
"Yakin bisa jalan sendiri?" Kevin mulai membantu Anna berjalan. Anna mengangguk berusaha menahan sakit.
Sedetik kemudian, Anna sudah tidak bisa menahan sakitnya. Anna langsung jatuh, untungnya Kevin memegangi Anna.
Melihat istrinya yang kesusahan berjalan, Kevin langsung membopong Anna. Kevin juga terpaksa harus mendorong pintu dengan kaki.
"Dinda, telpon Rian sekarang juga. Suruh dia siapkan mobil di bawah. Seseorang bantu aku menekan tombol lift," Kevin berteriak.
Dinda langsung mengangkat telpon. Riri yang mendengar teriakan Kevin, langsung keluar ruangan dan membantu. Bahkan Riri ikut naik ke lift, berjaga-jaga jika Kevin butuh bantuan.
Dan benar saja. Riri terpaksa langsung menekan tombol lift untuk menutup, tiap kali lift singgah di lantai yang lain.
"Maaf. Keadaan darurat," seru Riri tiap kali singgah di lantai yang lain. Tentu saja para karyawan mengerti keadaannya.
Seperti biasa, gosip cepat menyebar di kantor itu. Setiap karyawan mengusahakan yang terbaik agar tidak mengganggu jalan yang akan dilalui Kevin.
Bukan hanya di grup rahasia karyawan, beberapa orang malah sudah memposting di IG. Tentunya akan viral sebentar lagi, seperti proyek yang memulihkan nama baik Kevin beberapa waktu lalu.
Rian yang sekarang menjadi asisten pribadi Kevin, sudah siap dengan mobilnya. Bahkan pintu penumpang telah terbuka lebar.
"Ke rumah sakit. Yang cepat."
"Ken sakit." Anna terus menangis.
"Sabar ya sayang. Ini kita jalan ke rumah sakit."
"Kalau sakit banget, kita operasi saja ya."
"Gak mau. Aku mau normal," balas Anna ngegas.
"Oke. Normal."
*****
Kevin meminta Rian mengurus administrasi rumah sakit, sementara dirinya menemani Anna masuk ruang bersalin.
Dengan cekatan para perawat mulai memeriksa Anna. "Sudah pembukaan lima, beritahu dokter Fanny."
"Memangnya perlu sampai bukaan berapa?" Kevin sudah panik, karena Anna makin kesakitan.
"Harus ditunggu sampai pembukaan sepuluh Pak."
"Sepuluh? Istriku sudah kesakitan, tapi harus menunggu sampai sepuluh?"
"Prosesnya Ibu Anna ini sudah terbilang cepat Pak, berhubung ini kehamilan pertama." Anna makin kuat meremas tangan Kevin yang digenggamnya.
"Dokternya mana? Kok lama amat?" protes Kevin makin panik.
"Sudah dalam perjalanan kemari Pak."
"Memangnya dia di mana?"
"Dokter Fanny baru saja tiba di depan rumah sakit waktu kami menelponnya."
Lima menit kemudian dokter Fanny masuk ke ruang bersalin sambil berlari. "Bagaimana?" tanyanya.
"Sudah masuk pembukaan tujuh dok."
"Good. Anna coba atur nafasnya dengan pelan. Ya seperti itu."
Dokter Fanny terus memberi instruksi sambil menggunakan baju bedah agar lebih steril. "Oke. Sudah masuk delapan, sabar ya sedikit lagi."
Tidak sampai lima belas menit kemudian, Anna sudah berteriak sejadi-jadinya. "Dorong yang kuat," pinta dokter Fanny.
Anna berusaha sekuat mungkin, tapi hasilnya nihil. Sudah setengah jam Anna berusaha, tapi belum ada hasil.
"Coba papanya keluar dulu dari ruangan," perintah dokter Fanny.
"Hah?" Kevin kebingungan.
"Keluar saja brengsek. Jangan bengong di sana," teriak Anna. Rasa sakit sudah membuat Anna lebih ganas.
Refleks Kevin melepas pegangannya pada Anna. Kevin berjalan keluar dengan cemas.
Ketika Kevin menutup pintu, terlihat Nenek, Alex dan Julie sudah berada di sana.
"Bagaimana tanya Nenek?" Kevin menggeleng.
"Aku diusir keluar."
"Memang kadang bayinya gak mau keluar kalau ada ayahnya," balas Nenek.
"Kantor gimana?" tanya Kevin pada Alex.
"Yang penting sudah aku urus," jawab Alex. Setelah menikah, Alex resmi jadi direktur dan Kevin jadi presdir. Julie juga sudah resmi jadi komisaris TC Bank.
Sedetik kemudian, pintu ruangan bersalin terbuka. "Pak Kevin boleh masuk kembali," seorang perwat memanggil.
"Sudah lahir?" tanya Kevin.
"Bayinya sudah lahir dan dalam kondisi sehat."
"Perasaan belum sampai lima menit aku ada diluar," gumam Kevin pelan.
Kevin melihat anaknya ada di dalam dekapan Anna. "Kecil sekali sih," seru Kevin sambil tersenyum.
"Beratnya itu tiga koma satu. Panjang lima puluh senti. Itu sudah termasuk lumayan loh," sahut dokter Fanny.
"Tetap saja kecil banget." Anna tersenyum geli.
"Ganteng kan?" tanya Anna.
"Sepertinya mirip kamu," jawab Kevin.
"Nanti kalau mau, papanya juga boleh gantian gendong debaynya."
"Aku juga boleh?" tanya Kevin.
"Setelah tiga puluh menitan," jawab dokter Fanny.
