
Anna sampai di rumah Julie, tepat saat yang punya rumah baru mau berangkat kerja.
"Surprise," teriak Anna.
Anna keluar dari mobil memegang kotak berisi sepotong kue dengan lilin menyala. Anna menghampiri Julie dengan menyanyikan lagi ulang tahun.
"Yei, happy birthday bestie."
"Harus kuenya dibeli di Mc Cafe?" Julie protes.
"Habisnya aku gak tahu toko kue yang buka 24 jam." Anna nyengir.
"Ayo make a wish," bujuk Anna. Julie meniup lilinnya dengan malas. Julie kemudian menatap Anna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa pakaianmu begitu?" tanya Julie.
"Habis lari pagi," jawab Anna cepat. Gelagat Anna yang aneh, membuat Julie curiga.
"Aku gak percaya," seru Julie. Anna menghela nafas.
"Oke, nanti aku cerita. Sekarang aku pinjam kamar kamu dulu ya."
"Buat apa?" tanya Julie bingung.
"Aku ngantuk dan capek banget. Belum lagi badanku pegal semua. Nanti setelah cukup istirahat, aku jemput kamu ke kantor."
Julie menatap Anna dengan curiga.
"Please," bujuk Anna.
"Ya udah. Nanti jam makan siang aku hubungi lagi," jawab Julie.
"Kunci rumahnya mana?" Anna mengukurkan tangan.
"Kunci cadangan yang di kamu mana?"
"Gak bawa." Anna nyengir.
Julie memberikan kuncinya pada Anna.
"Nanti aku pinjam bajumu juga ya." Anna melangkah ke pintu.
"Mana muat. Aku kan lebih besar dari kamu."
"Cuma beda satu nomer juga. Nanti aku cari yang paling kecil. Udah sana pergi kerja." Anna masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kantor, ponsel Julie berdering tidak sabaran.
"Halo." Anna menjawab tanpa melihat siapa yang telpon.
"Em, Anna ada di tempatmu?" Julie menjauhkan ponselnya, melihat siapa yang menelpon.
"Kenapa kamu tanya soal istrimu ke saya?"
"Dia gak angkat telpon," jawab Kevin.
"Anna ada di rumah. Katanya mau istirahat."
"Oh, gitu. Dia ngomong apa?" tanya Kevin.
"Katanya dia capek banget dan badannya pegal semua, makanya mau istirahat dulu. Itu saja."
"Oke. Nanti aku telpon lagi."
"Kalian lagi berantem?" tanya Julie. Kevin tidak menjawab, malah langsung mematikan sambungan.
"Ini orang kenapa sih?" Julie bergumam kesal.
Tidak sampai semenit kemudian, Alex ikutan menelpon Julie.
"Kenapa?" jawab Julie.
"Kok jutek gitu sih?" tanya Alex.
"Soalnya saudaramu yang nyebelin itu juga nelpon tadi."
"Oh, Kevin udah nelpon duluan."
"Kamu kenapa telpon?" tanya Julie.
"Cuma mau dengar suaramu." Julie mengangkat sebelah alis.
"Aku matiin aja ya telponnya," seru Julie.
"Eh, jangan."
"Jadi mau kamu apa?" tanya Julie.
"Aku mau tanya soal Anna."
''Ngapain kamu juga tanya Anna?"
"Anna belum bilang apa-apa?" tanya Alex.
"Belum. Katanya dia capek banget, jadi mau istirahat dulu."
"Sesuai dugaan." Alex menahan tawa.
"Apaan?"
"Aku gak bisa jelasin detailnya, tapi kayaknya Anna kabur dari rumah."
"Hah? Kok bisa? Dia bertengkar sama Kevin?" tanya Julie.
"Detailnya gimana aku juga gak tahu. Makanya mau tanya kamu."
"Anna belum cerita. Nanti deh kalau dia udah cerita aku kabarin kamu lagi."
"Oke. Aku tunggu telponnya ya. Omong-omong happy birthday," seru Alex.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Julie.
"Ada deh. See you."
"Apaan sih ini orang."
*****
"Sampai kapan kamu mau tidur?" Julie langsung protes begitu melihat Anna datang.
"Capek Li mana badanku pegal semua."
"Segitunya sampai harus tidur sampai jam segini? Ini udah jam setengah lima sore loh."
"Emang kamu ngapain sampai segitunya banget?" tanya Julie.
"Bentar." Anna menutup pintu ruangan Julie dengan rapat.
"Aku ceritaiin semuanya ke kamu." Anna menjeda.
"Tapi janji jangan cerita-cerita sama siapa pun," lanjut Anna. Julie mengangguk dengan bingung.
"Terus masalahnya apa?" tanya Julie setelah mendengar cerita Anna.
"Kevin sudah melanggar kontrak."
"Tapi dia juga suami sah kamu kan."
