Samurai Oni

Samurai Oni
PENYAMARAN YANG HAMPIR TERBONGKAR



Kizu akan berperan besar nantinya. Karena hanya si rubah saja yang bisa melakukannya, maka Akio akan memanfaatkan hal itu. Terlebih ia tak perlu bersusah payah menyerang bayi merah itu sendirian, dan ia pun bisa fokus pada yokai wanita yang pernah ditemuinya.


Niat awal Akio memang begitu, namun entah mengapa ia merasa kalau mencarinya sekarang akan sia-sia.


“Tuan sudah tidak membutuhkan saya?”


Nekomata kembali menghampirinya setelah ia berusaha untuk menghindar dengan alasan berjaga di benteng. Melihat Akio yang berdiri dengan memikirkan banyak hal yang tidak diketahui, hal itu membuat Nekomata cemas.


“Kau datang lagi?”


“Saya hanya khawatir pada Tuan. Tidak boleh?”


“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Tapi, kalau kau memikirkan soal perkataanku maka camkan ini baik-baik ke dalam kepalamu, "Suatu saat aku akan membunuh kalian semua para yokai. Karena itu aku tidak menyuruh kalian mendekatiku", mengerti?”


“Aku tidak mengerti! Nekomata ini tidak mengerti pemikiranmu.”


“Benar juga. Yokai takkan mengerti apa pun yang manusia katakan karena sejak awal kita berada di alam yang berbeda.”


“Bukan Tuan Akio!”


“Kalian semua bebas membenciku, berusaha membunuhku, silahkan saja. Aku pun takkan ragu melakukan hal itu pada kalian,” ungkap Akio tanpa ragu sedikit saja. Bahkan seluruh perkataannya terdengar sangat keras namun juga tegas. Terkesan marah namun seluruh kalimatnya berupa fakta.


“Yokai memang pada dasarnya tidak ada untuk manusia melainkan membunuh mereka. Apa aku salah?”


“Tidak. Tuan Akio tidak salah.”


“Kalau begitu kenapa kau sekarang mengikutiku?”


“Saya tak ingin Anda mati.”


Akio menoleh ke belakang lantas bertanya, “Apa maksudmu?”


“Tuan Akio berniat melawan yokai wanita itu bukan? Jangan lakukan itu sendirian! Anda akan mati!”


“Tidak akan.”


Akio dengan acuh terhadap peringatan Nekomata. Lagipula keberadaannya saat ini tidak bisa Akio rasakan sedikitpun seolah-olah memang pada awalnya tiada yokai semacam itu.


Ke mana perginya? Tentu Akio sendiri tidak mengetahuinya. Kemudian beralih dari tujuan pertamanya, Akio berniat pergi kembali ke Kastil Hatekayama. Lebih tepatnya ingin memantau situasi yang sedang dihadapi oleh Kizu dengan beberapa samurai di sana.


Oni yang memiliki wujud bayi merah. Entah selama ini ia bersembunyi dalam rahim seorang wanita, ataukah mungkin hanya sekadar menaruh tubuh intinya di dalam bayi, ini masih menjadi pertanyaan terbesarnya.


Satu persatu, masalah yang merepotkan terus bermunculan. Satu masalah belum usai justru muncul hal lain. Di negeri Shinpi-tekina yang tak mengenal waktu, kini sudah mengubah tekad seseorang.


Tetapi, akankah seorang pria itu tetap teguh pada dirinya yang sekarang? Ataukah berubah?


“Tuan Akio memintaku untuk melakukan hal yang sama. Tapi bukankah itu berarti percuma saja? Persalinan ibu itu juga sudah selesai. Eh, tidak.”


Dalam perjalanan, Kizu mulai meragukan Akio. Ia ragu apakah tindakannya saat ini yang terbaik ataukah tidak. Sedang dirinya juga tidak mengerti cara berpikir Akio.


“Ah, sudahlah. Pokoknya, aku akan menyamar sekali lagi! Lalu memperingatkan mereka tentang bayi merahnya!” seru Kizu menyemangati diri sendiri. Lantas bergegas menuju ke kastil.


Bruk!


Begitu hampir sampai, Kizu tidak sengaja menabrak seseorang. Seseorang yang baru saja ditabraknya lantas mengaduh kesakitan.


“Aduh, siapa kau?”


“Oh, iya. Iya. Kau yang tadi?”


“Ya! Benar. Saya datang lagi karena sejak awal sudah merasakan firasat buruk. Mohon dipertimbangkan!”


