The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 18 Pindah



"Maaf ya Nek kalau rumahnya berantakan," seru Anna.


Nenek menjelajahi setiap sudut dengan matanya. Bahkan nenek juga memperhatikan lantai dua yang agak gelap.


"Cucu dan nenek sama saja," batin Anna teringat saat pertama Kevin berkunjung.


"Nenek mau minum apa?" tanya Anna.


"Lantai duanya kosong?" nenek balik bertanya.


"Ia, Nek. Kami cuma pakai lantai satu saja. Saya senduhkan teh saja ya nek." Nenek hanya mengangguk.


"Teman kamu di mana? Belum pulang?" tanya nenek lagi.


"Dia tugas di Bandung."


"Lagi dinas luar kota maksudnya."


"Gak Nek. Sudah setahun Julie ditempatkan di Bandung."


"Loh, jadi selama ini kamu tinggal sendiri?"


"Ia Nek." Anna menyodorkan secangkir teh.


"Astaga, selama ini nenek berpikir kamu itu tinggal sama yang punya rumah loh." Nenek kembali memperhatikan rumah.


"Gak takut tinggal sendirian? Gak sepi tinggal sendiri Na?"


"Gak juga kok Nek. Anna kan kerja jadi jarang di rumah. Lagian kan ada security kompleks, jadi aman kok."


"Ngomong-ngomong soal kerja. Anna punya masalah di kantor?" tanya nenek


Anna hanya tersenyum saja.


"Nenek tadi gak sengaja dengar omongan teman kamu di telpon. Kamu kenapa? Gak diperlakukan dengan adil ya?"


"Yah, namanya juga atasan Nek. Mau gimana lagi."


"Kamu mau cerita sama nenek?"


"Gimana ya." Anna merasa ragu.


"Yah intinya ada nasabah yang kurang suka dengan saya karena alasan pribadi. Dan dia kenal dan mengadu ke atasan saya, jadinya saya juga ditekan," Anna akhirnya bercerita.


"Ditekan seperti apa?"


"Saya di kasih SP dan diskors tiga hari," jawab Anna.


Nenek menyeruput tehnya dengan tenang.


"Bagaimana kalau kamu pindah saja ke rumah nenek?" saran Nenek.


"Hah?" Anna berser kaget.


"Kamu pindah ke rumah nenek aja. Gimana?" tanya Nenek lagi.


"Kok tiba-tiba Nek?" tanya Anna.


"Nenek khawatir melihat kamu tinggal sendirian. Nenek takut kamu kenapa-kenapa"


Anna tersenyum senang karena diperhatikan.


"Gak apa-apa kok Nek. Anna sudah terbiasa."


"Hal seperti ini gak boleh jadi kebiasaan. Kalau ada apa-apa gimana? Kalau di rumah nenek kan banyak bisa bantuin."


"Anna segan nek."


"Kok segan sih? Kamu itu sebentar lagi jadi istrinya Kevin loh. Nenek dengar kamu juga sudah setuju menikah, kenapa harus segan?"


"Ya, kan belum resmi Nek," jawab Anna malu.


"Itu kan tinggal masalah waktu. Mau ya tinggal sama nenek," bujuk Nenek.


Anna masih berpikir sejenak.


"Apalagi sih yang dipikirkan?" nenek masih berusaha membujuk.


Anna masih merasa ragu tapi, nenek menatapnya dengan ekspresi memohon. Anna akhirnya tersenyum melihat nenek dan menjawab,


" Baiklah nek."


"Nah, gitu dong. Ini baru namanya cucu nenek." Mereka berdua tertawa bersama.


"Nah, sekarang kamu packing aja dulu baju-baju yang mau dipakai. Sisanya besok kamu ambil," usul nenek.


"Sekarang Nek?"


"Ia sekarang," jawab nenek.


"Maksudnya pindahannya sekarang? Malam ini?"


"Ia Anna sayang. Nenek gak mau biarin kamu sendirian lagi. Walaupun cuman semalam, Nenek gak mau. Nanti nenek bantuin kamu" tersang nenek


Anna hanya ternganga saja.


"Ini nanti makanan yang Nenek bawa gimana dong?" tanya Anna.


"Kan bisa di bawa pulang lagi. Biar nanti makan di rumah nenek saja. Atau mau makan malam dulu?"


"Makan dulu." jawab Anna bingung tapi kelaparan.


"Kalau gitu kamu makan, nenek menelpon dulu ke rumah. Supaya orang siapin kamar kamu."


"Kenapa harus buru-buru banget sih Nek?" tanya Anna sambil melipat pakaiannya.


Nenek juga ikut membantu Anna.


"Nenek gak mau liat cucu nenek, sendirian di rumah sebesar ini."


"Atau kamu mau nenek saja yang nginap untuk malam ini?" lanjut Nenek.


"Emang Nenek bisa tidur di kamar sesempit ini?"


"Bisa dong. Kenapa enggak?"


"Nanti Nenek gak nyaman loh tidur di sini."


