
Gion Matsuri berakhir dengan mengenaskan. Banyak yang menjadi korban atas kekejaman yokai yang memanfaatkan bayangan manusia. Lalu, berita duka yang tak kunjung berhenti-henti. Rasa sakit atas penderitaan yang mengenaskan ini, membuat semua orang tak lupa siapa yang mereka salahkan sampai sekarang ini.
“Dasar monster itu!”
“Pergilah ...pergilah! Samurai Oni! Matilah!”
Penduduk di setiap wilayah pun tahu kabar itu dengan cepat. Kabar mengenai Samurai Oni yang adalah Akio, pernah menjadi bagian dari keluarga Yamamoto. Kini dikecam habis-habisan.
Keluarga yang sudah lama membuangnya kini hanya bisa tertunduk malu, mereka ikut disalahkan terutama Keiko yang melahirkannya.
Beberapa klan pendiri pun tak bisa berbuat apa-apa. Jika sebagian orang berkata bahwa Samurai Oni telah mati karena menceburkan diri ke laut, maka sebagian lainnya akan berpikir bahwa Samurai Oni takkan mati semudah itu.
Mereka membutuhkan bukti yang nyata. Bukti berupa jasad Akio.
“Ugh! Dasar s*alan. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!”
Rintihan, jeritan, isak tangis yang berujung pembalasan dendam pada satu orang yang bisa disalahkan. Mereka hanya bisa menangis tanpa sedikitpun mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu pula dengan para saksi atas terbunuhnya Shogun Hatekayama. Termasuk Mizunashi Kage, ia sampai sekarang masih tidak bisa mempercayainya namun yang ia lihat itu nyata.
Wilayah Dama, kediaman klan Mizunashi.
“Sebenarnya kesalahan ini ada dimulai sejak kapan?” Mizunashi Kage berdiam diri dalam kamarnya, ia terus menggumam bagian mana yang sebenarnya salah ataupun benar.
Ia termenung, jauh dari kata "sebenarnya", Mizunashi Kage masih menganggap semua kejadian yang telah terjadi adalah angan-angan semata.
“Mizunashi Kage!”
Uchigoro Tamura membuka paksa pintu ruangan, tempat di mana Mizunashi tengah beristirahat saat ini. Ia memanggilnya dengan sedikit berteriak agar temannya itu sadar dan tak melarikan diri dari kenyataan.
“Apa yang kau lihat itu benar-benar nyata? Kemarin, Shogun—”
“Tuan sudah mati! Shogun Hatekayama sudah mati! Tidak perlu kau perjelas lagi!” teriak Mizunashi.
“Ya, aku tahu. Tapi yang aku tanyakan bukanlah kematiannya melainkan bagaimana ia bisa mati?” Uchigoro memaksa karena hanya Mizunashi Kage seorang yang tahu kejadian itu.
“Akio yang membunuhnya!”
“Itu tidak mungkin!” sangkal Uchigoro.
“Tamura! Apa kau tak mendengarku? Dia yang membunuhnya! Aku yakin itu! Aku melihatnya sendiri!” jeritnya lantas beranjak dari sana. Ia berdiri dan menghadap Tamura dengan penampilan yang berantakan.
Sementara itu di wilayah Gama, Kediaman Satsuki.
Ia tengah berbicara dengan para pengikutnya untuk membicarakan perihal kejadian yang terjadi kemarin. Dari laporan mereka, memang benar bayangan itu bergerak sendiri dan kemudian membunuhnya. Namun, hal itu mereka juga merasakannya di kastil.
“Cepat beritahu aku siapa yang menyadari ada yang aneh di kastil Shogun!”
“Ya, itu saya!” Eichi mengangkat tangan lalu menghampiri tuan-nya untuk menjelaskan apa yang ia ketahui. Lantas bertekuk lutut di depannya.
“Sesuai perintah Tuan, saya berkeliling di luar kastil dengan menjadi penduduk biasa. Saat itu saya tidak melihat Samurai Pedang Hitam masuk ke dalam.”
Ia sedikit mengangkat wajahnya. Kembali ia berkata, “Tapi menurut banyak orang, saat itu Samurai Pedang Hitam sudah berada di dalam kastil. Tolong pastikan, jika saya salah, Tuan.”
“Itu cukup. Aku berterima kasih padamu karena kamu telah menunaikan tugasmu dengan baik. Lalu, aku jadi sedikit mengerti dengan penjelasan Kage saat itu.”
