
Mereka semua tidak bisa melihat apa yang seharusnya mereka lihat. Bahkan untuk Nyonya Hima sebagai ibu dari bayi merah itu saja, juga tidak bisa melihat wujud asli dari bayi tersebut.
Paling parahnya lagi, oni itu terlihat ia sangat senang. Di balik tirai ia menyeringai lebar, serta merasakan bahwa Kizu sedang dilirik olehnya di sana.
“Tuan Akio, mereka masih ragu. Kumohon, lakukan saja, biar mereka tahu rasa.”
Alhasil Kizu kembali pada Akio dengan tanpa menghasilkan hal yang diharapkan. Akio sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Tetapi di samping itu ia juga tidak menyangka bahwa para samurai hanya bisa merasakan kehadirannya sedikit.
Pedang Retsuji miliknya, Akio menatap pedang itu lebih lama dari biasanya. Entah mengapa ia berpikir karena pedang inilah, ia bisa melihat wujud asli dari bayi merah tersebut.
"Tidak bisa." Akio menuliskan kalimatnya menggunakan ujung kaki. Seraya ia bersandar dan melipat kedua lengan ke depan dada.
“Uh, ini sungguh menyebalkan. Seandainya aku bisa, aku akan meringankan beban Tuan Akio secepatnya.”
Kizu pun merasa amat menyesal karena tak bisa melakukan apa pun, bahkan tugas yang diberikan oleh Akio saja tidak terselesaikan sedikit saja.
“Maafkan aku, Tuan Akio.” Ia bersimpuh, menundukkan kepala sampai dahi Kizu menyentuh tanah di sana. Ia lebih terlihat seperti seorang pengemis dibandingkan sedang memohon maaf.
“Itu karena para samurai tidak sadar saja. Lagipula, aku tidak begitu yakin apa mereka bisa melakukan hal itu langsung di depan mata Ibu dari targetnya sendiri bukan?” sahut Takao yang mendadak muncul dari perut Akio.
“Hei, jangan bermain-main di tubuh Tuan!” amuk Kizu.
“Aku 'kan hantu. Dan jangan memarahiku lagi,” ucap Takao lantas bersembunyi di balik punggung Akio.
“Hei, kemarilah!”
"Pergilah, kalian berdua!" Kalimat perintah telah tertulis jelas di tanah, Kizu dan Takao pun tersentak kaget, lantas terdiam sejenak.
Melihat mereka hanya diam saja, Akio pun kemudian pergi. Kizu dan Takao lantas mengikutinya. Begitu sadar bahwa mereka masih saja mengikutinya, lantas Akio berbalik badan.
“Pergi dari ibu kota. Sekarang juga!” Kali ini Akio berteriak secara tegas, meninggikan suaranya agar mereka berdua mau mengerti.
Dan baru saja mereka pergi, datang lagi seorang setengah yokai yang tak pernah dinanti. Akashi.
“Akhirnya kita bertemu juga, Tuan Akio!”
“Suaramu terlalu keras!” teriak Akio sembari menjitak kepala Akashi hingga duduk terdiam meringkuk di hadapannya.
“Tapi, Tuan Akio. Aku sedang mencari kucing itu. Entah ke mana perginya, karena sampai sekarang dia belum kembali ke benteng,” ujar Akashi resah.
“Itu karena kau sudah pergi terlalu jauh dari sana.”
“Oh, benarkah? Kalau begitu aku akan ikut Tu—”
“Hentikan. Pergilah. Dari sini. Sekarang juga.”
Akashi yang mendengar kalimatnya patah-patah seperti itu, membuat ia bungkam dan sulit menyahutnya kembali.
“Kenapa?”
“Pergilah. Temui Nekomata di benteng.”
Akashi menarik ujung pakaian Akio, dan spontan itu membuat Akio berhenti melangkahkan kaki.
“Sebelum itu, Tuan Akio. Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Nampaknya kabar burung mengenai yokai wanita itu mulai tersebar ke mana-mana. Tak hanya Kizu, yang mendapatkan kabar burung itu dari Rumah Bunga. Bahkan Akashi pun juga. Ia datang kemari dengan cara melompati setiap atap rumah tanpa ketahuan, setidaknya cara ia bersembunyi sudah mulai berkembang. Dan berkat kemampuannya itu, Akashi jadi mendengar kabar burung tersebut.