Kazuki menjawab, “Ya, aku mengerti. Bayi merah itu memang memiliki aura yang aneh. Tapi, kami semua tak bisa melakukan apa pun di saat Nyonya Hima masih menggendongnya.” Lalu menggelengkan kepala.


Tak lama Mizunashi dan Uchigoro serta beberapa samurai yang berada di area luar menghampiri mereka.


“Siapa dia?” Mizunashi bertanya.


“Dia samurai yang sewaktu itu memperingatkan kita mengenai bayinya.”


“Kalau benar begitu. Apakah kau mendengarnya dari Samurai Oni?” Mizunashi langsung menuju pada intinya. Hal itu membuat Kizu tersentak kaget.


Melihat ekspresi terkejut darinya, sudah menjadi bukti bahwa Kizu benar-benar berhubungan dengan Samurai Oni.


“Oh, jadi benar? Sudah kuduga. Aku pikir aneh. Selain tak pernah melihat wajah sepertimu, kau memiliki kekuatan spiritual yang rendah atau bahkan belum menguasainya.” Mizunashi menyeringai.


“Bukan, Tuan. Saya bukan rekan Samurai Oni. Bahkan saya hanya bisa melihatnya dari jauh itupun hanya untuk sesekali saja.”


“Tidak perlu kau sembunyikan. Kau pasti pengikut Samurai Oni bukan?” Uchigoro berbicara dengan nada meninggi, seakan hendak mengamuk pada Kizu.


“Sudah saya katakan bukan. Saya bukanlah apa-apa dibandingkan Samurai Oni. Daripada itu, Tuan, bukankah lebih baik jika melakukan sesuatu pada Nyonya Hima dan bayinya?” ujar Kizu berusaha membelokkan arah pembicaraan.


Kizu ahlinya jika mengaitkan tentang perctrntang. Apa pun topiknya, bisa diubah menggunakan kata-kata, bujuk rayu dan sebagainya. Namun ini adalah kali pertama bagi Kizu untuk tak membuat samurai-samurai ini semakin mencurigai dirinya.


'Kumohon, jangan sampai kau membahas hal-hal lain. Tuan Samurai,' harap Kizu dalam benaknya.


“Tunggu sebentar. Memangnya ada bukti apa kalau benar dia adalah salah satu pengikut Samurai Oni?” Kazuki berbisik tanya pada Uchigoro maupun juga dengan Mizunashi.


“Yah, sejujurnya aku tidak yakin. Tapi jika dilihat dari ekspresinya, bukankah kita hampir menebaknya dengan benar?” jawab Uchigoro.


“Hei, jangan permainkan perasaan sesama kita. Dan bukankah lebih baik memprioritaskan yokai yang ada di dalam kastil?” sahut Kazuki.


“Sudah cukup. Untuk itu bisa kita lakukan, namun sebelumnya aku merasakan adanya aura tak mengenakkan dari pria ini,” tukas Mizunashi, bermaksud menunjuk pada Kizu.


Tatapan Mizunashi dan lainnya sudah mengisyaratkan Kizu akan sesuatu. Bahaya datang dari depan, mengelak pun sulit untuknya. Kizu tak tahu harus berkata apa-apa lagi, karena dalam wujud penyamarannya adalah seorang pria bukan wanita.


'Seharusnya aku menyamar sebagai wanita saja. Dengan begitu, Kazuki akan memberitahukan segala hal padaku!' Begitulah kata isi hatinya berbicara.


“Hei, kau!”


Firasat buruk Kizu juga dapat merasakan bahwa ketiga dari mereka sudah mulai curiga akan keberadaan Kizu.


“Ya?”


“Jika kau benar-benar samurai, maka kau sudah tahu bahwa kami sedang mencari Samurai Oni. Seharusnya kau beritahukan keberadaan dia pada kami, tapi kau malah berbicara mengenai bayi yang bahkan belum kau temui.”


Seolah petir datang menyambar belakang kepalanya, Kizu syok seketika. Ia tak bisa berbicara apa-apa lagi dan hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak serta mulut menganga.


“Tunggu sebentar! Kalian ini 'kan akan segera membunuhnya begitu Samurai Oni ditemukan. Dan jika saya menjadi pengikut Samurai Oni, memangnya ada untungnya? Yang ada saya buntung.” Kizu membalas sebisanya.


“Tidak. Kami tidak ada niatan seperti itu. Katakan, kau siapa sebenarnya?”


Mereka menyangkal, dan semakin membuat Kizu kebingungan.