Samurai Oni

Samurai Oni
TRAGEDI BERDARAH



“APA YANG TERJADI? APA BENAR KITA DIKUTUK SEUMUR HIDUP?!”


Rintihan, keluhan, jeritan dan tangis yang dapat Akio dengar. Membantu dengan satu orang saja tidak akan cukup, maka dari itu semua samurai di sini bekerja sama untuk melenyapkan bayangan hitam yang bergeliat tak wajar di belakang punggung para penduduk.


Tak terkecuali dengan samurai pula, mereka pun kerap kali dijadikan target bahkan sesekali terlihat bayangan hitam itu mengendalikan tubuhnya untuk menghunuskan pedang pada sesamanya.


Ini seperti neraka yang sesungguhnya, namun, dalang di balik ini semua masih tercium samar-samar.


“Tembakk!!” seru Satsuki memberi perintah pada seluruh pemanah yang ada.


Mereka menyerang dari atas, dan posisi itu cukup menggungulkan mereka. Terlebih jumlahnya yang cukup banyak hingga tersebar ke seluruh atap rumah di ibu kota ini.


Klan-klan lainnya pun segera mengikuti, mereka dengan cepat menemukan kemunculan bayangan hitam lantas segera melenyapkannya tanpa ragu. Tetapi, seberapa keras para samurai berjuang, nyatanya seperti tak ada habisnya.


“Di sana! Di sana!”


“Tidak, di sini ada banyak!”


Teriakan dari berbagai sudut ibu kota yang dipenuhi tangis berdarah, memilukan dan sungguh mengenaskan. Semua orang sudah berusaha namun ada saja yang luput dari pandangan mereka.


“Hei! Tuan Hatekayama belum kemari?” tanya Mizunashi Kage.


“Belum,” jawab Uchigoro Tamura.


“Aku jadi khawatir. Bagaimana jika dia diserang?”


“Ya, benar. Aku juga mengkhawatirkannya. Belum lagi, Samurai Pedant Hitam juga belum sampai kemari. Apakah dia tidak tahu soal ini?” pikirnya.


“Mana aku tahu!”


Jengkel karena didesak oleh situasi tak wajar. Bayangan hitam pula bergerak lebih cepat dan seakan-akan berkembiak dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Mayat yang terhitung lebih dari 10 jari masih tergeletak. Entah penduduk biasa maupun samurai, mereka semua binasa.


Lengah sedetik akan membuat mereka mati. Tapi, fokus mereka sudah banyak terbagi dan sekarang mereka harus bergelut pada diri sendiri karena yokai asing ini juga mengincarnya.


“Eno! Di bekakang! Di belakangmu!” jerit Uchigoro dari kejauhan pada Honjou yang nampaknya tak menyadari hendak diserang.


Segera Uchigoro melesat dan menusuk bayangan tersebut sebelum melahap Honjou.


“Jangan biarkan punggungmu terbuka!” teriak Uchigoro lantas kembali pergi.


“Ck! Ini tidak ada habisnya,” gerutu Honjou.


Langit semakin panas, gerakan yang membutuhkan banyak stamina pun cepat terkuras. Baik Akio maupun lainnya, semua sedang berjuang hingga titik darah penghabisan.


Lalu, Akashi dan Kizu berada di balik gang sempit, mereka hendak membantu Akio namun tak menyangka karena situasi telah menjadi kacau balau begini, maka mereka pun bingung harus bagaimana.


Mereka berdua untuk sementara ini hanya bisa bersembunyi seraya melihat Akio yang tengah menghabisi banyak yokai dari kejauhan.


“Kita harus bagaimana?”


“Bagaimana apanya? Hajar saja langsung!” pekik Akashi.


“Hei, ssst! Jangan berisik.”


Tidak begitu jauh Akio terlihat, setelah Akashi berteriak, Akio tiba-tiba saja mendekat ke arah mereka. Tanpa memasuki gang sempit, ia mengangkat jari telunjuk ke depan bibir dan kemudian kembali pergi.


“Tu—!”


Kizu langsung membungkam mulut Akashi yang hendak berteriak lagi. Lalu ia berkata, “Jangan berisik 'kan apa aku bilang? Tuan Akio menyuruh kita untuk diam di sini.”


“Ha? Itu tidak mungkin! Tuan Akio memang kuat tapi bukan berarti dia harus berjuang sendirian!” Akashi menolak.


