
"Udah bangun katanya lapar," seru Anna.
Kevin membetulkan gaya duduknya. Anna refleks merapikan rambut Kevin yang berantakan dan melepas dasinya. Rian masih sempat melihat pemandangan itu sebelum keluar.
"Romantisnya." Rian terlonjak melihat Kiki berdiri tepat di depan pintu saat dia keluar. Kiki berusaha mengintip ke dalam sampai Rian menutup rapat pintu.
"Mereka mau ngapain sih di dalam. Padahal ada berkas yang mau ditandatangani. Lama gak ya?" Kiki kembali duduk ke kursinya.
"Kalau penting harusnya tadi masuk saja."
"Gak bisa, nanti aku jadi obat nyamuk lagi. Atau kalau mereka lagi gituan gimana?"
"Gituan apaan? Mereka memang terlihat akrab, tapi gak segitunya juga kali. Mereka itu kan keluarga," celoteh Rian.
"Ya iya atuh bang. Yang namanya suami istri pasti keluarga. Masa mahasiswa sama dosen," protes Kiki.
"Suami istri? Pak Kevin sama Mbak Anna?"
"Aduh, Mas ini dari kampung mana? Masa bos sendiri gak tahu. Pernikahan mereka masuk infotaiment loh." Rian membuka mulutnya lebar, terkejut mendengar Kiki.
"Kenapa sih kamu jadi berantakan gini." Anna merapikan baju Kevin.
"Karena stres." Kevin meneguk minumannya.
"Enak ini apaan?"
"Emm... Mungkin lavender berry mint tea?"
"Minuman baru?" Kevin memakan kentangnya.
"Gak juga sih ya. Tapi mungkin bisa ditambah ke menu cafe." Kevin mengangguk dan mulai makan.
"Sudah kenyang jadi mengantuk nih," gumam Kevin.
"Habis makan gak boleh langsung tidur." "Ia tau."
"Om Mahesa kenapa lagi?" tanya Anna.
"Marah-marah gak jelas. Katanya ada fraud, tapi yang kita lakuin sudah sesuai kontrak."
Kevin menekan pelipisnya.
"Maaf ya." "Kok kamu minta maaf?"
"Ya pasti kejadian ini gara-gara Vanessa kesal sama aku kan."
"Bukan karena Vanessa pun mereka tetap gitu kok. Ini bukan yang pertama, udah sering."
"Gara-gara kamu gak mau sama Vanessa?" tanya Anna.
"Mungkin. Omong-omong Anna bisa pijit?"
"Mau dipijit?"
"Boleh deh." Kevin melepas jasnya. Anna memijit bahu Kevin.
"Kamu benar-benar berbakat jadi apapun," puji Kevin.
"Sembarangan aja."
"Emang betul kok, pijatannya enak. Jadi tambah ngantuk."
"Mau tidur saja dulu?"
"Katanya gak boleh tidur kalau habis makan."
"Kan cuma sekali, gak apa-apa lah."
Kevin berbalik menghadap Anna.
"Aku mau tidur asal kamu mau jadi bantalnya."
'Hah?"
Kevin langsung berbaring dan menyandarkan kepalanya di paha Anna.
"Astaga. Dasar anak manja." Anna mulai mengelus rambut Kevin.
Tidak perlu menunggu lama, Kevin tertidur pulas. Anna berusaha mengambil jas Kevin dan menggunakannya sebagai selimut. Sementara Kevin tidur, Anna mengambil tablet yang ada di atas meja dan mulai bekerja.
Tok... tok... tok...
Kiki mengetuk pintu tapi tidak mendengar jawaban. Akhirnya Kiki langsung membuka pintu.
"Maaf Mbak ada yang perlu ditanda tangan," seru Kiki agak keras.
"Ssshhh..." Anna menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Kiki mendekap mulutnya dengan tangan.
"Pelan-pelan bicaranya," bisik Anna.
Kiki mendekat dengan pelan dan melihat Kevin tertidur di pangkuan Anna. Kiki langsung tersenyum.
"Maaf Mbak ada yang mau ditanda tangan," Kiki ikut berbisik.
Anna memberikan tablet yang dipegangnya pada Kiki, kemudian mengambil berkas yang mau ditandatangani.
Sebelum keluar Kiki sempat melihat Anna membelai rambut Kevin. Kiki langsung jadi baper.
"Kapan aku bisa punya suami sih?"
"Kevin." Alex datang menjelang jam pulang kantor.
"Ssshhhh..." Anna lagi-lagi menempelkan jari telunjuknya di bibir, meminta Alex untuk diam.
Alex melihat Kevin tertidur dengan lelap di pangkuan Anna.
"Ya Tuhan. Aku sibuk kerja dia tidur di sini," seru Alex.
