
Kevin yang baru keluar dari toilet, mendapati Alex yang terlihat frustasi.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin santai.
"Amel muncul," jawab Alex singkat. Kevin kaget dan langsung duduk di sebelah Alex.
"Amelia Kiandra?" tanya Kevin. Alex mengangguk lemah.
"Tadi dia mampir ke sekolah Gita."
"Julie bisa atasi dia kan?" tanya Kevin.
"Mungkin."
"Sebaiknya kamu pulang duluan saja. Istirahat di rumah, kamu terlihat lelah." Alex mengangguk menerima saran Kevin. Dia memang perlu menenangkan diri.
"Kenapa kamu harus muncul sekarang Amel? Apa kamu mau menghancurkan hidupku lagi?" batin Alex kesal.
"Daddy." Gita terlihat senang Daddy-nya pulang lebih cepat.
"Tumben Daddy pulang cepat."
"Daddy capek mau istirahat."
"Yah, gak bisa temani Gita main dong."
"Daddy masih bisa dengar Gita bercerita." Alex berjongkok menyamai tinggi Gita.
"Hari ini Gita dijemput Mo.. Ups, Tante Julie." Gita tersenyum manja. Alex tersenyum melihat tingkah Gita.
"Alex sudah pulang?" Nenek keluar dari kamar karena mendengar Gita berteriak. Alex tersenyum melihat Neneknya.
"Nenek kaget loh waktu tahu Julie yang jemput Gita."
"Julie ada ngomong apa?" tanya Alex.
"Dia cuma bilang sempat ajak Gita dan Miss Lia makan siang."
Alex mengangguk perlahan.
"Memangnya ada apa?" Nenek bertanya dengan nada curiga.
"Gak apa-apa kok Nek. Alex ke kamar dulu ya. Mau istirahat."
*****
"Serius?" teriak Anna kencang.
"Anna kamu kenapa?" teriak Kevin dari walk in closet.
Pintu menuju closet memang terbuka, sehingga Kevin bisa mendengar teriakan Anna.
"Gak apa-apa," Anna balas berteriak.
Anna kembali menempelkan ponsel di telinganya.
"Mantan istri Alex muncul?" tanya Anna.
"Iya budeg. Eh, tapi aku gak ngomong sama Nenek ya."
"Terus gimana dong nasib Alex?" tanya Anna.
"Mana aku tahu," jawab Julie lesu.
"Padahal si Alex katanya lagi PDKT sama cewek."
"Tahu dari mana?" tanya Julie.
"Dia sendiri yang bilang. Nenek juga udah tahu. Kalau mantan istrinya tiba-tiba mau balikan gimana?"
Julie terdengar menghela nafas.
"Entahlah. Terserah Alex kan," serunya lesu.
Anna merasa mulutnya perlu dijaga. Pagi akhir pekan yang cerah ini, Anna bertemu Amel.
"Astaga kok rasanya omonganku jadi kenyataan?" batin Anna.
Beberapa saat yang lalu, dari pos security menelpon Anna.
"Bu, ada yang cariin Pak Alex. Sudah saya telpon, tapi beliau tidak angkat. Nyonya juga tidak angkat telpon."
"Siapa ya Pak?" tanya Anna penasaran.
"Perempuan Bu tidak mau menyebutkan nama, makanya saya konfirmasi dulu."
"Bentar Pak ya." Anna berlari ke arah kamar mandi dan membuka pintu.
"Ken ada yang cariin Alex, tapi Alex gak angkat telpon. Gimana dong?"
"Siapa?" tanya Kevin dari balik bilik shower.
"Gak tahu, katanya cewek."
"Pacar barunya Alex kali. Suruh masuk saja."
Anna bergegas mengangkat telpon di dekat pintu.
"Suruh masuk saja Pak." Anna kembali ke depan pintu kamar mandi yang belum tertutup.
"Aku coba temani tamunya dulu ya?"
"Iya. Ngapain juga datang pagi-pagi begini," sahut Kevin.
Dan disinilah Anna berdiri menatap Amel di teras rumah. Anna mengenal Amel, karena pernah melihatnya dalam album foto Nenek. Wajahnya bertambah tirus dan terlihat jauh lebih tua, tapi Anna mengenalinya.
"Maaf saya datang sepagi ini. Alex ada?" tanya Amel.
"Siapa ya?" tanya Anna pura-pura bego.
"Saya Amelia Kiandra."
"Bagaimana kalau masuk ke dalam dulu." Anna mempersilahkan Amel masuk.
"Bodoh amat, suruh masuk saja dulu. Urusan dimarahi nanti aja," batin Anna.
"Kalau boleh tahu ada urusan apa dengan Alex?" tanya Anna. Amel tidak menjawab. Dia hanya menatap Anna bingung.
"Oh, maaf. Saya Anna, kakak iparnya Alex."
"Kevin sudah menikah?" tanya Amel kaget.