“Dia sedang tidak sendirian. Lihat? Meski memakai topeng oni, tak banyak dari samurai memperhatikan dan lagi, banyak dari mereka pula sepertinya akrab dengan Tuan Akio,” celetuk Kizu.


“Iya.”


“Lalu apa gunanya kita datang kemari ...ah, tidak! Aku harus melindunginya!” jerit Akashi.


“Sudah aku bilang diam!” Sampai Kizu jadi ikut berteriak karenanya.


“Kalau kita menunjukkan diri kita, maka para samurai akan memburu kita. Terutama kau! Lihat tangan merahmu itu,” tutur Kizu berusaha agar Akashi mengerti maksudnya.


***


Sementara Kizu dan Akashi tengah berdebat. Lalu para samurai yang berjuang keras meminimalkan korban serta Akio yang bertindak terang-terangan pun sampai saat ini masih mencari di mana keberadaan Mikio.


Tak seorang pun akan berpikir bahwa Mikio sekarang berada di dalam kastil Hatekayama. Belum lagi, dirinya sedang berbicara langsung dengan Shogun di dalam.


Nekomata yang tengah bersembunyi di balik langit-langit, hanya bisa diam di sana sembari memperhatikan.


'Aku terlambat mengetahui hal ini.' Nekomata membatin.


Jelas ia sangat terlambat karena Mikio sekarang sudah bersama dengan Shogun Hatekayama.


“Tuan, di luar sedang kacau. Akan lebih baik jika Tuan berdiam di tempat saja,” ujar Mikio.


“Yokai benar-benar muncul? Maka dari itu aku juga harus turun tangan,” ujar Shogun.


“Ya, tapi Tuan tidak perlu turun tangan. Yokai itu tidak sekuat dari zaman dulu. Jadi tenanglah.”


“Bagaimana bisa aku tenang, sementara para samurai sedang berjuang sekarang?”


“Maka dari itu saya mohon padamu Tuan, untuk tenang karena kami tidak akan kalah dari para yokai terkutuk itu,” tutur Mikio berwajah serius.


“Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Jangan bilang hanya untuk menemaniku?” pikir Shogun.


“Ya, kurang lebih. Karena saya yakin Tuan akan menyelinap pergi ke luar. Di luar itu terlalu berbahaya, sudah menjadi tugas saya yang melayanimu ini harus benar-benar membuat Shogun Hatekayama aman.”


Shogun berdecih pelan seraya memalingkan wajah dengan kesal. Nampak jelas bahwa dirinya ingin ikut bertarung di bawah namun Mikio menghalanginya terang-terangan.


Tak ada celah sedikitpun dari Mikio, sehingga sulit bagi Shogun untuk bergerak sekarang. Ia pun hanya terduduk di tempatnya sembari mengetuk-ngetuk jari-jemari.


“Oh, ya. Bagaimana dengan Samurai Oni?” tanya Shogun.


“Saya rasa dia sedang berjuang keras,” pikir Mikio dan tersenyum lembut.


“Aku yakin dia sekarang bertindak terang-terangan. Akan lebih baik menjaga identitasnya termasuk darimu, tapi tampaknya kau pun sudah mengetahui hal itu.”


“Yang Tuan katakan benar. Jika Akio yang muncul maka akan menghebohkan banyak orang, karena itulah dia tetap menjadi Samurai Oni sebagai pemabasmi yokai,” tutur Mikio.


“Aku tidak akan pergi, lagi pula di sini juga ada keluargaku. Aku tidak berniat meninggalkannya sendirian. Jadi kau, pergilah dan bantu lainnya.”


“Untuk apa?”


“Hm? Untuk apa katamu? Sampai di sini dan sekarang aku masih mendengar jeritan para pendudukku, dan kau masih bertanya untuk apa?” Shogun merasa Mikio tengah bercanda. Ia jadi kesal.


“Maafkan saya Tuan. Karena saya berpikir bahwa mereka akan menyelesaikannya bahkan tanpa diriku,” ucap Mikio.


Nekomata merasa merinding ketika melihat keberadaan Mikio di sana. Dan setelah beberapa saat, Mikio melirik ke arahnya. Sontak Nekomata melangkah mundur dari lubang yang nampak.


Keganjilan ini harus diberitahukan oleh Akio, pikir Nekomata begitu. Tapi pergi menjauh dari sini saja rasanya teramat susah.


Belum lagi, ada seseorang yang menghalangi pergerakan Akio saat dirinya berada di suatu titik tempat di mana klan Honjou bertarung.


“Ketemu kau, Samurai Oni!”