
Hari pertempuran bak neraka, belum sepenuhnya berakhir. Banyak dari mereka para yokai masih berkeliaran di sekitar Kuran. Mereka menunggu penghalang di mana semua penduduk dikumpulkan melemah, untuk memakan mereka semua.
Yamamoto Kaeda, mempertahankan kesadarannya demi menekan penghalang jauh lebih kuat. Hingga tak tidur selama beberapa hari. Begitu juga dengan beberapa samurai tersisa.
Lalu, di samping itu, Akio sedang mencari seseorang.
“Kakek?”
Ia melihat kakeknya tengah bersama seorang pria. Rambutnya yang hitam panjang serta pakaiannya yang compang-camping, mengingatkannya akan seseorang.
“Akashi?”
Dari belakang saja sudah tahu bahwa pria yang sedang bersama kakeknya adalah Akashi. Lega sudah hati Akio yang merasakan firasat buruk, lekas ia menghampiri mereka.
Akan tetapi, baru selangkah ia menuju pada mereka. Akashi menyerang kakek dengan cakar panjang miliknya sendiri. Hingga 3 dari 5 cakarnya menembus tubuh, kakek pun terbaring dengan bersimbah darah tak berdaya.
“AKASHI!!!!”
Melihatnya saja membuat ia marah. Entah apa yang sedang Akashi lakukan, namun Akio tidak berniat mendengarkan. Ketika melihat Akashi membunuh kakeknya, maka ia pun tak ragu lagi untuk menarik pedang.
“Akashi!! Apa yang kau lakukan?!”
Antara bilah tajam dan cakar saling beradu, mereka berdua saling bertukar tatap dengan tatapan yang saling berlawanan.
“Tuan Akio?”
“Akashi! Apa kau sejak awal merencanakan ini!?”
Sembari ia berteriak dalam amarah meluap-luap, Akio melayangkan serangan langsung tanpa ampun. Ia memotong cakar dan menyayat tubuh bagian depannya. Lukanya yang begitu dalam diakibatkan oleh pedang Retsuji.
Akashi yang hanya mahluk setengah, maka dari itulah ia terluka meski hanya setengah tubuhnya saja.
“Tuan ...,”
Sorot mata Akashi bukanlah seperti yokai liar, ia hanya menatap sendu ketika tahu sang tuan menatapnya dengan kebencian yang mendalam. Sorot mata dari balik topeng, terlihat sangat gelap dan menakutkan.
Tidak hanya sekali, Akio melancarkan serangan untuk yang kedua kalinya. Namun Akashi tak pernah sekali melawan sementara Akio terus menyerang menggunakan pedang Retsuji.
Retsuji mulai beresonansi dengan setengah jiwa Akio, cahaya kebiruan setengah menyelimuti bagian tubuh. Adapun cahaya kehidupan yang nampak meredup, seolah serangan demi serangan yang hanya ditujukan pada Akashi telah membuat Akio terluka sendiri. Semacam pengorbanan.
“Aku percaya padamu karena kau memiliki hati manusia. Tapi ini yang kau lakukan sebagai balasannya?!”
Tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam tubuh kakek itu, Naruhaya yang dikenal sebagai kakek Tengu.
“Akashi! Jawab aku! Kenapa kau melakukannya?! Apa kau adalah Prajurit Neraka yang sebenarnya?!”
Tidak peduli seberapa keras ia menyerang, darah terus mengalir dari setiap luka pada tubuhnya. Itulah yang terjadi Akio sementara Akashi, tak peduli seberapa keras ia terus-menerus diserang, setiap luka yang ada selalu pulih, beregenerasi dengan sangat cepat hingga membuatnya terlihat seperti abadi.
“Jawab aku Akashi!”
“Ya! Aku melakukannya, Tuan Akio?! Kau lah yang akan menghancurkan para yokai!”
“Kenapa?!”
“Karena Tuan adalah reinkarnasi orang itu ...!”
Sekali, dua kali, berkali-kali ia terus mengoyak tubuh bahkan hingga tubuh Akashi terbelah menjadi dua. Regenerasinya terus berjalan, lebih cepat dan seakan seimbang sejak awal dengan serangan Retsuji.
“Begitu. Kalau begitu, kau harus menerima konsekuensinya!”
Topeng Oni terbagi menjadi dua, dan jatuh ke tanah. Selain cahaya kebiruan, terdapat kegelapan yang beresonansi dengan setengah jiwa miliknya yang lain dari pedang Onryou.
