Samurai Oni

Samurai Oni
YUKI ONNA I



Sehari sebelum kedatangan Akashi. Kazuki Eichi yang kembali ke wilayahnya dari Ibu kota, terdiam di perbatasan antar wilayah.


“Musim salju di saat ini? Ini aneh. Rasanya tidak mungkin musim seperti ini muncul tiba-tiba.”


Kazuki bersama para pengikutnya yang terhitung beberapa itu dibawa ikut kembali, mereka mulai memasuki ranah yang seolah sudah bukan milik siapa-siapa lagi.


“Tuan Kazuki, apakah ada penyebabnya sehingga memunculkan anomali pada cuaca? Di Ibu kota saja masih terasa panasnya.”


“Seharusnya hanya Kuran saja yang tidak berubah cuacanya. Tapi sekarang Bama? Aku tidak tahu harus berkata apa setelah melihat keganjilan ini.”


“Tuan Kazuki, badai salju menerpa wilayah ini. Apa yang harus kami lakukan?”


“Tidak ada yang bisa kau lakukan. Selain berpikir adanya kemungkinan ini ulah yokai.”


Sejak kapan dimulainya pun tak ada yang tahu selain saksi berupa penduduk yang tinggal di Bama. Namun, tak seorang pun Kazuki jumpai selama perjalanan. Hingga akhirnya kelompoknya pun terpencar-pencar dan tersesat.


***


Itulah yang terjadi sehari sebelum kedatangan Akashi. Namun sekarang sayang sekali Akashi mendapat nasib yang kurang beruntung. Dirinya nyaris menyatu dengan salju.


“Permisi, kamu hidup?”


“E-En ...tah.” Akashi menjawabnya dengan suara amat lirih serta gemetar.


Kini ia melihat keberadaan seorang wanita cantik. Rambut hitam yang panjang dengan kimono putih, ia membawa sesuatu sebagai penutup kepala.


“Mau aku bantu?”


Akashi sudah sulit untuk menjawabnya. Dan kemudian wanita itu membantunya untuk berdiri lantas meletakkan penutup kepala yang terbuat dari jerami pada Akashi.


Sembari berkata, “Aku akan membantumu.”


Dalam benaknya Akashi berpikir bahwa gadis ini sangatlah baik pada orang tak dikenal. Akashi sebagai seorang pria mungkin tidak bisa merasakan adanya kebahagiaan bila laki-laki didekati oleh perempuan, namun meski begitu, ia cukup senang karena ternyata ada orang yang peduli padanya selain Akio.


“Akan aku bawa kau ke rumah. Jadi aku tuntun jalannya ya, jangan sampai kau melepaskan tanganku.”


“Baik. Aku jadi ingat Tuan Akio kalau begini. Sungguh aku ...sangat ...merindukannya,” lantur Akashi yang nyaris terlelap kembali.


Meski penutup kepala itu tidak begitu berefek, namun setidaknya kepala Akashi tak sedingin es batu seperti sebelumnya. Lalu sekarang, ia tengah dituntun oleh wanita berambut panjang tersebut menuju ke rumahnya.


“Hei, siapa namamu? Boleh aku mengetahuinya?”


“Ya.” Akashi menganggukkan kepala dan menjawab, “Akashi. Itu namaku.”


“Oh, Akashi kah? Itu nama yang indah. Pasti orang tuamu berpikir bahwa kau adalah cahaya yang terang bagi keluarga.”


“Kenapa bisa begitu? Lagi pula aku tidak punya orang tua. Dan siapa yang memberiku nama itu, aku juga tidak ingat.”


Untuk sesaat, langkah wanita itu berhenti. Membuat Akashi menabrak pundaknya. Lalu, wanita berambut panjang berbalik badan sembari berbisik lembut,


“Kalau begitu ...sayang sekali.”


Entah mengapa menghadirkan rasa ngeri tak terlihat. Akashi tersentak diam, dirinya mematung dengan mata terbuka lebar menatap wanita asing itu.


“Ka—!”


“Ssst! Jangan berisik. Di pegunungan bersalju, kau tidak boleh berisik sedikitpun. Ayo kita lanjutkan perjalanannya.” Ia berdesis pelan dengan satu jari teracungkan ke depan bibirnya yang merah muda.


“Ngomong-ngomong apa kamu tidak kedinginan?” tanya Akashi.


“Dingin itu sudah biasa untukku. Oh ya, kau 'kan tidak tahu siapa aku ya?”


