The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 43 Permintaan Maaf



Anna menghabiskan waktu cukup lama untuk menelpon Julie. Setelah puas curhat barulah Anna pulang ke rumah.


"Tante Anna sudah pulang." Gita berlari memeluk Anna.


"Kok tumben pulang mcepat?" Nenek yang tadinya menemani Gita, ikut menghampiri Anna.


"Ia Nek. Aku agak capek jadi pengen cepat pulang buat istirahat," jawab Anna.


"Ya udah. Mandi sana, terus kamu istirahat aja. Nanti kalau sudah waktu akan malam Nenek panggil." Anna mengangguk.


"Tante Anna gak mau main sama Gita dulu?"


"Nanti saja Gita. Tantemu ini lagi capek, perlu istirahat biar tidak sakit," kata Nenek.


"Kalau gitu Tante istirahat saja. Gita gak mau Tante sakit." Anna mengelus rambut Gita.


"Mainnya lain kali aja ya," seru Anna. Gita mengangguk sebagai jawaban.


Setelah meletakkan barang-barangnya Anna langsung pergi mandi. Hari ini Anna memilih berendam di bathtub.


"Memang berendam air hangat itu sangat menyenangkan," batin Anna. Anna tidak bisa berendam lama karena haidnya mengalir cukup deras.


Waktu keluar dari kamar mandi, Anna menemukan Kevin di dalam kamar sedang melepas dasi.


"Em, aku pulang cepat hari ini," seru Kevin canggung.


Anna tidak menggubris Kevin. Anna mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambutnya.


"Kamu gak mau tanya kenapa aku pulang cepat hari ini?" Kevin mendekati Anna.


Anna masih tidak menggubris Kevin.


"Kepalaku sakit lagi dan aku demam lagi," seru Kevin mencari perhatian.


Brak...


Anna meletakkan sisirnya dengan keras di atas meja. Kevin sampai kaget. Tanpa membereskan hairdryernya Anna langsung pergi tidur.


"Aduh, Aku salah strategi ya?" batin Kevin.


"Na, kamu sudah mau tidur? Ini baru jam empat sore loh." Kevin duduk di pinggir tempat tidur. Anna segera berbalik membelakangi Kevin.


"Anna," panggil Kevin.


Anna sama sekali tidak memperdulikannya. Kevin menarik nafas panjang.


"Anna," panggil Kevin lagi.


Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Kevin menyerah. Kevin keluar dari kamar dan duduk di ruang keluarga.


"Tumben jam segini sudah ada di rumah." Nenek menyapa Kevin.


"Capek mau istirahat," jawab Kevin asal.


"Kalau mau istirahat, kenapa masih lihat tablet kamu?" Kevin meletakkan tabletnya di atas sofa dengan helaan nafas panjang.


"Anna gimana?" tanya Nenek.


"Lagi tidur," jawab Kevin.


"Anna masih marah?" Kevin mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu itu, kok gak cepat-cepat diselesaikan. Jangan terlalu lama dibiarkan berlarut-larut. Apalagi masalahnya tidak terlalu serius," Nenek memberi nasihat.


"Nah, itu dia. Menurut Nenek juga ini bukan masalah serius kan?" tanya Kevin.


"Bukan masalah serius buat kamu, tapi belum tentu buat Anna. Tiap orang melihat masalah dengan cara berbeda Kevin."


"Jadi Kevin harus gimana dong Nek?"


"Coba ajak Anna bicara baik-baik."


"Kevin dari tadi dicuekin. Gimana mau ngobrol?"


"Dicoba terus dong. Masa baru berapa kali coba udah nyerah?" Kevin menarik nafas.


"Habisnya Kevin bingung mau ngapain."


"Coba saja lagi nanti."


"Anna." Kevin berusaha membangunkan Anna menjelang jam makan malam.


"Anna, bangun. Makan malam dulu."


Kevin merapikan rambut Anna yang menutupi wajahnya.


"Anna bangun dulu dong. Abis makan baru tidur lagi." Kevin berhenti membelai rambut Anna ketika melihat air matanya jatuh.


"Papa." Anna mengigau dengan suara sedikit serak.


Kevin memperhatikan Anna dengan tatapan lembut.


"Papa harus sembuh, jangan tinggalin Anna," seru Anna dalam mimpi.


Kevin menghapus air mata Anna yang masih mengalir.


"Kamu mimpi apa sih sampai nangis gini?" ucap Kevin lembut.


Anna membuka matanya sedikit.


"Kevin," panggil Anna setengah sadar.


"Hmm."


"Jangan sakit," kata Anna.


"Ia, Aku gak akan sakit lagi." Setelah mendengar itu Anna kembali tertidur.


