
Dari musim ke musim, para yokai terkutuk makin menjadi-jadi. Penghalang yang berada di luar Shinpi-tekina pun jadi tak berguna seolah-olah yokai memang tidak diperlukan menembus penghalang.
Namun, meski begitu. Penghalang juga menghalangi kekuatan milik mereka. Pernah sekali, penghalang dirobek dengan mudah dan itu karena yokai yang jauh berbeda levelnya dibandingkan yokai terkutuk lainnya. Jika tingkat biasa para yokai terkutuk rata-rata berwujud hitam dan berasap namun jika berada di tingkat luar biasa mereka memiliki wujud fisik secara nyata. Bahkan ada pula yang sangat mirip dengan manusia.
Seperti contohnya, Yasha. Ia mengaku sebagai yokai; kenangan. Namun entah itu benar atau tidak. Ia sangat berbeda dibandingkan dengan Nekomata ataupun Kizu si Rubah Ahli Penyamar. Tentunya sangat berbeda dengan mahluk setengah-setengah seperti Akashi.
“Kenapa harus sekarang hujannya?”
Untuk sekarang, setelah memutuskan bagaimana hidupnya selanjutnya. Akio tengah menuju ke sebuah tempat di mana seseorang yang akan temui dapat membantunya untuk sesuatu.
Berdekatan dengan Kota Dama namun juga tidak terlalu dekat. Area paling sudut, bagian air terjun kota Kama.
Seorang pria bertelanjang dada tengah duduk di bawah air terjun dengan posisi kedua tangan menyatu di depan dada. Ia melakukan meditasi seraya memejamkan mata, dengan khidmat ia membuat aliran terjun mengalir menghindarinya.
“Ada seseorang?”
Dalam posisi hujan yang tidak begitu deras, pria itu menyadari kedatangan Akio.
“Ya. Maaf menganggu.”
“Oh ...ternyata itu kau Akio. Kenapa kau muncul di hadapanku setelah sekian lama menghindar dari para samurai selama ini?”
“Aku hanya berpikir bahwa klan pendiri sudah mengetahui keberadaanku. Tanpa niat membunuh melainkan kerja sama. Ada sesuatu yang kubutuhkan melalui dirimu. Apa aku menganggumu?”
Sejenak ia terdiam. Kemudian mengakhiri meditasinya, lantas menghampiri Akio.
“Ya, sedikit. Tapi jika Akio yang membutuhkanku, maka aku tak keberatan.”
“Bukankah kau akan cepat sakit bila latihan di air terjun ketika hujan sedang turun?” pikir Akio seraya mendongakkan kepalanya.
“Ah, benar juga. Tapi aku bukan orang yang mudah sakit.”
Sementara Akio sedang bersama seorang pria. Yasha Manabu, pria sopan yang pernah dikenal Akio tengah memburu satu yokai bermata satu, warnanya hitam dan terlihat seperti bulu babi. Yasha memburunya dengan menggunakan pedang hitam milik Mikio, dengan kekuatan yang bisa disentuh dan kendalikan oleh Yasha, maka Yasha akan mudah menggunakan pedang besar itu untuk menebas mahluk incarannya.
Hal itu cukup mudah dilakukannya sendiri. Ia bahkan harus menahan diri di hadapan banyak orang agar tak mengeluarkan eksistensinya sebagai yokai terkutuk. Mati-matian menahan energinya keluar dari tubuh.
“Jika ada Tuan Akio di sini, maka saya sangat bahagia dan mungkin saja mendapat pujian. Benar begitu bukan, Mikio?”
Kembali pada kota Kama, bagian paling sudut.
“Jadi apa yang kau butuhkan sampai harus menemui daku?”
Pria murah senyum ini ialah salah satu dari pemimpin klan samurai, klan pendiri negeri. Sakanoue Benjiro. Ia adalah pria yang sama kuatnya seperti klan sendiri lainnya, namun juga sangat rajin dalam hal apa pun. Terlalu rajin tak peduli apa yang menghadangnya.
“Aku mendengar dari seseorang, mengenai rumor wanita dengan gaun pengantin. Apa itu hanya sekadar rumor atau hanya benar-benar ada?” tanya Akio.
“Kau datang jauh-jauh hanya untuk bertanya hal seperti itu? Sangat langka.”
“Aku datang bukan hanya untuk menanyakan hal itu saja. Tapi sebelum mengungkapkan tujuanku yang lain, maka kau harus menjawabku soal itu dulu.”
