Samurai Oni

Samurai Oni
KESETIAAN



Mizunashi Kage mengikuti langkah Akio, namun pada akhirnya ia pun sama terlambatnya seperti Akio sendiri, begitu sampai ia sudah dihadapkan dengan Shogun Hatekayama yang sudah tak bernyawa.


“Shogun!”


Lebih parahnya lagi, ia melihat sosok Samurai Oni dengan pedang hitam berlumur darah di tangannya. Saat itu apa yang dipikirkan Mizunashi?


“Akio!”


Yang membuat kejadian ini seolah-olah Akio telah membunuhnya, ialah Mikio. Ia tiba-tiba saja berada di seberang pintu sisi lainnya, memanggil Akio seraya berjalan menghampiri.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Mikio yang sok tak mengerti apa-apa. Terlebih dengan raut wajah sedih.


“Apa ini perbuatanmu, Samurai Oni!” jerit Mizunashi memekakkan telinga.


Untuk sesaat Akio terdiam, ia tampak berusaha mencerna kejadian ini. Dan entah sejak kapan pedang hitam milik Mikio telah berada di tangannya.


Ia diam mematung dengan perasaan bingung, seakan guntur mengguncang tubuhnya, Akio membelalakkan kedua mata dan menatap Shogun yang sudah terbaring tanpa kesadaran sedikitpun.


“Ada apa denganmu, Akio? Kenapa kau melakukannya?”


Sementara pelaku sebenarnya sedang asik bersandiwara. Bermain peran sebagai sosok figur belakangan. Mikio perlahan mendekat dan kemudian memegang kedua pundak Akio. Sesekali ia mengguncangnya agar membuat Akio tersadar dari lamunannya.


“Samurai Oni! Serang dia!” teriak Nekomata, turun dari balik langit-langit ruangan.


Akio langsung tersadar, keberadaannya di sini bukanlah untuk meratapi kematian seseorang yang sudah lama ditunggu melainkan melenyapkan yokai yang berada tepat di depan matanya.


“Aku telah menunggumu, Akio. Aku ingin membunuhmu tapi sayang kau itu sangat lemah, bahkan sampai sekarang organ dalammu masih belum pulih seutuhnya bukan?”


Akio mendongakkan kepala, menatap Mikio seraya menggenggam pedang hitam yang sudah berada di tangannya.


“Mikio! Segera hentikan tindakan Akio! Ikat dia dan jangan biarkan lolos!” pekik Mizunashi yang nampaknya sudah menganggap Akio sebagai musuh serta pembunuh Shogun.


Namun, Mikio sama sekali tak mendengarkannya.


“Aku berharap kita bisa berbincang lebih lama lagi,” lirih Mikio dengan tersenyum lebar.


Mendengarnya membuat Akio semakin muak, tanpa ragu dan seperti yang dikatakan oleh Nekomata, Akio menghunuskan pedang pada tubuh Mikio yang sama sekali tidak memiliki pertahanan saat itu.


Sesaat setelah pedang hitam menembus punggung Mikio, bayang-bayangan hitam mencuat keluar dari bawah dan menyerang Akio dari belakang. Teknik yang sama saat Mikio membunuh Shogun kini dipraktekan kembali pada Akio.


“Kau benar-benar adik kurang ajar.”


Diam menahan kekesalan, Samurai Oni tetap berdiri dengan kedua tangan gemetar mendorong bilah pedang. Darah segar mengalir keluar baik dari tubuh Mikio maupun Akio, kedua-duanya sama-sama terluka tapi tak terlihat mereka akan tumbang.


“Akio! Apa yang kau lakukan?!” Sementara Mizunashi benar-benar tak mengerti situasi.


Baginya apa yang sudah terlihat maka memang begitulah kejadian yang sebenar-benarnya. Tetapi, di satu sisi ia juga menolak untuk percaya bahwa Akio lah yang membunuh Shogun.


Beberapa saksi yang mulai berdatangan setelah Mizunashi Kage pun tercengang akan situasi di dalam ruangan ini. Mereka tak pernah sekalipun berucap bahkan sepatah kata, hanya menatap tak percaya sekaligus bingung. Pedang mereka bergetar seolah ingin membunuh sesuatu.


“Mikio di dalam, Shogun tewas. Samurai Oni menyerang mereka berdua?”


“Aku yakin ini karena yokai. Akio ...Akio tidak mungkin melakukannya.”


