
"Maaf, kapan?" tanya Vira kaget.
"Akhir bulan," jawab Alex.
"Akhir bulan kapan? Dua delapan, dua sembilan, tiga puluh?" tanya Vira lagi.
"Tanggal tiga puluh," kali ini Kevin yang menjawab. Vira melotot tidak percaya mendengar itu.
"Kalian gila? Itu tinggal dua minggu lagi."
"Gak bisa?" tanya Alex.
"Aku masih handel dua klien yang akan menikah dalam dua minggu ini. Kalau gak ada klien itu aku bisa. Dengan adanya klien ini, aku gak bisa urus sendirian."
"Makanya aku juga minta bantuan Cleo dan Ren." Anna menunjuk kedua orang yang duduk di sebelahnya.
"Bisa kan?" tanya Alex.
"Aku sih gak ada masalah," jawab Cleo.
"Aku juga masih bisa menyesuaikan jadwal," sambung Clarence.
"Oke. Aku akan bantu, tapi kenapa buru-buru banget sih?" tanya Vira.
"Gak kenapa-kenapa kok," jawab Alex gugup.
"Yakin kamu gak apa-apain anak orang?" tanya Clarence iseng.
"Aku bilang gak mungkin sih Alex ngapa-ngapain anak orang," balas Cleo.
"Who knows? Alex kan cowok juga. Bener gak Lex?" tanya Clarence.
"Hah?" Alex tiba-tiba bingung. Kevin mencoba menahan tawanya.
"Julie mana?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan.
"Bukannya semalam dia tidur di kamarmu?" tanya Anna.
"Tidur di kamar Alex?" tanya Vira.
"Tunggu ini Julie yang mana?" tanya Cleo.
"Julie yang temanku itu loh."
"Sejak kapan?" tanya Clarence kepo.
"Katanya sejak tahun baru," Anna keceplosan.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Alex.
"Dari Julie lah."
"Lalu anak yang namanya Julie ini, sudah dibiarkan tidur di kamar Alex? Bahkan sebelum nikah?" tanya Vira lembut.
"Nenek mengijinkan kok," Kevin yang menjawab. Vira menaikkan sebelah alis.
"Lalu sekarang di mana Julie?" Vira bertanya lagi.
"Sepertinya masih tidur," jawab Alex.
"Jam sepuluh pagi masih tidur? Di rumah mertua pula," seru Clarence kaget.
"Nenek pasti gak tahu dia masih tidur kan? Kalau dia tahu pasti sudah diseret turun dari ranjang," sahut Cleo.
"Habis makan pagi tadi Nenek sempat tenngokin Julie kok," balas Alex.
"Dan Nenek membiarkannya?" tanya Vira makin bingung.
"Biasanya Julie bangunnya cepat kok, tapi namanya juga bawaan janin. Nenek mana tega bangunin," Anna menjawab.
"Tunggu. Kamu tadi bilang bawaan janin?" tanya Clarence.
"Oops," seru Anna sambil tersenyum canggung.
"Kamu menghamili anak orang?" tanya Vira masih syok.
"Serius?" tanya Cleo.
"Alex yang gak pernah tertarik sama cewek itu? Senakal ini?" lanjut Clarence. Alex memijat pelipisnya frustasi.
*****
"Gimana? Gugup?" tanya Anna pada Julie.
"Ya, sangat," jawab Julie.
Julie tengah duduk di ruang ganti. Dia sudah memakai gaun empire waist berwarna putih gading. Walaupun perutnya belum terlihat, Cleo tetap memilihkan model gaun yang dapat menutupinya.
"Santai saja," seru Vira merapikan tatanan rambut Julie.
"Pengennya begitu, tapi aku mual." "Mau ke toilet" tanya Anna.
Julie menggeleng cepat. "Masih bisa kutahan."
"Yakin? Jangan sampai pas lagi acara kamu tiba-tiba muntah loh."
"Gak kok, tenang saja. Aku sudah minta obat anti mual sama dokter."
"Memangnya sudah berapa bulan?" tanya Vira.
"Delapan minggu. Artinya sudah hampir dua bulan."
"Sepertinya setelah ini aku harus mulai ikut program," seru Vira lesu.
"Semoga bisa nular ya." Vira mengelus perut Anna.
Pernikahan Alex dan Julie terbilang 'sederhana' untuk ukuran keluarga Bramantara. Selain karena buru-buru, pengantinnya juga tidak mengundang banyak orang.
