
"Daddy minggu depan Gita mau pergi main di Bandung."
Gita duduk di pangkuan Alex di suatu malam.
"Buat apa ke Bandung?" tanya Alex.
"Ini Pak, sekolahnya Gita kan setiap bulan ada outing keluar. Kali ini katanya mau ke sekitaran Lembang." Bi Asih memberikan selembar kertas pada Alex.
Alex membaca lembaran itu dengan seksama.
"Gita boleh ikut kan?" tanya Gita polos. Alex menatap putrinya dengan senyum lembut.
"Boleh kok. Apa sih yang gak buat Gita."
"Hore, Gita bisa main sama binatang." Gita mulai berlarian girang.
"Jangan lari-lari Gita," tegur Alex.
"Bi, nanti Bibi saja yang temani Gita ke Bandung ya."
"Apa gak sebaiknya Pak Alex saja yang temani? Kali ini lokasinya agak jauh loh."
"Gak apa-apa kok Bi. Saya percaya sama Bibi."
"Bukan gitu maksudnya Pak. Maksud saya itu, ada baiknya Pak Alex lebih sering main dengan Gita."
Alex menarik nafas. "Saya sibuk Bi. Saya kan kerja untuk Gita juga."
"Yah, kalau Pak Alex sudah memutuskan Bibi ikut saja."
"Gita mau ke mana?" Anna bertanya pada Gita.
"Hari ini Gita mau pergi outing sama Miss dan teman-teman sekolah. Nanti kita mau pergi lihat binatang lucu di Bandung."
"Bandung? Gak salah tuh Lex. Jauh amat," seru Anna.
"Gak tuh. Outingya di daerah Lembang, aku udah tanda tangan formnya."
"Wow, anak jaman sekarang mainnya jauh juga ya. Orang kaya mah bebas," batin Anna.
"Daripada terus-terusan mengurusi anak orang lain, kapan kalian berdua berencana punya anak?" Nenek berpaling menghadap Kevin dan Anna.
Anna tersedak mendengar kalimat Nenek.
"Ha... ha... ha... " Kevin tertawa suram.
"Kok malah tertawa? Nenek ini serius. Kalian gak sedang menunda-nunda punya momongan kan?"
"Gak kok Nek. Sedang diusahakan," jawab Kevin. Anna memaksakan diri untuk tersenyum.
"Jangan ditunda-tunda," kata Nenek. Alex tersenyum.
"Bye Daddy, Gita pergi dulu."
"Jangan nakal ya." Alex mencium kening Gita.
Seperti biasa, Gita diteman Bi Asih diantar ke sekolah oleh Pak Ujang. Dari sekolah mereka akan naik bis menuju ke Lembang.
"Naik.. naik.. ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali." Anak-anak yang ada di atas bis bernyanyi riang dipandu oleh guru mereka.
Semua anak yang bersekolah di sekolah Gita merupakan anak orang kaya. Sebagian besar ditemani bibi pengasuh atau baby sitter, sebagian lainnya ditemani keluarga.
Seorang anak laki-laki gembul datang menghampiri Gita.
"Hari ini Gita juga cuma diantar Bibi ya."
"Kamu juga kan diantar sama Bibi."
"Tapi setidaknya aku punya mama, kamu gak punya."
Anak-anak yang mendengar ejekan ini mulai tertawa.
"Rico, gak boleh gitu sama temannya." Miss Lia menegur anak gembul tadi.
"Tapi itu kenyataan Miss," seru Rico polos.
"Gita sudah ada Daddy kok. Lagian Gita bakal punya Mommy baru," jawab Gita asal.
"Bohong," teriak Rico.
"Rico gak boleh begitu. Nanti Miss hukum loh."
"Gita gak bohong," Gita balas berteriak.
"Rico gak percaya. Wek." Rico menjulurkan lidah dan berlari kembali ke tempat duduknya.
"Gita jangan dimasukin ke hati ya." Miss Lia mencoba menghibur Gita.
"Gita juga punya Mommy," sahut Gita lemas.
"Ia. Miss tahu kok. Jadi Gita jangan sedih lagi ya." Gita mengangguk lemas.
"Maaf ya Bi." Miss Lia meminta maaf pada Bi Asih.
"Namanya juga anak-anak Miss." Bi Asih hanya bisa tersenyum.
Bi Asih tidak membela Gita bukan karena tidak mau. Bi Asih bisa repot kalau ada yang mengadu pada orang tua Rico.
"Orang tua anak-anak ini orang kaya semua. Orang miskin seperti saya pasti dengan mudah disingkirkan jika menimbulkan masalah," batin Bi Asih.
Bi Asih amat sedih melihat Gita yang tadinya antusias, sekarang menjadi lesu.
"Nanti kita main-main sama binatang lucu ya." Bi Asih mencoba menghibur Gita. Gita hanya mengangguk saja.
