
"Wow, aku gak tahu loh a kalau kamu kayak gitu?" Suara Julie terdengar dari headset Anna.
"Aku kenapa?" tanya Anna.
"Kamu ganas ternyata," balas Julie.
"Maksudnya" tanya Anna.
"Kamu gituan di tempat terbuka. Emang kalau bukan ganas apa lagi?"
"Itu cuma akting Li."
"Emang Kevin gak turn on habis itu? Abis itu kalian pasti ngapa-ngapain."
"Tapi kita gak ngapa-ngapain setelah itu. Kevin malah tidur di sofa."
"Serius? Normal gak sih dia?" tanya Julie.
"Normal banget lah. Dia cuma berusaha menahan diri aja," Anna bergumam genit.
"Hebat amat dia masih bisa kontrol diri."
"Itu artinya Kevin bertanggung jawab. Dia gak mau melanggar janjinya." Anna terkekeh riang.
"Kok kamu ketawa gitu?" tanya Julie.
"Gimana ya." Anna terdiam sebentar.
"Sepertinya aku jatuh cinta sama Kevin," sambung Anna.
"Serius?" tanya Julie.
"Hm."
"Dulu bilang gak mungkin, sekarang bilang cinta."
"Mungkin karena aku selalu sama-sama dengan dia kali ya."
"Ini yang namanya karena sering bersama akhirnya jatuh cinta," ledek Julie.
"Tapi Kevin sepertinya gak suka sama aku."
"Kenapa kamu bisa bilang gitu?" tanya Julie.
"Kalau emang dia suka sama aku, kenapa dia gak tergoda sama aku?"
"Oh, jadi yang kemarin di gazebo itu sengaja mancing ya," ledek Julie.
"Gak juga sih. Itu murni untuk membantu Kevin aja."
"Yakin?"
"Yakin," jawab Anna.
Anna mendengar ketukan di pintunya dan mempersilahkan masuk.
"Mbak, meetingnya sudah mau mulai." Kiki muncul dari balik pintu.
Anna mengangguk ramah pada Kiki.
"Bentar aku telpon lagi ya. Aku mau meeting dulu."
"Meetingnya berapa lama? Bukannya udah mau pulang?"
"Masih ada dua jam sebelum pulang Li. Udah dulu deh. Bye."
"Oke Bu Bos."
*****
"Pak, ada yang meminta bertemu." Suara Dinda terdengar dari interkom.
"Siapa?" tanya Alex.
"Namanya Edward Elvano dan Gerald Bastian, katanya ada keperluan penting."
Alex mendengkus mendengar nama itu.
"Suruh saja masuk."
"Yo, bro." Dua orang memasuki ruangan Alex dengan ribut.
"Kalian selalu saja ribut. Ada apa ke sini?" tanya Alex.
"Astaga buru-buru amat sih. Baru juga sampai gak suruh duduk dulu kek," seru Gerald.
"Kevin mana?" tanya Edward.
"Di ruangannya lah. Mau ke sana aja?" Kedua sahabat Alex mengangguk.
Alex membawa ke dua sahabatnya ke ruangan Kevin. Tanpa mengetuk pintu Alex langsung masuk.
"Kenapa Lex?" Kevin menyahut dari balik berkas. Memang hanya Alex yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Bro gak kangen nih sama diriku?" Gerald yang menjawab Kevin. Kevin mengangkat wajahnya.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Kevin.
"Mirip banget sama Alex. Gak basa-basi dulu kek." Edward dan Gerald duduk di sofa.
"Kalian pulang-pulang dari luar negri, langsung singgah ke sini. Apalagi kalau bukan ada maunya?" Kevin tersenyum mengejek.
Kevin bergabung dengan sahabatnya di sofa, diikuti dengan Alex.
"Mana kakak iparku yang digosipin itu?" tanya Gerald.
"Ngapain cari-cari Anna?" tanya Kevin.
"Kita kan belum kenalan," jawab Edward.
"Siapa suruh gak datang ke resepsi," protes Kevin.
"Kamu juga kirim undangan tiba-tiba. Udah tau kita sibuk, tinggalnya juga jauh." Geral berdecih kesal.
"Alesan tau. Kalau ada niat pasti ada jalan," protes Kevin.
Kedua sahabat Kevin dan Alex itu memang bekerja di luar negri. Mereka sudah bersahabat semenjak SMA, dan masih sering berhubungan.
"Sekretaris kita kan gak sejago sekretarismu," balas Edward.
"Itu hinaan atau pujian sih?" tanya Alex.
"Jadi kalian ngapain tiba-tiba balik Indo?" tanya Kevin.
"Buat kenalan sama kakak ipar lah," jawab Gerald.
