
Beberapa saat sebelumnya.
Yasha Manabu datang lebih awal ke Kota Tama, yang berada dekat dengan Ibu kota. Menyelinap di antara manusia, sungguh beruntung ia bisa menyamarkan bau dan keberadaannya sebagaimana ia adalah yokai terkutuk.
Dengan pedang besar nan panjang berwarna hitam gelap, ia menebas satu mahluk yokai yang memiliki bentuk lucu. Sama-sama berwarna hitam dan memiliki satu mata. Cukup mudah mengalahkannya, karena mahluk itu hanya bisa berbuat jahil. Meski dikatakan tidak begitu berbahaya, pernah sekali mahluk ini membuat orang tewas karena kejahilannya yang berlebihan.
Tak!
“Bagus.” Yasha merasa bersemangat karena ini pertama kalinya ia memegang pedang. Namun tentu saja ia sudah belajar cara menggunakannya, melalui para samurai dari cara ia melihat serta praktek langsung bersama Akio sebelumnya.
“Ini sudah berakhir.” Begitulah pikirnya usai menyarungkan pedang.
Kizu dan Nekomata sampai secara bersamaan, mereka berdua masuk ke dalam rumah, di mana Yasha sedang berada di dalam sana juga.
“Wah! Apa itu?!”
Betapa sangat terkejutnya Kizu dan Nekomata begitu masuk. Yasha yang tidak begitu sadar, lekas menoleh ke arah yang ditunjuk oleh kawannya itu.
Sungguh tak disangka bahwa Yasha tidak menyadari adanya keberadaan satu yokai lainnya.
“Tunggu sebentar, kalian berdua bisa masuk kemari?”
“Tuan Rumah mengijinkan kami masuk, dan dia sedang pergi sekarang karena takut. Di sekitar sini tidak ada samurai yang berkeliling. Tak perlu khawatir,” jelas Kizu.
“Jadi ...mahluk apa ini?” Kemudian Yasha mengalihkan pandangannya sekali lagi pada satu mahluk aneh ini.
Ia berbentuk bulat seperti bola tangan namun permukaan luarnya nampak seperti kulit pohon yang berwarna coklat berserat. Lalu yang paling anehnya lagi adalah, bagian depan berwarna putih tanpa noda.
Terkadang ia bersuara, “Kikuk! Kikuk!” Seperti suara jam berdentang, atau mungkin burung berkicau. Yasha dkk sama sekali tidak mengetahui adanya mahluk seperti ini.
“Dia muncul dari mana?”
“Periksa penghalangnya, apakah robek atau tidak!?” Yasha memberi perintah pada Kizu.
Lekas Kizu pergi memeriksanya, dan ia sama sekali tak melihat adanya retakan atau kerusakan sedikitpun dari penghalang bagian luar wilayah ini.
“Tidak ada, Yasha!”
“Dia muncul dari tanah, sama seperti yokai terkutuk lainnya. Dari tahun ke tahun penghalang yang berguna kini jadi melemah karena ketiadaan Shogun Hatekayama,” ujar Yasha.
Merasa aneh dan kewaspadaannya meningkat, Yasha perlahan menarik pedangnya lagi. Kizu yang berwujud rubah itu lantas mengerang, begitu pula dengan Nekomata berekor dua dan api. Mereka berwaspada akan mahluk aneh itu.
Klak! Klak!
Muncul suara aneh dan yokai tersebut pun bergerak secara menyamping, tidak menggelinding layaknya sebuah bola. Yang tadinya berwarna putih polos kini muncul beberapa goresan berwarna hitam.
“Dia berniat kabur?!” Kizu bersiap mengejar.
Yasha melintangkan lengan kiri dan berkata, “Jangan dulu!”
Yasha berniat untuk mengawasi pergerakannya. Dan semakin lama bola itu bergerak ke samping, jalannya semakin lambat lalu berhenti setelah beberapa detik dan mengitari dalam ruangan ini.
“Dia pasti mencoba untuk menyerang!” Baru saja Nekomata berteriak, begitu bola yang memiliki banyak goresan hitam di bagian tubuhnya itu melompat ke arah mereka, reflek Nekomata melompat ke belakang.
Nekomata amat terkejut, begitu pula dengan Kizu. Yasha pun segera mengarahkan bilah pedangnya tuk mengincar titik buta dari yokai. Namun tiba-tiba saja, pergerakan Yasha terhenti sepenuhnya, usai bola itu berputar menghadapnya.
“Berhenti?”
“Tidak hanya gerakannya, Yasha juga berhenti di posisi itu!” sahut Nekomata.
