Samurai Oni

Samurai Oni
FAKTA



Ketika pikiran berkabut dan sulit mengendalikannya hingga membuat kenangan asing itu kembali muncul lagi, Akio merasa payah. Payah sekali dalam menangani hal sepela itu. Berapa kali pun ia membenturkan dinding takkan ada gunanya dan justru semakin membuatnya sakit serta berdarah.


Namun akan tetapi, suara dari para pengikutnya. Akashi, Nekomata, Kizu dan Yasha membuatnya kembali sadar, ia sepenuhnya terbangun. Seolah kabut itu telah menghilang, dan berbagai emosi negatif yang nyaris melahap jiwanya kini sudah lenyap tak bersisa.


Hanya karena mendengar suara mereka yang menderu kencang, membuat Akio kembali membuka kedua matanya. Lalu tanpa sadar air mata mengalir keluar.


“Cih!” Secara reflek ia mengatakannya sembari mengusap kedua mata yang berair itu.


“Tuan Akio, tidak apa-apa?” Dari ribuan pertanyaan, hanya inilah yang terlintas dalam benak mereka untuk pertama kalinya.


“Ya.” Kemudian Akio menjawabnya dengan tanpa menatap mata mereka. Bukan karena takut melainkan rasa cemas masih melekat dalam dirinya.


Kecemasan karena berpikir ini semua ilusi.


“Syukurlah!” seru mereka berempat secara bersamaan.


Betapa mengejutkannya bagi Akio, ia tiba-tiba saja dipeluk oleh mereka. Pelukan mereka sangat hangat dan semakin membuat hati Akio pedih entah mengapa. Ras takut maupun cemas pun seolah sirna, seolah semua yang dipikirkannya buyar dalam sekejap.


“A-apa yang kalian semua lakukan?” Suara yang bergetar, gugup itu bertanya.


Yasha menjawab, “Manusia akan saling berpelukan baik itu kawan maupun kekasih lalu keluarga.” Secara masuk akal.


“Tuan Akio terasa dingin, mungkin ini akan menghangatkanmu,” ucap Kizu.


“Kucing ini juga berpikir begitu. Bulu-bulu ini pasti hangat juga, Tuan.” Nekomata terduduk di pangkuannya.


“Tuan Akio, aku sangat sedih. Aku tiba-tiba saja berpikir bagaimana jika Tuan Akio mati? Setelah dipikirkan lagi, aku jadi sangat bodoh.” Akashi yang paling merasakan seluruh perasaan tuannya, ia menangis kebodohannya sendiri untuk kali pertama ini.


Kehangatan, teman, keluarga, pengikut, apa pun ungkapan di antara mereka. Namun nyatanya hubungan di antara mereka mulai terhubung dengan tanpa adanya darah melainkan ikatan kuat dari keinginan mereka masing-masing terhadap Akio.


Akio pun, tersadar. Dirinya yang menghindar dari yang namanya pertemanan. Memang sempat ia menjadi buta, selalu ceroboh dan berdarah panas tanpa memperdulikan sekitar maupun diri sendiri. Namun sekarang, sudah berubah.


***


Wilayah Kuran. Dekat dengan danau air tawar. Rumah yang baru saja dibangun meski tidak seberapa itu, tengah dihuni oleh seorang kakek.


“Kakek! Kami pulang!”


Kakek tengu yang melihat mereka bersama di depan pintu lantas menyahutnya, “Ya. Tuh 'kan sudah kubilang dia akan pulang.”


“Bukan! Kami yang menjemputnya!” sahut Akashi.


“Ya, ya. Lalu, ada apa dengan kalian semua?”


Mata kakek mungkin sudah melemah namun dirinya tetap tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada mereka. Termasuk juga dengan Akio.


“Aku tidak apa-apa.”


Akio yang sebelumnya dibantu untuk berjalan, kini ia melangkah masuk sendiri dan secara tak sengaja ia menjatuhkan topeng oni dari balik pakaiannya. Kemudian dirinya pun ikut terjatuh, dalam posisi tengkurap dan dalam sekejap ia tertidur.


“Tuan Akio!”


“Tenanglah. Dia hanya tertidur untuk sementara waktu. Sepertinya pikiran dan tenaganya terkuras habis. Dia juga terlihat babak belur. Baru pertama kali ini aku menemuinya dalam keadaan terluka.”


