
“Mulai sekarang kau dilarang makan apa pun selama satu pekan. Lalu kau diusir dari kediaman kakakmu ini!”
Musim panas telah berakhir.
“Kita benar-benar diusir nih? Padahal tempat itu cocok sebagai tempat persembunyian kita.”
“Ya, benar.”
“Tapi mau bagaimana lagi? Kakek itu yang menjadi penyebabnya.”
Keluh kesah dari keempat yokai terus terdengar di kedua telinga Akio. Ya, ini karena apa yang dilakukan oleh Akio menjadikan dirinya bersama mereka harus mengalami hal seperti ini.
Kejadian di Benteng Tenggara Honjou, mengakibatkan Akio diusir dan Akio dilarang untuk makan apa pun selama satu pekan.
“Yang salah itu si kakek.”
“Tuan Akio hanya bertindak sewajarnya. Jadi kenapa diusir? Ck, kakek itu sangat pelit.”
Ketiga yokai kecuali Yasha, mereka sama sekali tak dewasa. Selalu saja membenarkan sikap Akio setiap saat. Meski Yasha tergolong dewasa namun nampaknya ia lebih menyukai Akio yang bertindak serampangan.
“Ya sudahlah.”
Pagi setelah beberapa menit matahari terbit. Akio dkk pergi ke puncak gunung, dirinya ingin melihat puing-puing dari bagian rumah kumuh tersebut. Setidaknya berharap akan ada yang tersisa.
“Bau gosong.”
Namun nampaknya tidak ada selain bekas puing yang sudah terbakar. Tanah gunung pun menjadi tandus. Walau hanya sedikit bagian, tapi tetap saja gunung ini terkena imbasnya.
“Rumah kita benar-benar hancur. Penduduk negeri ini benar-benar tak punya perasaan.”
“Jangan berkata begitu Akashi. Mau bagaimanapun mereka semua sangat membenci Tuan Akio karena apa yang mereka dengar.”
“Maksudmu apa berkata begitu?”
“Maksud Kizu adalah, semua orang tahu kalau Tuan Akio yang menyebabkan insiden buruk saat Gion Matsuri,” jelas Nekomata.
“Gion?”
“Itu festival, agar dapat mengusir wabah penyakit,” sahut Yasha.
“Oh, aku bahkan lupa kalau mereka memiliki acara tidak penting seperti itu,” tukas Akashi.
“Diamlah. Kau tidak akan mengerti apa yang manusia sukai.”
“Apa katamu?! Aku juga manusia!”
“Aku tidak sedang membicarakan wujudmu!”
“Hah?!”
Seperti biasa Kizu dan Akashi selalu bertengkar setiap bertemu, setiap detik dan tak pernah berhenti. Yasha dan juga Nekomata berusaha untuk melerai mereka namun apa daya mereka ikut kena hajar di tempat.
DUK! DUK!
Pada akhirnya, Akashi dan Kizu mendapat satu pukulan di wajah mereka. Dalam batin Akio ingin sekali memaki-maki mereka semua, namun dirinya takkan mungkin melakukan hal itu atau ia akan kena akibatnya oleh kakek tengu.
“Tuan Akio, apa yang Anda lakukan di sini?” Yasha bertanya.
"Hanya melihat rumah ini saja." Itu yang tertulis di atas tanah.
Akio sekarang tidak punya rumah, dan tak mungkin ia menginap di rumah seseorang. Ia juga perlu uang untuk membiaya hidup mandiri sedang dirinya diburon oleh banyak orang. Sungguh nasib malang terus mengikuti Akio.
Segera ia berbalik badan, dan pergi dari sana. Mereka pula mengikuti Akio, turun ke kaki gunung. Perjalanan yang cukup jauh hanya untuk turun saja, lalu sekarang Akio berniat menaiki perbukitan yang berada di depan gunung. Perbukitan itu menjulang cukup tinggi, dan di atas sana terdapat sebuah kuil.
“Tuan Akio?”
“Tuan Akio ingin melakukan apa hari ini? Tidak biasanya dia tidak jalan-jalan,” ujar Akashi.
“Bukannya itu kau yang suka jalan-jalan?” sahut Kizu.
Sangat curam untuk didaki, termasuk puluhan anak tangga di sana. Akashi, Kizu, Nekomata dan Yasha masih mengekori Akio hingga saat ini. Akio yang merasa risih lantas memberikan pesan pada mereka.
“Apa arti tulisannya?” tanya Akashi.
“Sepertinya Tuan Akio menyuruh kita untuk tidak mengikutinya lagi.”
