


Kevin merasa makin canggung, karena lengannya menempel di dada Anna. Semakin Kevin berusaha membebakan diri, semakin erat pelukan Anna. Kevin menghela nafas frustasi.


"Oppa... " Anna mengigau.


Kevin tertawa mendengarnya, kemudian berbaring berusaha untuk rileks.


Keesokan paginya Anna mulai terbangun dari tidurnya. Hidung Anna mencium wangi maskulin samar yang terasa nyaman. Anna tidur dalam pelukan Kevin. Saking nyamannya anna mempererat pelukannya dan menempelkan wajahnya pada dada bidang Kevin.


Anna pelan-pelan mulai tersadar dari tidurnya. Begitu Anna menyadari wajahnya


menempel pada dada Kevin, Anna langsung berteriak.


"Kyaaaa..... " Kevin melompat bangun.


"Kenapa? Ada apa?"


"Ngapain peluk-peluk?" tanya Anna.


"Hah?" Kevin belum sadar sepenuhnya.


"Mau ngapain kamu peluk-peluk aku?"


"Yang ada kamu duluan yang peluk." protes Kevin.


"Bohong, pasti mau mesum."


"Kamu kali yang mesum," balas Kevin.


Tiba-tiba Anna menarik nafas dan langsung menutup mata.


"Itu apaan?" teriak Anna.


"Apaan?"


"Kalau gak mesum kenapa itu nya bangun," teriak Anna. Kevin melihat ke arah bawah.


Kevin segera menutupi bagian yang menonjol dengan tangan.


"Ya, ini normal buat cowok kalau pagi," teriak Kevin.


Dengan canggung Kevin bergegas ke kamar mandi.


"Hah..." Kevin menghela nafas panjang.


" Bisa gila aku kalau setahun gini terus." lanjutnya.


Anna menatap Kevin dengan kesal saat Kevin keluar dari kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Mesum." Anna segera berlalu menuju kamar mandi.


"Itu normal," protes Kevin.


Setelah selesai sarapan pagi, Kevin dan Anna memulai tour mereka. Mereka sama sekali tidak menggunakan jasa tour. Selain hotel dan pesawat, semuanya diatur oleh Anna sendiri. Saat ini juga di Korea masih


musim panas. Menurut Anna musim panas adalah waktu untuk berlibur.


"Ken sini dong, kita foto." Anna nampaknya sudah melupakan perkelahian tadi pagi


"Untuk apa sih foto-foto?"


"Untuk di kasih lihat ke Nenek," jawab Anna.


Dengan enggan Kevin mendekat.


"Jangan terlalu jauh Ken. Mukamu terpotong."


"Lagi dong." seru Anna.


"Ngapain ngambil foto banyak-banyak?" tanya Kevin.


"Ngapain kamu beli kemera baru dengan memori gede kalau gak mau diisi?" Anna bertanya balik.


Kevin hanya bisa menggaruk kepala.


Awalnya Kevin mengikuti Anna dengan enggan. Tapi setelah waktu berlalu, Kevin mulai menikmati liburannya. Bahkan selalu meladeni permintaan foto Anna. Kerjaan kantor yang rencananya akan dikerjakan setelah pulang ke hotel pun dilupakan.


Anna mengatur liburan bulan madu ini dengan sempurna. Mereka menjelajahi segala macam tempat. Mulai dari makan street food, shopping mewah di Gangnam, shopping skin care di Myeongndong dan nongkrong di Itaewon. Tidak lupa juga jalan-jalan di istana menggunakan hanbok.


Kevin sempat kepedasan makan tteokbokki super pedas. Anna histeris melihat syuting drama dari jauh. Mereka


berdua juga sempat kesasar. Bahkan Anna harus membeli koper baru karena kebanyakan shopping skin care dan make up.


next>>>>>>>