"Ya. Bagi yang lajang, ayo semuanya kumpul di depan. Kita akan mengadakan sesi lempar bunga." Suara MC terdengar menggelegar. Para perempuan lajang tentu saja antusias mendengar pengumuman ini.
Clarence berdiri tidak jauh dari kumpulan wanita lajang yang histeris. "Hah. Masih saja percaya dengan yang ginian," keluhnya.
"Gak mau ikutan?" tanya Gerald yang berdiri di sebelahnya.
"Aku sudah punyak anak Gerald." "Tapi masih lajang kan?"
"Iya juga sih, tapi aku gak percaya yang gituan. Masa hanya karena terima bunga dari pengantin, kamu bakal nyusul nikah."
"Bisa saja terjadi kan?" tanya Gerald.
"Kamu percaya gituan?" Clarence balas bertanya. Gerald mengangguk.
"Kalau gitu sana ikutan," ejek Clarence.
"Aku kan bukan cewek."
"Emang ada aturan cowok gak boleh ikut?"
"Gak sih, tapi itu di sana cewek semua."
Clarence tertawa mendengar Gerald. "Bilang saja malu buat ikutan." Gerald hanya mengedikkan bahu.
"Astaga." Clarence berteriak kaget. Buket bunga yang diperebutkan para gadis lajang itu, entah bagaimana mendarat di tangannya.
Semua mata orang-orang menatap dirinya. "Wow. Clarence yang jauh di sana yang dapat bunganya. Semoga cepat nyusul ya Mbak Clarence." Sang MC makin membuat orang-orang makin menatapnya.
"He... he... he... " Clarence nyegir kuda.
"Kok malah aku yang dapat?" batin Clarence.
"Tuh bunganya aja milih kamu," ejek Gerald.
"Kenapa kamu nyebelin banget sih? Jangan bikin moodku jadi jelek dihari bahagia ini."
"Kalau gitu biar aku buat kamu bahagia juga hari ini," seru Gerald serius.
"Kamu mau ngamar? Maaf gak bisa. Lagi tanggal merah," jawab Clarence.
"Ayo kita menikah." Clarence berbalik ke arah Gerald dengan mimik terkejut.
"What?"
"Aku bilang. Ayo kita menikah." Gerald mengulang perkataannya.
"Are you propose me?" "Yes."
"Aku udah punya anak loh."
"Aku tahu. Orang aku udah berapa kali ketemu Nico."
"Maksudku, aku punya anak tanpa nikah. Memangnya kamu gak keberatan?"
"Sama sekali tidak."
"Oke. Kamu mungkin tidak peduli, tapi orang tuamu gimana Ger."
"Mereka bukan orang berpikiran terbuka."
"Seriously?" tanya Clarence.
"Serius. Kalau kamu belum bisa jawab sekarang gak apa-apa. Aku bisa tunggu sampai kapan pun."
Gerald berjalan menjauhi Clarence, yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Dia serius?"
*****
"Aku gak percaya kamu benaran buat kamar di kantor. Sampai buat ruang shower baru juga."
Anna keluar dari kamar pribadi Kevin dengan rambut setengah kering. Anna terpaksa mandi, karena Kevin minta jatah siang bolong saat ngantor.
"Lebih asyik kan? Lebih privasi juga." Kevin sudah duduk kembali di mejanya dengan setumpuk berkas.
Anna berdecih dengan kesal. "Istrimu ini lagi hamil tua. Jangan bikin aku kecapekan," protes Anna.
"Kamu gak berencana cuti hamil?"
"Nanti deh. Pas satu minggu sebelum melahirkan."
"Kalau per hari ini artinya sekitar dua minggu lagi kan sampai melahirkan?" tanya Kevin. Anna mengangguk dengan malas dari sofa.
Tiba-tiba saja ekspresi Anna menggelap. "Ken."
"Kenapa?" Kevin tidak mendapat jawaban. Sebagai gantinya Kevin mendengar rintih kesakitan.
"Anna?" Kevin mendonggak ke arah Anna. Anna terlihat sangat kesakitan sambil memegang perutnya.
"Anna?" Kevin bergegas mendekati istrinya.
"Ada apa?"
"Perutku sakit banget." Air mata meleleh dari sudut mata Anna.
"Kamu bisa jalan?Kita ke rumah sakit sekarang." Anna mengangguk pelan, masih merintih kesakitan.
next>>>