Samurai Oni

Samurai Oni
HASIL YANG TIDAK SELALU INSTAN



Pedang itu telah menghasilkan kekuatan di luar dugaan. Tanpa mengeluarkan kekuatan spiritual saja memiliki dampak yang luar biasa. Namun setidaknya cakar iblis itu tidak melukai mereka yang masih berada di dalam jaring laba-laba.


“Bagaimana bisa?!”


Cakar iblis merobek dinding pada kedua sisi hingga menuju ke atas. Sampai akhirnya mengoyak-ngoyak tubuh laba-laba dan terbagi menjadi delapan bagian.


Yokai lenyap tak bersisa, meninggalkan abu sebagaimana itu adalah tubuhnya.


“Eh, hebat juga? Tapi kekuatan ini sulit ditahan. Bisa tidak kalian tahan?” tanya Akio pada pedang tersebut.


“Keluarkan kami sekarang juga!!” teriak Honjou Eno, meminta pertolongan.


“Oh, ya. Aku hampir melupakannya.”


Sebelum mendapat jawaban dari mereka, Akio membantu Honjou beserta para samurai lainnya di sana. Merobek bagian luarnya menggunakan pedang yang sama, dan itupun nyaris ia melukai mereka di dalam secara tak sengaja.


“Pedang macam apa itu? Pedangnya memancarkan aura jahat!” Honjou Eno akan memulai pertengkaran.


“Bukan urusanmu.”


Segera ia pergi dari Benteng Tenggara Honjou. Sembari memotong rambut panjangnya yang tebal, ia berlari sekuat tenaga menuju ke wilayah Kuran.


Sesampainya ia ke wilayah Kuran. Ia disambut hangat oleh para pengikut serta kakek tengu itu sendiri.


“Selamat datang kembali, Akio.”


“Tuan Akio! Syukurlah baik-baik saja!”


“Akhirnya!”


Situasi ini terlihat sangat aneh. Mereka menyambut Akio seolah-olah laba-laba yang barusan adalah ujian selanjutnya.


Bingung. Akio lantas bertanya, “Kakek, di Benteng Tenggara ada yokai, dan kau tak tahu itu?”


“Apa? Yokai?!”


Semuanya langsung histeris begitu mendengar kabar dari Akio yang sesudahnya menceritakan kejadiannya dari awal hingga akhir.


“Tidak mungkin. Kami sama sekali tidak merasakannya.”


“Tidak? Aku pikir penciuman Akashi bisa?”


“Maaf, Tuan Akio. Aku sama sekali tidak bisa mencium adanya keanehan. Aku bahkan mengira Tuan Akio masih berada di dalam hutan.”


“Itu benar, Akio. Apa kau melantur setelah bertarung melawan ribuan yokai di dalam pedang?” sahut kakek.


“Hoi! Kakek! Kau yang membuatku nyaris mati di sana, tapi berkata aku sedang melantur soal laba-laba di sana?”


Akio menujuk ke arah tenggara, di mana benteng itu berdiri. Lalu menoleh lantas tercekat diam. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Begitu pula dengan kakek, Akashi dan lainnya.


Mereka semua melihat ada sebuah penghalang yang perlahan menghilang. Penghalang itu berbeda dari penghalang yang ada di negeri ini.


“Jangan bilang dia yang membuat penghalang?” celetuk Akio.


“Sepertinya kau tidak berkata bohong.”


“Tentu saja!!” amuk Akio.


“Ya, ya. Jadi? Jelaskan apa yang terjadi.”


“Yokai berwujud laba-laba menggunakan jaring-jaringnya untuk membawaku pergi ke benteng. Sampai aku di sana, aku melihat semua korban terjebak di dalam jaring yang sama. Saat itu juga penghalang di dekat sana sudah hilang,” jelasnya secara singkat.


“Sudah hilang? Jadi penghalang asing itu adalah milik yokai itu?”


“Ya. Siapa lagi yang bisa. Yokai itu juga tidak terlihat seperti biasanya. Ya ampun, apa saja yang kalian lakukan di sini sih?”


Sepanjang waktu Akio menggerutu saking ia kesalnya pada mereka. Apalagi mereka sedang bersenang-senang di sini. Mereka membakar ikan yang baru saja terdampar ke wilayah Kuran, lalu ada sebuah tempat asing yang baru saja Akio lihat hari ini.


“Apa yang terjadi di saat aku sibuk diburu yokai?”


“Akio, tutup mulutmu. Jangan bicara sebelum aku mengizinkanmu lagi,” ancam kakek tengu.