“Hei, ada apa tiba-tiba?” Akashi yang kaget dan bingung, tak tahu harus merespon apa selain bertanya alasan Ia tertawa.


“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Wanita itu menjawab, menggelengkan kepala sembari menahan tawanya yang geli.


Setelah beberapa saat akhirnya ia terdiam juga tanpa mengajak Akashi mengobrol seperti sebelumnya. Terpaan badai salju tak mengurang sedikitpun, Akashi merasa resah semenjak pertemuannya dengan wanita yang hendak menuntunnya ke sebuah rumah.


Ke arah mana perginya saja ia tidak tahu. Bahkan baru saja mengetahui bahwa tempat ini adalah pegunungan bersalju. Seperti biasa, hanya ada jalanan bersalju, pepohonan yang tertutup salju, serta langit yang menurunkan ribuan keping salju. Rasa dingin terus melekat pada kulit sensitifnya, berharap setidaknya ada sesuatu yang panas seperti api namun Akashi jelas tahu bahwa itu mustahil dicari dalam keadaan badai bersalju seperti sekarang ini.


“Ayo, percepat langkahmu lagi. Sebentar lagi kita akan sampai.”


“Baiklah, tapi sebim itu—”


“Sudah. Jangan banyak mengoceh,” sahutnya seraya menarik tangan Akashi dan mulai berjalan lebih cepat.


Beberapa langkah ke depan, mereka berhenti setelah itu. Kemudian yang ada di hadapannya bukanlah rumah.


“Di sini?”


“Ya.”


Melainkan tebing.


“Hah?!” Mata Akashi pun terbuka lebar. Ia terkejut sekaligus tak menyangka. Berpikir kalau, “Rumahmu ada di seberang sana?”


“Eh, bukan.” Wanita ini kemudian bingung apa maksud Akashi.


Jangankan ia, bahkan Akashi sendiri saja bingung harus berekasi seperti apa setelah dihadapkan dengan tebing yang curam pastinya.


“Maksudmu berpikir seperti itu apa, Akashi?”


“Aku pikir rumahmu harus menyeberangi jalan yang ada di seberang,” pikir Akashi seraya menunjuk ke depan.


“Kau bisa melihat seberang? Wah hebat, aku bahkan tidak bisa melihatnya karena di luar jangkauanku,” tutur wanita itu dengan senyum terpaksa.


“Lalu, kita harus apa agar bisa menyebrang?”


'Dia ini benar-benar bodoh. Mana mungkin aku tinggal di seberang yang seharusnya perbatasan wilayah lain,' batin wanita itu.


Sejak awal niat wanita dengan kimono putih dan rambut hitam yang panjang ini bukanlah untuk membantu Akashi. Sekarang, perangai aslinya sudah terkuak dan Akashi tidak menyadarinya sama sekali.


“Begini cara menyeberanginya, Akashi si Tangan Merah.”


“Eh?”


Tubuh Akashi didorong ke depan menuju tebing, Akashi menoleh ke belakang dan sekilas melihat wajah jelek dari wanita itu. Terlihat ia sangat senang, senyum lebar tersungging dan kerutan di dahinya nampak dengan sangat jelas.


Tanpa sempat bereaksi akibat terlalu mudah dibodohi, Akashi pun terjun bebas di sana. Ia menuruni tebing dalam keadaan badai salju yang cukup dahsyat.


Salah-salah Akashi akan diterbangkan menjauh dari sana, bisa juga ia terjatuh ke laut karena embusan dingin ini. Ataupun mati beku karena cuaca ekstrem di Bama.


“Kenapa aku didorong? Aku tidak salah apa-apa. Ah ...jangan bilang aku ditipu?” Begitulah pikirnya meski itu sudah sangat terlambat.


Akashi sudah pasrah begitu dijatuhkan, namun entah bagaimana bagian belakang pakaiannya tersangkut dahan ranting yang cukup kuat, itu tertancap di dinding bagian dalam tebing.


“Aku nyangkut ya?”


Sudah kehilangan pijakan, dan sekarang hidupnya hanya tersisa menunggu waktu saja. Kapan ia akan bertahan juga tidak ada yang tahu. Terlebih tujuannya belum terlaksana.


Di samping itu semua, Akashi yang sudah berada dalam tebing, dirinya yang mungkin sesaat lagi akan terjatuh ke dasar, melihat ada banyaknya tengkorak-tengkorak baik hewan maupun manusia.