“Apa? Tidak! Kami akan ikut bersama Tuan Akio! Suka maupun duka, hujan ataupun badai, tetap kami ikuti!” seru Kizu bersemangat.
Akio mendesah lelah, ia lantas mengabaikan mereka dan bergegas untuk naik ke atas. Setelah beberapa anak tangga, tiba-tiba saja Akashi berlari mendahului Akio.
“Hei, bocah bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Seperti biasa Kizu selalu berteriak padanya.
“Aku hanya ...ARGH!!!” Sesuatu semacam aliran listrik menyambar tubuh Akashi, ia jatuh terjungkal ke belakang setelah tak sadarkan diri usai sesuatu terjadi padanya.
“Akashi!”
“Sepertinya ada sesuatu di sini.”
Yang lain menjadi panik karena Akashi tersengat listrik yang tak terlihat. Nampak ada secercah cahaya yang samar-samar terlihat. Akio mencoba untuk mencari sumber sengatan itu berasal, lantas ia menyingkir dari anak tangga tersebut.
Dirinya berjalan di tanah bukit yang miring, menuju ke salah satu pohon dan mencabut selembar kertas di sana.
Srek!
“Penghalang?”
“Hm, kita menuju ke tempat yang suci. Apakah tidak masalah?”
Akio menggelengkan kepala, sebagai jawaban untuk Yasha bahwa yang ia lakukan bukanlah suatu masalah.
“Hei, Akashi! Bangunlah. Jangan lemah hanya karena kertas mantra itu! Bodoh!”
Selembar kertas tersebut nyatanya adalah sebuah kertas mantra yang mana yokai takkan bisa masuk ke area ini. Terlebih ada semacam penghalang juga, namun karena kertas mantra itu baru saja dicabut oleh Akio, maka mereka takkan dihalangi lagi.
“Sadarlah, bodoh!”
Plak!
Usai wajah Akashi ditampar keras oleh Kizu, Akashi sontak terbangun dengan terkejut. Ia masih syok, hingga menunggu beberapa detik setelah ia akhirnya kembali pulih.
“Tuan Akio! Tunggu aku!” Setelah membuka kedua matanya lebar-lebar, Akashi pun langsung mengejar Akio yang sudah jauh darinya.
“Tuan Akio sudah melarang kita masuk. Lalu barusan, Akashi hampir dilenyapkan oleh kertas mantra itu. Apa kalian yakin tidak masalah jika kita tetap mengikutinya?” tanya Yasha, sejujurnya dari awal ia sudah merasakan firasat tidak enak.
Yasha mengungkapkan keraguannya untuk lebih naik ke atas, dan Nekomata lalu Kizu juga tampaknya sepakat.
“Ya, itu benar. Tuan Akio melarang kita untuk masuk. Jadi apa salahnya jika kita menunggu di bawah saja? Lagi pula di sini sepi.”
“Untuk kali ini aku sepakat pada mereka berdua.”
“Hm, benar.”
“Ah, aku ada seseorang di sana. Sepertinya dia terlihat marah dengan Tuan Akio?” pikir Akashi seraya menunjuk ke depan atasnya.
Reflek ketiga yokai tersebut menoleh ke arah yang telah ditunjuk oleh Akashi. Tak hanya mereka, Akashi pun segera berlari menghampiri Akio.
Begitu Akio mengalami bahaya (mereka pikir), mereka tentunya akan langsung lupa apa niat mereka sebelumnya.
“Tuan Akio! Tetaplah berada di dekatku!” Akashi berdiri di depan Akio.
Kizu dan Nekomata berada di sebelahnya, lalu Yasha berada di belakang. Mereka seolah tengah mengepung Akio, namun di sisi lain mereka berjaga-jaga pada sosok pria yang berpakaian sedikit besar dan putih, pakaian pendeta.
“Siapa kau?!” Akashi bertanya dengan suara meninggi.
Pendeta pria itu juga membawa beberapa kertas mantra di tangan kirinya dan sebuah tongkat suci di tangan kanannya. Pria itu sudah berjaga-jaga, dan bersiap untuk menyerang mereka.
“Jangan pikir kalian bisa menerobos penghalangku seenaknya. Boleh saja kalian melakukan itu, tapi sekarang adalah akhirnya!” seru pendeta tersebut.
Sedang Akio berbalik badan agar pendeta tersebut tak melihatnya. Dengan topeng oni itu akan membuat Akio mudah dikenali, begitupun jika dilepas. Karena tidak bisa melakukan apa pun, maka Akio menyerahkan hal ini pada mereka.