
"Kok bisa?" tanya Kevin
"Ada sedikit masalah di kantor."
"Tante skors itu apa?" tanya Gita.
"Tante gak boleh masuk kantor karena bikin masalah." jawab Anna
"Artinya Tante gak pergi kerja dong? Bisa temanin Gita main sepulang sekolah?"
"Tante gak bisa janji sayang. Soalnya tante ada urusan."
"Yah," Gita berseru kecewa.
"Sebagai gantinya nanti tante antar Gita ke sekolah. Gimana?" Gita mengangguk riang.
"Sorry ya merepotkan," seru Alex.
"Gak apa-apa kok kebetulan juga mau keluar," jawab Anna.
"Memang kamu ada kegiatan apa hari ini?" tanya Kevin.
"Mau ambil beberapa barang di rumah Julie dan beli beberapa barang mungkin."
"Biar Nenek suruh beberapa pelayan bantuin kamu," saran Nenek.
"Gak usah Nek, barangnya cuma sedikit kok."
"Gak apa-apa sekalian bisa bersihin rumah teman kamu," seru Nenek.
Anna menatap Kevin meminta bantuan.
"Bawa aja satu orang. Toh, nanti Pak Ujang bisa bantuin juga," seru Kevin menyeruput kopi.
Anna menghela nafas.
"Tapi, kalau Pak Ujang ikut nanti siapa yang supirin Nenek kalau mau keluar?" tanya Anna.
"Masih ada satu orang sopir nganggur kok di rumah," Kevin yang menjawab.
Anna menatap Kevin kesal, karena dirinya berharap bisa keluar sendiri.
"Dari pada cuma nganterin Bi Asih belanja atau antar anak-anak yang lain ke mana, mending antar Nenek saja kan," lanjut Kevin.
"Alex berangkat kerjanya sama Kevin. Di luar kerjaan mereka berdua juga gak mau pakai sopir. Jadi gak apa-apa," balas Nenek.
Anna akhirnya mengangguk pasrah.
"Dadah Tante." Gita berlari masuk ke sekolah dan disambut oleh gurunya.
Anna hanya melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Pak Ujang langsung ke rumah saya yah," pinta Anna.
"Maaf ngerepotin," sambungnya.
"Gak apa-apa kok, ini sudah pekerjaan Bapak," jawab Pak Ujang.
Pelayan yang ikut dengan Anna duduk di sebelah Pak Ujang. Dari tadi dia terus melirik lewat kaca spion.
"Nama kamu siapa?" tanya Anna.
"Nama saya Meri. Ibu namanya siapa?"
"Panggil Anna saja. Saya nanti minta bantuannya nanti ya." Meri hanya mengangguk.
Julie yang sudah sibuk dengan komputernya, mendengar ponselnya berdering. Muncul nama Anna di layar ponsel.
"Akhirnya." Julie bergegas mengangkat telpon.
"Akhirnya kamu telpon juga, dari kemarin malam ditungguin." seru Julie
"Yah, banyak yang terjadi kemarin." Anna menggunakan headset untuk menelpon sambil merapikan lemari.
"Jadi sekarang kamu di mana?" tanya Julie."
"Lagi di rumah kamu lah. Lagi beres-beres."
"Rajin amat sih bersih-bersih. Biasanya malas mau nungguin aku balik."
"Aku ke sini cuma buat beres-beres barang. Yang bersih-bersih bukan aku," balas Anna.
"Maksudnya?" tanya Julie bingung.
"Aku sudah pindah," jawab Anna.
"Hah, pindah? Pindah ke mana?"
"Ke rumah Kevin."
"Apa?" teriak Julie.
"Aduh gila suara kamu kayak gledek aja sih."
"Gila kali, kamu kumpul kebo sama Kevin?"
"Enak aja. Di rumah bukan cuma kita berdua kali. Ada Nenek ada Alex."
"Kok bisa?" tanya Julie.
Anna menceritakan kejadian kemarin dengan detail.
"Jadi gitu ceritanya."
"Gila ya. Aku juga mau kalau dapat nenek mertua kayak gitu."
"Sakit deh kamu. Kamu kan udah tau keadaanya aku sama Kevin gimana."
Meri dari tadi mondar-mandir gak jelas di depan kamar Anna. Meri kerja sambil pasang kuping.
"Eh, Meri ngapain kamu mondar-mandir melulu. Kerja sana," protes Pak Ujang.
"Ini juga lagi kerja."
Kevin dan Alex baru kembali dari bertemu dengan client. Begitu Kevin turun dari mobil datang dua orang yang terlihat seperti wartawan, bergegas mendekati Kevin.
"Selamat siang Pak Kevin. Bisa saya minta waktu sebentar."
"Saya juga Pak mau minta waktu."
"Ini apaan?" tanya Kevin.
"Sorry, kalau belum ada janji. Kami gak bisa melayani." Alex datang dan menghalangi mereka.
"Maaf ya," seru Alex.
"Pak, satu pertanyaan saja."
"Bapak mau tambah bisnis perbankan?" Para wartawan ini masih mengejar Kevin dan Alex, sampai security datang.
"Kenapa ada wartawan sih," protes Kevin.
