
Isi ramalan telah terkuak, sebagian darinya telah dimusnahkan. Langit yang gelap, turunnya yokai lalu Prajurit Neraka.
Lalu pada beberapa tahun yang lalu. Di mana Shinpi-tekina pertama kali berdiri di tengah lautan. Tak seorang pun dapat masuk begitu juga keluar dari sana. Kecuali menyerahkan nyawa mereka.
Sosok yang diyakini mereka, kerap kali disebut sebagai "Dewa". Seorang pria dengan mata berwarna putih terang, rambut panjang berwarna hitam.
Tetapi, meski disebut seperti itu. Ia harus tinggal seorang diri di wilayah pegunungan. Dengan kekuatan spritual yang sangat besar, hal itu memancing para yokai-yokai terkutuk sehingga akan membahayakan penduduk desa. Sesekali tamu berkunjung meski singkat, namun ia masih merasa kesepian, dan sedih.
Tetapi, mau bagaimana lagi? Ia hidup tanpa arti yang jelas. Selain tinggal di Shinpi-tekina, ia pun harus berurusan dengan banyaknya yokai terkutuk.
“Hari ini cuaca cerah. Anginnya tidak begitu besar, ini aman.”
Hidup sebagai pengamat, sosok yang agung hanya bisa diam dengan disambut oleh banyak orang. Bukan sebagai manusia, meskipun ia terbuat dari daging, darah dan tulang.
Keberadaan yokai terkutuk sudah tak wajar di tempat ini, itulah mengapa sosok pria tersebut ada. Sekalipun tidak memiliki masa lalu yang pasti. Seperti malaikat yang jatuh dari surga. Tak satupun orang tahu, siapa ia sebenarnya.
Pada suatu hari, ketika turun dari gunung, ia bertemu dengan seorang pria. Pria yang sekilas mirip dengannya, hanya saja ia memiliki dua taring di antara giginya serta rambut yang lebih tebal. Tak terlihat ia seperti orang yang mampu, justru sebaliknya.
“Siapa kamu?”
Ia tahu orang-orang yang tinggal di pulau ini, jadi ini kali pertama melihat pria asing.
“Jangan-jangan kamu berasal dari luar?” Kecurigaannya semakin kuat saat pria itu menatapnya tajam. Tak menunggu lama, ia pun langsung mengarahkan kelima jarinya yang dirapatkan.
Berniat menghabisinya meski hanya dengan kelima jari itu saja.
“Aku tiba-tiba jatuh dari atas.” Dengan tatapan tajam ia kemudian menunjuk ke arah langit.
Dari situlah ungkapan, "Ketika langit mulai menggelap dan menangis, maka saat itulah para yokai akan jatuh dari langit", muncul. Yokai pertama adalah mahluk setengah-setengah. Setengah yokai, setengah manusia.
Tetapi, saat itu langit cerah dan tidak sedang menangis juga. Lantaran, yang akan jatuh tidak hanya ia seorang. Sebab kemunculan mahluk setengah-setengah ini hanya sebagai peringatan kecil.
“Namamu?”
“Tidak punya.”
“Begitu ...kalau begitu aku akan memanggilmu, Akashi. Salam kenal Akashi, aku Hatekayama.”
Dan itu adalah kali pertama mereka bertemu dan saling mengakrabkan diri. Kali pertama sosok "Dewa" tidak membunuh yokai satu ini.
“Kau, bukannya Pemburu Yokai?”
“Oh ya?”
Apa yang dipikirkan oleh pria bernama Hatekayama adalah, kemungkinan adanya perdamaian antara yokai dan manusia. Pada saat itu yokai-yokai terkutuk memiliki wujud manusia dan bisa berbicara ataupun berpikir. Mereka tidak liar tidak seperti hewan biasa.
Melihat kedua mata Akashi, Hatekayama dapat merasakannya. Akan ada suatu harapan dan Akashi adalah jembatan penghubung bagi manusia dan para yokai. Itulah yang ia pikirkan.
Namun, setelah bertahun-tahun hidup bersama dengan Akashi. Kekuatan Hatekayama sedikit demi sedikit melemah tanpa diketahui olehnya sendiri.
Lalu, satu persatu yokai terkutuk muncul dari langit yang sama. Mereka berempat jatuh tepat ke bagian tengah Shinpi-tekina, kelak wilayah itu akan menjadi suatu Ibu kota.
