The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 83 Mencoba Kuat



"Kamu makin pucat saja. Muntah lagi?" tanya Julie.


"Cuma mual. Pengen muntah sih, tapi gak ada yang keluar." Anna berbaring lemas di sofa dalam ruangannya.


"Udah berapa hari kamu gini terus?" tanya Julie.


"Sekitar dua mingguan?," Anna menjawab dengan pertanyaan lain.


"Mau ke dokter saja?"


"Aku udah chat sama dokternya. Katanya gak apa-apa, selama makanannya gak keluar semua."


"Udah makan siang?" Anna menggeleng pelan.


"Tadi udah minum susu sih," lanjut Anna.


"Mau makan apa?" tanya Julie.


"Yang jelas bukan bawang," jawab Anna cepat.


"Makan diluar saja?" tanya Julie.


"Hari ini aku mau fish and chip," pinta Anna.


"Tapi harus makan sayur juga ya." Anna mengangguk pelan mengiyakan Julie.


"Debay kamu nurut mami dikit dong. Jangan bikin mami sengsara," celoteh Anna sambil memegang perutnya. Julie hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya.


Julie memilih restoran dengan menu sehat. Awalnya Anna merasa malas makan, tapi begitu melihat buku menu semua ingin dipesan.


"Mau dori yang ini, terus yang ini. Smoothie bowlnya juga, yang ini ya. Dengan wafel juga sekalian. Minumnya air mineral saja." Anna menunjuk satu demi satu menu yang diinginkannya.


"Julie mau pesan apa?"


"Aku gak akan pesan apa-apa, karena kamu pasti gak bakal habisin itu semua." Anna tertawa mendengarnya.


"Ketawa lagi. Tiap kali kamu pesan makanan, pasti selalu bersisa. Kamu yang hamil aku yang gendut," protes Julie.


"Gendut dari mana?" tanya Anna.


"Pasti lah. Tiap kamu pesan makanan, pasti banyak banget. Yang dimakan cuma secuil, sisanya aku yang habisin. Dalam seminggu ini aku udah naik dua kilo tahu."


"Tenang kali ini kan semua menunya sehat. Kamu gak akan tambah gendut," seru Anna senang. Julie mencebik dengan kesal.


Anna mengusap perutnya dengan senang.


"Mungkin aku harus beli dress lagi," seru Anna.


"Perasaan dress kamu ada banyak."


"Perutku sudah mulai kelihatan Li. Kalau perutnya makin besar, dress di rumah mana muat. Mending di cari dari sekarang kan."


"Tapi ingat, kamu gak boleh terlalu capek."


"Siap bos," balas Anna.


"Siapa sih ini yang telpon?" Anna bergumam kesal melihat ponselnya yang berdering.


"Nomor gak dikenal?" tanya Julie. Anna mengangguk kesal.


Anna mematikan panggilan telpon itu dengan kesal.


"Kenapa gak diangkat saja?" tanya Julie.


"Entah kenapa aku merasa kesal lihat nomornya."


Ponsel Anna berbunyi lagi.


"Coba angkat saja. Siapa tahu penting," saran Julie.


"Gak mau." Anna kembali mematikan telpon itu.


Ponsel Anna berbunyi sekali lagi.


"Apaan sih ini orang? Mengganggu saja," protes Anna.


"Udah sini aku yang angkat. Nanti nyalaiin speaker saja." Julie meminta ponsel Anna.


"Halo," sapa Julie.


"Anna?" Suara cempreng itu makin terdengar keras.


"Siapa ya?" tanya Julie ketus.


"Masa kamu lupa sih sama aku? Ini Vanessa," jawabnya manja. Ekspresi Anna makin menakutkan.


"Dari mana kamu tahu nomorku," Anna yang berbicara.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"


"Apa sih maumu?" tanya Anna ketus.


"Galak amat sih. Aku kan mau menyampaikan kabar bahagia."


"Kabar apapun yang mau kamu sampaikan, saya gak berminat?" balas Anna.


"Aku ini lagi hamil loh," seru manja Vanessa.


"Belum ke dokter sih, tapi aku udah test pack tiga kali. Hasilnya positif semua."


"Terus?" Amarah Anna mulai membuncah.


"Kamu gak mau kasih selamat ke aku?" tanya Vanessa.


"Harusnya kamu malu. Apalagi sudah menjebak suami orang," seru Anna dengan marah.


Anna memutuskan sambungan telpon dengan kesal. Anna juga segera memblokir nomor Vanessa.


"Dasar jal**g," maki Anna.


