The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 79 Kado terakhir



Sudah sepuluh hari berlalu sejak tahun baru. Kevin sempat masuk rumah sakit selama tiga hari. Setelah itu istirahat di rumah selama dua hari.


Alex terus berusaha memberi dukungan pada Kevin. Begitu pula dengan Clarence dan Cleo. Kalau bukan karena nasihat Cleo, sekarang Kevin pasti masih jadi zombie.


"Kalau kamu begini terus, artinya kamu mengaku kalah pada Vanessa dan Mike. Harusnya kamu perlihatkan pada dunia, kamu bisa dan mampu membawa Anna kembali. Dengan begitu kamu bisa jadi pemenang."


"Anna saja sudah tidak mau melihat wajahku lagi, bagaimana aku bisa berjuang Cleo?" tanya Kevin.


"Perjuangan juga butuh waktu kan? Bukan namanya berjuang kalau ingin hasil instan."


"Pelan-pelan saja Kevin. Semua orang butuh waktu untuk menenangkan diri," lanjut Cleo.


"Sejak kapan kamu jadi filsuf?" Clarence kaget karena Cleo bisa bicara sebanyak itu.


Dan disinilah Kevin. Dia kembali duduk dibalik meja kerjanya, berusaha menyibukkan diri. Menyibukkan diri bukan untuk melupakan, tapi untuk menghabiskan waktu. Menghabiskan waktu, agar penantian ini tidak terasa terlalu panjang.


"Hari ini kamu mau makan siang apa?" tanya Alex pada Kevin. Semenjak kembali bekerja, Kevin tidak pernah punya waktu untuk makan. Bahkan tiap malam, Kevin kesusahan untuk tidur.


Hanya dalam empat hari, Kevin sudah terlihat lebih kurus. Karena ini pula, Alex selalu memesankan Kevin makan siang.


"Fish and chip," jawab Kevin santai.


"Lagi?" tanya Alex.


"Kalau tidak spagheti aglio olio, pakai udang dan ekstra bubuk cabe."


"Apa kamu tidak bosan? Dalam empat hari ini, hanya dua makanan itu yang masuk di lambungmu. Itupun hanya seperempatnya saja. Aku yang lihat saja mual loh," protes Alex.


"Kalau tidak ada ya sudah." Kevin masih sibuk dengan berkas dan notebooknya.''


"Oke pilih salah satu saja," akhirnya Alex menyerah.


"Fish and chip saus karbonara, sau..."


"Sausnya dipisah kan?" Alex memotong perkataan Kevin.


"Hm," jawab Kevin singkat.


"Jangan bilang ulang tahunmu nanti, kamu cuma mau makan ini juga?" tanya Alex iseng.


"Bukankah aku sudah bilang tidak akan ada acara?" Kevin mengakat kepala dari tumpukan berkas.


"Maksudnya untuk makan di rumah."


"Aku mau aglio olio saja, dengan udang dan ekstra bubuk cabe." Kevin berbicara dengan santai.


"Aku tidak mau perduli lagi," balas Alex.


Sementara itu, Anna juga mulai beraktifitas lagi. Anna juga menyempatkan diri untuk menelpon Nenek Ratih.


"Kamu gak apa-apa nak? Makannya teratur?" tanya Nenek.


"Sepertinya Nenek sudah tahu masalahnya ya?" seru Anna.


"Nenek mengerti perasaanmu. Kamu bisa menenangkan diri selama yang kamu mau. Kembalilah kalau sudah siap."


"Hm," jawab Anna singkat.


Nenek sungguh baik dengan memberikan Anna waktu. Karena Anna tidak ingin berkantor untuk sementara, Nenek bahkan memberikan ide untuk memanfaatkan gedung yang dulu diberikannya untuk Anna.


Awalnya Anna ingin menolak, tapi nenek bersikeras. Nenek bahkan akan membiayai segala bentuk renovasi yang diinginkan Anna.


Anna tentu saja tidak bisa menolak. Maka sekarang orang-orang sudah mulai mendekor ulang gedung yang dimaksud.


Anna senang karena gedungnya berada di Bandung. Dia jadi bisa menghindari Kevin, juga bisa tinggal di rumah Julie.


"Jadi semua sudah sesuai ya Mbak?" Anna mengangguk pada orang yang duduk di depannya.


"Kalau semua sesuai rencana, tanggal dua belas nanti kita sudah bisa mulai renovasi."


"Dua belas?" tanya Anna.


"Iya dua belas januari lusa."


Anna membuka aplikasi kalender pada ponselnya. Tanggal dua belas januari, ditandainya sebagai hari ulang tahun Kevin.


"Mbak?" Anna tersadar dari lamumannya.


"Ya?" jawab Anna.


"Ada masalah lain dengan designnya?"


"Gak ada kok," jawab Anna cepat.


"Tentu saja tidak mungkin ada yang salah. Kalau sampai ada yang salah, bisa-bisa bisnis interiorku bisa dibikin bangkrut sama Bu Ratih," batin gadis manis di depan Anna.


"Kalau begitu saya pamit dulu Mbak ya. Saya usahakan semuanya selesai paling lama tiga minggu." Anna hanya tersenyum samar.


Setelah designer interior itu pergi, Anna segera menelpon Julie.


"Kenapa Na?"


"Sibuk gak?" tanya Anna.


"Gak. Kenapa?"


"Aku mau minta tolong bisa?"


Anna meminta Julie datang ke cafe tempatnya duduk sekarang. Julie tiba dalam waktu singkat, tepat saat pesanan makanan Anna tiba.


