
Muncul yokai yang sangat berbeda dari biasanya. Akio menjadi sasaran penuh, tapi Kizu dan lainnya segera mengejar. Yang paling memprihatinkan ialah kakek tua itu.
“Di sana! Di sana!!”
Kizu mengejarnya dengan wujud rubah, melayangkan serangan berupa cakar tajam namun sayangnya reflek kakek tua itu sangat bagus. Begitu kakek itu berbalik badan menatapnya, kedua matanya berubah warna menjadi hitam dengan pupil berwarna kuning keemasan. Tampak sangat menakutkan, hanya dengan menatap serta hawa membunuh yang begitu kuat membuat Kizu sulit mengelak.
Dengan tongkat, ia mendorong tubuh Kizu seringan kapas. Menghempasnya dengan mudah sampai sulit tuk bergerak kembali. Terdapat beberapa tulang bagian dalamnya hancur.
“Nekomata, pergilah ke tempat Kizu.”
Yasha merasakan aura membunuh dari kakek tua itu. Ia takkan bermain-main seperti biasa, nyatanya ini juga kali pertama ia menghadapi musuh dengan serius.
“Kamu siapa?” Sembari bertanya, Yasha berlari dan menarik pedang hitam.
“Kau bertanya sebelum menyebut namamu sendiri?” sahutnya yang kemudian menahan serangan Yasha dengan cepat.
Bilah pedang dan tongkat kayu itu saling mendorong satu sama lain. Meski agaknya terbuat dari kayu pun, tongkat itu menyerupai pedang atau gada karena sama kuatnya.
“Saya Yasha Manabu.”
“Oh, kalau begitu aku akan memberitahumu. Seorang kakek tua yang kebetulan melintas.”
DUAAKK!!
Sama persis ketika menghadapi Kizu, ia pun menghempas Yasha dengan sangat mudah. Bahkan hanya dengan satu lengan saja sudah membuat Yasha terdorong mundur sejauh ke tempat penduduk di kota Dama.
Yasha menabrak salah satu rumah milik penduduk. Ia tampaknya membutuhkan beberapa waktu hanya untuk bangkit kembali.
“Ada apa ini?”
“Yokai?”
“Ada Samurai yang terlempar dari arah sungai. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Semua penduduk di kota Dama mulai panik karena jarang sekali melihat adanya seseorang dengan pedang di tangannya kini berlumur darah. Mereka sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi namun juga sangat ketakutan apabila musuh yang dilawannya sangatlah tangguh.
“Celaka. Tak disangka dia sekuat itu,” gerutu Yasha seraya menekan pendarahannya di bagian perut.
“Hei, kau tidak apa-apa?”
“Ya. Saya tidak apa-apa. Mohon untuk jangan pergi ke arah hutan maupun sungai,” jawab Yasha, lekas ia berdiri.
“Memangnya ada apa?”
“Memangnya ada apa lagi?” Sedikit membuat Yasha tertawa untuk menjawabnya. “Selain yokai, memangnya ada apa lagi?” sahutnya.
“U-ugh ...entah kenapa samurai semakin melemah dari waktu ke waktu. Semoga saja kau tak cepat tumbang agar kami semua selamat,” tuturnya lantas bergegas pergi meninggalkan Yasha.
Di area hutan, tidak begitu jauh dengan perairan sungai Mizunashi. Nekomata membantu Kizu yang terluka dan tak bisa bergerak saat ini.
“Kau bisa bergerak, Kizu?” tanya Nekomata. Mengubah wujudnya menjadi besar guna melindungi Kizu yang terluka.
“Kau pikir aku tidak apa-apa. Tapi yang lebih penting lagi, Tuan Akio. Pergilah dan temukan Tuan Akio. Aku sangat khawatir,” ujar Kizu.
“Tidak. Yasha memintaku untuk menjagamu, istilahnya begitu. Dan Tuan Akio menyuruh kita untuk tidak mendekat bukan?”
“Bukan berarti —!”
“Sudahlah. Diam. Apa jadinya jika aku meninggalkanmu sekarang, dia mendekati kita loh.”
Nekomata membuat Kizu berbaring di punggungnya yang lebar. Ia hendak melarikan diri menuju ke dahan pohon besar, dan menggunakan jalan pintas tuk menuju ke wilayah lain dengan cepat. Niat awalnya begitu, tapi entah kenapa ia jadi sulit bergerak hanya karena kakek tua itu kian mendekati mereka.