"Kayaknya karena belakangan ini kita sering beli saham TC Bank," jawab Alex.
"Mereka pasti pikir kenapa kita mau beli saham bank yang termasuk biasa-biasa aja."
"Memang sudah terbeli berapa banyak?" tanya Kevin.
"Laporan terakhir sih sekitar satu persen."
"Apa juga yang mau di wawancara? Kapan?"
"Aku sih belum setuju tapi, mereka bersedia menyesuaikan jadwal dengan kita."
"Kapan ada kosong?"
"Besok gak banyak jadwal sih," jawab Alex.
"Ya sudah. Besok sore aja."
Dinda mengetuk pintu dan masuk segera setelah ada jawaban. Dinda meletakkan
secangkir cappucino dan segera pergi. Kevin langsung minum dan berkomentar.
"Lebih enak yang tadi pagi."
#######
Setelah jam pulang kantor Andi singgah ke rumah Julie. Sudah lima belas menit Andi menekan bel.
"Ke mana sih ini anak. Dari tadi siang ditelpon sibuk terus, sekarang malah gak aktif." Andi memperhatikan ponselnya.
"Nyari yang tinggal di sini mas?" tanya seorang wanita.
"Oh, iya Bu. Ibu tau dia ke mana?" balas Andi.
"Si Anna kan? Tadi Ibu liat bawa koper besar, terus naik mobil mewah sama dua orang lagi. Mungkin ke luar kota sama pacarnya."
"Pacar?"
"Iya. Saya sudah dua kali, lihat ada cowok datang pakai mobil mewah juga."
"Makasih Bu," seru Andi sopan.
Penasaran, Andi mencoba mencari nomer telpon Julie di grup chat kantor.
"Halo Julie?"
"Ini siapa ya?" jawab Julie.
"Ini Andi."
"Ngapain telpon-telpon?"
"Anna ada sama kamu ya? Aku singgah ke rumah tapi gak ada orang."
Julie menghela nafas panjang.
"Ngapain cari-cari Anna?"
"Ya dia kan lagi diskors, aku khawatir saja," jawab Andi.
"Khawatir? Kamu udah gak ada hak tau."
"Ya aku cuma mau tahu Anna di mana. Itu saja kok."
"Anna sudah pindah. Dan kalau bukan urusan kerjaan gak usah cari aku." Julie mematikan telpon.
Sementara itu di dapur rumah Kevin.
"Nona Anna itu pacarnya Pak Kevin tapi, mereka kayaknya lagi ada masalah," seru Meri.
"Bukan pacarnya Pak Alex? Dia akrab tuh sama Nona Gita," tanya Ayu.
"Bukan, aku dengar sendiri kok tadi. Mungkin Nona Anna main sama Nona Gita buat menghindari Pak Kevin saja. Dan Bu Ratih ngajak Nona Anna tinggal di sini supaya merka bisa baikan lagi," kata Meri menggebu-gebu.
"Oh, gitu ya," teman-teman Meri berseru.
"Mendingan Nona Anna sih dari pada Nona Vanessa," seru Ayu.
"Betul tuh. Seharian saya bantuin Nona Anna bersihin rumahnya. Dia tuh baik banget. Gak kayak si Vanessa sombong," Meri setuju.
Para pelayan yang lain mengangguk tanda setuju.
"Eh, ini apa-apaan semua ngumpul di sini?" tegur Bi Asih.
Satu-satu pelayan yang ada di sana mulai bubar.
"Meri, kamu pasti gosipin orang lagi ya?" tanya Bi Asih.
"Gak kok Bi," seru Meri berlalu pergi.
"Bukannya kerja, gosip gak jelas aja," sambung Bi Asih.
#######
Dipagi harinya
"Selamat pagi," sapa Anna ke Kevin.
"Pagi amat?" tanya Kevin duduk di kursi.
"Cappucino kan?" Anna meletakan gelas di depan meja Kevin.
"Thanks."
"Tante...." teriak Gita.
"Selamat pagi. Gita mau makan mie goreng?"
"Tante yang masak lagi?"
"Ia dong."
"Gita mau."
"Selamat pagi," sapa Nenek.
Pelayan segera mengambilkan jus dan sepiring mie goreng untuk Nenek.
"Bangun kepagian lagi?" tanya Kevin mulai makan.
"Mungkin belum terbiasa, aja" jawab Anna.
"Jangan-jangan Anna lagi yang bikin ini?" tanya nenek menunjuk piringnya.
Anna hanya tersenyum.
"Anna pintar masak ya," seru Nenek.
"Selamat pagi," sapa Alex.
"Daddy terlambat bangun," seru Gita.
"Gita yang bangun kepagian." Alex mencubit hidung Gita.
Gita tertawa girang.
"Anna hari ini belum kerja kan? Mau ngapain aja hari ini?" tanya Nenek.
"Belum tahu sih Nek. Mungkin mau ke Bandung cari Julie."
"Artinya belum pasti kan?" tanya Nenek.
"Iya sih Nek. Soalnya kan waktunya mepet. Jumat kan Anna sudah masuk kerja, takutnya kecapekan."
"Kalau begitu untuk mengisi waktu kosong, gimana kalau Anna ikut Kevin dan Alex saja ke kantor?" saran Nenek.
next>