
Cleo pelan-pelan membuka matanya. Dia melihat sekelilingnya dengan bingung. Saat Cleo mengangkat tangannya yang dipasangi selang infus barulah dia sadar.
"Kenapa aku ada di rumah sakit?" batin Cleo. Cleo berusaha untuk duduk.
"Kemarin ada apa ya?" Cleo berusaha berpikir.
Saat melihat sekeliling, Cleo menemukan Kevin dan Anna yang tertidur pulas sambil berpelukan.
"Mesra amat sih. Udah jam sembilan mereka masih asik tidur."
"Cleo." Tante Sandra membuka pintu dengan keras bahkan berteriak lebih keras lagi.
Anna sampai terlonjak bangun. Kevin pun terusik.
"Ma, jangan berteriak di rumah sakit," Om Lukman memberitahu.
"Ada apa denganmu? Mama kaget sekali waktu Alex menelpon." Tante Sandra masih berbicara dengan nada tinggi.
"Tanya saja mereka." Cleo menunjuk ke arah Anna dan Kevin.
Anna sudah duduk dengan wajah mengantuk, sementara Kevin masih berbaring malas.
"Anna ada apa? Kenapa dengan Cleo?" Tante Sandra mengguncang badan Anna.
"Tante kalau Tante mengguncang Anna seperti itu dia tidak akan bisa cerita apa-apa." Kevin masih berbaring malas.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Tentu saja tidur Tante. Tante pikir jam berapa kami tertidur tadi subuh karena mengurus Cleo?" Kevin duduk dengan wajah malas.
"Jadi, Cleo kenapa?" tanya Tante Sandra.
Anna berusaha menjelaskan semuanya dengan singkat, padat dan jelas.
"Astaga, untung saja ada Anna. Kalau tidak apa jadinya kamu Cleo." Tante Sandra masih agak histeris.
"Kenapa juga kamu harus berteman dengan orang-orang seperti itu?" Cleo yang biasanya no ekspresi terlihat kesal.
"Mama kan sudah bilang, jangan sembarangan berteman. Bertemanlah dengan bijak. Untung kamu gak diapa-apain."
"Berteman dengan bijak? Mama sendiri memangnya berteman dengan bijak?" Cleo seperti ingin memberontak.
"Kok ngomongnya gitu sih? Teman Mama ada yang pernah gangguin kamu? Ayo bilang sama Mama."
"Kalau Mama bijak dalam berteman, gak mungkin Mama maksa aku dengan Kak Andre."
"Memangnya Andre kenapa? Dia anak yang baik loh, kamunya aja yang pilih-pilih. Gara-gara kamu juga kan perjanjian bisnisnya batal."
"Ma," Om Lukman kembali menegur.
"Mungkin lebih bagus diapa-apain aja kali ya," seru Cleo.
"Cleo," tegur Om Lukman.
"Cleo maksud kamu apa?" tanya Tante Sandra.
"Mungkin kalau Cleo diapa-apain, Mama bakal jijik sama aku dan akan membuangku. Dengan begitu aku bisa bebas."
"Cleo, kamu udah mulai keterlaluan ya." Tante Sandra mulai berteriak lagi.
"Sudah mulai kurang ajar kamu ya. Pasti gara-gara sembarangan bergaul."
"Ini semua gara-gara Mama sama Papa. Mungkin aku akan lebih bahagia tanpa kalian," Cleo balas berteriak. Tante Sandra terdiam.
"Tante mungkin Cleo masih butuh istirahat," Anna mencoba melerai.
Plakk....
Tante Sandra tiba-tiba saja menampar Cleo.
"Anak kurang ajar."
"Ma sudah cukup. Ayo kita keluar dulu," ajak Om Lukman.
"Tampar saja Cleo sampai puas," Cleo berteriak lagi.
"Anak ini makin dibilangin makin ngelunjak." Tante Sandra bersiap menampar Cleo.
Anna segera memeluk Cleo, berusaha melindunginya.