Kevin masih membelai rambut Anna.


"Papanya Anna kenapa ya?" batin Kevin.


"Apa aku tanya Julie saja? Dia pasti tahu"


"Mungkin kubiarkan saja Anna tidur dulu, yang lainnya nanti saja dipikir." Kevin keluar dari kamar setelah memperbaiki selimut Anna.


"Anna mana?" tanya Nenek.


"Masih tidur Nek."


"Udah, tapi gak bangun. Biarin aja dulu, Anna kayaknya capek banget," jawab Kevin.


"Kalau


gak makan malam, nanti sakit maagnya Anna bisa kambuh loh," kata Nenek.


"Nanti aku buatin susu kalau Anna udah bangun," balas Kevin.


"Lex, kamu punya nomor telpon Julie?" tanya Kevin.


"Kayaknya ada sih. Mau ngapain?"


"Kirimin aku dong. Aku mau tanya sesuatu." Alex mengangguk.


Kevin melihat nomor Julie yang dikirim Alex. Kevin sedang berpikir haruskah dia bertanya pada Julie atau tidak. Akhirnya Kevin memutuskan menelpon Julie.


"Halo," suara Julie terdengar.


"Julie?"


"Ini siapa ya?"


"Ini Kevin."


"Oh, Pak Komisaris. Kenapa? Udah baikan sama Anna?"


"Kok tahu?" tanya Kevin.


"Dia cerita sama saya lah. Pak Bos mau tanya apa? Cara nenangin Anna?"


"Saya memang mau bertanya, tapi bukan itu."


"Terus?" tanya Julie.


"Kamu tahu papanya Anna kenapa bisa meninggal?"


Julie menarik nafas panjang sebelum menjawab,


"Beliau sakit."


"Sakit apa?"


"Sakit karena kelelahan." Kevin terdiam.


"Sekarang ngerti kan kenapa Anna semarah itu?"


"Hmm. Makasih ya infonya," jawab Kevin mengakhiri panggilan.


Anna mengedipkan mata beberapa kali, sebelum benar-benar terbangun dari tidurnya.


"Sudah jam sembilan malam. Lama juga tidurku," batinnya.


"Sudah bangun?" Anna berbalik ke arah datangnya suara. Kevin duduk di atas ranjang sambil membaca buku.


"Mau makan?" tanya Kevin lembut.


Anna memegang perutnya kemudian mengangguk.


"Aku ada buatin smoothie pisang. Itu cukup?" Anna kembali mengangguk.


Kevin mengambil smoothies yang sudah disiapkannya dari kulkas mini yang ada di kamar.


"Minum air putih dulu ya." Kevin mengambil segelas air dari atas meja dan memberikannya pada Anna.


Anna menerima gelas berisi air dan langsung meminum semuanya. Setelah itu Kevin memberinya segelas besar smoothie.


Anna meberikan Kevin gelas kosong dan mengambil gelas smoothie. Setelah tidur lama Anna merasa lebih tenang sekarang.


"Ini benaran kamu yang buat?" tanya Anna tidak percaya. Kevin mengangguk.


"Toh cuma tinggal diblender."


Anna meminum smoothienya sedikit demi sedikit dalam diam.


"Aku minta maaf," seru Kevin. Anna berhenti meminum smoothienya.


Anna menatap Kevin.


"Untuk apa?" tanya Anna.


"Emm. Karena tidak istirahat sesuai anjuran dokter."


"Itu saja?" tanya Anna lagi.


"Maaf karena sudah bikin kamu khawatir." Kevin dan Anna saling berpandangan.


"Kedepannya aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya," sambung Kevin sambil tersenyum.


Anna hanya menatap Kevin dengan pandangan sayu.


"Gimana? Aku dimaafin atau tidak?" Anna mengangguk pelan sebagai jawaban.


Kevin tersenyum manis, kemudian mengacak-acak rambut Anna.


"Apaan sih," protes Anna.


"Yakin itu saja cukup?" Kevin menunjuk gelas yang dipegang Anna.


"Sebenarnya cukup sih, tapi aku kayaknya masih mau makan."


"Mau makan apa? Kita pesan online saja."


"Gak usah deh. Nanti aku bisa tambah gemuk kalau makan semalam ini," balas Anna.


"Kan bisa pesan salad aja. Salad kan gak bikin gemuk," saran Kevin.


"Nanti gak cukup."


"Pesan dua porsi aja kalau gitu."


"Kalau dua porsi entar kebanyakan," seru Anna.


"Astaga mau makan aja ribet. Nanti kalau gak habis aku yang makan."


"Ok. Kalau begitu salad dua porsi," seru Anna senang.


 next>>>