The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 7 Jakarta



Kembali ke Rutinitas Jakarta


"Aku masuk duluan ya Vin," seru Alex.Mereka berdua baru saja tiba di rumah.


Kevin masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di sofa. Tidak lama kemudian dia tertidur pulas.


Keesokan paginya Kevin bangun terlambat.


"Lex kenapa kamu gak bangunin saya?" Kevin protes begitu melihat Alex di meja makan.


"Santai aja bro ini baru jam tujuh. Sarapan dulu."


"Mana sempat, saya minta kopi saja deh." Tiba-tiba Kevin teringat kata-kata Anna soal makan tiga kali sehari.


"Roti saja. Dengan kopi ya bi," seru Kevin.


"Sejak kapan kamu bisa bicara santai gitu?" tanya Alex.


Kevin berlagak membersihkan tenggorokan.


"Itu hanya perasaan anda saja," lanjutnya.


"Kevin," sebuah suara memanggil.


"Good morning nek," sapa Alex.


"Selamat pagi," sambung Kevin.


"Mana pacar kamu?" tanya nenek.


Kevin dan Alex tersedak kopi bersamaan. Setelah selesai terbatuk-batuk, Kevin menjawab.


"Kenapa nenek tiba-tiba bertanya soal pacar saya?"


"Nenek sudah dengar semuanya dari Vanessa. Katanya pacarmu itu bukan perempuan baik-baik. Jadi biar nenek ajarin dia gimana harus bersikap. Kamu juga Alex. Untuk apa kamu terus ekorin Kevin kalau kamu gak bisa tegur dia."


"Kok, malah saya sih nek." ucap Alex


"Vanessa lagi. Kenapa nenek mau mendengarkan Vanessa?" protes Kevin.


"Ya karena Vanessa itu anak yang baik dan berpendidikan, gak mungkin dia bohong."


"Tapi pada kenyataanya dia sudah bohong. Anna itu anak yang baik."


"Ya sudah, kalau kamu bilang begitu coba bawa dia ke rumah. Nenek mau kenalan."


"Gak bisa nek."


"Kenapa gak bisa."


"Ya karena sekarang ini dia sedang berlibur di Bali bersama sahabatnya. Kebetulan saja kemarin itu saya ada sedikit urusan di Bali, oleh karena itu saya minta bertemu."


"Sahabat atau selingkuhan?"


"Nek, kenapa nenek belum bertemu, tapi nenek menghujat pacar saya?"


"Ya, memangnya kamu lihat dia jalan sama siapa?"


"Saya lihat dan saya kenal dengan sahabatnya itu. Sahabatnya itu petempuan, tanya saja Alex."


"Betul nek, sahabatnya Anna itu cewek kok. Namanya Julie," Alex menyahut canggung.


"Ok, kalau begitu bawa dia ketemu sama nenek."


"Anna sedang berlibur, saya tidak mungkin tiba-tiba menyuruh dia kembali ke Jakarta."


"Memangnya nenek suruh datang sekarang?"


"Tidak," jawab Kevin canggung.


"Nenek mau undang dia ke acara ulang tahun nenek dua minggu depan. Nenek gak mau tau pacar kamu itu harus datang."


Kevin terdiam mendengar ultimatum nenek, apalagi Alex. Kevin ingin memberi sanggahan, tapi tidak bisa berkata-kata.


"Ok, baik. Akan saya bawa dia pada saat acara ulang tahun nenek," Kevin akhirnya menjawab.


Kevin menghela nafas panjang dan segera berdiri.


"Saya berangkat dulu." Alex segera mengikuti Kevin tanpa bicara banyak.


Kevin berhenti di depan mobil.


"Siapa yang kasih saya ide pura-pura pacaran," Kevin berkata kesal.


"Ya, aku kan cuma kasih ide. Yang eksekusi kan kamu," jawab Alex.


"Iya, tapi saya tidak berpikir akan jadi seperti ini. Makin kacau."


"Coba saja telpon Anna, siapa tahu dia masih mau bantu."


"Nanti saja."


Hari senin setelah liburan Anna bangun terlambat dan hampir saja terlambat ke kantor.


"Pagi Anna. Oleh-olehnya mana?" sapa teman-teman kantor.


"Ada di belakang. Ambil saja sendiri," jawab Anna asal.


"Yang habis liburan jadi cerah mukanya ya," ejek Andi yang kebetulan lewat. Anna sama sekali tidak peduli padanya.


Liburan empat harinya sudah berakhir.


"Liburanku berkurang dua hari gara-gara si Kevin, tapi lumayan lah," batin Anna.


Sekarang Anna harus kembali ke rutinitas sehari. Bahkan dia sudah menghapus nomor telpon Kevin.


"Kenapa dihapus?" tanya Julie saat menelpon Anna disuatu hari.


"Kan sudah gak ada hubungan lagi."


"Siapa tahu dia jatuh cinta sama kamu dan mau pacaran benaran sama kamu. Kalau begitu gimana dong."


"Gak mungkin lah, mana ada konglomerat mau sama orang miskin kayak aku. Mana aku juga bermasalah."


"Gak usah ngehayal deh Li."


