The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 57 Reuni 2



"Gimana bisa sih Anna mau sama Kevin?" Gerald kepo.


"Kenapa semua orang tanya aku kayak gitu sih?" Anna balas bertanya.


Suara bising terdengar di penjuru ruangan. Mereka tidak perlu berbicara sambil berteriak, karena mereka duduk di ruang VIP. Di sana suara musik sedikit teredam.


"Emang banyak yang nanya gitu?" Kevin juga bertanya. Anna mengangguk sambil meminum winenya.


"Wajar lah orang bertanya. Kevin kan punya banyak gosip jelek. Jutek lagi orangnya," seru Edward.


"Cari gara-gara ya." Kevin melotot pada Edward.


"Tuh, jahat lagi anaknya." Edward tertawa jahil. Alex hanya menggeleng.


"Kevin baik kok. Tampangnya mungkin sedikit jutek, tapi ganteng." Anna tersenyum menatap Kevin yang melongo mendengarnya.


"Kalau udah bucin memang semuanya terlihat baik," gumam Gerald.


"Dari pada kamu sampai sekarang masih jomlo," ledek Alex.


"Gimana kalau Alex cari istri baru saja?" Gerald bertanya dengan polosnya. Edward langsung menyikut sahabatnya itu. Kevin juga langsung melotot dan suasana menjadi hening.


Alex yang merasa perubahan suasana ini mulai angkat bicara,


"Masih lagi cari-cari yang cocok." Seketika suasana dingin tadi mencair.


"Serius?" tanya Edward.


"Hmm. Sebenarnya, aku malah sudah punya kandidat."


"Bohong," balas Gerald.


"Serius." Alex tersenyum lebar.


"Siapa orangnya? Kenalin dong," Gerald mulai kepo lagi.


"Ada deh. Kalian gak usah tahu dulu deh. Nanti malah mengacau."


"Pelit amat sih." Gerald menjepit kepala Alex dengan tangannya.


"Hei," Alex protes. Kevin menatap Alex dengan ekspresi tak menentu.


Pintu ruangan VIP mereka terbuka.


"Hey guys, aku datang." Clarence melangkah masuk.


"Hei, seleb kita udah datang." Gerald berdiri menyambut Clarence.


"OMG, ada Anna juga." Clarence memberikan pelukan hangat.


"Sudah kenal?" tanya Edward.


"Sudah dong."


"Sudah dengar anak-anak kelas kita mau bikin reunian?" Clarence mengambil tempat di sebelah Anna.


"Kalian datang dong. Anna juga ikut kan?" sambung Clarence.


"Gak. Aku sama Anna gak ikut," Kevin menjawab cepat.


"Why?" Clarence melirik Anna yang mengangkat kedua bahunya.


"Dia sepertinya ada masalh dengan Mike." Alex menunjuk Kevin dengan dagu.


"Mike yang sepupumu?" tanya Clarence.


"Mike yang kemarin?" tanya Anna.


"Ia. Aku gak mau liat muka dia lagi. Dia benar-benar kurang ajar. Tunggu saja nanti, bakal kubuat dia menyesal."


Kevin terdengar sangat kesal.


"Kenapa sih ini anak?" tanya Clarence.


"Biasa paling jealous," jawab Alex.


"Ah, si Mike incer istri kamu?" Clarence menggoda Kevin. Kevin melotot tajam pada Clarence.


"Biasa aja kali. Ngapain kamu harus urusin Mike? Gak penting banget," seru Anna.


"Tapi si bajingan itu incer kamu," protes Kevin.


"Kan aku gak perlu pergi," seru Anna polos.


"Masa kamu gak mau ketemu teman-teman kamu lagi?" sambung Anna.


"Nah. Itu istri kamu saja gak masalah," ejek Gerald.


"Oke, aku pergi." Kevin terlihat amat kesal


. "Kamu servis Kevin kayak gimana sih? Kok patuh amat." Clarence menggoda Anna.


*****


"Hah." Kevin menghela nafas panjang.


"Ada apa lagi sih?" tanya Anna. Kevin sedang berbaring di atas sofa di ruangan Anna.


"Aku gak mau pergi reuni."


"Kenapa?" Anna sementara memeriksa beberapa email.


"Aku mau makan malam di rumah. Aku mau makan masakanmu."


"Besok kan masih bisa," Anna menjawab seadanya. Diam sejenak.


"Emang kamu gak kangen teman-teman lamamu?" tanya Anna.


"Gak."


"Nanti kalau pulang aku buatin coklat panas deh, sama cemilan."


"Serius?" tanya Kevin.


"Hm. Aku hari ini mau begadang. Aku mau jadi yang pertama ucapin happy birthday sama Julie."


"Harus banget kayak gitu." "Kamu kenapa sih?" Anna mendongak melihat Kevin.


"Gak ada apa-apa."


