
Dalam kegelapan yang pekat, tertidur diam tanpa bisa bergerak sedikit saja. Sesuatu menggenggam kedua tangan, kaki dan kepala. Rambutnya pun terasa ada yang menjambaknya dengan kuat, hingga membuat ia kesakitan.
Chiharu meringis kesakitan dengan peluh bercucuran deras. Ketakutannya membuat seluruh otot kecilnya itu menegang. Terakhir ada hawa dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya, namun terasa ia dibelit oleh seekor ular.
Sedikitnya ia membuka mata, sebuah tengkorak kepala muncul sampai Chiharu berteriak terkejut.
“AAAA!!”
Chiharu terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin terus bercucuran dari wajah, punggung dan juga tangan hingga ke kakinya. Jantung berdegup terlalu kencang tanda ia sangat ketakutan, lalu beberapa orang bergegas masuk ke dalam dengan wajah panik.
“Apa yang terjadi?!”
Brak!!
Sembari bertanya, Kizu membuka pintu dengan kasar.
“Nona Kinata?”
Mimpi di mana yokai telah merenggut kebebasannya kembali terjadi. Ini karena ia jatuh pingsan setelah memuntahkan darah segar cukup banyak.
“Berbaringlah terlebih dahulu, Nona Chiharu.”
Yasha membantu, ia membaringkan wanita itu kembali ke alas tidur agar membuat tubuhnya rileks sejenak. Saat itu tangannya menjadi dingin dan kaku, seolah-olah ajal akan datang menjemputnya.
“Aku ...aku ...aku masih hidup?” Chiharu mencoba bertanya-tanya, apakah sekarang ia berada di dunia nyata ataukah masih di dalam mimpi. Serta menanyakan apakah dirinya saat ini masih hidup atau tidak.
Seolah ini tak nyata, Chiharu bahkan berharap ini hanya mimpi di balik mimpi.
“Nona Chiharu tolong tenanglah. Kami ada di sini untuk membantu. Karena itu saya pastikan Nona baik-baik saja,” ucap Yasha.
“Ba-baiklah. Tuan Akio ...ada di mana? Aku masih belum selesai mengatakannya, mengatakan semua,” tutur Chiharu yang meminta agar dipertemukan kembali dengan Akio.
“Tuan Akio belum pulang. Kau tidurlah saja,” ucap Kizu.
Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda Chiharu akan pulih. Sampai ia melihat ke arah jendela, langit malam yang telah tiba, Chiharu sadar bahwa keadaannya saat ini mungkin akan membuatnya mati mengenaskan.
“Kalau begitu aku akan memberitahukan pada kalian, tolong nanti sampaikan padanya.”
“Kau lebih baik tidur.”
“Tidak bisa. Tidak sebelum orang tuaku, adik dan kakakku, semuanya sehat.”
Chiharu terlalu memaksakan dirinya untuk berbicara. Padahal jika ia memaksa diri terus-menerus seperti ini, terlebih jika mengungkap rahasia yokai akan membuat kutukan dalam tubuhnya bekerja.
Dan misal ia akan kehilangan darah, walau masih hidup ia pasti akan terlelap dan kembali merasakan mimpi buruk secara berulang-ulang. Bahkan bau darah yang menyengat pun takkan pernah hilang dari lubang hidungnya.
“Di dalam sana wujudnya tengkorak tapi wujud aslinya tidak terbentuk secara merata. Terkadang ular terkadang pula manusia. Yang membedakan, hanya pada bagian matanya yang seolah berlubang.”
Sedikit demi sedikit ia mengungkap sebagian besar rahasianya. Baik di dalam mimpi maupun di dalam rumahnya. Setiap keluar rumah, Chiharu dan anggota keluarga lainnya akan merasa diawasi karena sosok itu tengah mendiami tubuh mereka.
Perasaan seperti intimidasi, ketakutan hingga membuat mimpi buruk bagai neraka terus berulang dalam benak mereka.
“Salah satu anggota keluargaku, paman yang tinggal bersama juga pernah sekali ada di dalam mimpiku. Paman ditusuk oleh ratusan tombak lalu keesokannya dia sudah tidak bernapas tanpa sedikitpun luka di tubuh yang seharusnya ada,” ungkap Chiharu sekali lagi.