"Hei, ponselmu bergetar terus dari tadi. Pacar kamu tuh kali yang telpon. Mengganggu orang makan saja," tegur Andi. Anna lagi makan siang di pantry kantor seperti biasa.


"Kalau gak mau terganggu ngapain duduk di sebelah saya. Kan bisa duduk di tempat lain," protes Anna.


"Emang saya yang mau duduk di sini."


"Itu di sebelah sana kosong." Anna menunjuk tempat kosong. Salah tingkah Andi segera pindah tempat duduk.


Anna memperhatikan nomor tak dikenal yang terlihat di layar ponselnya.


"Ini siapa lagi. Perasaan dari kemarin nelpon terus gak berhenti. Blokir saja deh. Paling juga mau tawarin kartu kredit," batin Anna.


 "Nomor yang anda panggil tidak dapat menerima panggilan, silahkan mengulangi beberapa saat lagi." Terdengar suara mesin penjawab dari ponsel Kevin.


"Ini kenapa tiba-tiba jadi tidak bisa dihubungi." Kevin mencoba menelpon ulang.


"Gimana sudah diangkat?" tanya Alex.


"Tiba-tiba nomor ponselnya tidak bisa dihubungi."


"Wah, jangan-jangan nomor anda di blokir."


"Diblokir? Yang benar saja."


"Siapa tahu. Makanya saya kan sudah bilang dari tempo hari langsung telpon saja. Jangan ganggu liburan orang. Sekarang? Nomor anda diblokir sama Anna."


"Jadi sekarang saya harus bagaimana? Ulang tahun nenek tinggal lima hari dan saya belum bisa menemukan Anna."


"Coba telpon ke kantornya."


"Saya tidak tahu dia bekerja di mana."


"Setahu saya Anna kerja di TC Bank."


"Kenapa baru bilang sekarang. Dari mana juga anda tahu?" Kevin merasa kesal.


"Saya pernah tanya- tanya Julie."


"Coba kasih saya nomor telpon kantor Anna."


"Sorry, bos saya gak tahu Anna ditempatkan di cabang mana"


 "Cari tahu sekarang juga." Kevin marah.


Keesokan harinya, jam pulang kerja di kantor Anna.


"Bu Anna." Seorang bapak berpakaian security memanggil Anna yang masih duduk di counter tellernya.


"Ya, kenapa pak Jono."


"Itu mbak, jemputanya sudah datang."


"Jemputan? Julie yang jemput?" Hampir semua orang di perusahaan tahu kalau Julie dan Anna bersahabat.


"Bukan bu Julie, tapi cowok yang jemput." Anna bertambah bingung.


"Cieh, yang punya cowok baru," goda Windi yang duduk di sebelah Anna.


Mendengar itu teman-teman Ann yang lain ikutan menganggu Anna. Bahkan Andi yang kebetulan lewat langsung singgah.


"Sudah punya cowok baru lagi? Yang kemarin mana?" tanya Andi.


"Apaan sih, ini si Andi. Sana pergi jauh-jauh gak usah dekat- dekat bagian teller," protes Windi.


Teman- teman teller Anna tahu kelakuan Andi, makanya mereka sering menyindir Andi. Andi terpaksa pergi, tapi tetap memperhatikan Anna karena penasaran


"Bu Anna, kalau boleh jangan terlalu lama. Bapaknya parkir di daerah drop off takutnya kendaraan lain yang mau lewat merasa terganggu. Saya sudah suruh bapaknya pindah, tapi beliau gak mau."


"Ok, bentar lagi pak ya. Saya beres-beres dulu."


"Baik bu." pak Jono berlalu pergi.


"Eh, say kenalin dong," goda Windi.


"Lain kali saja ya." Anna berlalu pergi.


"Eh, Na tungguin dong. aku mau keluar bareng kamu, sekalianmau liat cowokmu model gimana." Sri mengejar Anna.


"Apaan sih," jawab Anna.


Anna mengambil barang-barangya di loker dan segera keluar kantor diikuti dengan Sri. Baru melangkah keluar pintu utama, Anna mendengar teman sekantornya yang lain berbisik dan melirik ke arah yang sama. Anna mengikuti arah pandangan sebagian besar rekan kerja perempuannya.


Di sana dia melihat mobil hitam mahal terparkir dan seorang pria bersandar di badan mobil sambil melihat ke bawah. Melihat itu Annn tersenyum.


"Itu pacar kamu? Keren banget sih," kata Sri.


"Duluan ya Sri." Anna berpamitan.


Andi yang dari tadi memperhatikan datang dan menegur Sri.


"Eh,Sri itu pacarnya Anna?"


"Ih, apaan sih nih orang. Move on dong." Sri menjauhi Andi.


Anna mendekati pria yang dari tadi menjadi pusat perhatian dan memanggilnya.


"Ken?"


"Anna, sudah selesai?" Anna hanya mengangguk saja sebagai jawaban.


"Ngapain di sini?" tanya Anna.


"Menjemput anda tentu saja, sekalian ada yang ingin saya bicarakan."


"Bahasa formalnya balik lagi."


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang, sepertinya banyak yang memerhatikan." Kevin membukakan pintu mobil. Anna baru sadar kalau semakin banyak orang yang memperhatikan mereka.


dengan tergesa-gesa Anna segera naik ke mobil Kevin.