
Pagi hari yang begitu cerah di wilayah Kuran, sudah semestinya karena cuaca di sini takkan berubah. Akio kembali terbangun dan mengenakan topeng oni. Ketika ia hendak melangkah keluar, sang kakek yang berada di dalam membuatnya berhenti melangkah.
“Tunggu sebentar, Akio.”
“Ada apa?”
“Duduklah. Kau belum makan bukan? Jika yokai, maka salah satu anak buahmu sudah menargetkannya.”
Sekepal nasi dan lauk ikan garing. Makanan yang jarang sekali ia santap, membuat perutnya bergelora tanpa henti. Akio kemudian memutuskan untuk mengikuti permintaan sang kakek.
Ia duduk di hadapannya lalu melepas topeng dan kemudian menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Kakek hanya memperhatikan dirinya saja hingga makanan tersebut pun ludes tak tersisa.
“Lalu?”
“Apa terjadi sesuatu?”
“Aku tidak mengerti,” jawabnya sembari mengenakan topeng lagi.
“Ceritakan saja sebisamu. Aku yakin itu membuatmu cemas bukan? Setidaknya berterima kasihlah pada para pengikutmu itu.”
“Hm, begitu? Aku merasa itu tidak diperlukan. Tapi baiklah.”
Tanpa ragu Akio menceritakan seluruhnya. Dimulai ia menghabisi Oni dari bayi merah yang dilahirkan oleh Nyonya Hima Hatekayama lalu ditangkap dan dibawa pergi oleh yokai lainnya serta ingatan asing tak jelas memasuki pikirannya.
“Semua yang barusan aku katakan itu benar. Aku tidak berbohong padamu.”
“Ya, aku tahu. Jadi kau berpikir bahwa ingatan itu bukan milikmu melainkan seseorang lainnya?”
“Ya, jelas saja. Meski sedikit mirip dengan mimpi yang pernah aku mimpikan beberapa hari lalu, tapi tetap saja itu bukanlah aku.”
“Mungkin sekarang kau menganggapnya begitu. Berhati-hatilah untuk ke depannya, perhatikan langkah serta suara yang mendukungmu, Akio.”
“Tiba-tiba kau mengatakan hal yang aneh saja. Aku sedang tidak mau menerima ceramah darimu tahu,” ketus Akio, mendengus kesal seraya melipat kedua lengannya ke depan dada.
“Terserah saja. Tapi aku peringatkan untuk mengingat semua perkataanku tadi. Mengerti? Ini perintah dari gurumu,” tegas kakek.
Keseriusannya membuat Akio tak bisa berkata apa-apa selain menjawab "Ya" sesuai yang diinginkan oleh kakek tengu.
Setelah beberapa saat kemudian, Akio teringat akan pedang Retsuji. Ia menyodorkan pedang itu pada kakek.
Lantas bertanya, “Kakek, aku tidak bisa menebas Oni itu dengan Retsuji ini. Apa yang harus aku lakukan?”
“Maksudmu wanita itu?”
“Ya. Siapa lagi? Dia hanya bisa kuserang menggunakan Onryou. Bukan Retsuji.”
“Retsuji diperuntukan untuk mengalahkan yokai yang jauh lebih kuat. Seharusnya begitu. Tapi karena keberadaan Onryou, membuat Retsuji melemah seakan sedang menghisap energinya.”
“Seakan? Jangan-jangan benar-benar menghisap energi?”
“Tidak. Terlihatnya seperti itu tapi tidak, tenang saja. Retsuji bisa kau gunakan lagi asalkan kau mempercayai kekuatannya. Mengerahkan segala yang kau punya dan percaya.”
“Kakek! Aku sangat percaya dengan Retsuji ini.”
“Tidak. Kau tidak percaya, buktinya kau masih menggenggam Onryou itu.”
Benar apa katanya. Akio bergantung pada kekuatan yang lebih kuat dan itu ada dalam pedang Onryou. Kekuatan yang memanfaatkan para yokai terkutuk, hampir terhitung ribuan di sana.
“Ingat ini baik-baik. Selama ada Onryou, akal sehatmu akan selalu dipermainkan olehnya dan itu membuat Retsuji yang pada awalnya memang terhubung dengan kekuatanmu menjadi lemah dan tak berdaya,” ungkap kakek.
Onryou yang melahap jiwanya sedikit demi sedikit, lalu Retsuji yang seharusnya terbilang sangat kuat kini perlahan melemah karena keadaan pemegangnya.
