
“Apa-apaan di sini?”
Terlalu banyak benda maupun orang-orang yang membeku di sana. Ta cukup itu, bahkan jalanan yang sekarang dipijak oleh Akashi, terlihat sangat keras dan licin. Kaki Akashi hampir saja terpeleset dan jatuh karena licinnya jalan itu.
“Tempat ini sungguh aneh. Tidak seharusnya aku berada di tempat seperti ini. Aku akan terus jalan!”
Akashi segera pergi dari sana usai melihat-lihat sekitar. Kebetulan badai salju pun reda, entah apa yang terjadi namun mungkin saja bahwa Wanita Salju memiliki urusan lain.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan dia ya? Aku penasaran apa yang sebenarnya dia mau lakukan sampai harus menunda untuk menyerangku?” Akashi bertanya-tanya.
Wanita Salju tidak terlihat semenjak saat itu. Badai salju reda namun cuaca dingin dan permukaan bersalju masih ada, terlihat sangat jelas. Banyak hal sudah dibekukan oleh es serta salju, tak ada air maupun sesuatu yang segar sama sekali.
Rumah, pepohonan, para penduduk, jalanan dan banyak hal lain, semua telah dibekukan. Beberapa orang terasa masih hidup, namun banyak sudah yang telah tiada begitu dibekukan.
Selama perjalanan yang arahnya sama sekali tak berubah. Akashi yang terus-menerus berjalan lurus dan bergerak menjauhi semua rumah di sana, kembali menemukan lapangan luas bersalju. Terlihat seolah-olah tempat ini tidak lain adalah area bersalju saja.
“Dingin.”
Tak ada penurunan suhu sama sekali. Usai beberapa langkah ke depan, badai salju kembali menerjang dirinya. Akashi berteriak terkejut, lantas berlari menerobosnya sembari mencari sesuatu untuknya berlindung.
Secara kebetulan, Akashi menemukan sebuah gua yang terletak di bagian barat dari arahnya. Memang cukup jauh, namun setidaknya ia bisa sampai ke sana. Menggunakan lubang gua untuk berlindung dari ganasnya badai salju.
“Argh! Dingin! Dingin!” Akashi mengibaskan seluruh tubuh dan rambutnya yang basah, lekas ia masuk untuk menghangatkan badannya selagi bisa dilakukan saat itu.
“Tuan Akio masih belum ditemukan. Mau sampai kapan aku harus berjalan tanpa arah? Lagi pula apa benar kalau Tuan Akio berada di tempat ini? Semoga saja iya, karena jika tidak maka usahaku akan sia-sia.”
Akashi duduk meringkuk seraya memeluk kedua kakinya ke depan. Berusaha mencairkan otaknya, dan tetap bersikap tenang agar rasa dinginnya tidak semakin merasuk ke dalam tubuhnya. Itulah satu-satunya cara agar Akashi tidak cepat membeku.
“Cuacanya semakin memburuk. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Entahlah. Tuan Kazuki sedang menyelidikinya. Sementara kita harus menemukan beberapa orang yang mungkin masih selamat bukan?”
“Ya, ampun. Begitu Tuan meninggalkan wilayah ini, mereka beraksi. Benar-benar licik.”
Terdapat sekumpulan orang berjubah berjalan menuju gua, tempat di mana Akashi berdiam diri saat ini. Mereka semua adalah bagian dari pengikut klan Kazuki. Tampaknya mereka sudah mulai melewati kawasan ini.
Akashi sudah menghabiskan waktu terlalu banyak, ditambah ia terluka dan pemilihannya pun berjalan lambat karena cuaca ekstrem ini. Lalu, secara tak sadar ia nyaris tertidur di dalam dengan kondisi tubuh hampir membeku.
“Oh, ada seseorang?”
Akashi langsung terbangun begitu mendengar suara seseorang. Ia terkejut lantas menoleh ke sumber suara. Saat itu, pandangan Akashi sedikit mengabur dan belum mengetahui siapa yang sedang menghampirinya saat ini.
“Apa yang kau lakukan di gua ini? Apa kau penduduk yang selamat? Hei!”
“Ada yang selamat. Itu kabar bagus. Berapa?”
“Hanya satu orang saja. Dan dia terlihat agak kikuk sekarang.”
“Tapi, aku sama sekali belum melihat ada penduduk laki-laki yang berambut panjang kecuali Tuan Mizunashi.”