"Ma sudah cukup." Om Lukman berusaha menarik Tante Sandra keluar dari kamar.
Anna masih memeluk Cleo.
"Kamu keluar dulu deh, coba tenangin Tante. Beliin minuman sekalian," bisik Anna pada Kevin.
Kevin langsung keluar dari kamar.
"Kamu kenapa sih Cle? Ada masalah apa?" tanya Anna.
\
"Orang bebas kayak kamu mana mengerti." Cleo membebaskan diri dari pelukan Anna.
"Kalau gak diceritaiin mana mungkin aku bisa ngerti. Lagian jangan dipendam sendirian, kamu pasti akan lebih lega kalau sudah cerita." Anna menunggu reaksi Cleo.
"Aku merasa tertekan," akhirnya Cleo berbicara.
Anna hanya diam saja, menunggu Cleo melanjutkan.
"Aku tertekan dengan nama besar Bramantara. Aku bersyukur bisa hidup bekecukupan dari kecil. Tapi,... "
"Semakin dewasa orang-orang semakin berharap padaku. Menginginkanku melakukan hal yang tidak kuiinginkan. Terutama Mama. Dia bahkan berusaha menjodohkanku, padahal pacaran saja aku belum mau."
"Apa jadi designer juga bukan keinginanmu?" tanya Anna dengan lembut.
Cleo menggeleng.
"Itu satu-satunya hal yang kusuka. Tapi aku juga gak bisa bebas melakukannya. Aku dipaksa kerja sama Elvira, padahal aku gak mau."
"Lalu?" tanya Anna.
"Dari kecil aku selalu nurut, tidak pernah sekalipun aku memberontak. Apa yang Mama suruh selalu aku turuti. Hanya saat aku mau sekolah design, itu pertama kali keinginanku dikabulkan. Setelah itu tidak ada lagi."
"Jadi, sekarang kamu mau gimana?" tanya Anna.
"Aku ingin bebas. Aku ingin tidak mau dibayangi nama besar keluargaku. Aku mau hidup mandiri. Aku mau
melakukan hal yang aku suka."
"Apa sudah coba bicara sama orang tuamu?"
"Mama gak akan mau dengar." Cleo menggeleng.
"Saya yakin, semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Walaupun kadang caranya salah. Makanya kalau kamu merasa tidak nyaman, katakanlah dengan baik-baik."
"Kalau sudah bicara baik-baik, tapi gak didengar juga gimana?"
"Emm.. Kamu mungkin harus mencari support dan berusaha untuk membuktikan diri."
"Emang ada yang support aku?" tanya Cleo.
"Aku mau support kamu kok. Mau aku temani kamu ngomong ke mama kamu?" Cleo mengangguk.
"Ya udah. Sekarang kamu istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah lebih sehat, aku pasti temani." Cleo menuruti Anna.
Anna keluar dari kamar setelah Cleo tertidur lagi. Tante Sandra, Om Lukman dan Kevin duduk di luar kamar.
"Cleo sudah tenang dan tertidur." Anna melihat Kevin bimbang.
"Tante boleh ngobrol sebentar?" tanya Anna. Om Lukman segera berdiri dan masuk ke dalam kamar.
Anna duduk di sebelah Tante Sandra.
"Maaf Tante, saya bukan bermaksud ikut campur." Anna menatap Kevin yang duduk agak jauh.
"Saya rasa Cleo punya alasan."
"Alasan apa? Memangnya dia kekurangan apa sampai harus bersikap seperti itu."
"Saya gak punya hak untuk menceritakannya. Tapi setidaknya Tante bisa meluangkan waktu untuk mendengar Cleo. Sekarang ini, itu yang Cleo butuhkan dari orangtuanya sekarang ini."
Anna menunggu sebentar melihat reaksi Tante Sandra.
"Cleo hanya mau menyampaikan pikirannya. Boleh kan Cleo curhat sama mamanya." Akhirnya Tante Sandra mengangguk setuju.
