The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Ch 17 Kesal



Anna keluar ruangan dengan langkah cepat. Andi yang dari tadi menunggu di luar langsung mengikuti Anna.


"Na, gimana? Pak Bayu bilang apa?" tanya Andi.


"Gak tau," jawab Anna.


"Loh,kok gak tahu? Hei, berhenti dulu." Andi menarik lengan Anna.


"Apaan lagi sih?" tanya Anna marah.


Karyawan lain yang dilewati Anna dan Andi melirik mereka.


"Kita bicara tempat lain saja dulu." Andi menggenggam tangan Anna dan menariknya pergi.


Baru satu langkah, Anna mengibaskan tangan Andi.


"Saya gak mau." Anna meninggalkan Andi.


"Anna." Andi mengejar Anna.


Anna kembali ke mejanya dan kembali memeriksa laporannya. Andi menarik kursi dan duduk di samping Anna.


"Hei, kamu kenapa? Ada masalah apa sih sebenarnya?" Anna tidak menggubris Andi.


"Yang dibilang Pak Bayu itu apaan?" tanya Andi.


Anna mulai membereskan laporannya.


"Apa ada hubungannya dengan ibu atau saudara tiri kamu?" tanya Andi lagi.


Anna menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Jadi kamu ya? Kamu yang kasih tahu mereka alamat rumah Julie?" tanya Anna.


"Maksud kamu apa sih? Aku kan cuma bertanya," jawab Andi.


"Saya gak pernah kasih tahu kamu keadaan keluarga saya. Dari mana kamu tahu soal ibu dan saudara tiri saya?"


"Ok. Sorry aku akui aku salah soal itu. Aku sama sekali gak nyangka kalau kamu gak akur sama mereka. Aku juga bukan sengaja kasih tahu mereka. Aku kemarin gak sengaja ketemu mereka." Andi mencoba mengelak.


"Puas kamu karena sudah bikin saya susah." Anna bediri dari kursinya.


"Anna ada telpon," sahut Windi.


Anna pergi mengangkat telpon. Andi datang mendekat.


"Baik Bu, terima kasih infonya. Ia saya mohon maaf sebelumnya." Anna menutup telpon.


Andi melihat Anna meminta penjelasan.


"Saya diskors tiga hari. Puas?" Anna berlalu pergi mengambil barang- barangnya.


"Anna, aku minta maaf soal ibu dan saudara kamu. Tapi aku tidak mengerti apa yang dibicarakan Pak Bayu. Sumpah aku gak tau." ucap Andi


Anna masih tidak memperdulikan Andi dan berjalan keluar kantor.


"Anna….. Annaaaa….." Andi mengejar Anna.


"Anna, aku betulan tidak tahu apa yang diomongin Pak Bayu. Aku gak kenal anaknya Pak Mahesa. Siapa tadi namanya?"


"Vanessa," jawab Anna.


"Ia itu dia. Aku gak kenal dia." Anna sibuk memesan taksi online.


"Anna, please."


"Bisa gak sih kamu gak ganggu saya?" Andi terdiam tapi belum beranjak.


Anna kembali sibuk dengan taksi onlinenya.


Sebuah sedan mewah berwarna merah berhenti di depan Anna. Kaca mobil itu terbuka.


"Hello. Gimana kabarnya Anna?" Vanessa nongol dari dalam mobil.


Anna menghela nafas kesal.


"Mau ngapain?" tanya Anna ketus.


"Aku tadi ada disekitar sini, dan aku dengar kamu ada masalah sama bos kamu. Gimana udah selesai masalahnya?" ledek Vanessa


"Sebenarnya kamu itu kenapa sih? Saya ngapain sampai kamu giniin saya?"


"Anna ini siapa sih?" Andi bertanya tapi dicuekin.


"Pura-pura bego atau benaran bego sih?" Vanessa balik bertanya.


"Karena Kevin? Ia?"


Vanessa hanya tersenyum ceria.


"Kalau karena itu, bagaimana kalau kamu mencoba merubah sombong dan kekanakan kamu gitu. Biar kamu lebih bisa diterima sama keluarga Kevin. Bukan malah menyalahkan orang lain."


"Eh.jangan sok deh. Sebentar lagi kamu pastu akan dibuang. Keluarga kaya mana yang mau terima orang miskin dan sok kayak kamu," Vanessa menyombong.


Andi yang bahkan tidak kenal Vanessa merasa kesal mendengar omongannya.


"Kita lihat saja nanti," balas Anna.


Anna yang tidak mau menimbulkan keributan di area kantor segera berlalu pergi.


