Samurai Oni

Samurai Oni
SERANGAN DADAKAN



Ramuro Yu, pria tua itu sekarang dikenal sebagai Yakuza. Orang yang selalu berada di layar belakang. Ramuro dan Akio selalu berselisih semenjak kejadian sewaktu Akio masih menginjak usia remaja.


Sebenarnya masalah itu bukanlah masalah sepele yang mana menghubungkan yokai. Ramuro Yu yang sedang ditempeli oleh yokai sejenis hantu, sedangkan Akio hendak membasminya. Namun karena Ramuro dan yokai seakan berbagi tubuh, itu membuatnya terlihat bahwa Akio hendak membunuh Ramuro. Semenjak itulah hubungan di antara mereka semakin merenggang.


Dan sampai sekarang tidak ada yang menyadari apa yang sebenarnya menimpa Ramuro hari itu. Tentu saja termasuk Ramuro sendiri, ia sama sekali tak sadar karena selalu mabuk setiap waktu.


Lalu sekarang, keduanya kembali dipertemukan dan mereka sudah berkelahi d dalam ruangan. Yang lain mencoba untuk menghentikannya namun itu sangatlah mustahil. Dua kekuatan yang berada di hadapan mereka, sudah seperti saling melahap satu sama lain. Percuma saja berteriak, atau semacamnya.


Ramuro dan Akio, keduanya berakhir dengan merusak apa yang ada dalam ruangan milik Uchigoro Tamura.


“Hei! Sadar diri ini tempat milik siapa?!” pekik Uchigoro, ia tak pernah menyerah jika barang-barang miliknya jadi korban seperti ini terus.


“Berisik sekali kau bocah!” Ramuro berteriak pada Uchigoro.


“Apa?”


“Pak tua sekalian semuanya memang bodoh!”


Saling memukul, menendang dan hingga saling banting satu sama lain. Adu mulut tidak pernah berhenti dengan saling mengungkit kesalahan masing-masing.


“Siapa pun tolong hentikan mereka.”


“Ah, kenapa harus dimulai sekarang.”


“Mereka tidak ada bedanya di mataku. Atau mungkin mereka cepat lupa tentang nasib yang akan terjadi pada negeri ini besok?”


“Inilah kenapa aku tidak suka jika dikumpulkan dalam satu tempat.”


Semua orang memiliki pemikiran sama yakni, “Tanpa adanya Shogun Hatekayama, kita semua hancur tanpa sisa.”


“Huh! Aku benci di sini!” Setelah merusak beberapa properti dalam ruangan termasuk dinding, Akio lantas pergi dengan langkah kaki yang angkuh.


“Sudah cukup. Bocah itu tidak berguna.” Ramuro mengatakan demikian lantas melarikan diri dari pertemuan darurat ini.


Masing-masing dari mereka terpaksa membubarkan diri, lantaran kejadian yang malang terjadi tepat di depan mereka. Tak ada satupun dari mereka yang mampu mengendalikan baik Akio maupun Ramuro. Mereka semua sama saja.


Akio yang sudah keluar dari wilayah Uchigoro, kota Tama, sedang menuju ke perairan Mizunashi, kota Dama. Saat itu, ia tidak begitu sadar akan kehadiran seseorang.


Akio selalu melangkah dengan penuh celah akibat terlalu emosian. Hingga ia sadar dengan suara ketukan dan suara seseorang yang menyapa dirinya secara tak langsung.


“Selamat pagi. Bagaimana kabarmu?”


Akio reflek berhenti bergerak, lantas menoleh ke sumber suara yang berada tepat di sampingnya. Tak berselang lama kemudian, para pengikut Akio muncul dan berdiri di antara mereka.


“Tuan Akio, berhati-hatilah.”


Ketiga-tiganya kecuali Akashi yang sekarang berada di Kuran, mereka menjauhkan Akio dari ancaman satu ini. Datangnya hanya dari seorang kakek tua kecil, tingginya lebih sedikit dari kakek tengu dan wajahnya lebih kendur berkeriput. Lalu sebuah tongkat kayu yang sebelumnya dihentakkan kini kembali diangkat oleh kakek itu.


“Hanya sedikit aku merasakan aura yokai. Apa dia selemah itu?” pikir Akio.


Yasha tersentak kaget, gerakan pada tangannya terhenti akibat terkejut dengan perkataan kakek tersebut. Seakan-akan ia mengerti apa maksudnya, dan terlihat ia panik dari wajahnya.