“Tuan Akio, aku akan beritahukan. Kami membuat rumah yang baru untuk Tuan dan kita semua yang dibuang. Lalu, silahkan ini,” jelas Kizu seraya menyodorkan ikan bakar yang sudah matang padanya.


“Kau lupa kau sedang dihukum tak boleh makan?” katanya.


Akio menghela napas pendek, lantas membalikkan badan. Membelakangi mereka yang sedang asik makan sendirian.


“Kakek cebol ini keterlaluan.”


“Apa? Kau mau bertarung denganku? Sini, kalahkan aku dulu sebelum kau bisa menyuapinya makanan,” ujar kakek.


“Cih! Tentu saja aku pasti akan menang. Tapi aku tidak mungkin melawan kakek rapuh seperti dirimu.” Setelah berkata menyombongkan diri, Akashi berakhir babak belur di wajahnya. Ia kini tengah terbaring beralaskan pasir halus.


“Bicaralah. Apa yang terjadi pada rambutmu?”


“Berikan aku sesuatu untuk mengikatnya.” Sebelum menjawab ia meminta sesuatu. “Dan ini aku potong karena terlalu mengangguku,” jawabnya mengenai pertanyaan si kakek.


Rambut Akio sudah jadi pendek, tapi tetap saja itu masih menganggu terutama di bagian poni depannya. Menggunakan ikat rambut berwarna putih, ia mengikat keseluruhan pada rambut yang dimiliknya sebisa mungkin dengan cara biasa. Tak lupa ia memakai topeng oni yang menjadi kesukaannya hingga saat ini.


“Lalu, apa yang terjadi ketika Onryou ada di tanganmu?” Kakek kembali bertanya.


“Aku tidak bisa menggunakan kekuatan spiritual karena akan disedot habis oleh mereka dan sebagai gantinya cakar iblis membantu meningkatkan daya serangku hingga tak terbatas.”


“Oh, jadi hebat juga ya.”


“Tapi kalau tidak bisa menahannya, maka akan menghancurkan satu wilayah menjadi rata,” imbuh Akio.


“Kemarikan pedangnya. Onryou itu.”


Menurut, Akio lantas memberikan pedang yang disebut Onryou (roh pendendam) pada si kakek yang kemudian digenggamlah pedang satunya lagi.


“Ini ...apa tidak masalah jika aku memakainya?” tanya Akio merujuk pada Retsuji.


“Mau bagaimana lagi? Pedangnya memilih untuk mengikutimu, kau tahu.”


“Tapi—”


“Jangan khawatirkan Ayahmu, dia itu terlalu protektif. Itu saja.”


“Bukankah aku juga memiliki pedang itu. Kenapa harus memegang Retsuji juga?”


“Karena aku tak mau kau selamanya terikat dengan pedang jahat itu. Jadi apa salahnya jika Retsuji berada dalam genggaman tangan cucuku, apalagi kau dipilih olehnya.”


“Ah, baiklah.”


“Apalagi kau adalah seorang samurai. Mungkin benar bukan orang suci seperti pendeta, tapi tak baik jika membiarkan pedangmu haus akan darah.”


“Aku hanya menebas sesuatu yang tak seharusnya ada. Memangnya salah?”


“Tidak. Aku tidak berkata itu salah.”


“Kalau begitu biarlah aku menjadi seperti ini.”


“Dengar Akio, Onryou tidak boleh sering kau gunakan sering-sering. Kau mengerti?”


“Ya, baiklah. Aku akan mengandalkan Retsuji. Lalu Onryou sebagai cadangan atau ketika situasi sedang terdesak.”


Jika dipikir-pikir, Akio juga merasakan aura yang sama pada Retsuji dan cahaya kebiruan itu. Warna dan kestabilan serta kekuatan itu sendiri, semuanya sama dan tak ada yang berbeda sedikitpun.


“Kakek ...ada sesuatu yang harus aku tanyakan.”


“Ya, apa?”


“Tentang "dia", itu siapa?” tanya Akio.


“Hah? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.”


Kakek tak menjawab sepatah kata pun mengenai pertanyaan yang sama. Seperti menghindarinya.


“Ayo Yasha, aku butuh apimu untuk membuat sarung pedang Onryou ini.” Ia kemudian pergi bersama Yasha.


Sementara Kizu, Nekomata dan Akashi menatap Akio dengan sangat penasaran. Sekilas ketiga-tiganya, bahkan Yasha yang sudah pergi pun merasakan bahwa hawa Akio sedikit berubah dan itu membuat mereka bergidik merinding.