Samurai Oni

Samurai Oni
DEMI PEDANG



Demi mendapatkan pedang, Akio bertekad mengalahkannya. Jika tidak maka pedang itu takkan berada dalam genggamannya untuk selamanya.


“Hanya untuk itu kau tega menyerang Ayahmu sendiri?”


“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku bukanlah putramu lagi?” sahut Akio.


Ayunan pedang yang sangat asal mudah terbaca oleh Kaeda. Akio melakukannya terlalu semangat sampai pada akhirnya pedang itu terlempar ke belakang.


“Kalau begitu, kau benar-benar mencari mati. Bersiaplah!”


Kaeda pun memancarkan hawa membunuh yang begitu kuat, sampai-sampai Akio dibuat bergidik ketakutan. Akio sempat melompat mundur karena merasakan tertekan akan hawa di sekitar, lekas ia mencabut pedang yang tersangkut di dinding berkayu dalam kuil tersebut.


Kembali ia memasang kuda-kuda, sembari meringankan pikiran yang terasa berat akibat langkah terburu-burunya.


“Menyerahlah Akio!” seru Kaeda seraya mengayunkan pedangnya. Terlambat satu langkah menghindar, tubuh Akio akan ditebas, dan kini hanya melukai bagian pundaknya.


Begitu Akio kembali melangkah mundur, Kaeda sudah kembali mengayunkan pedangnya. Meski berhasil ditahan namun itu hanya berlaku untuk sementara waktu.


“Ada apa? Pada akhirnya kau tak bisa mengalahkanku.”


“Memang tidak bisa. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Shogun sudah tewas dan kalian membiarkan Samurai Oni yang bisa menjadi perisai dan pedang kuat ini mati?”


“Pada akhirnya kau akan mati. Mau kau menjalani hidupmu seperti apa, keputusan apa dan lainnya.”


“Aku tidak berpikir aku akan mati sebelum berjuang. Negeri ini sedang dalam bahaya, tolong menyingkir dan berikan saja pedang itu padaku.”


Dengan sengaja Kaeda melepas pedangnya sendiri, ia lebih memilih tuk menggunakan tinju lantas mendaratkan pukulan keras pada wajah Akio yang kemudian terlempar ke belakang.


“Di mana pedangmu yang biasa kau gunakan? Kenapa tak gunakan itu saja lalu menggilalah di negeri ini!”


“Pedangku dibiarkan berkarat di atap rumah puncak gunung, tapi sekarang pedang itu entah ada di mana setelah rumahnya terbakar,” ucap Akio lantas berlari menghindar sebelum Kaeda kembali mendaratkan pukulannya.


“Berkarat 'kah?”


“Ya. Kakek itu yang melakukannya. Jadi mau tak mau aku harus menggunakan pedang yang sudah ada lebih dulu.”


“Tidak akan.”


“Apa?”


Kaeda tak ada niatan sama sekali untuk membiarkan pedang yang dimaksud terjatuh di tangan Akio. Kegelisahannya ialah, Akio yang mungkin saja akan menggila dan tentu Kaeda takkan bisa mempercayai Akio.


Jangankan pedang tersebut, bahkan pedang biasa ataupun pedang kayu saja masih membuat pikiran pria itu semrawut saking gelisahnya.


“Tidak akan aku biarkan kau menggenggam pedang lagi! Untuk seumur hidup!!” teriak Kaeda. Melangkah jauh seraya memutar pergelangan tangan yang telah terkepal itu.


Terdapat spiritual yang mengelilingi kepalan tinju Kaeda, dan itu terlihat sangat padat dan juga angin di sekitar berembus cukup cepat.


“Jika aku dipukul dengan kekuatan itu ...yang ada wajahku berlubang,” gumam Akio.


Kembali ia berdiri setelah tubuhnya jatuh tak seimbang, Akio menggenggam pedang dengan kedua tangannya. Ujung pada pedang tertuju pada kepalan tinju tersebut.


Keduanya bergerak secara bersamaan, menggunakan lantai sebagai pijakan tuk melompat lebih jauh ke depan.


Brakkk!!


Bersamaan dengan hancurnya pijakan masing-masing, antara kepalan tangan dan ujung pedang berlapis spiritual beradu tanpa saling menyentuh satu sama lain. Meski tak melukai, namun dampaknya ada di dalam kuil itu sendiri.


“Berhenti mengotori tempat suci ini. Kuil ini baru saja dibersihkan dan kau mengotorinya?”