"Jangan terlalu ribut Lex," protes Anna.
"Biarin aja. Aku emang mau suruh dia bangun."
"Eh, jangan."
"Kenapa?"
"Biarin Kevin istirahat lagi. Sepertinya dia lagi gak enak badan. Tadi aku pegang dahinya agak hangat."
Alex mendekat dan memgang dahi Kevin.
"Na ini mah panas banget."
"Kok bisa? Tadi gak sepanas ini."
"Kenapa gak kasih tahu aku."
"Habisnya ponselku ada di meja kerja. Aku juga gak bisa teriak karena takut Kevin bangun."
"Vin. Bangun Vin." Alex mencoba membangunkan Kevin dengan menepuk pipinya.
"Emm..." Kevin terbangun.
Kevin duduk dengan susah payah.
"Kamu gak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Anna.
"Sakit kepala, pusing juga, ini mulutku juga terasa pahit."
"Bisa jalan gak?" tanya Alex.
"Mending kita pulang saja dulu," saran Alex. Anna segera berdiri untuk mengambil tasnya.
"Auw..."
"Kamu kenapa lagi?" tanya Alex pada Anna.
"Gak cuma keram saja." Anna memijit kakinya.
"Aku harus beresin barang dulu di atas. Anna bisa anterin Kevin pulang duluan?"
"Gak lebih bagus ke rumah sakit?" tanya Anna.
"Aku mau pulang saja," pinta Kevin.
"Ok kita pulang saja." Anna berusaha memapah Kevin.
Anna berhenti di depan meja Kiki.
"Ki aku pulang duluan ya, Kevin sakit soalnya. Kamu tolong beresin meja saya." "Ia Mbak."
"Bisa?" tanya Anna pada Kevin.
"Bisa." Anna merangkul Kevin lebih erat lagi.
"Lagi sakit aja mesra begitu," Kiki bergumam sangat pelan.
"Gak apa-apa kok. Pak Kevin hanya kecapekan. Dan pencernaanya juga sedikit terganggu," kata dokter keluarga Nenek yang dipanggil ke rumah.
Anna dan Nenek menghela nafas lega.
"Untuk sementata baiknya Pak Kevin istirahat di rumah dua atau tiga hari. Makanannya juga harus diperhatikan," sambung Pak Dokter.
"Makan harus teratur. Gak boleh makan yang terlalu keras, pedas, bersantan dan bersoda kan Dok?" tanya Anna.
"Betul sekali."
"Udah bisa jadi dokter juga ya?" sindir Kevin.
"Orang sakit istirahat saja." Setelah dokter pulang dan resep obat sudah ditebus, Anna memasak bubur untuk Kevin.
"Kok buburnya gak ada isinya?" tanya Kevin.
"Ini namanya bubur polos."
"Aku disuruh makan gitu aja? Gak ada lauk apa gitu?" protes Kevin dengan suara lemah.
"Udah makan aja, orang sakit gak boleh pilih-pilih." Nenek membela Anna.
"Penyakit manjanya juga ikut kambuh," sindir Alex.
"Aku makan, tapi mau disuapin." Kevin tersenyum pada Anna.
"Tuh kan. Manja." Alex keluar dari kamar Kevin disusul Nenek.
"Manja amat sih." Anna mulai menyuapi Kevin.
"Emmm... Enak rasanya. Ini mah bukan bubur polos."
"Siapa dulu yang masak. Aku tahu kamu pasti bawel kalau sampai buburnya juga hambar. Makanya aku tambahin sedikit bumbu."
"Aaaaa." Kevin membuka mulut minta disuapi lagi. Anna tertawa melihatnya.
"Dasar manja."
"Namanya juga orang sakit Na. Harus dirawat dengan baik."
"Alasan." Anna menyuapi Kevin lagi.
"Ya emang begitu kan." Kevin terlihat senang.
"Habis ini badannya dilap pakai air hangat ya."
"Emang gak boleh mandi?"
"Harusnya bisa sih kalau pakai air hangat, tapi emang kamu bisa mandi sendiri?"
"Masih pusing sih." Kevin merasa ragu.
"Nah itu masih pusing. Nanti kamu jatuh lagi."
"Kan ada bathtub."
"Emang kalau mandi sambil duduk di bathub yakin bisa bersih sampai belakang?"
"Maybe."
"Gak usah deh biar aku yang lap badan kamu."
"Kamu?" tanya Kevin kaget.
"Memangnya mau siapa lagi? Mau Alex atau Nenek?"
"Eh, gila kali masa Alex, gak mau. Nenek juga ga usah deh."
"Terus mau siapa? Para pelayan cewek?" tanya Anna kesal.
"Eh, jangan lah. Malu tahu."
"Jadi kamu maunya siapa yang lap badan kamu?"
next>>>