"Begitulah."
"Na, aku udah panggilin Alex." Kevin muncul dan langsung mengecup kening Anna.
"Mana tamunya?" Kevin berpaling ke arah Amel.
Mata Kevin membulat sempurna.
"Selamat pagi Kak Kevin. Maaf saya datang sepagi ini," seru Amel. Kevin tak bisa berkata-kata.
"Bego. Kenapa aku bisa lupa kalau Amel sudah kembali," batin Kevin.
"Ken?" panggil Anna.
"Ya," jawab Kevin linglung.
"Siapa yang cariin aku sepagi ini Vin?" Alex muncul di ruang tamu.
"Alex," panggil Amel. Ekspresi Alex langsung mengeras.
Kini Kevin dan Anna sudah duduk dengan gelisah di ruang makan. Nenek akhirnya datang dan ikut bergabung.
"Katanya ada tamu. Siapa yang datang sepagi ini?" Kevin dan Anna saling melirik.
"Kok gak ada yang jawab?" tanya Nenek.
"Itu Nek. Amel datang," Anna terbata. Nenek sangat kaget mendengar ucapan Anna. Dengan cepat Nenek pergi ke ruang tamu.
"Harusnya tidak kubiarkan dia masuk," gumam Anna.
"Sudahlah berdoa saja tidak terjadi perang," balas Kevin.
"Apa kita perlu melihat mereka?" tanya Anna.
"Mungkin kita harus menemani Nenek." Kevin bangkit berdiri. Anna langsung menyusul.
"Mau apalagi kamu kemari?" Nenek langsung marah begitu tiba di ruang tamu.
"Maaf mengganggu sepagi ini Nek,"
"Siapa yang kamu panggil Nenek?" Nenek berteriak marah mendekati Amel. Nenek melayangkan telapak tangannya ke pipi Amel.
"Nenek." Anna berlari menghampiri Ratih.
"Sudah Nek." Anna berusaha menahan Nenek Ratih. Kevin juga berusaha menjauhkan Nenek dari Amel. Hanya Alex yang bergeming.
"Kita bicara baik-baik ya Nek," pinta Anna.
"Mana mungkin aku bisa bicara baik-baik pada perempuan ini."
"Nek dengarkan saja Anna. Nanti Gita bisa dengar," protes Alex.
Mendengar itu Nenek menjadi sedikit tenang. Anna segera meminta Bi Asih untuk membuatkan Nenek Ratih teh chamomile.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Nenek dengan nada sinis.
"Saya hanya datang untuk melihat Gita." Nenek mendengkus dengan kasar.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Alex.
"Aku sudah lama ingin datang, tapi suamiku tidak mengijinkan."
"Apa sekarang suamimu mengijinkan?" tanya Alex lagi. Amel tidak langsung menjawab.
"Kami sudah cerai," jawabnya terbata. Anna menatap Amel dengan iba.
"Jangan memberi alasan. Walaupun suamimu itu tidak mengijinkan, kamu kan setidaknya bisa telpon. Sekarang sudah cerai lagi kamu baru datang. Jangan bilang kamu mau balikan sama Alex?" Nenek masih berbicara dengan nada tinggi.
Amel menundukkan kepala. Amel sangat tahu, dia tidak pantas untuk Alex. Alex terlalu baik untuknya, tapi harapan itu masih ada.
"Saya tahu saya sangat tidak tahu malu, tapi saya masih mengharapk.. "
"Maaf." Alex memotong kata-kata Amel.
"Saya memiliki seseorang yang saya cintai. Terima kasih karena kemunculanmu sekarang dia marah, tapi saya akan berjuang untuk mendapatkan gadis yang saya cintai."
Tanpa basa-basi Alex menolak Amel dengan tegas. Amel hanya bisa tersenyum, dia tahu tak ada harapan untuknya.
"Setidaknya izinkan aku untuk bertemu anakku. Biarkan aku memeluknya sebentar saja," pinta Amel frustasi.
"Setelah kamu meninggalkan Gita dulu, kamu berharap mendapat kesempatan? Baru sekarang kamu sok jadi orang tua yang baik?" Nenek masih marah.
"Nek, biar bagaimanapun Amel itu ibu kandung Gita. Kita gak ada hak untuk melarang," saran Kevin.
"Saya tahu saya salah, tapi sekarang hanya Gita satu-satunya keluargaku." Amel mulai terisak.
"Yang dibilang Kevin itu benar Nek. Kita tidak boleh melarang ibu dan anak untuk bertemu." Alex mencoba meyakinkan Neneknya.
"Terserah," seru Nenek akhirnya mengalah.
Alex beranjak dari tempatnya duduk.
"Saya akan coba bicara dulu pada Gita. Kalau dia tidak mau, saya juga gak bisa berbuat apa-apa lagi." Amel mengangguk mengiyakan Alex.
next>>>
Jangan lupa Like yahh..