Samurai Oni

Samurai Oni
ONRYOU I



Kekuatan spiritual Akio perlahan menghilang, sedikit demi sedikit dan itu membuatnya kewalahan tuk melawan mereka yang tidak ada habisnya.


Masing-masing dari yokai memiliki wujud berbeda begitu pula dengan kekuatannya. Suatu eksistensi yang mencerminkan hasil dari dunia fana benar-benar sangat mirip.


Yokai yang terhitung ratusan kini semakin lama semakin bertambah. Berapa kali pun Akio mengayunkan pedang, mereka tidak pernah berhenti berkurang justru bertambah.


“Hahaha! Kau akan mati! Matilah, Samurai Oni!!”


Perasaan benci, dendam dan segala emosi negatif terus Akio rasakan. Secara perlahan emosi negatif melahapnya, mulai dari kaki.


“Arghh!!”


Kaki kanannya tertancap taring yang begitu tajam. Karena pergerakan kakinya terhambat sehingga membuat rombongan yokai menyeruduk tubuh Akio dari depan langsung.


“Kau akan mati. Mati! Mati!”


“Diamlah, yokai! Kalian semua tidak pantas lahir di dunia! Kembalilah ke tempat asalmu! Kembalilah!!” pekik Akio, lekas ia beranjak dari sana.


Ia memaksakan diri tuk berlari. Meski kakinya terasa sakit luar biasa, darah pun terus bercucuran deras. Sebanyak apa lukanya, Akio tetap mengayunkan pedangnya.


Dengan sekuat tenaga, aliran kekuatan di dalam tubuhnya semakin terhisap oleh roh jahat dalam pedang. Terbentuklah aliran yang kacau, mirip seperti aliran air sungai yang menyerupai ular mengudara.


“Sakit ...kenapa sesakit ini?” Ia mengeluh bukan karena luka fisiknya melainkan karena luka yang terdapat pada jiwanya.


“Itu karena kau memaksakan diri, bocah! Jiwamu sebentar lagi akan kami lahap. Seutuhnya! Jadi, keluarkanlah! Semua energi milikmu! Semua!!”


Sebuah lubang yang besarnya 5x lipat dari bayangan Akio muncul di bawah kedua kakinya. Reflek, Akio melompat ke belakang namun ternyata dari belakang ia sudah diincar oleh seekor burung berkepala anjing.


Paruhnya menangkap punggung Akio, dan sengaja ia menjatuhkan Akio dalam lubang tersebut.


“Aku jatuh! Jatuh! Jatuh!!” Akio berteriak histeris, panik tak karuan saking ia tak mempunyai jalan lain setelah dijatuhkan begini.


Berpikir dirinya akan mati mengenaskan, namun kemudian sebuah ide muncul ketika melihat sulur-sulur panjang yang tak jauh darinya.


“Ini ...lidah?” Ia berpikir itu akan menariknya. Dan benar saja, begitu Akio menggenggam, ia langsung terlempar menjauhi lubang besar.


Berkat itu ia selamat, lantas menyiapkan posisi yang mantap tuk kembali menyerang.


“Tanpa kekuatan spiritual aku tidak bisa melenyapkan yokai melainkan hanya menebasnya saja. Tapi itu tidak apa,” gumam Akio seraya mengenggam pedang kayu dengan erat.


“Sepertinya, Samurai Oni sudah cukup kelelahan.”


“Ha! Rasakan itu!”


Embusan angin kencang datang dari belakang, berniat mendorong tubuh Akio agar masuk ke dalam lubang. Hanya dengan satu kaki yang sehat, ia mempertahankan posisinya tanpa sekalipun bergerak dari sana.


“Datanglah padaku jika ingin memakan jiwa yang kotor ini. Yokai terkutuk!” seru Akio.


“Heh, dia mencoba untuk menantang kita semua? Hahaha! Meski aku kalah darimu dulu—”


Tak terhitung seberapa banyak yokai berkumpul dengan cepat. Bahkan Akio sampai tak bisa melihat langit gelap bahkan kedua kakinya sendiri karena sekarang hampir ribuan yokai bersiap untuk memakannya.


Banyaknya mereka, memiliki satu suara dan pemikiran yang sama. Berucap, “KAU PIKIR BISA MENGALAHKAN KAMI?!”


Menang dengan jumlah, itulah yang yokai maksudkan. Tak merasa takut, ia tertantang karena darah yang mengalir pada tubuhnya saat ini sedang memanas.