“Mungkin dia wanita?”
“Dia laki-laki.”
“Tolong sebutkan nama, usia dan bagaimana ini semua terjadi?” Salah satu dari mereka membungkukkan badan, dan masuk ke dalam mulut gua. Bertanya pada Akashi.
Namun, Akashi tidak menjawab apa-apa selain hanya menyipitkan mata ke arah mereka. Para pengikut klan Kazuki itu pun dibuat bingung, mereka mulai berangan-angan bahwasanya orang yang mereka temui ini bukanlah penduduk di kota Bama.
Akan tetapi, salah satu dari mereka tak berhenti bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini? Kau berlindung dari siapa atau apa? Setidaknya jawab pertanyaanku karena kami sedang membutuhkan informasi.”
Sekali lagi ia berkata, “Dengar? Ini di Bama, dan cuaca dingin dengan musim bersalju menerjang kota ini sekarang. Lalu, apa kau tahu sesu—!”
Dap! Dap!
Tak mendengar perkataannya, Akashi langsung melarikan diri. Ia keluar dari gua dan kembali berlarian dengan tanpa alas kaki. Tubuh yang dingin terlihat letih dan akan membeku itu tetap Akashi paksakan untuk berlari.
“Hei! Tunggu!”
“Hentikan! Jangan kejar orang sinting itu.”
“Apa? Kenapa? Dia itu satu-satunya yang selamat tapi malah melarikan diri dari gua yang aman ini?” Pria yang memiliki alis tebal dan menyatu ini adalah pengikut klan Kazuki, bisa dibilang samurai yang selalu berada di dekat Kazuki kecuali waktu-waktu tertentu. Tokuto.
“Kau bilang untuk membiarkannya? Kenapa kita harus melakukan itu?” Geram, Tokuto terus meninggikan nada suaranya.
“Mau bagaimana lagi? Memangnya orang seperti dia tahu sesuatu soal ini? Karena berdasarkan apa yang aku lihat, dia itu terlalu mirip dengan Akashi si Tangan Merah.” Pria yang memiliki luka di sudut bibir, Muta berujar.
“Apa?!”
Sontak saja ketiga pengikut klan Kazuki itu pun terkejut. Mereka bersamaan menoleh ke arah Akashi berlari namun kini sudah menjauh dari sana. Merasa tidak begitu yakin dengan apa yang dibicarakan Muta, Tokuto menarik kerah pakaiannya.
Lantas berkata, “Jangan bercanda! Kalau benar itu dia, dia pasti akan melakukan sesuatu pada kita!“
“Bukan. Tuan Kazuki sendiri yang bilang kalau Akashi si Tangan Merah tidak pernah membunuh manusia sejak awal. Justru dia sangat takut,” ujarnya.
“Persetan dengan itu. Lalu, apa dia yang menyebabkan semua kekacauan ini?”
“Mungkin tidak,” pikir Muta lantas menundukkan kepala, tengah memikirkan kemungkinan yang lain.
“Kenapa kau berkata "mungkin", tapi wajahmu terlihat yakin?”
“Karena aku berpikir mahluk yang membuat kekacauan ini adalah yokai lainnya. Bukan dia. Hanya itu saja yang bisa aku pikirkan,” tutur Muta.
Sementara itu, Akashi sudah mencapai sebuah tempat yang mungkin akan membawakannya sebuah kehangatan. Rasa dingin di kedua kakinya sudah menjalar hingga ke bagian tubuh tengahnya. Akashi sudah tak kuat untuk berjalan apalagi berlari.
“Tuan Akio ...dia ada di sini.”
Bruk!
Usai masuk ke halaman, dirinya ambruk di tempat. Terdapat sebuah rumah yang cukup lebar dan besar dan Akashi merasakan keberadaan Akio di tempat tersebut. Namun karena sudah tak cukup kuat menahan rasa dinginnya itu, ia pun telah tumbang.
“Tunggu ...sebentar. Bertahanlah ...tubuhku. Aku ...ingin bertemu ...bertemu Tuan Akio ...lagi.” Dengan suara yang makin mengecil, ia mengulurkan tangan ke depan berusaha untuk meraih sesuatu, lalu Akashi tak sadarkan diri setelahnya.
Tanpa mengetahui apa pun, ia terjatuh di halaman penuh salju itu.