"Eh, kok pergi sih. Oi, aku belum selesai ngomong," seru Vanessa.


"Dari pada naik taksi online, sini naik mobil mewak aku aja. Aku antar," teriak Vanessa.


Orang- orang melihat Vanessa keheranan. Anna sengaja menunggu taksi onlinenya di pinggir jalan. Andi muncul di sebelah Anna, masih belum mau menyerah.


"Bukan urusan kamu," jawab Anna.


"Anna kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku."


"Memangnya kamu siapa?"


"Aku emang pernah salah sama kamu. Tapi bisa kan kita jadi teman?"


"Teman? Kalau kamu mau jadi teman saya, harusnya kamu gak jahat sama saya." Andi hanya terdiam mendengar perkataan Anna.


Taksi online Anna sudah tiba. Anna segera naik ke atas mobil.


Mobil Vanessa berhenti di dekat Andi. "Hei, kamu temannya Anna ya?" Andi menatap Vanessa bingung.


"Mau ngobrol sebentar gak?" tanya Vanessa lagi.


Andi menggelengkan kepala dan kembali masuk ke kantor.


"Eh, malah kabur. Hei..." teriak Vanessa.



"Aku kesal banget tau gak?" teriak Anna saat menelpon Julie.


Julie sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Jangan-jangan teriak juga kali. Emang kamu kenapa? Baru saja aku sampai dirumah. Ini belum juga turun dari mobil, kamu udah teriak-teriak."


Anna menceritakan yang dialaminya pada Julie.


"Eh, gila. Pak Bayu pegang-pegang kamu? Wah, gak benar nih. Pasti gara-gara jarang dikeloni sama bini," Julie mulai ikutan kesal.


"Itu perempuan juga gila ya. Apaan sih dia sampai menghasut Pak Bayu kayak gitu?"


"Ya gitu deh," balas Anna.


"Jadi sekarang kamu gimana?" tanya Julie.


Anna menghela nafas.


"Aku di skors tiga hari, terus dikasih SP dua."


"Eh, si botak itu kasih kamu SP?" tanya Julie.


"Gak salah? Memangnya kamu salah apa sih? Itu kan masalah pribadi, kenapa dijadikan masalah kerjaan," protes Julie.


Ting... tong...


"Eh, bentar Li ada yang bel."


"Paling juga kurir. Kamu beli apaan lagi sih?" tanya Julie.


"Gak ada tuh. Kamu kali belanja online tapi salah pilih alamat," balas Anna.


"Gak aku ga belanja. Udah kamu liat aja aku tungguin," balas Julie.


"Bentar ya." Anna mengantongi ponselnya.


Anna bergegas membuka pintu depan.


"Nenek," panggil Anna kaget.


Anna segera membuka pintu pagar.


"Kok nenek bisa ada di sini?"


"Tadi nenek ada singgah di kantor kamu. Tapi, katanyakamu sudah pulang. Jadi nenek coba-coba cari rumah kamu. Nenek kan baru sekali antar kamu pulang, jadi Pak Ujang sudah lupa. Ini nenek masakin kamu makan malam."


Anna menerima rantang susun yang dibawa nenek.


"Gak perlu repot-repot nek. Apalagi nenek jauh-jauh datang kesini, saya kan jadi gak enak."


"Gak apa-apa, nenek gak merasa repot kok. Nenek sekalian masak buat teman serumah kamu."


Mendengar perkataan nenek, Anna teringat telpon yang belum dimatikan. Terdengar samar-samar suara Julie dari saku Anna. Anna merogoh sakunya. Niat mau mematikan telpon malah speaker yang terpencet.


"Halo, Anna. Kurirnya sudah pergi belum?" ucap Julie


"Li, tutup dulu ya. Nanti aku telpon lagi."


"Loh, kok sudahan sih. Aku belum puas ngatain si botak. Emangnya dia pikir siapa dia. Seenaknya aja kasih orang SP. Mana bukan karena masalah kantor lagi."


"Eh, Li stop. Entar aku telpon balik ya. Entar aku telpon balik."


Anna segera mematikan telponnya.


"Kok dimatikan sih telponnya," seru Julie.


"Maaf ya nek, tadi ternyata telponnya belum di matikan. Nenek jadi dengar hal yang tidak- tidak." seru Anna


"Ah, gak apa-apa kok."


"Nenek mau mapir dulu sebentar ke dalam?" tanya Anna.


"Nenek gak menganggu?"


"Gak lah nek. Sama sekali gak mengganggu," jawab Anna.


Anna mempersilahkan nenek masuk.


next>