The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 71 Permintaan



Alex pergi menemui Gita di kamar. Gita tidak dibiarkan keluar kamar, karena pada awalnya Nenek tidak mau mempertemukannya dengan Amel.


Ketika Alex masuk, Gita baru saja selesai makan.


"Gita sayang," sapa Alex.


"Daddy kenapa Gita gak boleh main diluar?" tanya Gita.


"Kita lagi ada tamu nak," jawab Alex.


"Tamu? Pagi-pagi begini? Siapa?" tanya Gita penasaran.


"Mommy kamu," jawab Alex jujur.


"Mommy Julie?" Gita berteriak girang.


"Bukan Nak. Bukan Mommy Julie, tapi Mommy Amel."


Gita terlihat bingung.


"Sejak kapan Gita punya dua Mommy?" Gita terlihat polos saat mengajukan pertanyaan itu.


"Mommy Amel itu yang melahirkan kamu," Alex mencoba untuk menjelaskan.


"Bukan Mommy Julie?" Alex menggeleng.


"Kalau Mommy Julie datang baru Gita mau ketemu Mommy Amel. Kalau gak Gita gak mau."


"Gita jangan gitu dong. Mommy Julie kan lagi sibuk gak bisa datang. Gita kan sudah kenalan sama Mommy Amel."


"Kapan?" tanya Gita.


"Waktu Mommy Julie jemput Gita di sekolah kemarin," jawab Alex.


"Oh, Tante yang diajakin makan McD?" Alex mengangguk menjawab Gita.


"Boleh deh. Gita keluar ketemu." Alex menggandeng tangan Gita dan membawanya keluar.


Begitu melihat Gita, Amel langsung berdiri.


"Gita?" Gita melihat Alex bingung.


"Ayo sapa Mommy," pinta Alex.


Gita ragu-ragu sejenak, namun tetap mendekati Amel. Amel langsung memeluk Gita dengan erat.


"Maafin mama nak." Amel mulai menangis.


Nenek yang tadi marah menjadi lebih tenang. Mau tidak mau Nenek merasa iba.


Gita merasa amat sangat bingung dengan situasi ini.


"Emmm. Maaf, tapi Tante siapa ya?" tanya Gita dengan polos.


Amel melepas pelukannya dan menatap Gita dengan penuh kasih sayang.


"Ini mama nak," jawab Amel sedih.


"Tapi Gita gak punya mama," jawab Gita.


Amel menatap putrinya dengan sedih.


"Itu mama Nak. Mama yang melahirkan kamu," Anna mencoba membantu Amel.


"Gita gak kenal mama. Gita cuma punya Daddy, Nenek, Om Kevin dan Tante Anna. Ah, ada Tante Julie juga." Alex menghela nafas.


"Daddy, kapan bisa ketemu Tante Julie?"


"Nanti ya Gita," jawab Alex.


"Gak mau. Gita mau ketemu Tante Julie hari ini." Gita menjauh dari Amel dan mendekati Alex.


"Nanti ya Gita," jawab Alex.


"Gak mau. Mau ketemu hari ini." Gita mulai merengek. Anna mencoba membujuk Gita, tapi gagal. Saking kesal dan frustasinya, Alex sampai membentak Gita.


Gita yang tidak pernah dibentak seperti itu, akhirnya menangis keras.


"Daddy jahat. Gita gak mau sama Daddy lagi. Gita mau sama Tante Julie."


Semua orang berusaha membujuk Gita, tapi tidak ada yang berhasil. Adanya Gita menangis semakin keras.


"Li, kamu ada di mana?" tanya Anna. Semuanya akhirnya menyerah dan meminta Anna menelpon Julie.


"Lagi di jalan. Kenapa?"


"Bisa singgah di rumah gak? Gita lagi rewel, mau ketemu sama kamu."


"Kok bisa?" tanya Julie.


"Amel datang," jawab Anna singkat.


"Lalu dia maksa ketemu Gita?" tanya Julie.


"Gak. Gita sedikit rewel dan Alex membentaknya, jadi sekarang dia menangis terus mau ketemu kamu."


"Sepuluh menit," balas Julie singkat


Julie yang kebetulan berada disekitar Pondok Indah, langsung banting setir.


"Kenapa juga harus sekarang?" batin Julie kesal.


Kurang dari sepuluh menit Julie sudah sampai di depan rumah Bramantara. Karena sudah sering ke sana, Julie langsung dipersilahkan masuk.


Julie langsung masuk ke dalam rumah. Pintu depan di rumah ini memang tidak ditutup saat hari masih terang.


"Nenek." Julie langsung menyapa begitu melihat Ratih di ruang tamu. Nenek langsung berdiri menyambut Julie.


"Maaf ya Julie, Gita gak berhenti menangis mau lihat kamu." Julie hanya tersenyum. Pandangan Julie teralih pada Amel yang masih duduk di ruang tamu.


Nenek menyadari pandangan Julie dan segera memperkenalkan Amel.


"Itu mama kandungnya Gita."


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Nenek heran. Julie kembali hanya tersenyum.


