Samurai Oni

Samurai Oni
BERMATA SATU



“Kau akan berhenti sampai sini?”


Ketika ditanya oleh kakek tengu, Akio masih belum bisa menjawabnya dengan benar.


Pertanyaannya; mengacu pada takdir yang telah lama membelenggunya. Akio sama sekali tidak bisa menjawab ketika ditanyakan hal itu.


Terikat oleh takdir ataukah tidak, atau mungkin sedang melawan, bahkan Akio sendiri tidak tahu apa jawaban pastinya. Selain memahami bahwa dirinya tidaklah mengerti apa-apa selain membasmi musuh di depan mata. Hanya itu saja.


Tetapi, saat tahu bahwa Retsuji memiliki hubungan dengannya yang mana kakek pernah berkata bahwa Retsuji adalah miliknya di masa lalu. Itu sedikit terhubung dengan kenangan yang sempat terlintas di dalam benaknya.


“Ayahmu berusaha untuk membunuhmu bukan karena benci melainkan untuk membebaskanmu dari takdir kejam itu.”


Entah mengapa, ia jadi teringat dengan Akashi dkk yang bertaruh nyawa hanya untuk mencari dan melindunginya dari yokai terkutuk lainnya.


Tetapi, hal yang paling membuat Akio kesal adalah, teringatnya kenangan lama yang buruk saat ia masih sangat kecil.


Kurang lebih 15 tahun lalu. Akio yang masih sangat kecil itu sudah bertemu dengan yokai terkutuk. Untuk kali pertamanya ia bertemu, mengira bahwa mahluk tersebut hanyalah hewan ternak atau sejenisnya seperti kucing atau anjing.


“Wah, dia sangat imut. Kenapa tubuhnya berdiri tegak dan penuh bulu hitam ya?”


Akio yang sangat penasaran dengan hal-hal unik, ia selalu menyelinap keluar dari rumah hanya untuk melihat mahluk itu saja. Setiap waktu setiap ada kesempatan, ia pasti akan ke sana dan bermain bersamanya.


Entah mahluk apa itu. Namun mahluk tersebut berdiri tegak dengan dua tangan dan kaki yang kecil, bulu lebat berwarna hitam dan antena seperti belalang lalu yang paling unik dari segala bentuk pada tubuhnya ialah matanya.


“Matamu hanya satu ...aneh.” Akio memegangnya dengan satu jari, tentu saja mata itu akan berkedip-kedip karena merasa geli.


Tidak ada mulut ataupun hidung. Yang Akio tahu, yokai terkutuk itu tak pernah berbicara kecuali selalu mengikuti Akio ke manapun pergi.


“Akio!! Kau pergi keluar lagi?!”


Dan ketika ia hendak menyelinap pergi lagi, dirinya ketahuan oleh sang Ayah—Kaeda.


“Latihanku sudah mencapai tingkat yang Ayah inginkan. Kenapa tidak dihentikan saja?”


“Percuma kalau kau tidak bisa membela diri. Sekuat apa pun kau.”


“Apa maksud Ayah?! Tidak! Aku bosan berlatih! Aku lelah!”


Kira-kira, karena perkataan Akio sewaktu inilah yang membuat sang Ayah—Kaeda berubah pikiran. Kaeda yang berusaha keras membesarkan Akio sebagai Samurai yang teguh dan kuat, kini mulai meragukan akan adanya takdir. Kaeda mulai berpikir bahwa putranya sedang ditarik-ulur tidak jelas dan tanpa sadar membuatnya frustasi.


Dan kemudian berpikir ketika mendengar ratusan keluhan dari Akio, “Benar juga. Seharusnya kau tidak usah lahir saja.”


Seingat Akio, itulah yang Kaeda ucapkan kepadanya meski secara tak langsung. Itu membuat hati Akio sangat pedih, Keiko yang mendengar jadi sedih namun tak tahu harus berbuat apa.


Dan itu adalah kali pertama Akio akhirnya berani memberontak secara terang-terangan. Ia hanya fokus bermain dan bermain saja dengan yokai terkutuk. Tanpa diketahui oleh siapa pun.


Lalu, dari satu bulan ke bulan lainnya. Waktu demi waktu Akio habiskan hanya untuk bermain bersama dengannya hingga waktu itu berakhir.


“Kau bodoh.” Akio tidak salah dengar, karena sebenarnya mahluk yang dikiranya hewan ternak itu bisa bicara.


