
Kurang lebih satu jam usai pertarungan yang dimulai para yokai yang masih belum jelas seluk-beluknya.
Akio melangkah maju sembari menggunakan tongkat kayu untuknya berjalan. Ia mampu bergerak selama sebelah kakinya masih normal, ia mempertaruhkan banyak waktu hanya untuk menuju ke kediaman seseorang. Tak lain adalah Daimyou di Bama ini, Kazuki Eichi.
Tetapi, ia sudah tidak mampu melakukan perjalanan di samping lukanya kembali terbuka. Pada akhirnya ia tumbang sebelum sampai ke sana, dan hanya sekadar berada di perumahan warga.
“Hei apa benar dia itu Samurai Oni? Bukankah seharusnya kita bunuh saja dia? Dia sudah tidak layak hidup, bukan? Dia seharusnya dieksekusi sejak saat itu.”
“Diamlah, Ara. Pria ini pernah menyelamatkanmu sekali bukan? Setidaknya aku ingin berbalas budi.”
“Kenapa harus membantu penjahat seperti dia, Ayah?”
“Penjahat? Memangnya kau melihat dia berbuat jahat selama ini?”
“Ugh! Hah, sudahlah! Awas saja kalau sampai ketahuan orang lain! Aku tidak mau tanggung jawab!”
Putri semata wayang salah satu penduduk yang menyelamatkan Akio pun pergi dari rumahnya yang setengah hancur. Sementara Ayahnya masih duduk diam menunggu hingga Akio membuka kedua matanya.
Wajah Akio terlihat sangat jelas, terdapat satu bekas luka yang akan selamanya membekas di bagian sudut bibir. Sedang topeng oni berada tepat di sampingnya. Ada sedikit cahaya yang masuk melewati lubang di bagian atap rumah ini, dan begitu Akio membuka kedua matanya, ia merasa silau untuk sesaat.
“Silau!” Reflek ia memalingkan wajah seraya mengangkat lengan tuk menutupi pandangannya.
“Oh, akhirnya kau sadar juga, nak.”
Akio langsung tersadar bahwa ia tidak berada di luar melainkan berada di dalam rumah seseorang. Akio lantas melirik ke segala arah guna mengetahui tempat tersebut.
Lantas seorang pria yang berada dekat dengannya saat ini menjawab, “Tidak apa-apa. Di sini tidak ada musuh satu pun. Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahukan keberadaanmu pada siapa saja.”
“Selain putriku sendiri,” imbuhnya.
“Terima kasih. Maaf merepotkan.”
Ia tak bisa berlama-lama berada di dalam sini. Ia juga tak bisa melupakan kejadian yang telah lama menimpanya sampai tak sadar luka di bagian paha kirinya masih belum pulih.
Bruk!
Ketika ia hendak bangkit, Akio kemudian terjatuh. Sebab lukanya masih belum pulih sehingga membuatnya sulit bergerak.
“Jangan bergerak sesukamu. Kau itu orang sakit. Kakimu masih belum sembuh.”
“Aku harus pergi,” ucap Akio sembari mengenakan topeng oni itu kembali.
“Tidak bisa. Dengan luka seperti itu. Setidaknya beristirahatlah untuk satu hari ini.”
“Seharusnya aku yang berkata begitu. Kau yang lebih baik beristirahat. Di mana pedangku? Jangan bilang kau memegangnya?”
“Pedangmu aku simpan, tapi yang satunya berada tepat di sampingmu. Aku tidak bisa menyentuhnya langsung.”
“Oh, kau ke mana kan Retsuji?” Sembari menanyakan keberadaan satu pedangnya lagi, Akio berdiri dengan menggunakan kedua tangannya. Lalu perlahan ia mengambil Onryou.
Pria yang telah menyelamatkan nyawa Akio kemudian menjawab, “Tidak akan aku jawab.”
“Hah? Lagi-lagi beromong kosong. Sudah, cepatlah berikan pedang itu sekarang.”
“Kau memang bocah sombong. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi dalam keadaan terluka!” Pria ini bersikukuh agar Akio tetap berada di dalam rumah guna memulihkan lukanya yang parah itu.
Tetapi Akio seperti biasa, ia akan selalu menolak tak peduli seberapa keras orang ini membujuk dirinya.
“Aku sedang sibuk. Tidak ada waktu istirahat.”
“Hentikan tindakan cerobohmu itu sekarang!” pekiknya seraya mendorong Akio kembali ke alas tidur.
“Ti—!” Kata-kata Akio terhenti, lantas terkejut akan kedatangan sejumlah orang di depan pintu. Baik Akio maupun tuan rumah ini sama-sama terdiam dengan ekspresi bingung.
“Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, bisakah kamu berada di luar sebentar? Ada hal yang ingin kami bicarakan.”
“Y-ya.”
“Ara!” Sang Ayah sangat terkejut karena ternyata putrinya memanggil seorang Samurai, yang adalah Daimyou dan beberapa anak buahnya sekarang.
“Kau juga,” ujar pria yang baru saja datang itu pada si penyelamat Akio.
“Kumohon, Tuan!” Pria ini hendak membela Akio. Namun Daimyou mengerti, ia kemudian mengangkat kedua tangannya.
Dan berkata, “Tidak perlu khawatir.” Sembari menyunggingkan senyum ramah.
Setelah itu, Akio hanya ditinggal bersama Daimyou Bama, Kazuki Eichi. Lalu Muta, Tokuto dan dua lainnya yang ikut.
“Tuan ...tidak, Akio. Kau terluka?” Ia sampai-sampai merepotkan diri tuk menundukkan tubuh hanya untuk melihat luka yang dimiliki oleh Akio.
“Ya. Kenapa kau ke sini?”
“Sepertinya kau diserang.”
“Apakah Prajurit Neraka? Aku melihat Ningyou dan seorang kakek,” pikir Akio.
“Bukan. Tapi benar, mereka berdua pasti adalah bencana. Syukurlah yang datang hanya dua.”
“Bukan ...tapi benar? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti ucapanmu sama sekali. Lagi pula untuk apa Daimyou sampai datang kemari? Ah, pasti merepotkan bukan?” celotehnya dengan sedikit sindiran.
“Kau yang pergi meninggalkan kami. Dan sekarang malah mengusir. Dasar bocah tak tahu sopan santun,” ketus Kazuki seraya menjitak belakang kepalanya.
Akio mendengus kesal lantaran seorang Daimyou mendatanginya dengan sok hebat, membuat ia muak. Lantas ia memalingkan wajah, sembari menahan emosinya sebisa mungkin.
“Dengar. Dua yokai yang melawanmu hari ini memang benar adalah mereka. Tetapi mereka yang datang hari ini bukanlah wujud fisik mereka melainkan hanya bayangan.” Kazuki menjelaskan.
“Ha?” Akio sama sekali tidak mengerti. Sekalipun ia mencoba memahaminya, ujung-ujungnya ia tidak mengerti.
“Dengar. Hanya bayangan, arti lainnya mereka tidak asli.” Sekali lagi Kazuki berusaha untuk menjelaskannya.
“Ah, begitu.” Akhirnya Akio mengerti juga. “Jadi mereka tidak asli. Lalu kenapa bisa sekuat itu?”
Kazuki melirik ke belakang, mencoba memastikan tidak ada orang luar yang menguping pembicaraan mereka. Setelah dipastikan tidak ada, Kazuki kemudian mendekat dan berbisik sesuatu pada Akio.
“Besok hari adalah hari bencana bagi negeri Shinpi-tekina. Prajurit Neraka yang berjumlah sekitar 5 yokai terkutuk akan datang. Lalu, kau barusan bertemu dua dari mereka dalam bentuk bayangan.”
“Lalu?”
“Pikirkan lebih matang sebelum bertindak ceroboh. Kau tahu sekuat apa mereka ketika bukan dalam wujud aslinya bukan? Kau telah merasakannya.”
“Ya. Itu benar. Mereka sangat kuat. Tapi kenapa? Kenapa muncul dalam bentuk bayangan?” tanya Akio tidak mengerti.
“Seperti kata Ramuro, kau mungkin akan dijadikan umpan.” Kazuki mengatakannya dengan mata terpejam sembari menganggukkan kepala berulang kali.
“A—!” Lalu menghentikan Akio yang hendak mengamuk dengan mengangkat tangannya.
“Umpan takkan berlaku untuk selamanya. Kau umpan ...tidak, kau adalah samurai yang kuat dan mandiri.”
“Aku tanya kenapa mereka yang tidak asli bisa sekuat itu? Dan alasan apa mereka muncul dalam keadaan begitu?” tanya Akio sekali lagi.
“Aku belum mengetahui hal itu. Aku pun mengetahui kau bertarung dengan mereka dari Mizunashi. Lalu, aku memintamu untuk tetap berada di kota ini. Mengerti?”
Hari itu, Kazuki Eichi meminta Akio untuk tetap diam sampai fajar tiba. Dengan wajah yang serius, entah apa rencana yang mereka buat untuk melawan para yokai terkutuk.