“Sepertinya, aku yang diincar lagi ya?”


Tak!


Kakek itu kembali menghentakkan tongkatnya ke tanah, memunculkan sebuah retakan yang perlahan-lahan membesar hingga membuat tanah itu terbelah dari satu sisi ke sisi lainnya. Para penduduk yang berada jauh darinya berteriak histeris, terkejut akan tanah yang tiba-tiba saja berguncang dan terbelah seperti itu.


Karena sudah jelas kakek itu mengincar siapa. Akio segera mengambil tindakan sendiri. Ia berlari dengan maksud untuk menggiringnya dan sepertinya itu berhasil. Kakek yang seharusnya tak bisa bergerak cepat, ia menghilang dan bergerak dari bawah tanah. Semakin cepat ia bergerak, semakin ia membuka celah pada tanah yang sudah terbelah.


Berhubung dirinya berada dekat dengan perairan Mizunashi, Akio menggiringnya masuk melalui perhutanan dan kemudian menceburkan diri ke sungai yang memiliki aliran deras. Ia sudah tak peduli bila ia terseret oleh arus, asalkan kakek tak dikenal terus mengikutinya tanpa menyentuh satu pun penduduk.


'Karena dia bergerak dalam tanah, mungkinkah dia akan menembusnya?' pikir Akio dalam benak.


Tak ada yang bisa Akio lakukan selain bertahan dalam perairan sungai. Sembari memantau keadaan yang hening, beberapa dari pengikutnya berlari sembari berteriak dan memanggil nama Akio.


“Tuan Akio! Anda baik-baik saja?!”


“Bodoh! Jangan kemari!” pekik Akio memperingatkan mereka.


Begitu kepalanya keluar dari sungai, sembari ia mempertahankan posisi dengan berpegangan pada batu besar, Akio terlambat menyadari bahwa kakek itu ternyata sudah berada dekat dengannya. Bukan di air melainkan ada di daratan.


“Kau belum cukup kuat untuk mengalahkan kami. Sepertinya memang benar bahwa kami harus mempercepatnya,” ujar si kakek.


“Apa yang kau bicarakan?”


DUARR!!


Ledakan muncul dalam air, ibarat adanya ranjau di dalam sana. Namun entah itu beruntung atau buntung. Area ledakannya tidak begitu dekat namun karena ledakan air tersebut sehingga mengakibatkan tubuh Akio semakin terseret oleh arus sungai. Gelombang air pada puncaknya membuat tubuh Akio terdorong dengan cepat menuju ke arah laut.


“TUAN AKIO?!!”


“Hentikan!! Jangan mendekat!!” Disamping itu, ia masih memperingatkan mereka untuk tidak mendekati yokai.


Alhasil, Akio terseret sendirian. Ia yang semakin lama tenggelam ke dalam perairan sungai, secara langsung berhadapan dengan satu mahluk lainnya. Ia memiliki kepala dan rambut panjang dan bagian tubuh bawahnya berupa ekor bersisik layaknya seekor ikan. Yokai; Ningyou telah muncul dan menyergap Akio dari belakang.


Karena kecepatan pada aliran sungai ini, tidak bisa membuat Akio bergerak. Ia tak bisa mengelak dari serangan Ningyou, Akio tergigit di bagian salah satu kakinya dan sangat sulit untuk melepaskan gigi-gigi tajam Ningyou sampai membuatnya mati rasa.


Belum lagi ia harus menahan rasa sulitnya bernapas, sedikit demi sedikit pandangannya kian mengabur, gigitan yokai terus mengoyak bagian dagingnya hingga mengenai tulang kaki. Akio merintih kesakitan, namun tak bisa berbuat apa-apa.


'Siapa sebenarnya mereka berdua? Kenapa aku tidak berekasi dengan benar. Kakiku ...!' jerit Akio dalam batin.


Kedua tangannya hendak meraih kedua pedang yang ia miliknya, namun terasa sangat sulit tak hanya karena gigitan Ningyou yang membuatnya sakit, Akio juga selalu terseret oleh arus laut tersebut.


Sampai ia tidak sadarkan diri, tubuhnya tersangkut ke sebuah bebatuan yang cukup besar untuk menahan arus sungai. Ia sudah tidak berada di wilayah perairan Mizunashi, melainkan di tempat yang berbeda.