“Kalian bebaslah membenciku, tapi aku pun membutuhkan kekuatan untuk membunuh sesama jenis kalian sendiri.”


“Ngoceh apa ini anak?”


“Karena itu, jadilah pedang yang pantas untukku!” tutup Akio.


Di depan mata mereka, siapa pun tak mungkin melepaskan buruannya begitu saja. Terlebih mereka adalah roh jahat dari para yokai terkutuk yang telah Akio bunuh. Mereka tumbuh jadi roh pendendam, rasa kebencian serta emosi negatif lainnya pun berangsur-angsur, mengalir tiada henti seolah abadi. Bahkan menyerang mereka akan membuat mereka jauh semakin kuat.


Sosok dari para yokai bisa dikatakan ialah musuh abadi Akio, Samurai Oni.


Bahkan yokai-oni tak terkecuali, telah ia bunuh dengan tangan Akio sendiri, dengan pedang kayu yang tak pernah diasah melainkan hanya dengan teknik serta kekuatan itu sendiri.


“Akhirnya ....akhirnya ...aku bisa memakan Samurai Oni. Pembalasanku ...dendamku, semua!”


Suara dari wanita, anak-anak maupun pria yang bukan manusia, semuanya terdengar jelas dan entah apa yang terjadi karena tubuh Akio tertutupi oleh keberadaan mereka. Kecuali cipratan darah yang berulang kali terlempar dari setiap celah tubuh yokai.


Lalu, topeng oni-nya pun terlepas dan jatuh ke tanah.


“Hahaha!! Aku merasakan kekuatan mengalir kepadaku lagi! Rasakan itu! Samurai Oni!!”


'Kebencian mereka padaku sungguh besar. Apa aku akan mati? Jangan bercanda, bukan niatku untuk datang kemari. Kau pikir lucu menantang maut?' batin Akio, yang dalam kondisi setengah sadar.


“EH?” Ribuan yokai terdiam setelah beberapa saat menikmati apa yang mereka makan. Sebagian dari tubuh Akio sudah terkoyak dimakan oleh mereka, namun ada sesuatu terjadi pada mereka.


“Ini!”


Cahaya sinar kebiruan perlahan muncul, dari setitik hingga berubah menjadi sinar terang yang keluar dari tubuh Akio. Semua yokai yang hendak berebut tulang-tulang Akio lantas menjatuhkannya ke tanah. Mereka bersikap aneh, menjauhkan diri dari tubuh Akio.


“Anak ini ...sesuai perkiraan dia.”


“Akhirnya dia datang?”


“Ya.”


Sesuatu membalut setiap luka Akio, serta menumbuhkan apa yang telah hilang dari tubuhnya dengan mudah. Seolah sejak awal tubuh Akio tidaklah terluka.


'Apa ini?' Akio yang setengah sadar pun dibuat bingung, namun tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak.


***


Sedang di luar sana, Akashi, Kizu, Nekomata dan Yasha dibuat khawatir. Cemas jika Tuan mereka takkan kembali, namun di samping itu juga percaya bahwa Tuan mereka pasti akan kembali.


“Kakek, apa Anda yakin membiarkannya seperti ini? Anda bisa membantunya keluar bukan?”


“Membantunya keluar untuk apa?”


“Maksud saya, jika suatu waktu Tuan Akio kalah. Anda bisa membantunya keluar bukan?”


“Tidak. Aku tidak akan membantunya. Bahkan aku tidak bisa melakukan hal itu,” ujar si kakek dengan wajah tenang. Ia sama sekali tak merasa bersalah.


“Kakek ini kejam sekali. Manusia macam apa? Tapi aku tidak benci sifat itu.”


“Tuan Akio akan kembali bukan? Iya, dia akan kembali. Pasti,” ucap Akashi, mengerutkan kening dan menatap pedang yang tak bereaksi apa pun saat ini.


Baik pengikut Akio maupun kakek sendiri takkan bisa melihat apa yang terjadi.


“Ngomong-ngomong kakek.” Namun agaknya Nekomata merasa ada sedikit keanehan di sini.


“Ada apa, kucing?” tanya kakek itu. Sedikit acuh.


“Aku tidak merasakan kehadiran Tuan Akio di pedang ini lagi. Aku tidak merasakannya di manapun. Apa yang terjadi?”


Tak mendapat jawaban sama sekali. Membuat Nekomata geram, sekali lagi ia bertanya, “Apa kau menyembunyikan sesuatu mengenai Tuan Akio?”