“Kau adalah Samurai yang itu. Tapi karena kau melupakannya, kau jadi bodoh dan tidak berguna. Kalau kau jadi payah begini, untuk apa aku memakanmu?” Dengan suaranya, ia terang-terangan menghina Akio.


“Eh? Apa? Apa maksudmu?” Akio yang tidak memahami percakapan itu, langsung bertanya dengan raut wajah bingung.


“Ah, benar juga. Kau 'kan masih bocah.”


“Dulu aku memang selalu ragu, kakek. Tapi sekarang berbeda. Meskipun mereka mempertaruhkan nyawa, aku takkan mungkin semudah itu percaya. Lalu—”


"Bertarung!" Adalah jawaban paling tepat dari jawaban lainnya. Akio memilih untuk bertarung bukan karena pilihan takdirnya melainkan karena ia memilih takdir itu sendiri.


Karena itulah, sekarang ia memiliki cara untuk memaksimalkan Retsuji—Pedang Pahlawan yang memiliki kekuatan supernatural. Terlihat sangat kuat begitu ia memfokuskan dirinya pada pedang tersebut.


Mampu menebas apa yang harus ia tebas dan melewatkan apa yang tidak perlu ditebasnya. Sekarang, baik penghalang jahat maupun yokai pengendali waktu telah habis di tangannya.


“TUAN AKIO?!”


Semuanya berteriak histeris ketika mendapati Akio berada di luar rumah, tempat di mana mereka sedang berusaha menghabisi satu mahluk tersebut. Namun karena sekarang mahluk itu sudah lenyap, mereka jadi tak perlu mengangkat senjata lagi.


“Tuan Akio datang! Hore!”


“Saya amat senang Anda datang mengunjungi.”


“Tuan Akio pasti tahu kalau kita gagal melakukannya. Lagi pula ini tidak terduga.”


Hari ini muncul dua yokai dalam satu tempat. Sungguh tak terduga. Akio sendiri tidak begitu sadar akan hal tersebut, dan datang terlambat. Sepertinya nasib Kizu, Yasha dan Nekomata masih terbilang aman.


“Tuan Akio, apa Tuan mendapatkan sesuatu dari samurai yang Anda temui?”


“Ya, sedikit. Tentang Prajurit Neraka. Apa kalian tahu sesuatu?”


Kizu dan Nekomata terdiam. Sedang Yasha menjawab, “Saya tahu.”


Ialah yokai yang berusia paling tua. Nampaknya ia jauh lebih tahu dibandingkan dengan lainnya.


“Prajurit Neraka, yah ...itu sebutan yang kuno. Karena akan ada beberapa yokai terkutuk dalam wujud tanpa berasap. Mereka sangat kuat, seperti yang pernah Tuan Akio temui.”


“Wanita itu?”


“Ya. Tapi, saya tidak begitu tahu apakah dia termasuk salah satunya atau bukan.”


“Begitu.”


Yasha tidak tahu apakah wanita yokai yang selalu mengenakan baju pengantin adalah salah satu dari Prajurit Neraka atau bukan. Tapi jika bukan, maka setingkat dirinya sudah cukup kuat dan sulit dilawan oleh Akio.


“Bila dia bukanlah Prajurit Neraka. Maka yokai terkutuk yang bagian dari Prajurit Neraka berada di atasnya. Benar begitu bukan, Tuan Akio?”


Semuanya memikirkan hal sama. Tak menyangka bahwa ini menjadi nyata.


Dan semua percakapan di antara mereka pun terdengar oleh yokai tersebut. Wanita itu sekarang berada tak jauh darinya, namun hanya sekadar melihat dan terkadang tersenyum.


“Aku sangat menghargainya. Bila dia mengingat sesuatu, aku sangat menghargainya. Lalu ...aku sudah tidak sabar. Untuk bertemu denganmu, sekali lagi.”


Seperti biasa setiap perkataan yang diucapkan dari mulutnya selalu terdengar ambigu dan terkesan aneh. Entah apa yang ia rencanakan, namun dari arah tatapannya sudah jelas mengincar siapa.


“Akio ...itu namamu yang ke berapa? Sungguh indah,” gumamnya dengan suara lirih, perlahan ia mengambil langkah mundur dan menyeret gaunnya sedikit.


Lalu dirinya pun menghilang bagai diterbangkan angin, dengan puluhan kupu-kupu dua warna berhamburan untuk sesaat saja.