Sudah banyak darah tergenang hingga jatuh ke alas tidurnya. Hidup Chiharu berada di ambang batas, namun tetap saja ia memaksakan dirinya. Kizu dan Yasha tak bisa berbuat apa-apa jika Chiharu memiliki tekad sebesar ini.
Bisa dikatakan, Chiharu sungguh mempercayai Akio yang dapat menyelamatkan keluarganya.
“Dan saat aku tertidur barusan, ada ular yang membelitku. Dia ingin membunuhku dalam mimpi setelah tahu apa yang aku lakukan saat ini.”
“Nona—!”
Yasha akan menemaninya sekaligus merawat wanita ini, sementara Kizu keluar dari ruangan.
“Tuan mendengarnya?”
Cukup sekali Akio menganggukkan kepala.
“Wanita itu sangat mempercayaimu. Tapi sama seperti yang lain, bahkan Tuan Akio juga kembali dengan tangan kosong,” tutur Kizu menatap sendu ke arah bawah.
“Bukan! Kami tak kembali dengan tangan kosong. Nih!” ujar Akashi meninggikan suara seraya memberikan sekepal nasi dalam bungkus daun.
“Kau bodoh, ya?”
“Kizu, kami semua telah mendengar apa yang dikatakan olehnya. Dan benar apa yang kau katakan, kami kembali dengan tangan kosong. Sama sekali tak menemukan jejak musuh.”
Agaknya mereka terlihat akan menyerah.
“Tetapi, di dalam rumah. Mungkin ini kunci dari permasalahannya.”
“Di dalam rumah?”
Nekomata berdeham lantas kembali ia menjawab, “Ya. Barusan Tuan Akio mengatakannya padaku. Ada sesuatu di dalam rumah. Lalu, yokai itu tak hanya muncul di dalam mimpi saja.“
“Apa maksudmu mereka semua bisa diselamatkan?” tanya Kizu.
“Tak seperti dirimu yang biasa ya, Kitsune. Rubah seperti kau mengkhawatirkan manusia,” sindir Nekomata.
“Hei, cepat katakan saja padaku!”
“Tuan Akio akan pergi lagi ke sana bersama Akashi untuk segera menyelesaikan hal ini,” tutur Nekomata lantas turun dari pundak Akio.
Malam sudah tiba, dan waktu semakin berjalan lambat rasanya. Angin berembus kembang seakan menanamkan pertanda buruk di setiap penduduk kota Gama. Klan Satsuki pun turut merasakannya.
Dengan topeng oni yang dipakainya, Akio bersandar pada dinding luar kediaman Momoka guna mengawasi hawa di sekitar. Hanya di sekitar inilah yang berubah, tidak dengan hawa di tempat-tempat di sekitar.
“Tuan Akio, aku akan berkeliling sesuai perintahmu!”
Akashi paling bersemangat karena memang tak menyadari hawa ini, meskipun menyadari ia saat ini tidak terpengaruh oleh perasaan takut yang membuatnya mundur. Murni sifat Akashi sama seperti karakteristik di lengan merah terang miliknya, ia sungguh bersemangat.
Perlahan tapi pasti. Samar-samar aura kian pekat di sekitar Akio.
“Khe khe ...dia cukup tangguh juga karena masih bertahan hidup.” Sosok sesuatu yang tak terlihat, merayap perlahan tuk menghampiri Akio yang nampaknya terlelap di tempat.
Sungguh bodoh apabila sosok asing tersebut berniat menyergapnya.
Tak!
Sebab Akio pun menyadari keberadaannya yang tersembunyi di balik rerumputan hijau.
“Tuan Akio!” panggil Akashi dari kejauhan.
Akio sontak beranjak dari tempat duduknya, lantas menoleh pada Akashi seraya mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir.
'Untuk sesaat aku merasakan kehadiran yokai di sekitar Tuan Akio. Tapi sekarang tidak ada, itu berarti sudah lenyap?' batin Akashi.
Yang datang barusan bukanlah yokai yang ia targetkan untuk saat ini melainkan yokai yang telah lama ia cari di setiap sudut negeri. Yokai pengendali, kerap kali bersembunyi di balik bayangan benda maupun mahluk hidup.
Namun terlalu tipis kehadirannya, sehingga tak dapat dipastikan apakah yokai itu lenyap atau tidak.