“Pada akhirnya kau pun sama saja. Tidak lebih dari yokai liar yang hanya mementingkan diri sendiri!”
Ketika dua pedang itu tercabut secara bersamaan. Dua pedang yang saling berlawanan telah bersejajar, maka saat itulah terjadi saling tarik-menarik kekuatan satu sama lain. Kekuatan baik dan jahat takkan semudah itu bersatu, dan jika pedang Onryou lebih unggul karena emosi kebencian yang dimiliki Akio terjadi seperti saat ini ...
“Akashi! Dengan kedua tangan, pedang lalu janji, kau akan mati di tanganku!”
SLASHH!!
Akio mengayunkan kedua pedang secara bersamaan, dalam posisi silang tangan, ia terus mengayunkannya hingga membuat tubuh Akashi tercerai berai.
Cahaya biru dan hitam saling tarik-menarik hingga saat ini. Dan serangan yang mengarah ke jangkauan luas itupun dapat membinasakan yokai di sekitar mereka dalam sekejap. Bentuk menyerupai spiral, angin berpusat pada titik tengah terus mengembangkan kekuatan dari masing-masing pedang.
Tak satupun samurai berani mendekati Akio saat itu. Mereka semua bertekuk lutut dengan mata terbelalak terkejut.
Akio menggunakan kekuatan penuhnya, hingga langit pun menderu ketakutan. Ketika tubuh Akashi tak lagi beregenerasi, saat itulah Akio berhenti.
Napas tersengal-sengal, dengan kedua pedang dan tangan yang berlumur darah, ia berdiri dengan tegak lalu menatap wajah Akashi dari bola matanya yang putih.
Dalam beberapa saat hempasan debu mulai mereda, menampakkan pijakan tanah yang turun ke bawah berbentuk seperti kawah gunung yang besar. Bercak darah dan bekas pertarungan yang gila, bahkan tanah yang keras di sana pun dibuat rusak dengan bekas sayatan kedua pedang.
Tetapi, apa yang terjadi setelahnya, tubuh Akio mulai terkena dampak. Sekujur tubuhnya ternoda oleh bercak-bercak hitam, bahkan matanya yang putih sedikitnya terkena bercak darah serta bercak hitam itu.
Sebagian tubuhnya tak terlihat baik-baik saja, di samping ada luka fatal, ia terkena kutukan dari pedang Onryou.
Adapun kedua pedang bila digenggam oleh seseorang, akan berpengaruh pada setiap emosi penggunanya. Dan inilah yang terjadi pada Akio, saat memegang kedua pedang namun emosinya tak stabil dan justru lebih terarah pada kebencian, maka Onryou akan menguat dan mengutuknya sementara Retsuji melemah.
Bruk!
Kutukan Onryou, pedang dari ribuan roh pendendam yokai mulai menggerogoti tubuh serta jiwanya. Sekalipun ia melepas pedang itupun sudah sangat terlambat. Sedikit demi sedikit rasa sakit menjalar ibarat serangga parasit tengah memakan daging tubuhnya dari bagian dalam.
“ARGHHHHHH!!!!!”
Jeritannya membuat semua orang-orang di sana mulai penasaran apa yang terjadi. Hari ketika pertempuran berlanjut, kini sudah berakhir saat awan tebal tersingkap dan menampakkan langit yang cerah.
Hanya saja tidak dengan Akio.
“Kakek ...,”
Dadanya mulai terasa sesak, jantungnya berdetak lebih cepat dan membuatnya semakin terasa sakit. Terlebih, ia melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat saat ini.
“Apa ini? Ingatan? Lagi? Siapa?”
Ia bertanya-tanya milik siapa ingatan itu, namun ketika ia menyaksikan ingatan seseorang tersebut, ia langsung tersadar.
“Akashi ...,”
Ingatan Akashi merasuk ke dalam kepalanya. Saat kakek tengu sudah terbaring bersimbah darah lalu seorang wanita merasuki tubuhnya, Akashi berteriak cukup keras, ingatan itu kemudian berakhir saat bertemu dengan Akio, dirinya sendiri.
“Ini ...sebenarnya apa yang terjadi?”
Emosi negatif perlahan memudar namun kutukan tak kunjung melemah. Dan satu pertanyaan terbesar pun masih belum terjawab.