“Kalau benar begitu. Lalu kenapa kakek menempa pedang ini? Bukankah kau bilang akan menyucikannya untuk mengganti pedang Retsuji?” sahut Akio.
“Awalnya begitu. Tapi pedangmu yang dihuni ribuan roh pendendam terlalu banyak dan kuat. Itu membuatku kesusahan. Dan Retsuji berada di genggamanmu sekarang bukan?”
“Itu benar. Tapi ...aku tidak berpikir bahwa Retsuji akan mau bila dipegang olehku.”
“Kalau aku bilang Retsuji itu ada karena kau yang menciptakannya bagaimana?”
“Apa?”
“Dengan begitu, cukup masuk akal bila Retsuji berada dalam genggaman sang pemilik aslinya. Benar bukan?” lanjut si kakek.
“Eh?” Akio benar-benar tak mengerti. Ia terlalu sulit memahami semua perkataan kakek hari ini.
Kedua pedangnya memang memiliki energi yang saling berkebalikan ibarat yin dan yang. Namun akan tetapi, kedua pedang itu memilih Akio sebagai pemegang handalnya. Meski begitu nyatanya itu tidak sepenuhnya benar.
Retsuji ingin memurnikan segala kejahatan bahkan juga akan mengendalikan tubuh Akio. Sementara Onryou sama namanya pedang itu memiliki roh pendendam yang cukup kuat dan yang paling parah adalah pedang itu akan melahap jiwa serta kekuatannya sedikit demi sedikit tanpa disadari olehnya.
Kakek tengu berusaha untuk mengatakan sesuatu dibalik semua pernyataannya mengenai kedua pedang berkebalikan tersebut.
“Aku tidak mengerti sama sekali apa maksudmu mengatakan itu. Kalau sejak awal kau berencana untuk membunuhku, maka katakan saja!”
“Kalau benar begitu, aku tidak akan sungkan menggunakan tangan berkeriput ini untuk memukulmu sampai ke alam baka,” sahutnya setengah bercanda dengan mengarahkan kepalan tinju pada Akio.
“Lalu apa?”
“Aku sekarang tidak bisa berkata apa pun sebelum kau mengingat semuanya. Maksudku apa yang kau impikan dan apa yang terasa asing itu sebenarnya adalah semua milikmu,” tukasnya tanpa sedikit berbohong sepatah kata pun.
Ia kembali melanjutkan, “Hal yang bisa aku katakan, Retsuji adalah milikmu dari awal sampai akhir. Kekuatan yang paling besar di dalamnya pun adalah milikmu sejak awal.”
“Makanya itu kenapa kau memutuskan untuk menempa ulang pedang milikku dulu dan sekarang menjadi pedang roh pendendam?”
“Untuk melatihmu. Tidak, aku mengujimu.”
Kedua matanya di balik topeng membulat luar biasa. Tak biasanya Akio mendapat kejutan sebesar ini. Benar-benar tak disangka. Fakta Retsuji lalu ingatan yang dikiranya milik orang lain.
“Menguji, apakah kau bisa mengendalikan kejahatan dan kebaikanmu secara bersamaan? Ini diperlukan untuk menempa ulang kekuatan sejatimu dan kepribadianmu sendiri.”
Ketika mengatakan kalimat terakhir itu, kakek menundukkan kepalanya. Terlihat ia masih mencoba untuk menyembunyikan sesuatu, Akio yang sedari tadi menaruh rasa curiga lantas bertanya.
“Apa aku lahir karena takdir itu?”
“Mungkin iya atau mungkin tidak. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah mengenai dirimu, Akio.”
Semakin ia membenci takdir, semakin erat pula takdir yang membelenggunya untuk terus membasmi para yokai terkutuk. Sungguh ironi.
“Tapi, Ayahmu, Kaeda. Mencoba untuk membunuhmu karena tidak ingin membuatmu mengemban takdir sebagai pahlawan negeri.”
“Ujung-ujungnya aku jadi begini.”
“Sebagai Ayah, Kaeda tidak mau putranya sendiri mengembang takdir tak berujung ini.”
Meski tidak sepenuhnya mengerti, namun Akio memahami apa yang coba Kaeda—Ayahnya lalu Naruhaya—kakeknya lakukan kepadanya.
“Jadi, apa kau mau lanjut bertarung atau tidak? Ingat, aku mengujimu Akio.”