“Ada yang tidak beres.”
Nekomata menganggap setuju perkataan Kizu, ia pun melompat ke arah bola itu. Berniat menggunakan apinya namun terjadi hal yang sama seperti Yasha sebelumnya.
“Hei, Neko! Kau baik-baik saja?! Hei!”
Kizu tidak benar-benar mengerti karena kejadiannya terjadi begitu saja tanpa ada apa pun sebagai penandanya. Kizu melirik ke segala arah guna memastikan sesuatu.
“Tidak ada yang berubah. Kecuali bola itu masih berputar di atas sana.”
Kizu mengubah wujudnya menjadi seorang laki-laki, ia mengambil sebuah vas lalu kemudian melemparnya ke arah bola tersebut. Dan terjadi hal yang sama pula.
“Waktunya ...terhenti?” pikir Kizu.
Sedetik kemudian vas terjatuh dan pecah. Yasha dan Nekomata kembali bergerak namun karena bola itu berpindah tempat, sehingga mengakibatkan mereka saling bertubrukan satu sama lain.
“Aduh!”
“Nekomata?”
Mereka juga terkena sedikit pecahan vas yang telah jatuh. Yasha dan Nekomata saling bertukar pandang satu sama lain dengan penuh pertanyaan di benak mereka.
“Kizu, apa kau tahu sesuatu?”
“Waktunya terhenti ketika kalian mencoba menyerang benda itu. Dan apa kalian tidak tahu? Maksudku apa yang terjadi ketika tahu kalian berhenti bergerak?”
“Berhenti bergerak? Nekomata ini tidak begitu mengerti ucapanmu, Kitsune.”
“Panggil namaku, Kizu.”
“Namamu itu tidak keren.”
“Jangan meledeknya!”
“Kalian berdua berhentilah bertengkar. Lalu Kizu, apa benar waktunya terhenti?” sahut Yasha yang kemudian bertanya.
“Ya. Kalian lihat ini saja.”
Kizu mengambil pecahan vas lalu kembali melemparnya ke arah bola yang sudah berpindah tempat. Pecahan itu berhenti mendadak begitu hendak mendekati bolanya. Saat itulah Yasha dan Nekomata memahami ucapan Kizu.
“Ternyata benar waktunya terhenti. Pantas saja aku merasa aneh. Aku pikir Nekomata yang bergerak terlalu cepat, sehingga menubrukku,” pikir Yasha.
“Aku bahkan baru akan menyerang setelah kau berhenti Yasha,” sahut Nekomata.
“Yokai yang datang semakin ke sini semakin aneh saja.”
“Aku setuju.”
Pertarungan ini takkan ada habisnya apabila mereka bergerak sembarangan. Jika melakukan apa pun akan membuat waktunya terhenti, maka mustahil bahkan untuk menangkapnya sekalipun.
“Bagaimana kalau kita serang bersamaan?”
“Ide bagus!”
Ketiga-tiganya mulai bergerak bersamaan. Yasha menggunakan pedang, langsung mengincarnya dari depan sebagai pengalih. Sementara Kizu dan Nekomata dari belakang tuk menyergapnya.
“Serang!!”
DONG!!!
Suara dengungan yang begitu keras terdengar, dalam sekejap mereka semua berhenti bergerak. Waktu telah terhenti, tanpa seorang pun yang mampu melawannya. Seperti hukum alam ada di tangannya.
“Kikuk! Kikuk!” Suara yang sama seperti kicauan burung ataupun suara dentangan jam.
***
Kota Kama.
“Akio, kami akan segera menyampaikan isi ramalan kepadamu. Mungkin esok hari.”
“Ramalan?”
“Ya. Nantikan saja.”
Setelah lama berbincang dengan Sakanoue, Akio pun pergi. Secepatnya menuju ke tempat di mana para pengikutnya sedang membutuhkan bantuan.
Butuh banyak waktu hingga memakan 20 menit lamanya karena harus melewati Ibu kota yang berada di bagian tengah pulau. Sesampainya ia berada di kota Tama, Akio terdiam sejenak sembari menatap salah satu rumah yang memiliki penghalang.
“Penghalang di dalam penghalang? Apa dia yokai yang ingin berbuat curang? Hm, konyol sekali.”
Dalam sekali tebas, cahaya biru bagai meteor kecil menyayat penghalang hingga lenyap. Secara bersamaan Akio juga menebas bagian tubuh dari bola yang mengendalikan waktu.
“TUAN AKIO?!” Semua terkejut begitu mengetahui kedatangan tuan mereka.