"Kan kalau kamu ulang tahun pasti aku juga yang pertama ucapin."


"Yakin banget," cibir Kevin.


"Yakin dong. Kita kan sekamar."


"Aku mending balik ke ruanganku deh. Masih banyak kerjaan." Kevin bangkit berdiri, mengecup kening Anna dan kembali ke ruangannya.


"Sudah selesai refreshingnya?" tanya Alex begitu melihat Kevin.


"Hm." Kevin melewati Alex yang duduk di sofa dan menjatuhkan diri ke kursinya.


"Ada kerjaan apa?" tanya Kevin. Alex bangkit dan menyerahkan setumpuk berkas.


"Kenapa lesu?" tanya Alex.


"Aku malas pergi reuni. Aku mau di rumah aja bareng Anna." Alex mendengkus mengejek.


"Sebucin itu samapi gak mau pisah," gumam Alex.


"Siapa yang bucin?" Kevin mendengar gumaman Alex.


"Kamu lah. Memang ada siapa lagi di ruangan ini?"


"Aku tuh gak bucin sama siapa pun," Kevin membantah dengan tegas.


"Kalau gak bucin apa dong? Jatuh cinta? Sama saja kali." Alex tertawa mengejek.


"Gak lah."


"Lalu sikap kamu selama ini apa dong? Jelas bucin lah," seru Alex.


"Kenapa sih kamu selalu bilangin aku bucin?" Kevin protes.


"Karena kenyataannya gitu."


"Kenyataan dari Hongkong?" Kevin masih kekeh dengan pendiriannya.


Alex menatap Kevin dengan bingung.


"Kamu ini sebenarnya gak sadar atau menyangkal sih?"


"Maksudnya?" Kevin bertanya bingung.


"Kamu tahu gak dari gerak-gerik dan caramu menatap Anna, semua orang tahu kalau kamu tuh suka sama dia." Kevin tertawa dengan keras.


"Kok malah ketawa?" tanya Alex.


"Kamu tuh kucu banget deh Lex. Aku gak mungkin suka sama Anna."


Alex memiringkan kepala dengan ekspresi heran.


"Kenapa kamu yakin banget?"


"Karena memang seperti itu kenyataannya," jawab Kevin.


"Oke. Kalau begitu aku mau tanya. Perasaan kamu ke Anna gimana sih?"


"Dia itu teman yang amat sangat baik."


"Kalau setelah kalian cerai, dia nikah sama orang lain gimana?" tanya Alex.


"Ya itu hak dia kan." Kevin tiba-tiba merasa dadanya sakit.


"Ini kenapa ya?" batin Kevin.


"Kalau dia sekarang bilang mau cerai gimana?" Alex masih melanjutkan pertanyaan. Kevin tidak langsung menjawab.


"Gak bisa gitu dong. Semuanya tertulis dalam kontrak. Gak bisa seenaknya dibatalin," kata Kevin kemudian.


"Kalau dia bilang dia gak mau lihat mukamu lagi? Anna kabur misalnya." Alex terus bertanya.


"Aku akan cari dia bahkan sampai ke ujung dunia."


Alex tersenyum mendengar jawaban Kevin.


"Dari jawabanmu saja ketahuan kalau kamu jatuh cinta."


"Aku masih tidak mengerti," sahut Kevin.


"Kamu selalu bilang gak cinta. Giliran stress dikit aja, langsung cari Anna. Manja-manja sama dia. Tiap hari bawaannya mau lihat Anna terus. Benar kan?"


Kevin ingin menjawab, tapi mulutnya segera menutup. Kevin tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Kevin sadar setiap dia stress, hanya Anna yang bisa menenangkannya.


Kevin tidak menjawab Alex.


"Di setiap kesempatan kamu pengin dekat sama Anna, pengen sentuh dia, pegang tangannya, mau mencium bibirnya, pengen lihat dia tersenyum. Kamu selalu kepikiran sama Anna, senyum-senyum sendiri kalau ingat dia. Kamu khawatir sama dia, jealous kalau lihat Anna dekat dengan cowok lain, marah jika ada yang melecehkannya."


Alex mengambil jeda.


"Kamu bahkan mungkin sudah berfantasi yang aneh-aneh soal Anna."


"Aku gak pernah semesum itu." Telinga Kevin mulai memerah.


Alex menatap Kevin dalam


."Kalau itu bukan cinta, lantas dia disebut apa?" Alex kembali mengambil jeda.


"Sebelum kamu menyesal, sadarlah Vin."


Alex menghembuskan nafas pelan.


"Setelah berkas itu selesai tidak ada jadwal lagi. Aku akan tetap pergi ke acara reuni. Kalau kau tidak mau pergi, tidak usah dipaksakan. Aku bisa mencarikan alasan untukmu."


Alex meningggalkan ruangan Kevin. Membiarkan Kevin larut dalam pikirannya sendiri.


next>>>