"Hush, jangan ngomong kasar gitu. Nanti si debay dengar," Julie menegur.


"Dia kan masih dalam perut," balas Anna masih marah.


"Dari dalam kandungan sudah harus diajarkan yang baik-baik," seru Julie.


"Gimana aku bisa ngomong baik-baik kalau berhadapan dengan Vanessa."


Julie mendelik ke arah Anna. Anna menarik nafas pelan.


"Maaf ya nak. Kamu jadi dengar yang tidak-tidak." Anna mengelus perutnya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Julie.


"Demi debay aku harus kuat kan?" tanya Anna berusaha menahan tangisannya.


Setelah makan siang, Julie mati-matian menemani Anna belanja.


"Nanti kamu ditegur kalau jalan terus." Anna berusaha melarang Julie.


"Gak bakal kok. Pencapaianku kan bagus. Kamu tenang saja," Julie meyakinkan. Anna akhirnya setuju dengan Julie.


Sebenarnya Julie khawatir pada Anna. Terlebih lagi setelah pernyataan Vanessa tadi. Untungnya Anna terlihat baik-baik saja.


Anna membeli beberapa lembar dress. Sepulangnya dari belanja, Anna ingin langsung pulang.


Anna terdiam sejenak, memandang keluar jendela. Anna menarik nafas dengan pelan. "Jangan nangis," seru Anna dalam hati.


"Kenapa lagunya terasa cocok banget dengan aku sih?" gumam Anna. "Kenapa La?" tanya Julie. "Gak apa-apa," jawab Anna.


"Kutukan cinta ya? Apa cintaku pada Kevin itu kutukan?" Anna kembali menatap keluar jendela.


Anna mengelus perutnya dengan lembut.


"Kamu baik-baik di dalam ya nak. Mami gak akan biarin kamu susah dan sedih. Walaupun Vanessa mungkin bisa ambil papi kamu, mami akan berjuang untukmu. Walau harus sendirian."


Anna tidak henti-hentinya berucap dalam hati. Bukan untuk menghibur bayinya, tapi untuk menenangkan hatinya yang gundah.


"Kamu harus kuat Na, kamu gak boleh nangis. Kamu gak usah pikirin perempuan itu, pikirin bayi kamu. Anna, kamu harus bertahan sekuat hati. Harus bisa kuat untuk bayi kamu." Anna berusaha menahan tangisannya.


*****


"Bagaimana dengan Anna?" tanya Alex lewat sambungan telpon.


"Entahlah," jawab Julie.


"Maksudnya?"


Alex bisa mendengar Julie menghela nafas.


"Tadi Vanessa menelpon ke Anna, Katanya dia hamil."


"Apa? Hamil?" teriak Alex.


"Hm," jawab Julie singkat.


"Astaga kegilaan apa lagi ini. Lalu bagaimana reaksi Anna?" tanya Alex.


"Awalnya dia bilang dia harus kuat, tapi begitu masuk kamar dia menangis."


Mereka berdua terdiam.


"Akan coba kudiskusikan dengan Kevin soal ini," seru Alex.


"Apa yang mau didiskusikan? Kalian mau suruh Vanessa gugurin kandungan?" tanya Julie.


Alex tahu itu cara yang salah, jadi dia tidak menyuarakan pikirannya.


"Sudahlah. Nanti kita lihat saja dulu, Vanessa benaran hamil atau tidak. Anak Kevin atau bukan. Setelah itu baru dibicarakan." Alex setuju.


*****


"Kamu tadi bilang apa?" tanya Kevin.


"Aku dapat kabar, katanya Vanessa hamil."


"Hubungannya dengan aku apa?" tanya Kevin lagi.


"Dia mengklaim kalau itu anakmu," jawab Alex.


"Anakku? Aku gak ngapa-ngapain dia. Kenapa dia seret-seret aku dalam masalahnya?"


"Keluarga kita mungkin gak akan percaya sama dia, tapi orang luar?" Alex mulai lelah menghadapi masalah Kevin.


"Orang lain gak akan beranggapan seperti itu. Apalagi Vanessa punya foto. Di foto itu jelas kalian ngapa-ngapain," lanjut Alex.


Kevin menghela nafas kesal.


"Jadi sekarang kita harus gimana?" tanya Kevin.


"Kita lihat situasi saja dulu. Vanessa juga belum bergerak."


"Vin sebaiknya kamu mulai komunikasi dengan Anna. Kalau kamu diam terus masalah ini gak akan selesai," lanjut Alex. Kevin mengangguk pelan.


next>>>