Sama seperti pedang mereka, pedang hitam yang sudah berlumur darah segar itu pun juga terus bergetar. Bercampur rasa sakit yang amat mendalam, Akio mencoba untuk menahan tangis saat memutar bilah pedang dari dalam.


“Ugh! K-kau ...bersungguh-sungguh membunuhku? Akio!” Darah segar yang keluar dari mulutnya pun mengalir hingga jatuh ke topeng oni, tubuh Mikio perlahan melemah namun suaranya yang serak membuat Akio tercekat diam.


Nyaris ia melepas gagang pedang, ia ingin sekali melangkah mundur dan melarikan diri dari sana, tetapi. Mikio yang berada di hadapannya bukanlah manusia, melainkan yokai. Lalu yokai yang mengendalikan bayangan hitam aneh itu di luar sana.


Dengan suara lirih Akio memanggilnya, “Kakak ...,” Sembari meneteskan air mata, ia menarik pedang itu dengan cepat lantas memenggal kepala Mikio tanpa celah.


Nekomata terhenyak diam, batinnya seolah ikut terseret oleh air mata yang telah terjatuh di genangan darah itu. Dan kejadian itu pun telah dilihat oleh banyak saksi.


***


Hingga membuatnya berada di tiang gantung pada keesokan harinya.


“Samurai Oni! Lebih baik sejak awal kau tidak dilahirkan!”


“Itu benar! Keberadaanmu tidak lebih baik dari sampah!”


Banyak dari para penduduk di balik bambu yang menyekat tempat eksekusi terbuka, mencaci-maki Akio habis-habisan. Tak jarang dari mereka pula melempar batu, tak peduli mengenainya atau tidak.


Akio saat itu tidak bisa menatap apa pun lagi, ia memejamkan mata berniat melarikan diri dari langit yang menjadi saksi. Berdiri di atas papan kayu dalam keadaan terikat di bagian kaki dan tangannya, bersiap menerima hujatan serta anak panah ataupun senjata lainnya termasuk pedang dan obor api.


Mengeksekusi Akio secara terbuka sebagai Samurai Oni, pelaku dari pembunuhan Shogun Hatekayama dan Samurai Pedang Hitam, Mikio.


“Hahaha! Rasakan itu! Ha, sudah aku duga dia akan melakukannya. Lihat, itu buktinya!” pekik Honjou menikmati wajah datar Akio di sana.


Tak banyak dari samurai yang berbicara, mereka hanya menutup mulut kecuali Honjou yang berperilaku sama persis seperti para penduduk saat ini.


Sedang Kizu, Nekomata, lalu Akashi tengah bersembunyi di balik ruangan yang berada dalam area eksekusi.


Hakim berdiri dan membacakan seluruh perbuatan Samurai Oni dari awal hingga yang terakhir ini, ketika pembacaannya sudah selesai, Akashi dan lainnya langsung bergerak maju melangkahi hakim.


“Aku pedangmu! Takkan kubiarkan tuan-ku mati!” seru Akashi dan Kizu secara bersamaan.


Dengan kekuatan mereka, mengandalkan fisik semata sebagai yokai pun dapat meloloskan Akio dari sana. Bahkan melompat dari pagar bambu yang dibangun cukup tinggi bukanlah halangan khususnya bagi dua yokai bertubuh manusia saat ini.


Nekomata mengikuti mereka dari belakang, tetapi, karena para samurai sudah mulai bertindak, Nekomata unjuk gigi sebagai monster, memperbesar tubuhnya tuk menghalau mereka agar Akashi dan Kizu mendapatkan kesempatan tuk melarikan diri bersama Akio.


“Aku melihat keteguhan hatimu, Samurai Oni. Mulai sekarang aku akan mengikutimu ke manapun kau pergi. Tetapi setelah menyelesaikan urusanku di sini.”


“Neko-nya? tidak ikut dengan kita?”


“Lupakan itu! Prioritaskan Tuan Akio!”


“Kejar dia!!!” teriak Honjou sangat berantusias tuk menangkap kembali Akio.


Nekomata tentu takkan membiarkan Honjou lolos, sesaat sebelum menyerangnya ia sempat mengucapkan beberapa patah kata.


“Maafkan aku yang sudah melanggar janji demimu, Tuan!” pekiknya lantas tanpa ragu ia mendorong tubuh Honjou hingga terhempas jauh dari sana.