“Mikio terbunuh setelah Shogun tewas! Kau juga tahu luka apa yang membuat Shogun tewas! Tusukan pedang, Tamura!” ungkap Mizunashi Kage yang nampak jelas bahwa dirinya sudah tersulut emosi berupa amarah dan rasa sedih yang mendalam.
Membandingkan rasa percaya ataupun tidak, hal yang ia lihat adalah nyata. Itulah yang Mizunashi Kage yakini!
Tetapi, beberapa dari klan pendiri lainnya merasa ada yang sedikit janggal karena pernyataan dari Mizunashi Kage sendiri. Terlebih Mizunashi menjelaskannya sambil emosi.
“Aku yakin, Tadashi mati juga karenanya! Itulah mengapa sekarang ...! Ugh! S*al!” Berujung kekesalan, dendam dan terus memaki-maki.
“Ya, benar. Pernyataanmu tidak ada yang salah.” Uchigoro mengangguk, ia sedikit memalingkan wajah dalam beberapa saat, ia juga sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Kalau begitu ...Akio—!”
“Bukan. Aku ingin bertanya sekali lagi padamu.”
Mizunashi yang nyaris hilang akal itu lantas menatap sinis padanya.
“Apa lagi?”
“Benarkah kau melihatnya? Melihat Akio membunuh Shogun Hatekayama secara langsung?” tanya Uchigoro yang telah membuat Mizunashi bungkam.
“A-aku melihatnya.” Ia menjawab dengan terbata-bata. “Tetapi, aku hanya melihat dia membunuh Mikio tepat di depan mataku.”
Dengan kepala tertunduk, ia menggelengkan kepala dengan pelan seraya berkata, “Sedangkan Tuan Hatekayama, aku hanya sekadar melihatnya sudah terbaring dengan Akio yang berdiri di depannya sambil membawa pedang hitam.”
Tak hanya Uchigoro bahkan Mizunashi ikut terkejut dengan pernyataannya sendiri. Merujuk pada kata "pedang hitam", yang seharusnya bukan milik Akio.
“Pedang hitam? Akio sama sekali tidak pernah menggunakan pedang sungguhan bahkan hingga saat ini,” ucap Uchigoro memperjelasnya.
“Pedang hitam itu kemungkinan milik Mikio?” pikir Mizunashi.
“Ya, hanya dia.”
“Tapi bisa saja Akio merebutnya!” Kembali ia menuding Akio.
“Tidak. Dia tidak akan melakukannya. Kemarin kau sendiri yang bilang bahwa kakek Naruhaya takkan membiarkan Akio menggenggam pedang sungguhan meski hukumannya itu sedikit dirubah,” sahut Uchigoro.
“Dan Akio takut pada hukuman yang menanti dari kakeknya sendiri. Kau seharusnya tahu hal itu, Kage!” imbuhnya meninggikan suara seraya mengenggam kedua pundak Mizunashi dengan erat.
“Percayalah! Pada Samurai Oni!” tuturnya lagi.
Mizunashi terdiam dengan raut wajah kebingungan. Ia masih tidak percaya dengan yang dilihat dan apa yang ia pikirkan saat itu juga. Dan tanpa sadar berpaling dari apa yang mungkin terlihat dari sudut pandang Akio sendiri.
“Selama ini kelakuannya sungguh buruk. Dia bahkan menghajar orang dewasa saat dia masih kecil, bahkan nyaris membunuh hakim. Siapa pun pasti akan berpikir bahwa memang benar dialah yang membunuh Shogun.
Tetapi, setelah Shogun lalu Mikio. Sebenarnya pun beberapa dari klan pendiri kecuali klan Hatekayama yang tertipu lalu Klan honjou yang polos, meragukan kehadiran Mikio yang muncul tiba-tiba.
“Bagaimana dengan lainnya?”
“Mereka percaya ini adalah ulah yokai terkutuk, semua kecuali penduduk biasa yang tak mungkin mengerti sifat Akio yang sebenarnya,” jawab Uchigoro.
Tak ada yang salah maupun benar. Masing-masing dari kebanyakan akan berpikir dari sudut pandang mereka. Mudah memang menyalahkan orang yang diduga, hati mereka pula akan mudah tertutup karena kebencian itu.
“Samurai Oni, Akio ...hahaha! Akhirnya dia mati juga!” Orang yang paling bahagia ketika Akio menyelam ke dalam laut, ialah Honjou Eno.