“Omong kosong. Kau yang pertama kali mengacungkan pedang, jadi kesalahannya ada padamu. Pria tua!!”


Bentrokan dengan dua kekuatan yang sama persis, mana mungkin dapat saling menyerang satu sama lain dengan mudah. Pada akhirnya, mereka berdua hanya merusak bagian dalam kuil. Penghalang yang dibuat Kaeda pun bergetar dan lenyap begitu saja.


“Tidak mungkin! Matilah!”


“Dasar pria tua!!”


Kaeda kembali mengangkat pedangnya, dan kali ini sasarannya adalah kepala. Segera Akio menghindar setelah mengetahui hal tersebut, sekali lagi ia melompat mundur setelah sempat bertukar posisi dengan Kaeda.


Berada di ambang pintu kuil, tak nampak seorang pun di luar sana. Merasa sedikit aman karena tiada yang menganggu, Akio mempersiapkan diri dan nekat menahan pedang tajam itu dengan pedang kayu miliknya.


“Kemampuanmu mungkin terlihat mengerikan, tapi asal kau tahu bahwa kau tak berkembang.”


“Lalu apa masalahnya?!”


“Yang bisa kau lakukan hanyalah menghindar. Jadi lebih baik kau tidak usah hidup sekalian!” pekik Kaeda.


Pergelangan tangan dan jari-jemari memegang pedang dengan erat. Otot tangan lalu kedua kaki yang selalu digunakan untuk bergerak maju ke depan, membuat Akio sedikit was-was. Kaeda adalah Ayahnya, tentu ia jauh lebih lemah dibandingkan dengan ayah sendiri. Namun bukan berarti mengalahkannya itu tidak mungkin.


“Sejak tadi kau selalu menghindar!”


Akio tak berkelit sekalipun karena itu adalah fakta tak terbantahkan. Selalu menghindar, mengambil langkah ke belakang dengan posisi bertahan. Sesekali pedang kayu itu tertancap pada bilah pedang Kaeda, dan membuat Akio semakin berwaspada.


“Berapa kali pedang kayu ini patah?”


“Tidak perlu aku jawab. Pedang itulah menjadi alasanku datang kemari.”


“Jangan harap orang lemah sepertimu memegang Retsuji!”


Sejak tadi arah ayunan pedang Kaeda selalu tertuju pada kepala maupun leher Akio. Ketika Akio mulai dipojokan hingga pada akhirnya menyingkir dari kuil dan menuju ke pohon perbukitan, dengan sengaja ia memancing Kaeda sampai bilah pedang itu tertancap pada sebatang pohon begitu Akio menghindari serangannya.


“Heh, bukit adalah tempat yang cocok untuk membuat jebakan.”


“Sombong sekali anak ini.”


TAK! TAK!


Kakek Naruhaya (tengu) muncul di tengah-tengah mereka seraya memukul sarung pedang ke sebatang pohon lainnya.


“Sudah cukup sampai di sini.”


***


Beberapa saat sebelumnya, ketika Ayah dan Anak sibuk beradu pedang.


Akashi menahan langkah sang pendeta.


“Aku ingin bertanya, siapa orang yang berhadapan dengan Tuanku?” tanya Akashi.


“Kalian tidak tahu? Hah, padahal dia Tuan Samurai yang terkuat setelah Shogun Hatekayama, bahkan seimbang dengan Mikio. Atau bahkan Mikio bukan lagi tandingannya.” Pendeta terlihat sangat memuji.


“Makanya aku tanya siapa? Aku merasa dia terlalu kuat,” ujarnya.


“Tentu saja! Dia adalah Yamamoto Kaeda. Kelak dia akan menjadi Shogun!” ujar pendeta dengan bangga.


“Tidak, yang akan menjadi pemimpin adalah tuanku,” ucap Akashi dengan kesal lantas berbalik badan berniat untuk pergi.


Tadinya begitu, tapi siapa sangka kakek yang paling tidak disukai oleh Akashi justru muncul di saat-saat seperti ini. Raut wajah Akashi berubah menjadi masam.


“Di mana Akio, hei bocah!”


Itulah mengapa saat ini, si kakek sudah berada di antara mereka berdua. Antara Akio dan Kaeda. Namun nampaknya kakek tengah memegang sesuatu yang berbentuk panjang di tangannya.


“Aku datang untuk menyucikan pedang seseorang, tapi di sini kalian sedang bertengkar? Terlebih di tempat suci ini,” sindir kakek.