The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 93 Nguping



Sejak konfrensi pers yang diadakan Kevin, Vanessa menjadi gelisah. Dia sama sekali tidak tahu kalau janin juga bisa di tes DNA. Lebih tepatnya, dia tidak berpikir ke arah sana.


"Aduh aku benar-benar gak kepikiran pihak mereka bakal minta tes DNA. Mana aku tahu juga kalau janin dalam perut bisa dites."


Vanessa berjalan bolak-balik di kamarnya. "Kalau aku pura-pura sakit aja gimana ya?"


"Atau aku kasih tahu Mike saja dulu?" Vanessa berpikir keras langkah apa yang harus dilakukannya.


"Gak deh, jangan. Jangan kasih tahu Mike kalau aku hamil anaknya dia. Nanti kalau dia kasih tahu Kevin kan aku yang susah."


Vanessa mengangguk pelan. "Mending pura-pura sakit saja. Morning sicknes yang parah deh."


"Tapi tunggu dulu. Hari ini aku kan sudah janjian mau ke salon kuku." Vanessa berpikir sebentar.


"Bodo ah, besok saja sakitnya."


*****


"Cleo my baby," teriak Clarence kencang. Cleo yang sedang berkutat dengan mesin kasir, mengernyit ke arah Clarence.


"Terima kasih atas kunjungannya." Cleo tersenyum manis pada customernya.


Bukannya pergi, customernya malah minta berfoto dengan Clarence. Dengan senang hati Clarence melayani mereka.


"Ngapain ke sini? Rusak bisnis orang saja," protes Cleo.


"Enak saja. Siapa yang merusak bisnismu? Bersyukurlah ada selebriti mau datang ke sini."


"Kalau yang datang selebriti berskandal, adanya gak ada yang mau datang."


"Jutek amat sih jadi orang," protes Clarence.


"Ngaku saja, pasti ada jobmu yang dibatal kan?" tanya Cleo.


"Iya makanya aku ke sini. Mau perawatan kuku."


Mata Clarence menyipit menatap layar berisi beberapa gambar CCTV.


"Eh, Cle. Itu bukannya Vanessa ya?" Clarence menunjuk salah satu gambar CCTV.


"Mirip sih, tapi agak buram." Cleo mwnyipitkan mata.


"Eh, dia masuk ke sini. Sembunyi." Clarence menarik tangan Cleo, membawanya masuk ke ruang VIP yang kebetulan kosong.


"Kamu kenapa sih Ren? Ngapain harus sembunyi?" Cleo mengajukan protes. Clarence menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya juga ya," seru Clarence linglung.


"Dasar gila." Cleo baru mau meraih tirai yang membatasi ruangan VIP, saat Clarence menariknya lagi.


"Apaan lagi sih Ren?"


"Aku ada ide," jawab Clarence riang.


"Ide apaan?"


"Coba kamu suruh pegawai kamu arahkan Vanessa buat duduk di kursi dekat ruangan ini. Biar kita nguping pembicaraannya."


"Kamu gila ya?"


"Siapa tahu aja dia cerita kelemahan dia sendiri sama temannya. Kan kita yang untung Cle."


"Gak mungkin. Jangan ngaco deh."


"Udah kamu dengerin saja aku. Cepat panggil pegawai kamu ke sini." Dengan enggan Cleo mengintip dari balik tirai dan memanggil pegawai terdekat.


"Ada apa Bu?"


"Kamu lihat yang baru masuk tadi? Yang rambutnya sepinggang warna coklat," tanya Clarence.


Si pegawai mengintip keluar tirai, yang langaung diikuti Clarence. "Yang baju merah kan Bu?"


"Betul. Nanti kamu suruh dia duduk di sebelah, yang paling dekat dengan ruangan ini." Clarence memberikan perintah.


"Baik Bu."


"Eh, tunggu." Clarence mengeluarkan ponselnya, kemudian menaruhnya di kantong depan celemek pegawai Cleo.


"Bawa ini di kantong doraemonmu. Jangan sampai dikeluarkan, jangan sampai ketahuan kalau kamu rekam pembicaraan mereka. Jangan biarkan orang lain masuk ruangan ini. Nanti aku kasih tip besar, ngerti?"


"Baik Bu." Pegawai Cleo keluar dengan senyuman di wajah.


"Kamu udah gila ya Ren? Kalau ketahuan kita bisa repot."