Pedang Retsuji dan Onryou masih dalam keadaan utuh. Tak terlihat adanya goresan ataupun sesuatu yang mengotorinya. Sementara penggunanya tak terlihat sehat.


“Kakek, Tuan Akio benar-benar terlibat dengan yokai wanita itu.”


Mendengar hal itu dari Kizu, agaknya kakek sangat terkejut.


Semua mata tertuju pada Akashi seorang. Sedangkan Akashi sendiri bingung harus mengatakan apa. Ia kemudian diam dengan menundukkan kepala, sembari mengingat-ngingat apa saja yang telah ia dengar dan lihat.


“Akashi, kau pasti tahu sesuatu 'kan?”


“Ya. Benar, wanita itu ada. Dia sempat muncul di depan kami berdua. Dan sebelum Tuan Akio sadar, aku sempat mendengar percakapan di antara mereka.”


“Mereka?”


“Awalnya Bama terserang badai salju, aku menemukan Tuan Akio dalam keadaan dirantai dan tidak sedang sadarkan diri. Lalu Wanita Salju berbicara dengannya.”


“Apa? Kau mendengar mereka berbicara tapi kau tidak lakukan apa pun?”


“Bagaimana bisa. Karena Wanita Salju itu sempat membekukan tubuh bagian dalam dan luarku. Tapi entah kenapa aku masih bisa selamat, dan berkat itu aku bisa mendengar mereka walau hanya sedikit.”


“Lalu? Apa yang kau dengar?” tanya Kizu.


“Karena aku memiliki wujud persis seperti manusia, maka Dewa tidak bisa membunuhnya. Itu yang aku dengar,” ungkap Akashi.


Situasi jadi hening setelah mendengar perkataan dari Akashi. Mereka semua bingung apa yang harus mereka katakan ataupun tanggapi mengenai yang dibicarakan olehnya.


“Kata-kata itu terdengar rumit karena kau mendengarnya sedikit. Tapi Dewa?”


“Ya. Aku tidak salah mendengar. Dewa yang mereka sebut-sebut itu Tuan Akio.”


Tidak hanya kakek saja, semua yang ada di sana sangat terkejut mendengar fakta lain yang terungkap melalui mulut Akashi. Kizu yang merasa Akashi sedang bercanda lantas berteriak padanya.


“Apa kau bercanda?! Jangan berbicara yang aneh-aneh!”


“Aku tidak bercanda. Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri di saat tubuhku perlahan memulih pada waktu itu,” ujar Akashi seraya menggelengkan kepala.


Tetapi setiap yang didengar belum cukup pasti bahwa itu adalah fakta atau kenyataannya. Kizu, Nekomata lalu Yasha dan juga kakek Naruhaya bertopeng tengu, mereka memiliki pemikiran yang sama yakni; ini masih belum sepenuhnya.


“Yokai wanita itu tak terlihat memusuhi Tuan Akio. Tapi aku yakin dia akan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan di masa lalu.”


“Masa lalu?”


“Iya. Tuan Akio sepertinya orang di masa lalu.”


“Bukan.” Kakek itu menyangkal. Lantas semua terkejut dan kemudian menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Bukan orang di masa lalu melainkan orang yang terlahir kembali di era sekarang ini,” lanjutnya dengan mengungkapkan sesuatu.


“Kakek, sebenarnya apa yang kau sembunyikan?”


“Tidak ada yang perlu disembunyikan, tapi aku tidak bisa mengatakan banyak hal selain orangnya sendiri yang mengatakannya,” ujar kakek.


Kakek bukannya menolak cerita, namun akan tetapi memang tidak begitu mengetahui kejelasannya mengenai Akio sendiri.


Bisa dikatakan terhubung oleh takdir di masa lalu. Reinkarnasi dari orang di masa lalu. Sebuah awal mula lahirnya para yokai terkutuk serta rahasia berdirinya Shinpi-tekina. Semua itu perlahan-lahan akan terhubung dalam satu titik karena seseorang nantinya.


**


Keesokan pagi harinya. Sehari-hari telah mereka jalani seperti biasa. Musuh, kawan, atau orang-orang yang netral jarang sekali ada. Kebiasaan yang sering dilakukan, bertarung dan berpikir pun sudah menjadi makanan sehari-hari.


Termasuk Samurai Oni—Akio.