
Setelah menghabisi dua yokai dalam satu hari ini, Akio berniat untuk segera kembali ke Kuran.
Namun, begitu ia berbalik badan, Akio langsung menyuruh Yasha, Kizu dan Nekomata untuk pergi bersembunyi. Mereka yang penasaran ada apa, hanya bisa menuruti perkataan Akio sembari memperhatikan keadaan sekitar.
“Kami datang, Tuan Akio!”
Sederet para samurai klan pendiri negeri telah datang, mereka semua menunduk hormat menghadapnya. Spontan Akio melangkah mundur saking ia terkejut karena keberadaan mereka dan sikapnya.
“Apa maksudnya ini?”
“Maaf, saya berkata esok hari tapi ternyata saat ini. Berhubung tidak ada orang yang melihat selain kami dan Anda.” Sakanoue angkat bicara tanpa mengangkat kepalanya.
“Bukan itu. Mendengar kata "Tuan" saja sudah membuat bulu kudukku merinding.
Sesuai ucapannya, Akio lekas pergi dari sana. Tidak berniat sekalipun untuk berbicara pada mereka, terlebih sebelumnya ia dianggap musuh. Yasha dan dua lainnya pun nyaris angkat senjata begitu tahu yang datang adalah para samurai.
“Mohon tunggu kami.”
“Tidak. Sudahlah. Berhenti bersikap sopan seperti itu. Aku bukan siapa-siapa kecuali ronin yang terbuang di negeri ini.”
Melihat sikap Akio yang sama sekali tidak berubah, hal itu membuat Mizunashi berani bertindak lebih jauh.
“Tunggu sebentar!” Mizunashi menarik lengan Akio dan membuatnya berhenti berjalan. Kemudian yang lainnya pun mengepung Akio dari depan.
“Apa-apaan ini?”
“Prajurit Neraka.”
Barulah Akio memahami alasan mereka yang sangat tergesa-gesa hanya untuk bertemu Akio. Ternyata ini terkait masalah negeri yang sangat berbeda jauh dari biasanya.
Karena berada di wilayah Uchigoro, kota Tama. Mereka semua pun berkumpul di satu tempat yakni kediaman Uchigoro.
“Akio, kau sendirian?” tanya Mizunashi.
“Tentu saja.”
Semua para samurai yang berada di sekitarnya saat ini tentu saja memperhatikan pedang yang dimiliki oleh Akio namun tak satupun dari mereka yang mengangkat topik sensitif itu. Memilih untuk bungkam dan melanjutkan pembahasan yang lebih penting dari itu semua.
Selain para samurai, terdapat satu orang wanita yang berpakaian tertutup. Ialah seorang peramal.
“Langsung saja. Aku ingin kalian melihat ini.”
Satu persatu dari mereka seperti tersengat oleh sesuatu, setelahnya mereka melihat sesuatu yang mengerikan seolah-olah itu baru terjadi beberapa detik yang lalu. Hal mengerikan, di mana negeri Shinpi-tekina diambang kehancuran. Penuh dengan kerusakan parah, kobaran api, korban tewas dan terluka, banjir darah dan para pejuang serta yokai-yokai terkutuk.
“Tadi itu ...,”
“Benar. Yokai-yokai terkutuk yang disebut Prajurit Neraka oleh beliau akan datang keesokan harinya. Terhitung sekitar 5, hanya itu yang bisa saya perkirakan.”
“Kalau begitu, ini sesuai dengan buku yang ditulis oleh leluhur pendiri.”
“Benar juga.”
Sembilan klan pendiri negeri, dikumpulkan dalam satu tempat. Terdiri dari Yamamoto Kaeda, Mizunashi Kage, Uchigoro Tamura, Sakanoue Benjiro, Kazuki Eichi, Honjou Eno, Takashi Oda, Satsuki dan Ramuro Yu. Kecuali klan Hatekayama yang sekarang belum ada penggantinya.
Mereka semua termasuk Akio, telah menyaksikan apa yang akan terjadi pada keesokan harinya. Ini kejadian yang tidak terduga lagi, namun dalam satu hari. Ini terlalu cepat seolah waktu tak berpihak lagi pada mereka.
“Semenjak Tuan Hatekayama meninggal, penghalang melemah dan membuat yokai yang berbeda tingkat telah lahir dan masuk ke dalam negeri.”
“Tidak hanya itu saja. Yokai terkutuk yang biasa kita temui jumlahnya meningkat.”
“Dan banyak dari mereka yang lihai menggunakan penghalang mandiri hanya untuk terhindar dari kita semua.”