"Nah, anak-anak berbaris yang rapi. Jangan sampai keluar barisan ya." Miss Lia memberikan pengarahan pada grupnya.
Satu grup terdiri dari sepuluh anak dan dijaga oleh dua guru. Para pengasuh dan keluarga yang ikut mengawasi dari jarak tertentu.
Hari ini sekolah Gita mengajak muridnya bermain di Farmhouse Bandung. Anak-anak itu terlihat senang, terutama saat berada di bagian kebun binatang mini.
"Gita juga mau kasih makan kelinci," jawab Gita.
"Kamu gak malu sama kelincinya? Kelinci saja punya mama," sindir Rico.
"Gita juga punya Mommy."
"Mana? Coba bawa ke sini."
"Akan Gita bawa. Tunggu saja."
Gita menjauh dari kandang kelinci. Tidak ada yang memperhatikan kalau Gita menghilang dari grupnya.
"Memangnya kenapa kalau Gita gak punya Mommy. Kan ada Daddy, Nenek, ada Om Kevin dan Tante Anna," gumam Gita.
Gita berjalan semakin jauh dari kandang kelinci.
"Ada kambing," teriak Gita senang.
"Eh, kambing atau domba ya?" gumam Gita bingung.
"Gak tahu ah, Gita mau main saja."
Gita bermain dengan senang, dan berinteraksi dengan hewan yang ditemuinya.
"Eh, kok teman-teman Gita tidak kelihatan." Gita mulai mencari teman-temannya.
"Adik manis, kok sendiri papa mamanya mana?" Seorang wanita bertanya pada Gita yang terlihat bingung.
"Daddy lagi kerja," jawab Gita polos.
"Terus datang ke sini sama siapa?"
"Sama Bi Asih, Miss Lia dan teman-teman."
"Kegiatan sekolah ya?" Gita mengangguk.
"Mereka kemana?" tanya teman wanita tadi.
"Gak tahu."
"Udah daripada ribet bawa ke pos security aja. Biar bisa diumumkan."
"Ikut sama kakak yuk. Kita cari Bibi sama Miss kamu." Gita menggeleng dengan polos.
"Gak boleh. Kata Om Kevin, gak boleh sembarangan ikut sama orang gak dikenal."
"Kakak bukan orang jahat kok. Kita cuma mau bantu kamu cari teman-temanmu."
"Gak mau." Gita berlari kencang.
"Eh, adek. Kok lari."
Gita kembali menikmati perjalanannya di daerah farmhouse. Sesekali ada yang bertanya pada Gita, tapi Gita langsung lari.
"Kenapa sih banyak yang tanya-tanya Gita," gumamnya polos. Gita sekarang sudah hampir mencapai pintu masuk.
"Ada Bapak security kompleks. Ayo kita tanya dia dimana teman-teman Gita." Gita kembali berlari dengan kaki kecilnya, menghampiri security yang sedang patroli.
"Pak security," panggil Gita sambil menarik celana si security.
"Ada apa dek?" Security itu berjongkok.
"Gita mau cari teman-teman Gita dan Bibi Asih. Pak security bisa bantu?"
"Kamu hilang?" "
"Gita gak hilang. Gita ada di sini kok. Teman-teman, Miss dan Bi Asih yang hilang."
"Itu sih sama saja. Ayok sini ikut saya ke ruang informasi."
"Buat apa ke sana?" tanya Gita.
"Buat cari teman-teman kamu kan." Gita menggandeng tangan security itu.
"Misi Mbak, ini ada anak hilang. Katanya datang sama Bibi dan temannya" Pak security memberi informasi pada petugas operator di ruang informasi.
"Adek namanya siapa?" tanya Mbak operator tadi.
"Gita."
"Gita cari temannya.? Gita datangnya sama siapa?"
"Sama Miss Lia, Bi Asih dan teman-teman."
"Ikut acara sekolah ya?" Gita mengangguk.
"Sebentar ya, Tante bantu carikan Miss Lia, Gita duduk saja dulu." Gita mengangguk dengan semangat dan berusaha naik ke atas tempat duduk.
"Pintarnya." Mbak operator mengelus rambut Gita, setelah dia berhasil naik ke atas kursi.
Segera operator tadi membuat pengumaman anak hilang.
"Telah ditemukan seorang anak perempuan bernama Gita, berusia sekitar empat tahun.... "
Gita yang tidak bisa diam berdiri di atas kursi yang didudukinya dan melihat ke luar. Dari sana Gita bisa melihat bis yang ditumpanginya tadi di daerah parkiran.
"Itu tadi bisnya Gita. Apa Gita tunggu di sana saja ya?" batin Gita.
"Mari kita tunggu di sana saja." Gita melompat turun dari kursi dan berlari ke arah parkiran.
"Adek Gita tunggu dulu ya, nan... " Operator yang bertugas tadi terkejut melihat Gita sudah hilang lagi.
"Loh, anak yang tadi ke mana?"
next>>>