"Gita mana Nek?" tanya Julie.


"Ada di kamarnya, sama Alex dan Anna." Julie segera pergi ke kamar Gita.


"Gita." Julie langsung menyapa Gita begitu pintu terbuka. Gadis kecil itu langsung lari memeluk Julie.


"Tante Julie, Daddy jahat. Gita gak mau sama Daddy lagi. Gita mau sama Tante Julie saja." Julie memeluk Gita dengan erat dan menatap Alex.


"Aku keluar dulu ya," seru Anna.


"Julie," panggil Alex.


"Hm."


"Amel hanya datang untuk menjenguk Gita. Aku juga gak ada keinginan untuk balik sama dia." Julie mengangguk pelan.


"Aku akan bawa Gita keluar." Julie menggendong Gita ke ruang tamu. Alex menghela nafas dan mengikuti Julie.


Amel melihat Gita yang tidak mau pisah dari Julie merasa sangat sedih. "Gita mau tinggal sama Tante Julie."


"Gita, Tante Julie kan masih harus kerja." Julie berusaha menjelaskan.


"Tapi, Gita sudah libur. Kenapa Tante gak libur juga?"


"Gak bisa nak. Kalau sudah kerja liburnya cuma ditanggal merah saja."


"Kalau gitu Gita tinggal di kantor Tante saja. Gita janji gak akan nakal."


"Coba Gita tanya sama Daddy," saran Julie.


"Gak mau. Gita gak mau bicara sama Daddy."


"Gita gak boleh begitu," Nenek mencoba membujuk.


"Pokoknya mau sama Tante Julie."


"Ya sudah, tapi Gita janji harus dengar semua kata-kata Tante." Julie memegang dua pipi chubby Gita. Gita langsung mengangguk setuju.


Nenek langsung memerintahkan Bi Asih untuk packing.


"Nanti sebelum tahun baru pulang ya," sahut Nenek. Gita kembali mengangguk.


"Kalau begitu saya pamit pulang saja." Amel bangkit berdiri. Dia merasa sudah tidak diperlukan lagi.


"Tunggu saja sebentar, biar nanti saya yang antar." Julie menatap Amel.


"Gak perlu Kak. Saya bisa pulang sendiri."


"Biar saya yang antar," Julie sedikit memaksa.


"Kalau begitu mohon bantuannya." Amel akhirnya setuju dan kembali duduk.


Karena Julie tinggal sendiri, Bi Asih di minta ikut menginap.


"Jangan nakal ya," seru Nenek. Gita hanya mengangguk pelan.


"Amel duduk di depan saja ya," pinta Julie. Tanpa disuruh Amel langsung duduk di kursi penumpang depan.


Sebelum Amel menutup pintu mobil, Julie meletakkan Gita di pangkuan Amel.


"Gita dipangku mama Amel dulu ya." Julie tersenyum pada Gita kemudian Amel.


Julie berjalan berputar dan membuka pintu mobil. Alex datang menghampiri dan menahan pintu mobil.


"Julie tolong kasih aku kesempatan," Alex memohon.


"Kita bicara nanti saja ya." Julie menepis tangan Alex dan masuk ke dalam mobil.


Bi Asih yang duduk di belakang, langsung memasang headset saat mobil berjalan. Julie senang karena Bi Asih orang yang peka. Gita yang dari tadi sudah mengantuk karena lelah menangis, pelan-pelan mulai tertidur.


"Terima kasih sudah menjaga Gita," Amel buka suara.


"Kebetulan saya suka anak-anak." Mereka terdiam.


"Saya tidak berniat mengganggu hubunganmu dengan Alex. Saya cuma mau melihat Gita," seru Amel lesu.


"Saya bukan siapa-siapanya Alex," balas Julie.


"Saya bisa lihat kalau kalian ada sesuatu yang lain."


"Maksudnya?" tanya Julie.


"Alex sepertinya suka sama Kak Julie."


"Emang kamu peramal?" tanya Julie.


"Bukan, tapi saya gak pernah lihat Alex seperti itu. Seperti orang yang takut ditinggalkan."


"Kamu kebanyakan baca novel romance." Julie masih fokus pada jalanan.


"Mungkin saya tidak akan muncul lagi."


"Maksudnya? Kamu mau pergi lagi?" tanya Julie.


"Saya sudah tidak dibutuhkan lagi," jawab Amel.


"Gita masih butuh sosok seorang ibu," Julie memprotes perkataan Amel.


"Dia sudah punya sosok itu. Kamu Kak Julie," balas Amel. Julie berbalik ke arah Amel dengan ekspresi tidak percaya.


"Gita sudah menganggap Kak Julie sebagai ibunya. Alex juga sudah menemukan cintanya. Jadi untuk apa aku di sini?" kata Amel. Julie tidak bisa membalas perkataan Amel.


Amel mengelus kepala Gita dengan penuh kasih sayang.


"Saya minta tolong Kak Julie bisa jagaiin Gita untuk saya."


next>>>


yok jangan lupa like nya guysss