Karena tidak ada masalah serius, Cleo diizinkan pulang siang itu juga. Entah kenapa Cleo mau ikut mobil Kevin dan Anna.
"Boleh kita singgah di rumah Nenek?" tanya Cleo.
"Boleh kok," jawab Tante Sandra.
"Tapi aku mau ikut mobil Kevin."
"Terserah kamu saja."
Setiba nya dirumah nenek.
"Aduh, Cleo? Kamu kenapa nak? Kamu gak apa-apa?" Nenek Ratih histeris melihat Cleo.
"Gak apa-apa kok Nek. Ada Anna yang bantuin."
"Kamu udah makan? Makan dulu ya sebelum pulang," pinta Nenek.
"Cleo mau ngomong sama Nenek, Mama dan Papa. Boleh?"
"Boleh dong. Ayo duduk dulu di dalam."
"Aku mandi dulu kalau gitu ya," seru Kevin.
"Anna mau temani aku kan?" bisik Cleo. Anna mengangguk.
"Jadi kamu mau ngomong apa?"
"Cleo mau keluar dari rumah." Semua orang langsung kaget, bahkan Anna sekalipun.
"Maksudnya, Cleo mau coba untuk hidup mandiri." Cleo segera memperbaiki kata-katanya.
"Kok tiba-tiba?" tanya Nenek.
Cleo melihat Anna dengan gugup. Anna tersenyum meyakinkan. Cleo menarik nafas panjang.
"Sebelumnya Cleo mau minta maaf. Cleo bukannya tidak bersyukur, tapi Cleo merasa terbebani menjadi bagian keluarga Bramantara."
Nenek merasa amat bingung.
"Maksudnya itu apa?" tanya Tante Sandra.
"Keluarga kita begitu hebat, tapi Cleo gak bisa menjadi seperti yang diharapkan semua orang." Cleo berhenti sejenak.
"Semua orang berharap lebih pada Cleo. Mengharap Cleo menjadi seperti Nenek atau Mama. Sayangnya Cleo gak bisa."
"Cleosuka bikin baju. Cleo bisa cari uang dengan jadi designer, tapi Cleo gak bisa
jadi business woman. Aku gak bisa kayak Elvira."
"Cleo mau minta tolong sama Nenek dan terutama Mama, kali ini ijinin Cleo untuk berusaha sendiri. Tanpa bantuan keluarga, Cleo mau berjuang sendiri dari nol."
Tante Sandra melihat anaknya dengan pandangan sayu.
"Selama ini Cleo selalu nurut sama Mama, tapi kali ini Cleo mau menjalani hidup ini dengan cara Cleo sendiri."
"Boleh ya Pa?" tanya Cleo pada Papanya yang diam saja dari tadi.
Om Lukman menatap Tante Sandra.
"Ma, mari kita biarkan Cleo mencoba."
"Apa kamu juga akan keluar dari rumah?" tanya Tante Sandra. Cleo mengangguk.
"Mama punya syarat." Cleo menatap Tante Sandra dengan canggung.
"Tiap hari kamu harus kasih mama kabar," suara Tante Sandra mulai bergetar.
"Mama bukannya mau mengekang kamu, tapi biar bagaimana pun Mama itu mama kamu. Mama pengen tahu keadaan kamu. Karena Mama sayang sama Cleo."
Cleo berdiri memeluk Tante Sandra. Mereka berdua menangis.
"Satu lagi." Tante Sandra melepas pelukannya.
"Mama gak mau lihat kamu bergaul sembarangan. Jangan sampai kejadian kemarin terulang."
"Ia, Ma."
"Kalau sudah punya pacar, harus langsung dikenalin sama Mama."
"Cleo belum mau pacaran."
"Siapa tahu aja kan tiba-tiba ketemu jodoh. Kalau bisa cari jodoh yang seperti Anna."
Cleo dan Tante Sandra melihat Anna.
"Bisa aja si Tante," Anna tersipu malu.
next>>>