Banyak dari mereka yang mengatakan berbagai informasi yang sulit dicerna oleh Akio. Ia bingung harus menanggapinya bagaimana namun ia cukup tahu bahwa pengetahuannya sangatlah minim. Terlebih ia tidak begitu menyadari ada banyaknya yokai yang tersebar di setiap wilayah. Meski sudah dibasmi oleh mereka.
“Bagaimana Tuan Akio?” Akhirnya, salah satu dari mereka yang bernama Satsuki bertanya.
'Gawat, aku sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Tapi, yang aku tahu hanyalah kehancuran negeri yang akan terjadi esok hari. Hanya itu saja,' batin Akio berkeringat dingin.
“Bagaimana, Tuan Akio? Jangan bilang kau tidak mendengarkan apa pun dari kami?”
“E-Eh?”
Semuanya menghela napas secara bersamaan. Kemudian Mizunashi yang sedikit tertawa itu kembali menjelaskan padanya dengan kata-kata yang mudah dimengerti.
“Banyak yokai terkutuk yang kemampuannya sudah lebih unggul dari yang biasanya kau basmi. Lalu isi ramalan menyatakan negeri ini akan hancur esok hari. Sampai sini kau mengerti?”
“Y-ya. Aku mengerti.” Masih gugup, Akio berusaha menjawabnya dengan tenang.
“Jadi, kau akan bagaimana, Shogun?”
“H-hah? Shogun? Apa yang kau bicarakan? Aku bukan Shogun.”
“Kau Shogun,” sahut Kaeda.
Lagi-lagi Akio dibuat bungkam. Namun itu hanya berlaku sementara.
“Apa yang kau bicarakan, pak tua?” Bahkan membalasnya dengan sebutan kasar. Akio bangkit dari tempat duduknya.
“Aku tidak berniat menjadi Shogun. Aku hanya ronin yang sudah dibuang negeri ini. Lagi pula bukankah Shogun yang sekarang adalah kau, Yamamoto Kaeda?” imbuh Akio menegas.
“Baiklah.” Hanya Mizunashi yang menjawab, sementara semua orang terlihat menatap Akio dengan tajam.
Hanya Mizunashi seorang yang memiliki ekspresi lembut, ia menjawab dengan ramah senyum pada Akio.
“Tapi, ada alasan mengapa kami datang menemuimu sekarang.”
“Aku tahu.” Akio melipat kedua lengannya ke depan dada dan berkata, “Prajurit Neraka yang pernah dibicarakan oleh Sakanoue. Kalian berkumpul untuk mengalahkan bencana seperti mereka bukan? Karena terlalu kuat, kalian ingin meminta bantuanku.”
“Ya, akhirnya kau mengerti.”
“Tidak hanya itu, Akio. Yokai mengincarmu bukan?” sahut Uchigoro.
“Yah ...ternyata kalian tahu itu.”
“Satu persatu dari kami mulai menyadari keberadaanmu yang dikiranya sudah lama mati semenjak melarikan diri dari eksekusi hari itu.”
“Itu bukan salahku.”
“Ya, ya. Aku mengerti, Akio.”
“Kami ingin membuatmu sebagai umpan, jadi turuti perintah kami kecuali kau ingin mati. Itu yang coba kami katakan padamu, bocah bodoh!” Orang yang sangat membenci Akio tak hanya satu. Ialah salah satu klan pendiri, Ramuro Yu. Konon beberapa tahun silam, semenjak era-nya Hatekayama, ia menjadi Yakuza demi keseimbangan negeri.
Yakuza yang pernah bermasalah pada Akio sewaktu remaja. Intinya mereka berdua saling bermusuhan.
“Apa katamu, kakek tua? Kau hanya bisa minum sake setiap hari. Memangnya kau masih bisa mengangkat pedang?” sindir Akio.
“Hah! Seperti biasa mulutmu kasar, bocah gelandangan!” pekik Ramuro lantas berdiri seraya menyeka sisa minumannya yang habis ditenggak sebelum ini.
“Kau tidak berhak bilang begitu. Dan aku bukan umpan melainkan kartu keberuntungan bagi kalian benar?”
“Bicara sombong.”
“Ingatlah bagaimana aku menolongmu dulu!”
“Ingat? Mana aku ingat? Aku hanya ingat kau dulu pernah mengacaukan tempatku,” sahutnya seraya berjalan menuju Akio.
Keduanya mulai bersitegang, aura di antara mereka terasa sangat jelas dan membawa perasaan tidak enak.