“Anak sombong. Baiklah, itu bukan hanya sekadar rumor belaka. Tidak hanya wanita itu bahkan ada pria juga. Dia mungkin bagian dari Prajurit Neraka.”
“Hm?” Tiba-tiba ada kata-kata yang menarik bagi Akio untuk didengarnya. Penasaran apa maksud dari Sakanoue, ia lantas bertanya, “Prajurit Neraka?”
“Bicara seolah-olah kau bisa mengalahkan mereka sendirian.”
“Oh ya? Aku tidak pernah bilang bahwa aku bisa melakukannya. Jadi, apa tujuanmu yang lain?” Kembali Sakanoue bertanya mengenai alasan kedua Akio datang kepadanya.
“Bagaimana keadaan Nyonya Hima?”
“Sudah kuduga kau ada hubungannya. Nyonya Hima yang melupakan bayi merah itu sungguh tak terduga. Tapi kau tak mungkin melakukan hal menarik seperti itu.”
“Dia melupakannya?”
“Ya.”
“Maaf, alasanku yang kedua sebenarnya adalah ...jasad Mikio.”
Sakanoue tersentak kaget. Ia terdiam dengan mata terbelalak, tak menyangka bahwa Akio menanyakan hal tersebut.
“Jasad Mikio mengalami keanehan, dari ekspresimu kau pasti sudah tahu hal itu.”
Sakanoue Benjiro, tak hanya dia, ada beberapa samurai lainnya yang mengetahui kondisi jasad Mikio. Terutama para samurai klan pendiri negeri. Seingat Sakanoue, jasad itu pernah sekali mengeluarkan asap hitam persis yokai terkutuk dan tentunya membuat ia sangat was-was.
“Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?” Dari nada ataupun cara bicara, lalu pandangan mata dan ekspresi Sakanoue berubah drastis begitu membahasnya.
“Kalian semua menuduhku bahwa aku yang membunuhnya dan membunuh Shogun bukan?”
“Benar. Tapi itu saat pertama kali kami melihat kejadiannya. Korban pertamanya Tadashi, pelayan di klan Mizunashi. Lalu barulah Shogun.”
“Ka—”
“Tapi sekarang tidak lagi. Kami tidak menuduhmu setelah tahu sesuatu mengenai jasad Mikio. Yang pertama kali melihatnya aku,” sahut Sakanoue.
“Tapi itu bukan karena ulah Mikio. Sejak awal Mikio sudah lama mati,” ungkap Akio.
“Ya, aku juga tahu hal itu.”
“Dan musuh sebenarnya adalah Ikiryo. Dia pernah sekali muncul di balik bayangan yokai mimpi, tanyakan Satsuki saja jika kau tidak percaya,” tuturnya.
“Ya, aku juga tahu hal itu baru-baru ini. Kemarin Bama juga terkena insiden mengerikan dari Yuki-onna. Ya ampun, tidak ada habisnya jika memburu mereka satu persatu.”
“Tenang saja. Baik Ikiryo maupun Yuki-onna (wanita salju), mereka sudah lenyap. Jasad Mikio sudah sejak awal kosong dan jiwanya bergentayangan. Aku ingin tahu bagaimana cara membebaskannya secepat mungkin.”
“Jadi itu alasan keduamu datang kemari. Meminta jawaban untuk mengembalikan ruh yang bergentayangan ...'kah?”
Di satu sisi, tempat di mana Yasha berada yakni Wilayah Uchigoro, kota Tama. Berada dekat dengan ibu kota. Nampaknya Yasha menjumpai satu yokai lagi, dan sekarang Kizu dan Nekomata berada bersamanya.
“Yokai macam apa itu?” tanya Nekomata. Dirinya sudah berubah. Dalam wujud besar dan berbulu, ia memiliki dua ekor yang panjang. Terdapat kobaran api di sekitarnya itu adalah miliknya.
“Aku tidak tahu. Sebaiknya lenyapkan dia secepatnya sebelum tuan rumah di sini datang,” pikir Kizu dalam wujud rubahnya.
“Jangan terburu-buru. Dia ini sedikit aneh.” Yasha berkata sebaliknya. Ruh Mikio yang memperingatkan bahwa yokai itu sedikit berbeda dari yang pertama kali ia basmi.
Yokai itu memiliki wujud sama kecilnya seperti yokai sebelumnya. Warnanya yang coklat tua persis batang kayu dan terdapat warns putih di bagian depannya sedikit aneh.