"Gak akan kukenalkan," balas Kevin.
"Siapa juga yang posesif," balas Kevin.
"Dia emang gitu. Gak pernah mau ngaku," ejek Alex.
"Habis pulang kantor ke club yuk," ajak Gerald.
"Gak ikut," jawab Kevin cepat.
"Wah, gak solid nih."
"Dilarang kakak ipar ya?" tanya Edward.
"Anna gak pernah larang-larang," jawab Kevin.
"Terus kenapa gak mau ikut?" tanya Gerald.
"Kayak gak tahu aja kalian. Maklumin aja pengantin baru," jawab Alex.
"Yah, gak segitunya juga lagi. Kita balikin kamu ke rumah sebelum jam dua belas malam deh," sindir Gerald.
"Bukan itu juga kali. Lagi gak mood saja," jawab Kevin.
"Oke. Kamu boleh bolos hari ini, tapi besok harus ikut reunian kelas kita," kata Gerald.
"Wajib bawa kakak ipar juga," sambung Edward.
"Gak bakal, aku gak mau ketemu si Mike." Kevin memasang ekspresi kesal.
"Mike Laksono?" tanya Alex. Kevin mengangguk kesal.
"Emang dia ada masalah sama kamu? Perasaan kemarin baik-baik aja," kata Alex.
"Matanya itu loh, jelalatan ke mana-mana."
"Oh, ternyata jealous. Karena istrinya diliatin mulu," goda Gerald.
"Berisik," balas Kevin.
"Pokoknya hari ini kamu harus ikut Vin," Gerald memaksa.
"Kenapa aku yang dipaksa, sementara Alex gak?" protes Kevin.
"Kalau kamu ikut, Alex pasti ikut," jawab Edward.
Gerald dan Edwar menarik Kevin.
"Eh, ngapain tarik-tarik."
"Kita mau seret kamu ke club," jawab Gerald.
"Ini masih jam kantor," protes Kevin.
"Emang jam kantor di sini sampai jam berapa Lex?" tanya Edward.
"Jam lima."
"Nah, ini sudah hampir jam enamĀ bro. Artinya udah jam pulang." Gerald kembali menarik Kevin.
Ketika Edwar berniat membuka pintu, pintu ruangan Kevin sudah terdorong membuka. Edward dan Gerald sampai kaget.
Anna yang membuka pintu ruangan Kevin terkaget. Anna tidak menyangka ada yang berdiri di belakang pintu.
Anna mengedarkan pandangan pada Gerald dan Edward, yang masih memegangi Kevin.
"Ini ada apaan ya Ken?"
Kevin menghentak tangannya dengan kasar.
"Kakak ipar?" tanya Edward. Anna memandangi mereka berempat bergantian.
"Siapa ya?" tanya Anna.
"Kenalin ini Gerald dan Edward, sahabatku dan Alex." Kevin memperkenalkan Anna pada sahabatnya.
"Panggil Anna saja."
"Cantik amat ya," gumam Gerald. Spontan Kevin memukul tangan Gerald.
"Matamu itu dijaga," protes Kevin.
"Posesif amat sih," balas Gerald.
"Ngapain ke sini?" tanya Kevin pada Anna.
"Galak amat sama istri sendiri," gumam Edward. Kevin melotot padanya.
"Aku tadinya mau ajak pulang, tapi sepertinya kamu mau pergi sama teman-temanmu."
"Gak kok. Kita pulang sekarang, aku ambil barang dulu."
"Eh. Kata siapa kamu boleh pulang?" Gerald menahan Kevin.
"Kita mau ke club, mau ikut?" tanya Alex.
"Oh, gak deh. Kalian saja, aku mau pulang." Anna tersenyum ramah.
"Oh, jangan dong. Anna harus ikut biar Kevin juga ikut," pinta Gerald. Anna melihat Kevin yang langsung menggelengkan kepala, kemudian melihat yang lain.
"Sepertinya kalian sudah lama gak ketemu, saya takut nanti mengganggu reuni kalian."
"Oh, gak kok. Sama sekali tidak," balas Gerald.
"Justru kita ini yang penasaran sama kakak ipar kita ini," seru Edward.
"Panggil Anna saja. Saya tidak nyaman dipanggil begitu."
"Jadi, Anna mau ikut gak?" tanya Alex.
"Kenapa maksa amat sih?" protes Kevin.
"Siapa yang maksa? Ini lagi bertanya," Edward membalas Kevin.
Kevin masih menggelengka kepala.
"No," gumam Kevin.
"Boleh deh," jawab Anna. Kevin membulatkan matanya tidak percaya. Gerald dan Edward ber-high
five menang.
next>>>
Note:
Halo.Terima kasih dukungannya selama ini.