“Wanita ...ada wanita jatuh.” Akashi menunjuk ke bawah, di mana ada seorang wanita terjatuh dengan dahan pohon di bawah tubuhnya.
“Dia adalah yokai!”
Hatekayama bersiap mengambil ancang-ancang, akan tetapi saat wanita itu terbangun dalam keadaan telanjang bulat, ia beranjak dan kemudian bersembunyi di balik pohon.
Bingung karena tiba-tiba yokai bereaksi seperti itu untuk kali pertamanya, tanpa sadar Hatekayama menurunkan kewaspadaannya.
Setelah 30 tahun hidup sendiri di Shinpi-tekina, kemudian hidup bersama Akashi selama 20 tahun lamanya. Kini mereka mulai bertemu dengan keempat yokai yang barusan jatuh dari langit itu.
Kurang lebih, 15 tahun. Hidup di bawah gua bawah dalam gunung. Hatekayama bersama kelima yokainya, hidup tidak lebih dan tidak kurang. Merasa kebahagiaan yang sebenarnya untuk pertama kalinya.
“Semuanya bertumbuh begitu cepat.”
“Hanya kau yang tidak pernah tumbuh, apalagi menua!”
“Hahaha!”
Hatekayama mempercayakan nasib negeri yang seringkali diteror para yokai terkutuk pada mereka yang mampu mengendalikan tubuh dengan perasaan diri mereka sendiri.
Meski tidak sedikit yang seperti mereka, namun kebanyakan tak seperti mereka berlima, justru sebaliknya para yokai terkutuk selain kelima dari mereka lebih memilih untuk menghancurkan negeri.
“Dengar Yon, Geisha, Yasha, Nekomata lalu Akashi, aku ingin kalian dapat hidup berdampingan bersama para manusia.”
“Mereka semua mengucilkanmu, kenapa kau sangat peduli padanya?” Yon, si mata empat bertanya.
“Aku di sini tidak sedang dikucilkan melainkan sedang melindungi mereka semua.”
“Lalu, kenapa kau peduli padanya? Apakah sepenting itu mereka bagimu? Dan bagaimana dengan negeri ini?”
“Pulau ini, negeri ini, semua yang ada di sini adalah keluargaku. Tentu saja kalian juga. Lalu, pasti ada suatu alasan kenapa pulau ini berdiri dan para yokai yang tidak seharusnya berada di sini, muncul.”
Bangkit dengan apa yang ia yakini, begitulah Hatekayama. Dirinya yang selalu berpositif thinking, kini mulai menaruh rasa percaya pada kelima yokai yang ia pandu. Setidaknya ia berharap mereka dapat melakukan hal tersebut.
Hingga suatu kejadian menimpa Geisha. Namanya yang diambil dari seorang wanita penghibur, namun ia yang cukup setia pada Hatekayama nyaris terbunuh oleh para manusia.
“Tuan Hatekayama! Kenapa kau tidak segera membunuh mereka?!”
Itu adalah kali pertama para manusia berteriak padanya. Pertama kalinya ada yang merasa tidak puas dengan tindakan Hatekayama.
Tidak hanya itu saja, Geisha, kala Hannya, iblis wanita sedikit demi sedikit mulai menunjukkan wujudnya akibat rasa kebencian dari para manusia.
GRAAUUK!
Hal itu menyebabkannya menjadi liar. Ia mengamuk tepat di siang bolong saat itu juga. Ia nyaris menggigit Hatekayama, beruntung Akashi berpasang badan, Akashi rela mengorbankan tangan merahnya itu.
Gua dalam gunung terus bergetar. Geisha akan keluar dengan keadannya begini, maka dari itu Hatekayama berusaha menahannya.
60 tahun berada dalam sangkar. Hari yang telah ditentukan telah tiba. Di mana langit mulai menggelap dan menangis berarti awan mendung dengan hujan deras. Para yokai terkutuk yang sama sekali tidak memiliki akal telah turun dari langit.
Saat itu, Hatekayama mengerti akan sesuatu.
“Neraka telah tumpah ke dunia. Shinpi-tekina hanyalah pulau tempat di mana manusia dan yokai bertarung? Tidak!”
Karena suatu alasan ia ingin menyangkal pemikirannya sendiri.
“Prajurit Neraka adalah yokai yang selalu bersamaku? Kenapa? Apakah mereka yang memanggilnya?”
Selanjutnya tidak hanya Geisha, bahkan Han, Nekomata lalu Yasha (Nue) pun mulai berubah.