“Kizu! Pergi!” Terdengar suara teriakan Yasha, ia kemudian muncul dari arah berlawanan.
Yasha melesat menuju ke arah yokai, dengan bilah pedang yang memancarkan aura kuat, Yasha mengarahkannya menuju ke target.
“Lebih baik buang saja pedang itu.”
Kakek itu kembali menghempaskannya namun hanya pedang itu saja. Pedang milik Mikio terlempar dan kedua tangan Yasha tak sengaja melepasnya. Tetapi, bukannya terjatuh, pedang itu justru terhenti.
“Apa-apaan pedang itu? Kenapa aku merasakan adanya bahaya.”
Entah mengapa kakek itu memandanginya dalam beberapa waktu, lalu memilih untuk menghindar sebelum akhirnya pedang kembali ke dalam genggaman Yasha.
“Untuk melawanmu, hanya cukup mengeluarkan pedang ini saja. Benar bukan, Mikio?”
“Hm, aneh. Kau yokai bukan? Untuk apa yokai berumur tua seperti kau memegang pedang? Berlagak jadi samurai?”
“Terserah apa yang kau katakan. Saya hanya memegang apa yang perlu saya pegang. Hanya itu saja.”
Kizu dan Nekomata sudah tidak berada di sekitar. Dengan begini, Yasha bisa terhindar dari segala halangan dan bisa berfokus pada satu target ini.
Namun ini sulit seperti yang diperkirakan Yasha. Meskipun luka dan pendarahannya sudah pulih, namun bukan berarti ia bisa seenak jidatnya terluka sembarangan.
Yasha harus memperhitungkan segala pergerakan yokai serta dirinya juga. Ia selalu melompat satu langkah lebih cepat demi menghindari tanah yang seringkali berlubang ataupun terbuka celahnya.
“Sepertinya aku tidak cocok melawanmu,” ucap si kakek.
“Begitu?”
Satu tebasan yang cukup dalam, menyayat tubuh kecil itu. Tanpa sedikitpun ampun, Yasha berani melakukannya. Tetapi ia tiba-tiba saja menghilang setelah berhasil ditebas.
“Ke mana perginya?”
“Belakang.” Musuh menjawabnya sendiri, dan sangat sesuai. Sayang sekali bagi Yasha yang terlambat bereaksi, ia pun terhempas ke arah sungai. Sebelum tercebur ke sana, ia melintangkan lengan tuk berpegangan pada salah satu batang pohon agar mencegah kejadian yang lebih buruk lagi.
“Wah, nyaris sekali.”
Hampir saja Yasha tercebur ke perairan sungai.
“Eh? Ke mana lagi hilangnya dia?”
Tapi, Yasha telah kehilangan musuh pada saat itu juga. Lengah sedikit membuatnya sulit untuk bereaksi. Dan sekarang entah ke mana perginya, bahkan seluruh tanah yang dibuat berlubang maupun retak atau dibuat celah, telah kembali seperti semula.
“Tuan Akio. Saya akan segera ke sana.”
Karena musuh yang menghalangi sudah tidak ada. Yasha pun berniat untuk menghampiri Akio, ia memiliki firasat tertentu yang agaknya membuat ia sangat cemas terhadap sang tuan.
Sesuai firasat yang dirasakan oleh Yasha. Kini, Akio terseret arus menuju ke perairan yang lebih kecil. Ia sangat beruntung, karena tidak terjun bebas menuju ke laut.
“Sekarang ...aku di mana?”
Ia berhasil selamat setelah berkali-kali terseret arus, meski bagian sebelah kakinya sedikit terkoyak akibat satu mahluk yokai. Dengan keadaan mengenaskan seperti itu, Akio menyeret tubuhnya menuju ke daratan.
Sebelum akhirnya ia mulai menyadari bahwa daratan ini ada di kota Bama. Kota yang sempat terkena badai salju sebelum musimnya akibat kedatangan yokai yakni Wanita Salju (Yuki-onna).
“Kenapa dia tidak mengejarku? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Luka yang dialami Akio cukup serius. Ia tak bisa bertahan lebih lama bila terus berdiam diri di sana. Namun setidaknya ia bisa menghentikan pendarahan tersebut.
“Sekarang masalahnya jadi lebih serius. Apa penghalang milik mendiang Shogun benar-benar sudah tidak berguna lagi?”