"Omong-omong nama bayinya sudah ada?"
"Kalisto Elios Bramantara," jawab Anna pelan.
*****
Setahun kemudian.
"Ha...ha...ha... Rasain," Anna tertawa puas.
"Jadi aku harus puasa lagi nih" tanya Alex. "Berisik banget sih," protes Julie.
"Udah berapa minggu dok?" tanya Anna.
"Perkiraannya tepat empat minggu."
"Astaga Li, lewat masa nifas langsung main berapa kali?" Kali ini Clarence yang mengejek.
"Kenapa aku harus ikut perkumpulan bumil? Dan kenapa juga, ini rumah berubah jadi klinik?" protes Cleo.
"Kebiasaan baru Kevin tuh. Aku lihat sejak jadi orang kaya nomor satu di Indonesia, sedikit-sedikit langsung main keluarkan uang."
"Kok malah jadi aku sih Ren?"
"Emang situ kan yang ubah ini ruangan jadi klinik," balas Clarence.
"Seharusnya kalian bersyukur, rumahku ini ada kliniknya. Kalian para bumil jadi gampang kontrol kan?"
"Iya deh. Terima kasih ya Vin," seru Vira.
Akhirnya setelah menunggu hampir dua tahun, Vira hamil juga. Usia kandungannya sudah menginjak empat bulan. Clarence sendiri menerima pinangan Gerald dan sekarang sedang hamil enam bulan.
"Aku bukan bumil loh, tapi aku juga diseret ke sini. Ini dokter juga, mau-mau saja tiap bulan diseret ke sini." Cleo masih terus protes.
"Bayarannya bagus Cleo. Aku gak mungkin menyia-nyiakan ini," jawab dokter Fanny.
"Tapi gak harus bawa-bawa aku kan?"
"Gak apa-apa, toh sekalian bisa ngumpul. Kamu juga kan sudah bisa mulai program hamil," balas Anna.
"Hello, aku nikah saja belum. Masa udah mau program hamil?"
"Gak ada salahnya kan. Mending dimulai lebih awal. Daripada nanti terlambat," saran Vira.
"Permasalahannya adalah, si Rian mau gak nikah sama anak bar-bar ini?" Clarence menujuk Cleo.
"Situ kali yang bar-bar," balas Cleo.
"Saya sih mau saja, tapi biaya nikahnya belum terkumpul. Masih harus kerja lebih giat lagi," sahut Rian.
"Kalau mau nunggu kamu cari uang nanti kelamaan." Nenek datang bergabung di dalam ruangan klinik.
"Dengar tuh," seru Anna.
"Nikah kan gak usah mewah. Yang penting langgeng sampai tua," lanjut Nenek.
"Iya Nek," sahut Rian.
"Gimana hasilnya Julie?" tanya Nenek.
"Sudah satu bulan," jawab Julie pelan.
"Kok malah murung?" tanya Nenek.
"Urus satu anak saja susah Nek. Sekarang harus urus dua."
"Bukannya ada babysitter ya?" tanya Vira.
"Tetap saja. Ngebayangin si Anne nangis aja udah sakit kepala. Anne belum cukup besar nambah lagi satu bocah."
"Vira belum rasaiin sih. Ini aku habis lahiran mau langsung pasang spiral."
"Udah gak mau nambah lagi?" tanya dokter Fanny.
"Gak dok. Dengan yang ada dalam perut, totalnya sudah tiga. Sudah melebihi program pemerintah."
"Aku juga mau pasang spiral juga," sahut Julie.
"Kamu kan baru dua," seru Alex.
"Dengan Gita udah tiga," balas Julie.
"Kalau kembar, artinya empat dong. Atau mungkin lima," goda Nenek.
"Jangan gitu dong Nek," protes Julie. Semua yang ada di sana tertawa terbahak-bahak.
Hari sudah mulai malam. Anna bersandar manja pada dada bidang Kevin. Mereka sedang menikmati waktu bersama di dalam kamar. Tentu saja ditemani si kecil Eli yang sudah tertidur di box bayinya.
"Tiba-tiba saja aku keingat Vanessa," seru Anna.
"Ngapain ingat-ingat dia?"
"Harusnya dia udah melahirkan kan?"
"Mungkin," jawab Kevin cuek.
"Gak ada kabar lagi soal Vanessa?" Kevin menggelengkan kepala.
"Sejak dinyatakan hilang tahun lalu, aku gak pernah dengar berita apapun."
"Pak Mahesa gak cariin dia?" tanya Anna.
"Aku terakhir dengar kabar Pak Mahesa itu dua bulan lalu. Katanya dia masih mencari Vanessa. Cuma kamu tahu kan, dia sudah gak ada kekuasaan untuk melakukan pencarian besar-besaran."
"Ken terlalu jahat sih. Masa kamu tega bikin keluarga mereka bangkrut."
"Justru mereka harus berterima kasih sama aku Na. Aku masih bersedia menyisakan satu perusahaan yang lumayan untuk Pak Mahesa kelola."
"Aku kasihan sama Vanessa. Hidupnya jadi susah gara-gara aku," gumam Anna.
"Hidupnya jadi gitu bukan karena siapa-siapa, tapi karena dirinya sendiri. Udah deh daripada pusingin orang, mending kamu jaga diri dan anak kita.
"Tentu saja," jawab Anna.
"Yang penting itu kamu dan anak-anak bahagia."
"Kamu juga harus bahagia dong Ken."
"Tentu saja. Kita semua harus bahagia."
END....
Terimakasih buat semua yang udah baca...
See you next time...