The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 94 Cek Kandungan



Sehari sebelumnya Kevin bahagia banget. Chat yang selama ini dikirimnya ke Anna, berubah dari centang satu menjadi centang dua warna biru.


Semenit kemudian, ponsel Kevin berdering menunjukkan nama Anna. Dengan riang Kevin menganggkat telponnya.


"Halo."


"Ken?" Kevin tersenyum lebar. Betapa dia merindukan panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Kevin lembut.


"Gak mengganggu?"


"Gak kok. Aku lagi santai saja. Kamu ngapain?" Kevin bertanya balik.


"Lagi nelpon kamu," jawab Anna manja. Senyuman Kevin jadi makin lebar.


"Udah makan?"


"Hm. Aku makan makanan yang tadi dibawa sama Ken. Kamu sendiri udah makan?"


"Sudah dong."


"Em. Besok Ken ada waktu?"


"Tentu saja ada. Kenapa?"


"Mau temani aku ke dokter kandungan?"


"Dokter? Mau cek rutin?"


"Iya. Kamu ada waktu buat temani aku?"


"Hm. Aku punya banyak waktu untukmu."


"Aku janjian sama dokter jam lima sore," seru Anna.


"Aku akan jemput kamu sebelum itu."


"Oke. Besok aku tunggu di rumah ya. Jangan telat."


"Aku gak akan telat," jawab Kevin.


"Aku tutup telponnya ya," seru Anna.


"Hm. Bye."


"Bye. Good night."


Dan disinilah Kevin berada. Kevin menekan bel dengan seikat bunga ditangan dan senyum merekah.


Nico yang membukakan pintu. "Tante Anna. Om Kevin sudah datang." Nico langsung berteriak, tidak memberikan Kevin kesempatan untuk bicara.


Anna berjalan mendekat sambil memegang pinggangnya dengan sebelah tangan. "Kok cepat amat datangnya?"


"Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu." Kevin memberikan bunga yang dibawanya.


"Untukmu."


Anna menerima bunga itu dengan senyuman. "Makasih ya." Mereka terdiam sejenak.


"Mau masuk dulu atau langsung pergi saja?" tanya Anna.


"Terserah kamu. Aku ikut keputusanmu," jawab Kevin lembut.


"Kalau gitu aku ambil tas dulu ya. Kita langsung berangkat saja."


"Biar kuambilkan tasnya," seru Kevin cepat.


"Gak usah dekat kok. Sekalian aku mau simpan bunganya." Kevin mengangguk.


Tidak sampai lima menit Anna sudah keluar lagi. Kevin dengan cepat memegangi Anna, membantunya berjalan. Anna menggigit bibir bawahnya melihat tingkah Kevin yang begitu manis.


Saat mereka berdua turun ke lobi beberapa orang memperhatikan mereka. Orang-orang ini kebanyakan mengenal Kevin dari konfrensi pers kemarin.


"Kamu tunggu di sini ya. Aku ambil mobil dulu. Gak lama kok," pinta Kevin. Anna mengangguk cepat.


Setelah memarkir mobilnya dengan cantik di depan Anna, Kevin segera turun untuk membukakan pintu mobil buat Anna. Bahkan sebelum tangan Anna menyentuh gagang pintu.


Tidak lupa Kevin membanru Anna memasang seatbelt. Anna tidak berhenti tersenyum. Kevin bertingkah sangat manis hari ini.


"Jadi mau langsung atau mau ke mana dulu?" tanya Kevin.


"Boleh singgah beli minuman dulu di starbucks? Gak jauh dari rumah sakit kok."


"Oke."


"Kamu mau pesan apa? Nanti biar aku saja yang turun." Kevin memberi saran saat mereka sudah sampai.


"Aku mau masuk. Mau lihat menunya dulu." Setelah mendengar itu, Kevin segera membantu Anna melepas seatbelt dan mebukakan pintu mobil.


Saat di dalam cafe sekalipun, Kevin meminta Anna untuk duduk saja. Anna menolak dengan alasan ingin menggandeng Kevin lebih lama.


Selama mengantri Anna juga bersandar manja pada bahu Kevin. Tangan Kevin juga tidak lepar dari pinggang dan perut Anna.


Kevin sangat cerewet dengan pesanan Anna. Kevin minta menggunakan tumbler stainless yang sudah dicuci pakai air panas. Memastikan semua makanan yang Anna pesan tidak menggunakan bahan mentah atau setengah matang.


Makin banyak mata yang menatap Kevin dan Anna. Terlebih karena perlakuan manis Kevin pada Anna. Overprotektif tapi tetap terasa mesra.