"Fish and chip lagi?" tanya Julie.


"Kamu kan tahu aku doyan ini dari dulu," jawab Anna.


"Tapi gak tiap hari juga kali." Julie duduk di depan Anna.


"Kemarin aku makan pasta," seru Anna.


"Aglio olio yang kamu doyan itu, juga gak harus dimakan tiap hari. Siang fish and chip, malam aglio olio. Siapa orang makan menu yang sama tiap hari?" Julie protes.


"Aku," jawab Anna cuek.


"Lagian kamu tahu kan, aku sanggup makan menu yang sama berhari-hari." Anna menyendok makanannya dengan malas.


"Aku emang gak bisa ngerti kebiasaan kamu yang satu itu." Julie menggeleng heran dan memesan makanan.


"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Julie.


*****


"Selamat ulang tahun cucu Nenek tersayang." Nenek Ratih menyambut Kevin di meja makan dengan riang.


"Happy birthday Om Kevin," seru lantang Gita.


"Tahun ini mau hadiah apa?" tanya Alex.


"Gak perlu dan gak butuh."


Kevin duduk di kursinya dan menatap hidangan yang ada di depannya.


"Bukannya aku minta pasta? Kenapa malah tumpeng mini?" tanya Kevin.


"Ini kan ulang tahun kamu, harus dirayakan dong. Masa makan pasta sepagi ini?" Nenek tersenyum dengan riang.


Kevin menaikkan sebelah alisnya.


"Kalau begitu, Kevin berangkat duluan." Kevin beranjak dari kursinya.


"Bawakan pastanya," Nenek berteriak kencang. Mendengar itu Kevin kembali duduk.


"Sampai kapan Kevin dan Anna seperti ini," batin Nenek.


Seperti biasa Kevin hanya makan kurang dari setengah porsi saja. Belakangan Kevin juga berangkat kantor jauh lebih awal.


"Kamu yakin Na?" tanya Julie. Anna mengangguk pelan.


"Kamu benar-benar yakin?" tanya Julie lagi.


"Yakin," jawab Anna.


"Kamu udah gak bisa mundur lagi setelah ini," seru Julie.


"Aku tahu," jawab Anna.


Julie turun dari mobil yang diparkir di seberang gedung kantor Kevin. Julie melangkah dengan ragu-ragu.


"Ini ide yang buruk," batin Julie.


"Permisi." Julie menyapa resepsionis kantor Kevin.


"Bisa dibantu Bu?" Sapa seorang gadis dengan papan nama Susan tertempel di bajunya.


"Saya mau menitip ini untuk Pak Kevin." Julie menaruh kantongan besar di atas meja resepsionis.


"Boleh tahu dari mana?" tanya Susan.


"Bilang saja dari temannya."


"Maaf Bu kami tidak bisa menerima titipan tanpa nama."


"Julie?" Baru saja Julie mau protes, Alex memanggil namanya.


"Ngapain di sini?" tanya Alex.


"Ada titipan dari Anna."


Alex memperhatikan kantongan yang ada di atas meja.


"Di mana Anna?" tanya Alex.


"Tolong sampaikan saja ini pada Kevin. Bilang padanya untuk membuka amplop coklat paling terakhir."


Alex ingin protes, tapi belum sempat bicara Julie bersuara lagi.


"Please." Alex menghela nafas dan mengangguk.


"Jangan bilang aku yang datang anterin ini. Jangan juga bilang kalau ini dari Anna," pinta Julie. Lagi, Alex hanya bisa mengangguk.


"Akan kubawa naik sekarang." Alex mengambil kantongan besar itu.


"Thanks," seru Julie. Alex tersenyum dan segera pergi.


"Vin kamu dapat kiriman dari secret admire kamu." Alex masuk ke ruangan Kevin tanpa mengetuk pintu.


Kevin mengerutkan kening melihat kantongan besar di hadapannya.


"Dari mana?"


"Kurirnya gak bilang dari mana," jawab Alex.


"Mencurigakan. Kamu sendiri yang terima?" tanya Kevin.


"Gak sih. Bagian resepsionis tadi sempat berdebat dengan kurirnya. Kebetulan aku lewat dan akhirnya aku yang ambil. Menurutku gak mencurigakan kok."


Kevin masih melirik kantongan itu.


"Kata kurirnya, amplop coklat dibuka terakhir." Kevin makin curiga mendengar penjelasan Alex.


Kevin membuka kantongan dan mengambil kotak paling atas. Kotak berwarna hijau dengan aksesoris mahkota di atasnya. Kevin langsung tahu isi kotak itu.


Dibukanya kotak hijau itu. Seperti dugaannya, terdapat jam tangan mahal lengkap dengan kartu garansi.


"Edisi terbaru," gumam Alex.


Kevin kemudian mengeluarkan box besar.


"Tumpeng mini?" gumam Kevin bingung.


"Ini gak dikasih racun kan?" tanya Kevin pada Alex yang hanya mengedikkan bahu.


"Kamu emang ada beberapa musuh sih," seru Alex. Kevin tersenyum sinis dan mengeluarkan amplop coklat. Senyum sinisnya sirna melihat isi amplop itu.


"Apa kurirnya sudah pergi?" tanya Kevin.


"Harusnya sih, tapi mungkin belum jauh."


Kevin segera berlari keluar dari ruangan.


"Kevin," teriak Alex. Dengan penasaran Alex meraih amplop coklat dan terkejut melihat isinya.


"Surat cerai?" gumam Alex lirih.


next>>>