“Yokai wanita. Wujudnya wanita dan memakai pakaian serba putih dan tudung kain tipis sama putihnya di kepala. Dia memakai riasan, yang paling mencolok di bagian bibirnya.”
Sedikit demi sedikit Akashi menjelaskan ciri-ciri dari yokai wanita itu.
Sontak saja, mata di balik topeng oni-nya terbelalak kaget. Ia tak menyangka bahwa pemerah bibir disebutkan, karena hal itu membuatnya teringat akan mimpi di pagi hari.
“Merah?”
“Ya, Tuan Akio.”
“Lalu kenapa?” Ia memilih untuk tidak melibatkan apa yang ia lihat dalam mimpi. Justru acuh. Bahkan menganggap yokai tersebut adalah yokai seperti biasanya.
Dan sekarang ini ia merasakan keberadaannya, namun karena ada banyak orang serta Akashi yang datang, ia jadi tidak bisa melakukan sesuatu.
“Tuan Akio?” Akashi juga sangat terkejut mendapati respon Akio yang tak sesuai dugaan.
“Aku mencium bau wanita itu di pakaian Tuan Akio. Jadi aku berpikir aku harus mengatakannya, bahwa yokai itu berbeda seperti yokai laba-laba di benteng,” ujar Akashi seraya menggelengkan kepala.
“Aku tahu.”
Masih saja ia acuh, Akio bergegas agar dapat segera pergi meninggalkan Akashi. Tetapi Akashi selalu saja menghalanginya seolah-olah takkan membiarkan Akio pergi.
“Jangan pergi sendirian. Aku sekarang mencium bau yang lebih, bau wanita itu.”
“Kalau kau sadar, maka cepatlah pergi.” Ia berbisik pelan lantas mendorong Akashi tuk menjauh darinya. Lekas Akio pergi menuju ke atas, di mana ia merasakan hawa kehadiran wanita yokai itu.
***
“Kasihan sekali, dia.”
Siang dengan matahari meninggi di atas kepala. Banyak penduduk melakukan aktivitas tanpa merasa terganggu, juga sebagian menikmati hari mereka dengan duduk tenang.
Di samping itu, terdapat hawa yang menekan. Yakni akan kehadiran yokai-oni sejatinya merasuk sebagai seorang bayi merah. Baik Ibunya sendiri maupun orang-orang sekitar termasuk para samurai sama sekali tidak menyadari akan hal tersebut. Meski sebelumnya sudah diperingati oleh Kizu dan bahkan telah merasakan sedikit kejanggalan tapi sepertinya memang tidak mungkin.
“Kasihan sekali. Tapi tenanglah, karena aku akan melakukan pekerjaanmu. Dan juga agar kau bisa beristirahat setidaknya sebentar.”
Saat ini, yokai wanita dengan baju pengantin itu berada di suatu daerah lain. Tidak sedang berada di Ibu Kota, serta sesuatu yang Akio kejar ternyata hanyalah seekor kupu-kupu yang hinggap di atas tiang, bukan kehadiran yokai itu sendiri.
“Kasihan sekali, dia.”
Ia pergi tuk menemui seekor kucing. Bukan seekor kucing biasa melainkan monster kucing yang biasa disebut Nekomata.
Nekomata terkejut karena tiba-tiba saja seorang wanita berbau yokai dengan baju pengantin putihnya datang padanya. Ia terdiam dengan mata terbelalak, mulutnya menganga dan tak mampu bertutur kata.
Setelahnya, wanita itu berbalik dan mulai menatap sembari berujar akan sesuatu.
“Kasihan sekali, dia. Hidup dan mati pun harus memilih dan merelakan sesuatu. Karena itulah ...,”
Dengan postur tubuh yang lebih pendek namun juga tidak lebih tinggi dari tuan-nya Akio, wanita itu mengambil posisi duduk berjongkok. Lalu tersenyum.
“Aku ini datang untukmu.”
Ia hendak meraih kucing itu namun Nekomata mengambil langkah mundur secara perlahan.
“Siapa kau?” Nekomata bertanya sembari berwaspada.
“Nekomata, ada hal yang harus kau sampaikan pada samurai yang paling kau kenali. Bilang padanya, "Aku akan melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan. Karena itu tunggulah", ya?”
Pesan itu akhirnya tersampaikan, dan Akio bereaksi terkejut sekaligus merasa terhina.
“Siapa yang membutuhkan bantuan yokai? Bahkan aku tak butuh kalian semua.” Dengan mudahnya berkata begitu di depan Nekomata.