Saat tiba di rumah sakit, Kevin masih memperlakukan Anna layaknya tuan putri. Kevin juga tidak malu menenteng tas dan belanjaan makanan Anna.


"Ini sudah berapa bulan?" Mereka berdua sudah duduk di ruang tunggu.


"Tujuh bulanan," jawab Anna singkat.


"Ngapain? Aku gak mau," Anna langsung menolak. Kevin hanya mengangguk.


Kevin menempelkan telinganya di perut Anna. "Baby kamu ngapain di dalam sana?" tanya Kevin.


Anna tertawa melihat Kevin. "Baby lagi bobo Pa," Anna yang menjawab.


"Bobonya gak tenang ya? Banyak gerak. Jangan nakal, jangan bikin mama susah."


Kevin kembali duduk. "Kuenya gak mau dimakan?"


"Mau," jawab Anna singkat. Dengan telaten Kevin menyuapi Anna.


"Aku bisa makan sendiri Ken."


"Gak. Kamu gak perlu bergerak. Mau minum?" Anna mengangguk. Kevin juga membantu Anna minum.


Mereka begitu mesra, dunia serasa milik berdua yang lain hanya kontrak. Tentu saja hal ini menjadi tontonan para pasangan lain.


"Ibu Anna." Seorang perawat memanggil.


"Oh, akhirnya Papa yang selalu sibuk itu bisa menemani," dokter langsung menyindir Kevin.


Kevin hanya tersenyum tipis. "Ngidamnya sudah selesai artinya ya," kali ini dokter mengejek Anna.


"Ayo berbaring lah di ranjang," dokter memberi instruksi. Kevin tentu saja membantu Anna.


Dokter Fanny mulai melakukan USG. "Dua puluh delapan minggu enam hari. Perkembangan janinnya bagus dan sehat." Dokter Fanny lanjut memeriksa.


"Wah si debay sudah gak malu-malu."


"Sudah kelihatan jenis kelaminnya?" tanya Anna antusias.


"Bukannya dari umur lima bulan sudah bisa dilihat?" tanya Kevin heran.


"Kemarin-kemarin babynya malu-malu. Dia gak mau kasih lihat," Anna menjelaskan.


Kevin mengangguk mengerti. "Makanya papa jangan suka berkeliaran," ledek Dokter Fanny.


"Jadi jenis kelaminnya apa?" tanya Anna.


"Laki-laki," jawab Bu dokter.


"Tuh kelihatan gak?" tanya dokter Fanny.


"Aku gak bisa lihat dari sini," keluh Anna.


"Itu ada layar di depan kamu," balas dokter Fanny.


"Terlalu jauh dok," protes Anna.


Tanpa perlu disuruh Kevin mengambil gambar layar monitor di depan dokter. "Nih, kamu bisa lihat disini."


"Wah, perhantian banget. Saya jadi iri," seru dokter Fanny. Anna hanya tersenyum senang.


"Sudah berapa kilo?" tanya Anna.


"Satu setengah kilo. Panjangnya sudah empat puluh centi. Anaknya cukup tinggi."


"Satu setengah kilo apa tidak terlalu ringan?" tanya Kevin.


"Itu adalah berat yang normal Pak. Nah, pemeriksaannya sudah selesai."


"Ini kehamilan pertama Anna kan?" tanya dokter Fanny.


"Iya dok."


"Papanya pasti belum pernah jengukin debaynya kan? Soalnya terlalu sibuk," tanya dokter lagi.


"Emang ada cara untuk dijenguk? Dia kan ada dalam perut," balas Kevin.


"Bisa dong. Yah itu kalau masih sehat." Anna yang mendengarnya menjadi malu.


"Maksudnya apa sih?" Kevin masih bingung.


"Gak ngerti atau pura-pura gak ngerti?" goda dokter.


"Udah deh dok. Gak usah diomongin lagi," pinta Anna.


"Eh, ini cukup penting loh untuk membantu persalinan normal. Apalagi untuk kehamilan pertama."


"Maaf, tapi saya masih belum ngerti," balas Kevin.


"Kalian harus melakukan hubungan intim sekali-kali. Itu bisa membantu Anna untuk lahiran normal."


Kevin berkedip dua kali masih mencerna kata-kata dokternya.


"Ah, oke. Aku mengerti," seru Kevin kemudian. Sementara wajah Anna sudah memerah.


"Sekali-sekali saja ya dan hati-hati. Jangan buat Anna terlalu capek," dokter memberi saran.


"Ah, dokter sudah dong. Kami keluar ya." Anna segera menarik Kevin keluar dari ruangan.


"Makasih sarannya dok ya," seru Kevin senang. Anna langsung memukul lengan Kevin.


"Apaan sih Ken. Malu-maluin."


next>>>


jangan lupa like