
Ironisnya firasat Yasha adalah kenyataan. Sesuatu terjadi di kastil Hatekayama yang membuat semua orang heboh. Tak terkecuali dengan para samurai yang saat ini telah berada dalam ruangan Nyonya Hima.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Nyonya Hima ketakutan, ia mendekap bayi itu lebih erat sebagaimana ia sangat ketakutan, serta takut bila anaknya akan direbut.
Nyonya Hima perlahan bergerak mundur dengan tubuh gemetaran. Ia masih bersembunyi di balik tirai, berupaya menjauhkan sang batin dari genggaman orang lain termasuk yokai wanita tersebut.
“Ibu, mari kita pergi.” Higo membujuk sang Ibu agar tak terlibat lebih jauh.
“Tidak. Tetaplah di sini. Hei, kau!” Dengan sombongnya Haru menunjuk Samurai Oni. “Bunuh bayi merah ini! Ada yang tak beres dengannya. Kumohon, cepatlah!” Berbeda dengan Higo, ia justru lebih memilih agar secepatnya bayi itu dibunuh.
“Tuan Haru merasakannya?” Mizunashi angkat bicara. Kembali ia bertanya, “Mohon keluarlah dari ruangan ini.”
“Itu tidak bisa—!”
Secepat angin berembus, langit kebiruan berubah menjadi langit gelap tanpa adanya rembulan maupun bintang satu pun. Tiada peringatan, lantas fenomena tak wajar ini berlangsung usai para samurai dan lainnya datang ke ruangan.
Kizu yang sejak awal sudah melarikan diri, dirinya tidak begitu mengerti apa yang telah terjadi karena langit yang tiba-tiba menggelap ini.
“Kalian semua yang berada dalam perangkapku, takkan mungkin bisa keluar dari sana sebelum waktunya!” Pria bermata empat, membuka semua matanya lebar-lebar dan menyaksikan apa yang terjadi pada mereka semua.
Kabut asap telah memasuki ruangan tersebut. Tidak ada waktu bagi Nyonya Hima maupun bayi beserta para putranya tuk melarikan diri. Mereka semua berada dalam kurungan milik pria tersebut.
“Dunia Ilusi!” ungkapnya, dan kemudian mengubah apa yang dilihat oleh mereka semua.
Para samurai termasuk 3 klan pendiri negeri yang ada dibuat terpisah dari Nyonya Hima bersama bayi merahnya serta Samurai Oni pula berada di satu tempat yang sama bersama bayi merah itu. Tak terkecuali dengan yokai wanita, yang sejak awal telah merencanakan hal ini.
Dari yang ruangan cukup luas, pria bermata empat mengubah medan pertempuran berada di lapangan luas. Persis seperti saat Akio berada di dalam pedang Onryou.
“Hentikan ...hentikan ...jangan sakiti anakku. Hentikan ...hentikan ...,” gumam Nyonya Hima sembari memeluk sang bayi merah. Ia menangis tersedu-sedu lantas ketakutan karena tidak mampu berbuat apa-apa sekarang.
“Ibu, kita berada di mana?”
Para putranya pun berada di sana. Dan tak terlihat satupun samurai di sekitarnya. Sama sekali.
“Kau tidak mau para samurai itu tahu keberadaanmu bukan?” tanya wanita itu.
Akio hanya diam sembari mengenggam gagang pedang yang belum sempat ia keluarkan dari sarung.
“Kau tidak mau mengatakannya padaku? Benarkah?”
“Diamlah.” Akio sudah terbiasa tidak berbicara sepatah kata pun kecuali diizinkan. Tapi kini ia telah melanggarnya meski bukan pertama kalinya.
“Aku sendiri bingung harus berkata apa padamu. Tapi, kau sudah melupakan semuanya.” Ia mendekat seraya menyentuh wajah Akio.
Tak terlihat sedikitpun wajah aslinya, yang ada hanya taring yang mencuat. Itu saja pun sudah menjadi bukti kuat bahwa wanita ini adalah yokai. Segera Akio menepis tangannya, dan kemudian pergi meninggalkan ia.
“Tunggu, kau mau ke mana? Saat itu aku sudah bilang padamu bukan, bahwa aku akan membantumu.”
Yokai wanita tersebut menyunggingkan senyum kecil, ia tampak puas namun juga sedikit kecewa. Selang beberapa saat kemudian, Akio tiba-tiba saja ditarik ke belakang. Posisinya semakin menjauh dari posisi Nyonya Hima.