"Kan belum di coba, mana nenek tau nyaman atau tidak." ujar nenek


Anna tertawa.


"Jadi pindah malam ini gak?" tanya Nenek.


Pukul sembilan lewat tiga puluh lima menit, Anna sampai di kediaman Bramantara dengan dua koper besar. Segera setelah sampai, Anna diantar ke kamar yang akan dipakainnya. Kamarnya lebih luas dari pada kamar yang ada di rumah Julie.


"Nah, sementara Ann pakai kamar ini dulu ya," Nenek menjelaskan.


"Sementara?" tanya Anna.


"Kan kalau sudah menikah kan kamu di kamar Kevin," jawab Nenek membuat Anna tersipu malu.


"Kamar mandinya ada di sebelah sini," Nenek menjelaskan.


"Kevin ada di mana ya Nek?" tanya Anna iseng.


"Hari ini Kevin sama Alex pulangnya lebih malam. Nenek suruh pergi ke acara amal kantor. Nenek lagi malas pergi soalnya "


"Nenek masih ngantor juga?"


"Cuma sekali-sekali saja."


"Nah, sekarang Anna istirahat saja dulu ya, kalau ada apa-apa panggil pelayan saja. Kamu tinggal pencet bel yang ada di meja," nenek menerangkan.


"Ia Nek."


"Selamat malam," sapa nenek.


"Selamat malam Nek."



Dipagi harinya, Anna memutuskan untuk bangun lebih pagi dan membantu di dapur.


"Ga usah non, kami bisa di marahi kalau nona bantuin di dapur," ujar salah satu pelayan.


"Nenek saja bisa masak. Kok aku gak bisa?"


Setelah beberpa kali dilarang, akhirnya para pelayan menyerah. Mereka membiarkan Anna membantu di dapur. Selama bekerja Anna banyak bertanya, tentang apa yang dimakan teman serumahnya.


Kevin seperti biasanya sudah duduk di meja makan pada jam enam pagi.


"Mana kopi saya," tanyanya pada pelayan.


Kevin kemudian membaca berita lewat tablet. Tak lama kemudian secangkir cappucino tersedia di depannya.


Kevin masih serius membaca berita di tabletnya. Kevin mengambil cangkirnya dan menyeruput isinya, sambil terus menatap tablet.


"Cappucinonya enak?" tanya Anna


"Emm, enak."


Sedetik kemudian Kevin tersadar dan merasa mendengar suara yang familiar.


Kevin berbalik ke arah datangnya suara dan terkejut melihat Anna duduk di sebelahnya.


"Anna?" "Ngapain kamu di sini sepagi ini?"


"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" goda Anna.


Nenek yang baru keluar dari kamar yang menjawab Kevin.


"Mulai kemarin malam Anna tinggal di sini."


"Tinggal?" heran Kevin


Kevin menatap Nenek dan beralih ke Anna untuk mencari jawaban. Anna memberi isyarat kalau Nenek yang menyuruh.


"Kenapa Kevin gak dikasih tahu?" protes Kevin.


"Ya karena Nenek sudah tidur waktu kamu pulang." jawab nenek


Kevin hanya bisa melongo mendengarnya.


"Aku masak nasi goreng, kamu mau?" Anna bertanya pada Kevin.


"Boleh," jawab Kevin canggung


"Kok Anna yang masak?" tanya Nenek.


"Anna bangun kepagian Nek. Karena gak ada kerjaan, ya masak saja. Aku ambilin buat nenek ya."


"Eh, gak usah. Masa sudah kamu yang masak kamu lagi yang ambilin," pinta Nenek.


Nenek segera meminta pelayan menyiapkan masakan Anna untuk semua orang


"Tante cantik," Gita berteriak.


"Gita selamat pagi." Anna memeluk Gita.


"Selamat pagi juga," jawab Gita.


"Anna? Kok sepagi ini sudah ada di sini?" tanya Alex bingung.


Anna sekali lagi memberi isyarat, kalau keberadaannya ini kerjaan Nenek.


"Nenek suruh Anna pindah ke sini. Karena Nenek gak mau dia tinggal sendirian di rumah temannya," jawab Nenek tanpa ditanya lagi.


"Tante tinggal sama kita?" tanya Gita polos.


"Ia sekarang tante tinggal di sini." jawab Anna


"Horee... Gita ada teman main baru."


"Teman main apanya? Tante Anna kan juga harus pergi kerja," balas Alex.


"Yah..." sedih Gita


"Gita makan dulu ya, tante masakin Gita nasi goreng," seru Anna.


"Enak?" tanya Anna.


Gita mengangguk riang sebagai jawaban.


"Anna kamu cuti?" tanya Kevin yang sudah mulai makan.


"Gak aku gak cuti."


"Terus? Aku lihat kamu gak pakai seragam. Artinya gak kerja kan?" tanya Kevin lagi.


"Gak. Mulai hari ini, aku di skors selama tiga hari," jawab Anna santai.


next>