"Udah jangan ribut. Nanti kita ketahuan."


Suara Vanessa yang cempreng itu sudah terdengar. Clarence mengintip dari balik tirai. Vanessa duduk tepat di sebelah ruang VIP.


"Ren. Gak usah segila itu juga. Nanti ketahuan," Cleo berbisik sambil memukul lengan Clarence.


"Sstt.."


"Jadi kamu benaran hamil Van?" tanya Sera yang datang bersama Vanessa.


"Emang kamu gak lihat perutku suduh nongol?"


"Mana? Belum kelihatan juga."


"Baru dua bulanan sih," jawab Vanessa.


Pegawai yang tadi di titipi ponsel oleh Clarence yang melayani Vanessa. Dia melirik Vanessa sekilas.


"Demi tip," batinnya.


"Benaran itu anak Kevin?" tanya Sera.


"Pengennya sih gitu."


"Maksudmu? Itu bukan anaknya Kevin?"


Vanessa menggelengkan kepala. "Gimana mungkin ini anaknya Kevin, aku sama dia gak ngapa-ngapain juga. Aku gagal jebak dia."


Mulut Cleo terbuka lebar mendengar percakapan Vanessa. Suara Vanessa yang keras dan cempreng, membuat Cleo dan Clarence bisa mendengarnya dengan baik.


"Terus itu anak siapa dong? Jangan bilang kamu one night stand sama orang yang gak dikenal."


"Gak dong. Mana mungkin aku mau tidur sembarangan sama orang tidak di kenal," balas Vanessa.


"Jadi anak siapa dong?" tanya Sera penasaran.


"Mike Laksono. Sepupunya Kevin."


Bibir Sera membulat sempurna karena kaget. Begitupula dengan Cleo yang menguping dari balik tirai.


"Dasar jal**g sialan," bisik Clarence. Cleo membekap mulut Clarence dengan sebelah tangan, sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


"Astaga kamu gila Van. Masa kamu dihamilin sepupu Kevin, tapi minta Kevin yang tanggung jawab?"


"Aku gak peduli. Selama aku bisa dapetin Kevin."


"Kalau pihak Kevin sampai tahu gimana? Kevin pasti langsung buang kamu."


"Makanya jangan sampai ada orang yang tahu dong. Kalau sampai ada orang tahu, artinya orang yang ada di ruangan ini yang bocorin. Pastinya akan kuhancurkan mereka yang mulut ember." Sera dan pegawai yang melayani keduanya mulai berkeringat dingin.


Tiba-tiba perhatian Vanessa beralih ke tirai di sebelahnya.


"Yang di sini ruangan apa sih?" tanyanya. Cleo dan Clarence yang di dalam ruangan mulai panik.


"Itu ruangan yang belum selesai dikerjakan Bu, merangkap gudang. Masih berantakan makanya ditutupi tirai," pegawai yang melayani Vanessa menjawab cepat.


"Oh." Vanessa sepertinya sudah tidak tertarik lagi dengan tirai itu.


Dengan cepat Clarence mengambil kembali ponselnya yang terletak di lantai.


"Kita dapat tangkapan besar," bisik Clarence kegirangan.


"Jangan terlalu berisik tahu. Nanti mereka dengar." Cleo masih belum bisa tenang.


"Kira-kira dia masih lama gak? Aku sudah gak sabar banget nyebar ini kemana-mana," Clarence masih berbisik.


"Ponsel kamu yang satu kan masih di pegang pegawaiku. Kalau yang ini, suaranya mungkin gak sejelas yang di luar."


"Kalau gitu panggil pegawaimu masuk," saran Clarence.


"Gimana bisa nanti ketahuan."


"Sudah, aku saja yang panggil."


Clarence mengintip dari balik tirai. Syukurnya Vanessa dan temannya sedang menutup mata. Pegawai Cleo juga langsung melihat Clarence melambai.


"Mana ponselku?" Clarence segera meminta ponselnya.


"Ini Bu." Clarence mengambil dompet dan menyisipkan tiga lembar uang serarus ribu ke kantong ajaib.


"Sekarang ayo kita ke rumah Kevin." Clarence menarik tangan Cleo.


"Gimana mau keluar kalau mereka masih di sana bego."


"Mereka lagi bobo juga. Ayo keluar." Clarence mengintip keluar dan segera masuk lagi.


"Dia udah bangun."


next>>>