“Jika terlalu dekat akan membuatmu terjerat, sama seperti wanita itu.”
“Apa urusanmu?!”
Akio menengok ke belakang, dirinya mendapati seorang pria kekar tanpa kepala. Rupanya sosok inilah yang barusan menariknya hingga jatuh terjungkal ke belakang. Akio lantas menebas tubuh pria kekar itu tanpa ampun, tanpa menyia-nyiakan gerakan yang tidak diperlukan, Akio lekas berlari menuju Nyonya Hima.
“Tidak bisa.”
Lagi-lagi sosok yang sama, sosok yang diciptakan oleh yokai wanita kembali muncul, ia menghadang Akio langsung dari depan. Tanpa mengulur-ngulur waktu lagi, Akio pun kembali menebasnya.
Tetapi sosok itu untuk yang ketiga kalinya kembali muncul, berada di belakang Akio persis dan menahan kedua tangannya. Dengan Retsuji berada di tangan kanannya, ia melempar pedang itu hingga tertuju pada tubuh yokai wanita.
Kekuatan spiritual yang berada dalam Retsuji telah merespon adanya kekuatan yokai, secara langsung pun akan mengincar yokai wanita itu. Hingga bilah pedang menembus tubuhnya.
“Aku sudah berbaik hati menolongmu, tapi ini yang aku dapatkan?”
Namun siapa yang menyangka, terlihat seolah ia kebal pada Retsuji. Dirinya melepaskan pedang Retsuji dengan mudah, lalu ia mengubah dirinya kembali menjadi puluhan kupu-kupu. Tak lama setelah itu Retsuji kembali ke genggaman Akio, secara bersamaan ia mendapati wanita yang sama berada di hadapannya.
“Kau ini mahluk apa sebenarnya?”
“Entahlah. Tapi, biarkan aku yang melakukan ini untukmu.”
“Tidak perlu!” seru Akio dengan kesal, seraya mengayunkan pedang tuk menebasnya namun wanita itu mengubah diri menjadi kupu-kupu. Merasa ada kesempatan, Akio bergegas menuju ke Nyonya Hima.
“Hentikan, Hentikan! Hentikan!” Hima berteriak semakin histeris. Ia menggendong bayi merah itu, lalu mendekapnya begitu erat. Juga menangis serta meminta Akio untuk berhenti berlari menuju ke arahnya.
Sang Ibu tentu saja akan sangat ketakutan bilamana nyawa anaknya terancam, yang bisa ia lakukan hanyalah berteriak, menangis sembari mencoba untuk melindunginya dengan punggung.
Namun, Akio sudah muak jika memikirkan perasaan sang Ibu itu. Ia tahu apa konsekuensinya bila ia langsung membunuh bayi merah sebelum kebangkitannya, yakni sang Ibu akan menjadi tidak waras.
“Ugh!?” Akio terjatuh ke depan, setelah merasakan beberapa senjata menusuk bagian punggungnya.
“Ilusi?” Tapi, yang ia rasakan itu dalam sekejap hilang tak berasa. Seolah-olah dari awal ia tidak terluka, dan bahkan beberapa senjata runcing yang seharusnya ia sangat rasakan sensasi sakitnya pun tidak ada.
'Pantas saja tempat ini berbeda dari ruangan. Apa wanita itu yang melakukannya?' pikir Akio dalam benaknya.
Sebelum wanita itu kembali mendekat, Akio bergegas menuju Nyonya Hima bersama para putranya. Dengan Retsuji yang sudah masuk ke dalam sarungnya, Akio sengaja meletakkan pedang itu ke hadapan mereka.
“Apa yang mau kau lakukan?!” Tetapi, Nyonya Hima yang sudah larut dalam amarahnya, ia menyingkirkan Retsuji dari hadapannya. Seolah-olah pedang itu akan membunuh bayi merah tanpa pemegangnya, Nyonya Hima benar-benar sangat ketakutan.
“Kau berusaha untuk membunuh adikku! Ini tidak bisa dibiarkan. Sudah seharusnya kau mati dieksekusi sejak hari itu!” seru Higo penuh amarah.
“Hentikan! Samurai Oni melakukan semua pekerjaan kotor, itupun demi apa dan siapa! Tentu saja kita semua dan negeri ini, Higo!” sahut Haru membelanya.