"Julie, kamu sebenarnya berpihak sama siapa?" Anna memajukan bibirnya beberapa senti.
"Kevin lah."
"Wah, tega banget sih kamu sama sahabat sendiri."
"Adanya aku kasihan sama Kevin. Punya istri, tapi gak bisa disentuh. Bisa kubayangkan betapa tersiksanya dia menahan diri."
"Itu kan urusannya dia, bukan urusan ku. Lagian itu kan urusan cowok, kamu tahu apa Li?" Anna tidak mau kalah.
"Aku gak tahu juga sih. Tapi kenapa kamu harus ngambek? Bukannya kamu cinta sama Kevin?" Anna terdiam mendengar Julie.
"Kevin kan gak cinta sama aku. Gimana kalau habis kejadian ini dia jadi mikir macam-macam soal aku?"
"Macam-macam gimana?" tanya Julie.
"Bisa aja kan dia pikir aku cewek murahan, karena dengan mudahnya aku mau tidur sama dia."
"Gak mungkin. Kalian suami istri gang sah, wajar aja ngelakuin itu. Emang kamu sudah tanya pendapat Kevin?"
"Pasti gitu Li. Buktinya sekarang dia udah gak cariin aku lagi. Padahal tadi pagi kayak orang kesurupan."
"Mungkin lagi sibuk Na."
"Kalau emang dia berpikiran aku itu istrinya, masa dia lebih pentingakan kerjaan?"
"Kamu ngambek?" tanya Julie.
"Gak."
"Kalian main berapa ronde sih? Sampai kamu pegal dan gak tidur." Julie mencoba merubah topik pembicaraan.
Anna tidak langsung menjawab. Dia sendiri tidak sempat menghitung.
"Gak tau sih, tapi sekitar dua jam an mungkin."
Mulut dan mata Julie membulat sempurna.
"Gila lama amat, pantas pegal. Perasaan aku dulu gak sampai sejam."
"Kamu pernah gituan?" tanya Anna.
"Cuma sekali aja, sakit lagi. Kamu sakit gak?"
"Awalnya sih sakit, tapi cuma sebentar. Pokoknya Kevin hebat." Anna cengengesan.
"Giliran bicara ginian, suaminya dipuji. Tadi ngambek."
"Aku masih ngambek," balas Anna.
"Gini aja deh. Ayo kita pergi nongkrong di mana gitu," seru Julie.
"Aku mau shopping," balas Anna.
"Oke. Ayo pergi shopping, biar kamu happy."
Setelah shopping selama dua jam.
"Ini shopping atau ngerampok?" tanya Julie. Sekarang mereka duduk di sebuah cafe di dalam mall.
"Ngerampok apaan?" tanya Anna.
"Mentang-mentang di kasih kartu infinite yang mungkin no limit, kamu belanja gila kayak gini."
"Aku cuma beli ponsel baru, smart watch baru, tablet baru, anting-anting baru, beberapa pakaian dan koper. Masa itu dibilang rampok?" sergah Anna.
"Beberapa pakaian baru? Kamu itu beli sekoper gede pakaian baru. Belum skincare dan kosmetik. Semua merk mahal pula. Barang elektronik kamu saja udah seratus juta," protes Anna.
"Biarin aja. Sekalian aku beli mobil baru pakai ini kartu," Anna terlihat kesal.
"Kamu itu ngambeknya kayak anak kecil saja," tegur Julie.
"Kamu mau bilangin aku apa, aku gak peduli. Yang punya kartu saja, sampai detik ini gak peduli aku belanja apa. Padahal pasti semua notifikasi belanjaan ini udah masuk, tapi dia gak peduli sama sekali."
"Kamu kan tau Kevin itu orang sibuk," seru Julie.
"Ini sudah lewat jam pulang kantor Li. Mungkin dia emang udah gak peduli sama aku."
"Astaga ini anak, benar-benar deh. Dia yang kabur, tapi dia juga yang rese."
"Udah ah, aku lapar nih. Pesan makan dulu deh."
"Makanannya aku yang bayar ya," kata Julie.
"Ia dong, aku kan sudah kasih kado mahal. Masa gak di traktir."
Ponsel yang baru Anna beli berdering nyaring.
"Tuh, ada yang telpon. Kevin kali." Julie menunjuk ponsel baru Anna.
"Kevin kepalamu, nih lihat nih. Alex yang telpon." Anna mematikan telpon dengan kesal.
"Kenapa dimatikan?" tanya Julie.
"Sekalian kublokir aja nih nomornya berdua."
"Na, kenapa sih kamu segitu kesalnya sama Kevin?" tanya Julie. Anna hanya terdiam.
"Katanya cinta. Kalau emang cinta kenapa gak dibicarakan baik-baik?"
"Aku sebenarnya takut Li," Anna akhirnya bicara.
next>>>
like yuk bestie...!